
Telepon di meja kerja Vara berdering. Vara segera menjawabnya.
"Siang, Vara," jawab Vara.
"Bu Vara, tolong ke ruangan saya sebentar."
Vara menegang, mendengar panggilan dari Manajer HRD yang meneleponnya.
"Mau ke mana, Vara?" tanya Mbak Rani.
"Dipanggil Pak Ari, Mbak," jawab Vara.
"Kenapa Pak Ari mencarimu?" tanya Mbak Rani keheranan.
"Entahlah, Mbak," jawab Vara.
Vara berdebar-debar setiap kali ia dipanggil ke ruangan Manajer HRD. Biasanya ia datang ke ruangan itu untuk tanda tangan perpanjangan kontrak. Apakah kini tiba saatnya Vara mendapatkan surat keputusan pengangkatannya untuk menjadi karyawan tetap?
Vara segera bergegas menuju ke ruang kerja Pak Ari. Pria paruh baya berkulit bersih yang selalu nampak kalem itu segera mempersilakan Vara untuk duduk di depan meja kerjanya.
"Bu Vara, ada hal yang perlu kita diskusikan mengenai laporan bahwa Bu Vara tanpa persetujuan Pak Ryo telah menggunakan dana kas operasional bukan untuk keperluan operasional perusahaan," kata Pak Ari terlihat tanpa ekspresi.
"Maksudnya, Pak?" tanya Vara.
Pak Ari menyodorkan dokumen yang diterimanya dari Pak Bram. Vara terperangah saat melihat bahwa nominal pengajuan penggantian dana untuk makan siang Sofia tidak disetujui oleh Pak Ryo.
"Pak Ryo menganggap bahwa Anda bertindak semaunya dalam menggunakan dana kas operasional perusahaan. Jika terus seperti ini, akan sangat merugikan perusahaan."
"Perusahaan terpaksa memberikan Anda surat peringatan dua," lanjut Pak Ari.
Vara tercengang, kepalanya mendadak kosong.
"Pak, saya hanya menjalankan tugas saya," kata Vara menatap lurus ke arah Pak Ari.
"Saya mengerti situasi Anda, Bu, hanya saja saat ini saya hanya menjalankan perintah dari manajemen," Pak Ari menanggapi perkataan Vara.
Vara menarik napas berat. Bagaimana ia bisa dianggap bertindak semaunya?
"Pak Ari, tapi saya mengeluarkan dana untuk makan siang Bu Sofia karena beliau yang meminta," kata Vara.
"Bu Vara, saya mengerti posisi Anda," kata Pak Ari.
__ADS_1
Vara menatap kesal ke arah surat peringatan dua yang didapatnya. Padahal ia berharap sangat mendapat surat keputusan pengangkatan sebagai pegawai tetap.
"Bu Vara, Anda bisa kembali bekerja," kata Pak Ari membuyarkan lamunan Vara.
"Ba-baik, Pak," jawab Vara.
Vara segera membawa surat peringatan yang didapat karena ulah Sofia. Ia segera duduk kembali di belakang meja kerjanya.
Vara segera mengambil satu botol losion dan menuangkan ke telapak tangannya dengan rasa geram yang tak tertahankan. Yang benar saja, dana pengajuan untuk makan siang Sofia tidak disetujui oleh Pak Ryo, apakah itu artinya Vara harus mengganti rugi?
Vara segera mengambil botol wewangian dari dalam tas dan menyemprotkan ke sekujur tubuhnya untuk menetralisir amarah.
...*****...
Sofia memasuki ruangan kerja Vara. Wanita berpenampilan nyentrik itu mengenakan gaun lebar bergaya kelelawar berwarna kuning terang yang begitu kontras dengan warna kulitnya, lengkap dengan perhiasan emas, membuatnya terlihat seperti toko emas berjalan.
"Bu Vara, saya minta disiapkan makan siang dari Hotel H, estimasi biaya sekitar sepuluh juta, karena saya mau makan siang bersama suami saya," kata Sofia tanpa ragu.
"Bu Sofia, maaf, saya hanya bisa mengeluarkan dana kas operasional untuk keperluan operasional perusahaan, bukan untuk keperluan pribadi Anda," kata Vara diplomatis.
"Haha! Bisa-bisanya kau bicara seperti itu, padahal kau sendiri justru memakai dana kas operasional untuk membiayai kehidupanmu! Jujurlah, Vara! Kau gunakan uang kas operasional perusahaan untuk bersenang-senang dengan pacarmu yang tukang ojek itu!" cecar Sofia.
"Jangan-jangan, aku curiga, kau juga menggelapkan dana perusahaan karena terdesak kebutuhan hidup!" lanjut Sofia.
"Orang tuamu pasti malu sekali, ya, punya anak perempuan yang tidak laku sepertimu! Saking inginnya jadi pegawai tetap, kau sampai menggoda kakak iparku! Haha!"
Tawa Sofia seketika sirna tatkala Vara melemparkan botol wewangian ke arah Sofia.
Prang...!
Botol wewangian yang terbuat dari material kaca itu pun hancur berantakan saat membentur lantai.
Vara menatap dingin ke arah Sofia yang mematung seketika.
...*****...
Sesabar-sabarnya seseorang pastilah ada titik di mana ia merasa kesabaran itu ada batasnya. Begitulah yang saat ini sedang dialami oleh Vara, saat ia harus mengabaikan semua mata yang memandangnya. Vara harus memenuhi panggilan dari Pak Ryo.
Semua orang langsung membicarakan perihal Vara yang terlibat pertengkaran dengan Sofia. Mereka semua membicarakan adegan spektakuler, seorang Vara yang senantiasa ceria dan selalu tersenyum ramah itu berubah menjadi sosok yang tidak mereka kenal saat melemparkan botol wewangian berbahan kaca ke arah Sofia.
"Sumpah! Merinding melihatnya!"
__ADS_1
"Kalau tidak meleset, hancur memang itu kepalanya Sofia!"
"Kok bisa, Sofia dan Vara bertengkar begitu? Gara-gara apa?"
Begitulah pertanyaan-pertanyaan dari para warganet yang hanya bisa saling berbincang melalui aplikasi pesan. Mereka semua tidak berani membahasnya langsung.
...*****...
Sofia memutuskan untuk pulang lebih dulu dalam rangka menenangkan diri, ia menangis histeris akibat perlakuan yang diterimanya dari Vara.
"Dasar wanita gila!" teriak Sofia sambil menangis histeris.
Sofia bahkan tidak bisa berjalan, dan merangkak saat keluar dari ruang kerja Vara. Lututnya gemetaran saking takutnya. Perasaan takut yang ia rasakan sama seperti saat ia melihat calon suaminya yang sedang meluapkan kemarahannya.
...*****...
Pak Ryo yang mendapat informasi dari Sofia jelas harus mengambil tindakan. Ia benar-benar tidak menduga bahwa Vara akan melakukan tindak penyerangan terhadap Sofia. Vara duduk diam di hadapan Pak Ryo yang nampak menghela napas berat berkali-kali.
Wanita di hadapannya ini benar-benar tidak terlihat seperti wanita yang bisa melakukan hal tersebut.
"Saya tidak menyerang Bu Sofia, Pak. Saya melakukannya dengan tujuan agar Bu Sofia berhenti mencecar saya dengan hinaan yang menguji batas kesabaran saya!" kata Vara mencoba menjelaskan masalah tersebut pada Pak Ryo.
Pak Ryo tertegun, entah mengapa ia jadi teringat sosok ibunya saat sedang marah. Ibunya akan melemparkan apapun yang bisa dilemparnya dalam rangka menghentikan keributan yang terjadi. Pak Ryo menyembunyikan senyumnya. Meski ia mendengar desas-desus miring tentang Vara dari Sofia, entah mengapa Pak Ryo cenderung mengabaikannya. Ia percaya Vara bukanlah wanita yang seperti itu.
"Saya bisa terima jika Bu Sofia menghina saya, namun saya benar-benar tidak terima beliau menghina orang tua saya! Saya tuh tidak bisa diginiin, Pak," kata Vara.
Vara sungguh begitu terbakar amarah. Masalah kembali menimpanya bertubi-tubi untuk menguji kewarasannya. Ia dipaksa bercerai dari suami yang begitu dicintainya dan harus hidup terpisah dari suaminya. Belum lagi masalah dengan pekerjaan, hingga ia mendapat surat peringatan dua padahal bukan karena kesalahannya. Sofia benar-benar telah membangkitkan kemarahan Vara yang selama ini hanya bisa dipendamnya.
"Baiklah, saya bisa memahami situasinya, Bu," kata Pak Ryo seraya mengangguk.
"Hanya saja, menurut saya lebih baik Bu Vara dan Sofia saling berdamai. Sungguh kurang nyaman jika harus bekerja saat ada konflik internal. Dikhawatirkan akan menurunkan kinerja," kata Pak Ryo.
"Pak, saya sadar posisi saya hanya karyawan dan Bu Sofia adalah adik ipar Anda! Hanya saja, saya punya hak untuk menolak berdamai dengan Bu Sofia yang benar-benar sudah melukai harga diri saya dan juga telah mempermalukan saya!" Vara menatap tajam ke arah Pak Ryo.
Pak Ryo lagi-lagi merasa terkesan dengan sikap tegas Vara yang menurutnya benar-benar sangat membuatnya terpesona.
"Terserah Pak, jika Anda akan memberi saya surat peringatan selanjutnya! Saya terima saja! Bahkan kalau anda mau memecat saya juga tidak masalah! Kebetulan saya juga sudah sangat lelah!" tandas Vara.
Entah apa yang merasuki Vara hingga ia benar-benar meluapkan semua kekesalannya pada Pak Ryo. Saat ini yang Vara rasakan hanyalah perasaan kesal dan kecewa.
Jelas sekali Pak Ryo lebih berpihak pada Sofia yang notabene adalah adik iparnya, sementara Vara hanyalah seorang karyawan biasa.
__ADS_1
...*****...