
Wajah Irena memerah saat Bryan menatapnya sangat lekat. Hati kecilnya berkata ia harus waspada dengan pria yang ada dihadapannya saat ini.
"Gimana Ren? Apa kamu masih mau bekerja disini setelah mengetahui bahwa diriku lah Boss mu dikantor ini? Ya anggap saja seperti saat kamu bekerja di kantor ku sebelumnya dan aku harap kamu kerasan bekerja disini."
'"Baiklah, aku tetap akan bekerja disini. Bukankah kita seharusnya tetap bersikap profesional. Kamu pasti sudah tau betul seperti apa diriku." tegas Irena.
Bryan tersenyum senang ketika mendapatkan respon dari Irena. "Kalau begitu ayo ikut saya, saya akan memberitahukan dimana ruang kerja kamu dan apa saja pekerjaan yang harus kamu lakukan."
Bryan dan Irena berjalan beriringan memasuki ruangan kerja Irena. Shella yang sudah menunggu langsung berdiri dan menyambut kedatangan mereka. "Selamat datang di ASSA mbak Irena." Sambut Shella.
"Maaf saya sedikit terlambat, terlalu banyak hal yang harus saya bicarakan dengan karyawan baru kita ini sebelum ia memulai pekerjaannya." Ucap Bryan.
Irena yang sedang fokus mengamati tiap sudut ruangannya, tak menyadari apapun yang sedang Bryan ucapkan padanya. Hingga akhirnya Bryan pun melambaikan telapak tangannya ke hadapan Irena. "Haloo, Ibu Shirena Indira? Are you okay? Kamu gak suka dengan ruangan disini? Atau kamu menginginkan ditempatkan didalam ruangan saya?"
Irena tersadar dan kini kedua mata mereka saling bertemu, tatapan mata yang sangat Bryan rindukan dan selalu mengisi hari-harinya dahulu. Irena pun langsung mengalihkan pandangannya dari sorotan mata yang ada dihadapannya.
Waktu seolah berhenti berputar ikut menyambut pertemuan kedua insan yang dulu pernah merajut kasih tetapi akhirnya harus berpisah. Mata mereka saling mengunci seakan sedang membayar kerinduan selama hampir bertahun-tahun lamanya. Bagaimana tidak, yang satu mati-matian bersembunyi untuk menghindar demi kebahagiaan orang yang sangat ia cintai dan yang satu lagi mati-matian ingin melupakan hingga akhirnya ia mampu untuk merelakan namun kini dirinya sudah menjadi milik orang lain.
Bertemu kembali dengan pria di masa lalunya membuat ritme kerja jantungnya menjadi lebih cepat. Bryan masih saja seperti dulu tanpa celah sedikitpun, pria dewasa yang wibawa penuh dengan ketegasan. Membuat Irena seakan kembali ke masa lalunya. Ia sungguh tak mengira jika orang yang akan ia temui adalah Bryan, pria yang pernah menjadi bos ditempat ia bekerja dahulu sekaligus kekasihnya.
"Baiklah, kalau begitu selamat bergabung di perusahaan kami. Kamu sudah siap untuk bekerja hari ini?" Bryan mengulurkan tangannya.
"Terima kasih, Pak Bryan. Saya sangat siap." Meskipun sedikit gugup tapi Irena berhasil membalas uluran tangan Bryan.
Ketika kedua tangan itu mulai saling bersentuhan, gak ada kehangatan yang dirasa. Aliran darah mereka seolah membeku menciptakan rasa dingin dan kaku. Tidak bisa dipungkiri, wajah mereka pun memucat karna terlalu gugup untuk dipertemukan kembali dengan cara seperti ini.
"Mari silahkan ikut saya Mbak." Pinta Shella membuat Irena dan Bryan tersadar dari kekakuan mereka berdua.
__ADS_1
Shella kemudian menjelaskan apa saja hal-hal yang harus Irena kerjakan. Bukan hal kebetulan semata, selama mereka saling berdiskusi, Irena banyak mengemukakan konsep dan ide-ide yang lagi trend. Mereka saling melengkapi satu sama lain dan tidak ada kesulitan apalagi perdebatan. Mereka juga saling terbuka dalam menerima kritik dan masukan satu sama lain, sehingga tidak sulit bagi mereka untuk menyatukan pikiran.
Shella menilai kalau Irena sudah terbiasa berdiskusi seperti ini sehingga sangat menguasai strategi penjualan dan pemasaran yang baik untuk membuat jasa penyewaan yang mereka sediakan banyak diminati di pasaran. Shella seperti mendapat energi baru, semangat baru dan jiwa yang baru sehingga semangatnya lebih terpacu dari sebelumnya.
*****
Pekerjaan yang berlangsung sejak pagi hari itu berakhir hingga pukul lima sore. Bryan pun bersiap dan bergegas meninggalkan ruang kantornya, karna selain lelah ia juga sebisa mungkin ingin menghindari Irena.
Sementara Irena dengan gelisah mengambil ponselnya untuk menghubungi Dika, karna sampai saat ini ia sama sekali belum memberitahu suaminya kalau dirinya sudah mulai bekerja hari ini. Dan ia berniat meminta suaminya untuk menjemputnya dikantor.
Ia mengecek ponselnya, tak ada panggilan atau pesan dari Dika. Mungkin Dika lagi sibuk pikirnya. Ia pun mulai menelpon.
"Assalamu'alaikum Mas, kamu masih dikantor?" tanya Irena.
"Kenapa sayang? Iya nih, Mas masih dikantor. Sepertinya Mas lembur hari ini. Kamu makan malam deluan aja. Mungkin agak telat pulang kerumah." jawab Dika.
"Oke, see you sayang."
Irena pun mematikan ponselnya. Dan bergegas untuk pulang. Tak lupa ia untuk memesan taxi.
Kembali ke rumah, Irena langsung merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk memejamkan mata. Raganya memang sudah di rumah tapi pikirannya masih terpusat di tempat ia bekerja hari ini.
Kini Rudi yang sudah mengganti semua identitasnya menjadi pria yang bernama Bryan kembali lagi dengan pesona yang sama hendak meruntuhkan dinding-dinding kokoh yang sudah ia bangun dengan susah payah bertahun-tahun.
Beberapa hari, bulan dan tahun yang ia lewatkan bersama suaminya untuk menghapus Bryan dalam pikirannya jangan sampai sia-sia.
Ingatannya kembali menerawang saat ia dan suaminya berbulan madu di Maldives. Ia melihat seorang pria yang wajahnya tampak mirip seperti Bryan, ia menoleh kearah Irena namun ia langsung pergi begitu saja seakan tak mengenalnya. Beberapa hari ia terus memikirkan wajah itu, tapi akhirnya ia sadar kalau itu mungkin hanya khayalannya saja. Gak mungkin seseorang yang sudah mati bisa hidup kembali, karna ia melihat dengan jelas jenazah pria itu.
__ADS_1
"Apa aku harus bertanya padanya saat di Maldives? Tapi kalau memang benar itu dirinya, kenapa ia gak datang menemuiku? Ada apa sebenarnya ini? Kenapa dia kembali disaat aku sudah menjadi milik orang lain. Arrgghh ....!!" Irena mengusap-ngusap wajahnya, mencoba melawan rasa penasarannya.
Entah sudah berapa lama ia memikirkan tentang kembalinya Bryan, perutnya yang kosong mengeluarkan bunyi yang sudah sangat ia hapal. Jam di tangannya menunjukkan pukul delapan malam. Ia gak sadar sudah semalam ini dirinya belum juga makan.
"Mandi dulu deh, bentar lagi Mas Dika pasti pulang. Lebih baik aku menunggunya di bawah sekalian makan." ucapnya.
*****
Tokkk...
Tokkk...
Tokkk...
Suara ketukan pintu terdengar. "Hemm ... Itu pasti Mas Dika." Irena beranjak dari sofa duduknya di ruang tv.
Mata Irena membulat saat melihat siapa yang berdiri tepat dihadapannya. Mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang siap meledak saat itu juga. Menarik nafas dalam lalu menghembuskan kasar. Bersiap melontarkan kata-kata kasar untuk mengusir manusia yang ada dihadapannya saat ini. Namun belum juga sepatah kata terlontar dari bibirnya, ia malah terpaku diam ditempat. Bibirnya seperti sedang di lem kuat begitu tau ada satu manusia lagi yang berada didepan pintu.
.
.
.
Thankyou Happy Reading 💙
*semakin banyak like, semakin banyak vote, semakin banyak komen, semakin sering ufdet*
__ADS_1