Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 52


__ADS_3

Dika tak merasa tersinggung sama sekali dengan sindiran istrinya, ia tau sekarang istrinya sangat marah terhadap dirinya. Ia sangat pantas mendapatkan wajah sinis dan sindiran istrinya. Dika terus menatap sendu punggung istrinya yang kini melangkah meninggalkannya.


"Kamu kenapa keluar? Kamu marah dan mau tidur diluar?" tanya Dika yang menghentikan langkah Irena sebelum akhirnya sampai di pintu kamar saat hendak akan keluar.


"Aku haus mau minum. Aku memang marah, tapi lebih tepatnya aku kecewa pada diriku sendiri bukan pada dirimu. Aku gagal menjaga dengan baik suamiku hingga akhirnya ia bisa bersama dengan wanita lain saat masih berstatus sebagai suamiku."


"Cobalah pikirkan, seandainya aku juga berkhianat darimu, mengkhianati janji suci kita seperti apa yang kamu lakukan mas, pasti gak jauh beda, itu juga mungkin yang akan aku lakukan sekarang mas." ucap Irena sembari berlalu meninggalkan Dika keluar kamar.


Irena menutup pintu kamar, yang tersisa hanya keheningan didalam sana. Dika masih belum beranjak dari duduknya, ia menundukkan pandangannya kemudian membenamkan wajah diantara kedua tangannya. Tanpa ia sadari, buliran air mata penyesalan jatuh membasahi pipinya. Kesenangan dan kenikmatan sesaat yang ia dapatkan bersama selingkuhannya, kini kebahagiaan rumah tangganya lah yang harus dipertaruhkan.


Dika beranjak menuju kamar mandi untuk kembali membersihkan diri. Irena yang sudah keluar dan sekarang berada di dapur hanya bisa terduduk melipat kedua tangan diatas meja kemudian menenggelamkan wajahnya. Berusaha kuat menahan tangisnya agar tak terdengar oleh siapapun.


"Sebaiknya besok aku akan mengajak Mas Dika ke dokter kandungan agar dia juga tau keadaanku." gumamnya dalam hati.

__ADS_1


*****


Irena kembali ke rumah sakit masih dengan tubuh yang lemas. Tapi kali ini ia bersama dengan Ibu mertuanya dan juga Dika. Sebelum datang kesana mereka sudah menelpon dokternya terlebih dahulu. Sehingga hanya perlu menunggu satu atau dua pasien lagi yang masih belum diperiksa.


"Kamu baik-baik saja Ren?" tanya Rina.


"E-iya Bu, Iren baik-baik aja kok. Everything's ok!" jawab Irena dengan raut wajah sendu tapi ia tetap memberikan senyum terbaiknya.


Hanya wanita yang pernah merasakannya yang mengerti perasaannya. Hanya berapa persen wanita yang tidak bisa menjadi seorang Ibu di dunia ini dan kini diselingkuhi pula oleh suaminya . Dan Irena gak mau masuk kedalam jumlah yang sedikit itu.


"Ibu Irena jangan sedih gitu dong. Ayo semangat juga baru satu tahun pernikahannya loh. Banyak juga kok yang datang kesini 10 tahun gak hamil-hamil." Irena tersenyum pahit lalu menyenderkan kepalanya di bahu Ibu mertuanya yang sejak tadi menggenggam tangannya.


"Ibu sehat baik-baik aja kok. Tapi memang belum rejeki aja." jawab Dokter Ruri.

__ADS_1


Beban yang selama ini dirasakan Irena sedikit berkurang. Tak ada yang lebih membahagiakan dan rasa syukur yang mendalam saat ia dinyatakan sehat dan ada kemungkinan untuk hamil. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk hamil dari Tuhan. Ia percaya akan ada pelangi setelah hujan, akan ada kebahagiaan setelah kesedihan yang telah ia terima.


Saat dirumah sakit tadi, Irena sudah meminta izin kepada mertuanya dan juga suaminya untuk menginap dirumah Ibunya. Tapi ia tak ingin diantar Dika. Namun Dika terus memaksa, akhirnya Irena menyerah. Dan ia sekarang didalam mobil yang dikendarai Dika dengan suasana yang hening sangat mencekam.


Irena menyenderkan kepalanya ke jendela pintu mobil dengan pandangan lurus ke arah samping. Sedangkan Dika pandangannya fokus ke depan sembari sesekali melirik ke arah istrinya tanpa berani memulai pembicaraan terlebih dahulu.


.


.


.


*Duhh Mas Dika, dari pada sibuk melirik ke Irena tapi gak di peduliin, mending sini lirik ke arah Othor aja biar langsung Othor colok matanya mewakili rasa sakit hati Irena 😭😭😭

__ADS_1


Dukungan untuk Othor jangan lupa ya, ingat jangan lupa loh Readers 💙


__ADS_2