
"Aku? Orang? Orang lain maksud kamu? Helooo, aku suamimuuu, imam kamu, surga kamm ... muuu" ucap Dika terhenti saat Irena menutup kembali pintu kamar mandi.
"Arrggh! Awas aja, bangunin macan lagi tidur nih kalau begini cara mainnya"
Dika berjalan menuju pintu kamar, membukanya dan menutupnya kembali. Bukannya keluar, ia kembali menuju depan kamar mandi Irena dan berdiri didepan pintu.
Irena yang mendengar suara pintu akhirnya bernafas lega dan berpikir kalau suaminya sudah benar-benar keluar.
Ia membuka pintu kamar mandi, saat membuka pintu kamar mandi ia kembali terkejut melihat Dika mendekatkan diri dan menelusupkan tangannya diantara tangan Irena dan pinggangnya. Lalu menarik tubuh Irena agar mendekat dengannya.
Kepala Dika kini berada diatas kepala Irena. Irena menahan ludahnya, matanya terbelalak namun tubuhnya tidak bisa bergerak. Pikiran Irena ingin rasanya meneriaki Dika habis-habisan, meminta untuk menjauh dan berlari atau mungkin mendorong tubuh Dika dengan sekuat tenaga, tapi sebuah kenyamanan malah hadir dalam hatinya dan menghela napas seakan lelah ingin berhenti dengan peperangan batin didalam dirinya.
Pelukan pria itu kembali mengerat membuat Irena terkejut luar biasa. Tangan kanan Dika bergerak dan berpindah ke wajah Irena. Mengelusnya pipinya dengan lembut "wajah kamu begitu halus dan lembut, tapi kenapa tidak sama dengan sikapmu kepadaku? Aku ini suami mu bukan?"
Irena kini benar-benar menegang. Tak butuh waktu lama untuk menjawab, dengan lembut ia menjawab "K-kita kenapa? Aku tidak berdosa kan seperti ini?"
Dika tersenyum manis, ia kembali memeluk Irena dengan erat tak mau melepaskannya sama sekali, sementara sebuah pikiran terlintas dipikiran Irena.
"Aku bersedia menikah dengannya karna terpaksa, hatiku juga belum bisa menerimanya. Seharusnya kalau orang yang terpaksa menikah, tidak akan mau disentuh tapi lihatlah sekarang .. Aku bahkan menerima pelukannya. Apa sebenarnya aku mulai menyukainya? Secepat itukah? Benar gak sih? Ya Tuhan, tolong sekali ini saja, beri jawaban"
"Mau tau gak?" tanya Dika.
Irena menganggukkan kepalanya pelan membuat Dika tersenyum dengan lebar.
__ADS_1
Kamu tidak akan berdosa kalau tidak menolak hal ini.
"CUP!" satu ciuman mendarat didahi Irena.
"CUP!" ciuman kedua mendarat dipipi.
"CUP!" ciuman ketiga mendarat ke mata yang terus berlanjut menuju bibir tipis milik Irena.
Bukannya menolak, Dika terkejut dengan respon yang diberikan Irena. Ia tidak keberatan dengan apa yang dilakukan suaminya itu, membuat Dika kegirangan luar biasa.
Dika menghela napas, ia berhati-hati dalam melakukannya. Karena bagaimanapun ia harus tetap menghormati apa yang diinginkan istrinya untuk awal pernikahan mereka.
"Kamu tidak menolak aku melakukan ini. Apakah ini artinya kamu bersedia?" tanya Dika
"Nggak mau jawab ya? Baiklah aku akan sabar menunggu. Jangan tegang begitu, ini masih awal pemanasan. Aku tidak akan memaksa istriku, sebelum ia bersedia mengizinkanku" ucap Dika melepas tangannya dari tubuh Irena yang masih berbalut handuk.
"Pakailah bajumu, nanti kamu masuk angin. Aku akan keluar menunggumu"
Irena menghentikan langkah Dika, ia masih menundukkan kepalanya, menatap kosong. Sementara Dika menoleh kearah istrinya dan menengadahkan kepala Irena menghadapnya.
Ekspresi Irena berubah, Oh Tuhan, aku salah langkah. Dika bertingkah seperti pria peka yang mendahului pasangannya sebelum diminta. Kini pikiran mereka sama-sama menginginkannya.
Irena menarik tangan Dika dan memeluk dengan erat. Ia balas ciuman yang Dika berikan tadi seperti membalas kekalahan perang batin dihatinya.
__ADS_1
"A-aku bersedia, aku mengizinkan diriku untuk menjadi milikmu seutuhnya seluruhnya, jangan pernah meminta izin atau apapun itu. Karna semua ini sudah kewajiban ku bukan" ucap Irena.
Dika merapatkan tubuh Irena ke dinding, tanpa berpikir panjang ia membalas jawaban Irena dengan memberikan ciuman ke bibir, saling membalas pagutan mereka satu sama lain.
Sesekali melepas ciuman, kemudian meraih kembali dagu Irena untuk kembali ******* bibir manis istrinya. Irena mengerjapkan matanya dan membeku ditempatnya, membiarkan Dika mengambil alih permainan.
Dika melepas ciumannya karena melihat Irena tampak terengah-engah, tapi terus memeluk erat tubuh Irena agar terus menempel padanya, tangannya bergerak mengelus punggung Irena sembari membawa Irena ke tempat yang berbeda.
Ia baringkan tubuh Irena diatas tempat tidur menatap istrinya dengan tatapan sayu, napasnya tersengal namun ia tersenyum dan kembali menciumnya. Tangannya turun dari wajah Irena ke lehernya, ke bahunya, kemudian mendarat tepat di pinggangnya. Irena tersentak saat Dika menarik lembaran handuk yang menempel ditubuhnya. Tubuh mereka saling bertindih. Kembali melakukan pagutan liar di bagian leher yang membuat adrenalin Irena terpacu sangat kencang.
"Ahhh! D-dikaa .. A-aku " ucap Irena.
.
.
.
Upss!
Sepertinya otak author udah mulai nyut-nyutan nih.
Stop disini dulu kayaknya ya. Udah mulai cenat cenut nih mikirin cerita selanjutnya.
__ADS_1
Sueempeh! Takut kebablasan nih author 🤭🤭🤭