Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Ajakan Makan Siang


__ADS_3

"Pak Viceroy!" Laras langsung menghampiri Viceroy yang sudah bergegas meninggalkan ruang meeting di salah satu hotel berbintang lima untuk membahas proyek Aurum Mining yang mulai berjalan.


Seperti biasa, Laras selalu terpesona dengan penampilan Viceroy yang lebih terlihat seperti model daripada pemilik perusahaan. Pria itu mengenakan kemeja hitam dibalut jas berwarna abu gelap dengan dasi berwarna merah marun. Sungguh benar-benar membuat Laras terpesona lahir batin. Rasanya Laras tak sabar untuk bisa memiliki pria itu setelah menyingkirkan istri yang begitu dirahasiakan oleh Viceroy. Entah apa alasannya pria itu menyembunyikan rapat-rapat pernikahannya. Hanya sebuah cincin sederhana yang melingkar di jari kanan pria itu saja yang menjadi penanda bahwa Viceroy memang sudah menikah. Meski Laras sudah berusaha mencari tahu, namun sama sekali tidak ada informasi apa pun yang bisa didapat oleh Laras tentang istri Viceroy. Namun, bukan Laras namanya jika ia menyerah untuk mencari tahu istri pria itu. Terserah orang mau menilainya buruk lantaran menjadi perebut suami orang. Jika yang berhasil direbut oleh Laras adalah pria istimewa seperti Viceroy, itu tentu hal yang sangat membanggakan.


Hanya saja, saat ini Laras masih menyimpan kekesalannya, karena terakhir kali bertemu pria itu di Singapura, pria itu rupanya sudah kembali ke tanah air. Laras sungguh malu, karena ternyata ia salah membaca nomor kamar Viceroy, yang diberikan Bagas. Padahal ia sudah begitu percaya diri untuk menyerang pria itu dalam keadaan nyaris tanpa busana. Sehingga membuat Viceroy bertekuk lutut di bawah kendalinya.


"Ada apa, Bu Laras?" tanya Viceroy yang melihat Laras nampak melamun.


"Apa anda ada waktu? Sebentar lagi sudah jam makan siang, bagaimana jika kita makan siang di luar bersama?" tanya Laras tanpa ragu.


Viceroy menatap jam tangan dan juga layar ponselnya.


"Maaf Bu Laras, saya sudah ada janji dengan klien lain," jawab Viceroy.

__ADS_1


"Oh, begitu, bagaimana kalau besok?" tanya Laras mencari-cari kesempatan.


"Wah, Bu Laras," terdengar seseorang memanggil Laras.


Laras menoleh, seorang pria tinggi, bertubuh ramping, dan berwajah ramah menghampiri Laras. 


"Pak Ryo," Laras begitu antusias menyapa pria tampan itu.


"Wah, ada Pak Viceroy dari Royal Grup juga," kata Ryo tersenyum dingin.


"Ya, saya baru selesai meeting bersama klien," kata Ryo. "Sedang apa kalian di sini?" tanya Ryo.


"Kami juga baru selesai meeting," jawab Laras.

__ADS_1


"Oh ya, Bu Laras, Pak Viceroy, kalian sungguh cocok sekali terlihat bersama, kalian pasangan yang sangat serasi," kata Ryo sembari tersenyum.


"Haha, Pak Ryo, anda bisa saja," Laras tampak salah tingkah. 


Ia sungguh tak menyangka bahwa orang lain pun memiliki pemikiran yang sama dengan Laras bahwa ia memang sangat serasi dengan Viceroy. 


"Jadi, kapan saya bisa terima undangan dari kalian?" tanya Ryo lagi.


Viceroy nampak menegang mendengar perkataan Ryo. 


"Haha, ya ampun, Pak Ryo, sepertinya memang hanya saya yang cocok mendampingi Pak Viceroy!" Laras tertawa senang.


Laras jadi salah tingkah, apa di wajahnya tertulis jelas bahwa ia menginginkan Viceroy? Sampai-sampai orang lain langsung bisa mengetahuinya?

__ADS_1


Viceroy mengerutkan alis, menatap Ryo yang nampak tersenyum misterius. Entah apa maksud Ryo mengatakan hal aneh seperti itu. Viceroy memilih mendiamkannya daripada harus tersulut emosi.


"Saya mohon undur diri, sampai jumpa lagi, Bu Laras, Pak Ryo," kata Viceroy bergegas pergi.


__ADS_2