Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Hari Pernikahan


__ADS_3

Vara mematut dirinya di depan cermin kamarnya, ia mengenakan dress berwarna hitam dengan bunga-bunga kecil berwarna putih dengan panjang medium, serta kardigan rajut berwarna putih. Vara selalu menata rambut panjangnya dengan gaya bun ala Korea. Rambut diikat rapi dan diangkat di puncak kepala dengan bentuk donat. Ia memakai bando mutiara tipis untuk mempermanis tampilannya. Kerudung putih bermotif bunga-bunga kecil warna ungu ia sampirkan di kepalanya agar terkesan formal.


Vara hanya memakai riasan tipis dengan memoleskan perona bibir warna merah jambu hangat. Bapak dan ibu sangat mengatur penampilan Vara, Vara tidak boleh memakai riasan yang tebal dengan lipstik merah menyala. Vara juga dilarang mengenakan pakaian yang mengekspos bentuk tubuh dan kulitnya sehingga Vara kerap memakai pakaian yang tertutup dan longgar.


Vara sudah siap untuk berangkat ke balai nikah, karena tidak mungkin membuat acara akad nikah di rumah mereka yang sudah nyaris kosong melompong karena banyak barang yang sudah dikirim ke kampung.


"Jadi, Ibu tidak mau ikut?" tanya bapak mencoba mengajak ibu untuk ikut ke balai nikah menyaksikan pernikahan anak mereka.


"Bapak saja yang pergi! Ibu tidak mau!" sahut ibu.


Ibu memang terlihat uring-uringan, persis bapak yang beberapa waktu lalu mendiamkan Vara lantaran Vara menolak perjodohannya dengan Riko.


"Baiklah, Bapak dan Vara saja yang pergi, Ibu di rumah saja," kata bapak.


Vara tahu, ibunya nampak tidak terima bahwa Vara akan menikah dengan pria yang menurut ibu sungguh tidak pantas menikahi Vara. 


Vara segera memesan taksi daring lantaran bapak sudah mengirim mobil dan sepeda motor mereka ke kampung. Selama ini Vara juga merupakan pemakai transportasi daring yang aktif karena Vara tidak bisa mengendarai sepeda motor ataupun mobil. Waktu masih sekolah, Vara juga selalu diantar-jemput oleh mobil pengantar anak sekolah. Saat masih kuliah, jarak antara kampus dan kosnya hanya berjarak sepuluh menit dan cukup ditempuh dengan berjalan kaki saja. Sehingga Vara tidak punya kesempatan untuk belajar mengendarai sepeda motor ataupun mobil.


Vara sudah tiba di balai nikah, Viceroy nampak membawa dua orang pria paruh baya yang akan menjadi saksi pernikahan mereka. Viceroy memakai setelan jas berwarna hitam yang membuat Vara berdecak heran. Apa sekarang Viceroy bekerja sebagai model?

__ADS_1


Vara jadi mengingat saat masih sekolah dulu, saat itu mata pelajaran yang membahas tentang pernikahan. Praktek pengambilan nilai berkelompok. Untuk menentukan siapa yang berperan sebagai calon pengantin pria, wali nikah, penghulu, hingga saksi, ditentukan secara undian. Setelah mendapat peran, penentuan kelompok kembali diundi. Semua orang berharap agar tidak satu kelompok dengan Viceroy. Vara masih ingat bahwa Viceroy berperan sebagai penghulu. Dodi menjadi calon pengantin pria yang nampak tegang karena Viceroy selaku penghulu menatapnya begitu tajam. Viceroy bahkan menggenggam tangan Dodi dengan keras seakan mereka sedang adu panco.


"... dibayar tunai," kata Viceroy kepada Dodi.


Dodi nampak gemetaran dan tegang, pemuda itu terlihat tak mampu bicara karena Viceroy menatap Dodi seakan pemuda itu ingin mengajak Dodi berkelahi.


"Saya terima," jawab Viceroy yang langsung mengundang kehebohan.


Gelak tawa langsung memenuhi ruangan kelas. 


"Kenapa jadi penghulunya yang mengatakan terima?!" protes Pak Udin.


"Saya terima," kata Viceroy kemudian diikuti seruan SAH.


Lamunan Vara buyar mendengar seruan sah dari para saksi. Vara tersenyum, lima belas tahun yang lalu, Viceroy menjadi penghulu yang dianggap menikahi pengantinnya, dan kini pria itu benar-benar menikahi Vara. Mereka berdua nampak canggung saat harus saling berjabat tangan, apalagi saat penghulu menyuruh Vara mengecup punggung tangan Viceroy sebagai simbol bakti istri terhadap suami.


"Cincinnya ada? Dipasang sekalian," perintah penghulu.


Viceroy nampak tersenyum kecut, ia tidak berpikir bahwa cincin kawin dibutuhkan juga. Vara mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya. Kotak dari bahan beludru warna merah itu berisi sepasang cincin berbahan emas putih dengan model sederhana.

__ADS_1


Viceroy terkejut karena rupanya justru Vara yang menyiapkan cincin kawin mereka. Vara tak menyangka bahwa cincin pilihannya akan pas dijari manis kanan Viceroy, padahal ia sudah bertanya kepada pramuniaga di toko perhiasan tempat ia membeli cincin, apabila cincinnya tidak pas maka bisa ditukar dengan ukuran lain.


Bapak nampak memeluk erat Viceroy, pria paruh baya itu nampak menangis haru karena anak satu-satunya akhirnya menikah.


"Ibu di mana, Pak?" tanya Viceroy yang mencari ibu Vara.


"Ibu tidak bersedia ikut," jawab bapak singkat.


"Ibu dan kakakmu tidak datang, Viceroy?" tanya bapak.


"Ibu dan kakak saya masih di luar kota, Pak," jawab Viceroy.


"Kalian berdua ikut pulang bersama Bapak?" tanya Bapak.


"Saya masih ada urusan, Pak, nanti malam saya akan mampir," jawab Viceroy.


Vara menatap Viceroy, rupanya Viceroy benar-benar begitu sibuk, padahal ini hari pernikahan mereka. Tapi untuk apa menahan Viceroy? Toh mereka hanya sedang memainkan sandiwara pernikahan.


"Baiklah, kalau begitu Vara akan pulang bersama Bapak," kata Vara pada Bapak.

__ADS_1


__ADS_2