Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 104


__ADS_3

"Sory, aku datang telat. Kamu pasti udah lama banget nungguin ya?" Rebecca baru saja datang untuk berjumpa dengan Irena.


"Nggak papa, aku juga barusan datang kok." Jawab Irena.


"Kita pesan makanan aja dulu kali ya, lapar banget soalnya aku. Mas Jonathan biasalah lagi sibuk dengan kerjaannya, jadi ya gitu sukak telat makan aku jadinya gak ada teman makan bareng. Hehehe .."


"Loh, kok aku jadi curhat ya. Hihihii ..."


"Ya nggak papa dong, sesekali perlu juga meluapkan isi hati biar agak plong sedikit." Kata Irena.


"Thanks, Ren." Balas Rebecca.


"Okay ... Hemm , Mas Order dong." Rebecca memanggil salah satu waiter.


"Kamu pesan apa, Ren?" Tanya Rebecca.


"Apa aja deh, samain aja sama kamu." Jawab Irena.


"Hem, baiklah. Yang ini aja Mas, sama yang ini juga. Buat dua ya." Rebecca memesan jus jeruk dan juga nasi goreng seafood.


"O-iya, kamu ketemu aku mau ngomong apa ya? Bukannya semua sudah selesai, dan aku juga udah tidak memikirkan itu lagi. Karna saat ini aku dan Mas Dika juga sudah baik-baik saja." Kata Irena.


"Hemm, enggak. Aku hanya kesepian aja. Semenjak kejadian kemarin, kita jadi jauh. Biasa selalu bareng, aku hanya ingin kita lupakan semua yang terjadi dan bisa menjalin hubungin seperti dulu."


"Setiap hari aku bingung, Ren. Gak ada kegiatan juga. Jhonatan, kamu tau sendiri dia sibuk dengan urusan kerjaannya. Jarang pulang juga, itu juga mungkin yang buat sampai saat ini kami juga belum punya anak." Rebecca menceritakan semua keluhan palsunya kepada Irena.

__ADS_1


"Maaf, Ren. Aku kebanyakan bicara. Gak ada maksud menyinggung kamu tentang anak. Aku hanya ungkapin semua keresahan dalam hatiku. Maaf." Ucap Rebecca.


"Okay, It's fine. I'm okay." Jawab Irena.


Dengan waktu yang berlalu, Irena dan Rebecca kembali saling terpaut. Saling bercerita, tertawa sampai lupa waktu. Hingga tak terasa waktu sudah semakin larut.


"Astaga, sudah jam sembilan malam. Keasyikan ngobrol kita. Mungkin karna udah lama gak ketemu kali ya." Irena terkekeh.


"Iya juga sih. Baiklah, aku antar kamu pulang ya." Pinta Rebecca.


"Oh, gak usah. Aku bisa pulang sendiri, pesan taxi online aja deh. Mending kamu langsung pulang aja, takut larut malam. Kasihan Jhonatan pasti udah nungguin deh." Irena menolak permintaan Rebecca untuk mengantarnya pulang.


"Baiklah, yakin gak papa nih?" Tanya Rebecca lagi.


"Enggak dong, aman. Hehehe .." Jawab Irena.


Irena memesan taxi untuk pulang kerumah, tapi sebelumnya membeli kue untuk dimakan dirumah. Kebetulan, toko roti langganannya berada didekat cafe tempat ia dan Rebecca bertemu.


Entah kenapa saat ini ingin rasanya membelikan Rebecca kue juga. Karna memang disana kelezatan dan kualitas kuenya sudah tidak diragukan lagi. Ia pun memesan banyak kue untuk dibagikan kepada sahabatnya itu, dan ia akan mampir terlebih dahulu ke rumah Rebecca setelah itu baru pulang.


Irena melirik ke arah jam tangannya, dan mengambil ponsel untuk segera menghubungi suaminya bahwa ia akan pulang sedikit terlambat.


"Mas, kamu dimana? Sudah pulang? Aku sepertinya akan telat sampai dirumah." Ucap Irena.


"Belum, sayang. Mas sepertinya juga akan pulang terlambat, atau mungkin tidak pulang malam ini. Klien Jepang yang Mas ceritakan ke kamu kemarin, orangnya agak susah. Mas harus bisa yakinkan dia untuk memenangkan proyek kali ini."

__ADS_1


"Kamu tidur saja, jangan menunggu Mas. Kamu pasti lelah." Kata Dika.


"Hemm, baiklah Mas. Semoga semuanya berjalan dengan lancar ya. Kabari aku kalau kamu pulang apa tidaknya."


"Baiklah, sayang. Kamu hati-hati juga pulang ya. Kabari Mas juga kalau sudah sampai dirumah."


Panggilan telepon itu pun berakhir. Kalau sudah seperti ini, malas rasanya bagi Irena untuk pulang kerumah. Dirumah terasa sepi, ditambah lagi tidak ada suaminya malam ini.


Tapi dalam hatinya, ada sedikit rasa khawatir dengan suaminya itu. Ia mencoba untuk tidak memperdulikannya dan melanjutkan perjalanannya kerumah Rebecca untuk memberikan kue yang telah ia beli.


Saat Irena berada didepan rumah Rebecca dan membunyikan bel, tak ada sahutan dari siapapun dari dalam. Ia mencoba membuka pintu rumahnya. Awalnya ia menunggu didepan teras, tetapi ada alasan kenapa ia sampai nekat membuka pintu rumah itu dengan cepat.


Salah satu alasannya adalah mobil Dika yang berada di halaman rumah Rebecca, padahal ia bilang sedang bersama dengan klien dari Jepang.


Irena masih saja meyakinkan dirinya bahwa bisa saja Dika sedang ada keperluan dengan Jhonatan suami Rebecca.


Tanpa suara, Irena masuk kedalam rumah dimana pintunya tidak dikunci. Keanehan pun terasa, keadaan disana tampak hening. Entah kemana perginya para pekerja dan semua orang. Dilantai bawah tidak ada seorang pun terlihat.


Irena memutuskan naik ke lantai atas, tiba-tiba terdengar suara aneh dari balik pintu yang setengah terbuka. Dadanya bergemuruh, suara itu semakin terdengar jelas saat ia mendekatinya.


"Ahhh ... Ahhh ... Ahhh ..." Jantung Irena rasanya berdebar keras mendengar suara d****an yang saling bersahutan. Dia yakin, sedang terjadi sesuatu didalam sana. Dan jujur, ia tidak siap untuk melihatnya.


.


.

__ADS_1


.


Haloo Readers, gimana makin penasaran gak nih? Haha, kalau gitu Othor minta dukungan dari kalian semua ya biar bisa lanjut next episode nya. See you, love you all 🤗🤗


__ADS_2