
"Akhirnya Irena mendapatkan akhir yang bahagia. Kamu sangat beruntung, mendapatkan pendamping terbaik. Kamu beruntung." Ucap Radit terharu sembari menyeka air matanya.
"Ya, aku nggak nyangka kalau akhirnya akan sebahagia ini. Kalau diingat bagaimana masalah yang ada dulu. Aku nggak tau akan jadi seperti apa sekarang." Jawab Irena.
"Kamu pantas mendapatkannya, sayang." Sambung Bryan yang tiba-tiba saja muncul menghampiri mereka berdua saat breakfast di Coffee Shop milik Bryan yang baru, tapi kini Irena yang akan mengambil alih untuk mengurusnya.
"Ya, semoga kalian berdua bahagia selalu dan selalu bersama-sama sampai maut memisahkan." Doa tulus Radit untuk sahabatnya sedari SMP yang baru bisa ia temui karna dirinya masih kuliah di London, tapi besok pun dirinya sudah harus kembali kesana.
"Amiin ..." Ucap mereka semua bersamaan.
"Eh, Tante Ayu apa kabar? Pasti berat banget ngelepas kamu kesini ya. Biasa anak emas, hahaha." Ucap Irena.
"Enggak dong, Mama tetap kasih izin kita ketemu lah. Masa iya gak dibolehin ketemu sama sahabat sendiri. Aneh deh ..." Jawab Radit dengan tingkah gemulainya.
"Kalian nyusul dong, main-main kesana. Betah banget sih di Indonesia terus. Hahaha. Aku cuma becanda loh ya ..."
"Nanti kita kesana ya, Mas." Bujuk Irena pada Bryan.
Bryan tersenyum dan mengangguk melihat antusias Irena yang kini telah menjadi istrinya.
"Terimakasih, sayang." Peluknya
"Hay, masih ada orang loh disini. Bukan patung." Sindir Radit sembari memegang tangan Irena.
*****
"Terimakasih ya Allah, atas hadiah yang Engkau berikan. Atas akhir bahagia dari cerita cintaku ini. Kau mengirim Bryan didalam hidupku. Mengobati lukaku, menghilangkan semua sedihku, dan menyembuhkan trauma yang begitu membayangi sekian lama dalam hidupku. Kini hidupku begitu sempurna, semoga kami bisa selalu bersama sampai maut memisahkan..."
Tak henti-hentinya Irena terus bersyukur atas hidup yang dijalaninya saat ini. Saat ini ia tengah duduk dikelilingi oleh orang-orang yang belum pernah ia jumpai sebelumnya, tak ada satu pun yang ia kenal disini.
'Bryan .." Hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir Vanesha saat melihat pria yang dicintainya bersanding dan bergandengan bersama dengan wanita lain.
Ia berkali-kali menyeka air mata yang hampir terjatuh. Ia memeluk Bryan dengan erat dan membuat Irena mengerutkan dahinya.
"Maaf." Lirih Vanesha menyudahi pelukannya.
"Kamu nggak salah, takdir yang hanya tidak berpihak pada kita." Balas Bryan.
__ADS_1
"Maaf." Lagi-lagi kata itu yang terucap sembari melirik kearah Irena. Sebenarnya banyak sekali kegundahan dalam hati yang ia simpan. Tapi entah kenapa hanya kata-kata itu saja yang terus ia ucapkan. Seakan mulutnya kaku.
Dengan bergegas ia menyalami Irena sambil memeluknya sembari berbisik, "Jaga Bryan degan baik atau aku akan merebutnya kembali." Kemudian melepas pelukannya sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan area tempat kedua pasangan pengantin itu berdiri.
Irena tampak murung dan kesal, bahkan ia hampir menangis saat berada di negara asing yang baru saja ia datangi. Apalagi dirinya dikagetkan dengan melihat wajah wanita asing yang dirinya pun merasa ada sesuatu hal yang harus segera ia pertanyakan pada pria yang saat ini menjadi suaminya itu.
Perasaannya benar-benar kacau, ditambah lagi tenyata resepsi acara di Jerman selesai sekitar jam dua dini hari. Irena tampak lelah, pundaknya terasa berat membuat dirinya ingin tumbang.
Berkali-kali ia menguap, tapi Bryan tidak menyadari. Dingin dan datar tanpa ada pancaran kebahagiaan sedikitpun. "Semua karna wanita tadi, siapa dia? Mood ku jadi rusak." Batinnya.
Bryan mengambil kunci mobil dan bersiap-siap untuk pulang kerumah. "Mau kemana sayang?" Tanya Rita.
"Pulang, Ma. Sepertinya kami sudah mengantuk."
"Ngantuk ya tidur, tapi kenapa dirumah? Kan Papa kalian sudah pesan kamar buat kalian disini. Semua pakaian juga sudah disiapin, tenang aja semua beres." Goda Mama Rita.
Mereka seperti patung tak menjawab. "Terus, Papa sama Mama?" Tanya Irena.
"Sama seperti kalian, kami dikamar sebelahnya." Jawabnya.
Bryan tersenyum kecut, "Ah, Papa!"
"Ya kalau nggak mau, sana pergi masuk." Sambung William.
"Yasudah ini kunci kamarnya. Ih kalian sudah sah jadi suami istri kok masih malu-malu sih." Rita memberi mereka kunci kamar hotel untuk mereka menginap.
Irena dan Bryan hanya mengiyakan sembari tersenyum malu. Menuruti perintah kedua orang tuanya dan kemudian masuk kedalam kamar.
Mereka melangkah dan merebahkan badan disaat bersamaan. Mungkin karna sudah terlalu lelah, hingga tujuan utama saat ini adalah merebahkan badan diatas tempat tidur.
Posisi mereka kini saling berhadap-hadapan. Irena tidak tau harus bersikap bagaimana, tapi kekakuannya itu membuat dirinya tidak nyaman.
Bryan tersenyum tipis, "Aku tau ..." Ucapannya terhenti karna Irena memotong pembicaraan.
"Boleh aku mandi?" Tanya Irena.
Irena membuka lemari mengambil handuk lalu berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai ia membersihkan sisa-sia make-up di depan cermin.
__ADS_1
Bryan masih mematung diatas ranjang, sembari mengamati istrinya, "Cantik .." Ucap Bryan.
Irena membalikkan badan ke arah Bryan, "Kamu jangan coba-coba untuk menggoda aku, Mas."
"Aduh, kenapa aku ini. Padahal sudah berapa kali kami tidur sekamar, walaupun belum ada melakukan unboxing. Tapi kali ini sepertinya ... Kenapa aku jadi begini sih." Batinnya.
Bryan mendatanginya dan menatapnya lekat, tapi hatinya berdebar kencang, merasa canggung dan bingung."Harus berbuat apa aku?" Bisiknya pelan pada Bryan.
"Ha? Aku hanya ingin mengambil handuk dilemari untuk mandi. Hahaha." Kekeh Bryan lalu masuk kedalam kamar mandi.
"Ih, emangnya aku nggak menggairahkan ya? Apa ada yang kurang? Atas bawah masih padat begini. Buta kali ya mata suamiku itu." Irena mengomel kesal.
Bryan masih bisa mendengar omelan Irena didalam kamar mandi, tapi tidak terdengar begitu jelas. Hanya beberapa kata yang ia dengar. Setelah selesai mandi, Bryan tertegun melihat tubuh mulus Irena yang berbalut handuk putih. Padahal sebelum ia ke kamar mandi tadi, Irena masih memakai handuk kimono dengan handuk yang melilit di kepalanya. Ia menelan ludah merasakan ada sesuatu yang aneh. Apa ini adalah sebuah lampu hijau pertanda dari Irena pikirnya. "Ah, apa yang aku pikirkan." Keluh Bryan dalam hati.
Irena menoleh dan mendapati Bryan memakai handuk tapi bertelanjang dada. Ia tertegun kemudian langsung bangkit. Bryan menyadari kecanggungan istrinya itu, walaupun sedari awal masuk kamar ia juga sudah menyadarinya.
"Waktu mandinya kilat banget ya, lebih kilat dibanding TIKI." Candanya.
"Lalu?" Bryan berjalan mendekatinya.
Irena memalingkan wajah ke cermin, "Pasti asal mandi." Ketusnya.
Bryan mendekatkan tubuhnya pada Irena, "Kamu bisa cek sendiri, sudah bersih dan wangi atau belum."
Irena mendapati dada telanjang Bryan tepat dihadapannya. "A-aku mau pakai ..." Irena berdiri dan ingin langsung kabur ke kamar mandi untuk memakai baju. Tapi langkahnya terhenti karna lengan kokoh Bryan menghentikannya lalu menarik tubuhnya, hingga mereka sama-sama terjatuh diatas ranjang tempat tidur dengan posisi Irena berada diatas Bryan.
Keduanya sama-sama tertegun, Pipi Irena memerah merasa malu. Ia buru-buru menarik handuknya yang ternyata sudah terlepas. Bryan menyeringai, tersenyum dengan tatapan seakan mengisyaratkan sudah biarkan saja handuk itu terlepas dari tubuhmu.
Aroma wangi tubuh Irena tentu saja membangkitkan gairah lelaki manapun. Bryan mulai mencium kening istrinya itu, kemudian berbisik, "I love you." Ucapnya.
.
.
.
Hahaha , kita sudahi aja dulu ya. Anggap aja sesajen untuk persiapan malam minggu para Readers 😂😂
__ADS_1