Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Keraguan Dua Hati


__ADS_3

Viceroy tidak bisa tidur, ia masih merasa berdebar-debar, batinnya begitu tersiksa. Sebenarnya, ia benar-benar mencium Vara atau tidak? Ia ragu, namun terlalu sungkan untuk bertanya pada Vara. Kalau memang tadi hanya halusinasi, mengapa rasanya begitu nyata?


Viceroy menoleh ke arah Vara yang tidur dalam posisi memunggunginya. Ia tak mau salah menuduhnya seperti saat dulu ia mengira bahwa Vara mencuri lip balmnya. Bagi Viceroy saat itu, lip balm adalah benda mewah yang baru bisa dibelinya saat memenangkan taruhan dengan kakaknya. 


"Kalau bibir pecah-pecah, bagusnya lip balm merek N," Viceroy mendengar obrolan Vara di kelas.


"Bagus, ya, merek N?" tanya Aulia, yang duduk sebangku dengan Vara.


"Bagus, tanpa warna, tanpa aroma," kata Vara bak pramuniaga di toko kosmetik.


Viceroy meraba bibirnya yang terasa kering dan perih karena kebiasaannya yang suka menjilat bibir.


Viceroy mendapat uang dari hasil bertaruh dengan Ryo, ia sungguh malu saat datang ke toko kosmetik.


"Cari apa, Mas?" tanya pramuniaga di toko kosmetik.


"Lip balm merk N, yang tanpa warna, tanpa aroma," jawab Viceroy ragu-ragu.


"Untuk pacarnya ya, Mas?" tanya pramuniaga sambil menyodorkan lip balm tersebut.


Viceroy tersenyum kecut, ia tidak pintar, tampan, kaya, dan populer, sehingga tak mungkin bisa punya pacar. 


"Berapa harganya?" tanya Viceroy.

__ADS_1


"Tiga puluh ribu," jawab pramuniaga itu ramah.


Viceroy ternganga, harga benda kecil yang fungsinya hanya melembabkan bibir itu setara satu bulan uang iuran sekolahnya. 


"Merek ini memang lebih mahal, karena paling bagus, juga awet, cukup satu kali oles, makanya bisa tahan hingga satu tahun pemakaian," lanjut pramuniaga itu.


Viceroy berpikir, jika dibagi satu tahun, perbulan hanya dua ribu lima ratus, masih terjangkau.


Lip balm itu benar-benar obat mujarab untuknya. Tiba-tiba benda kesayangannya itu tidak ada dalam tasnya. Padahal ia selalu menyimpannya dalam tas. Lalu di kelas, ia melihat Vara yang memakai lip balm bertanda V. Gadis itu mencurinya! 


Viceroy tidak terima ada maling yang terang-terangan mengambil barang miliknya. Viceroy harus merebut kembali apa yang memang menjadi miliknya!


Vara, gadis itu bahkan membiarkan Viceroy merampas lip balm itu. Viceroy juga memusuhi Vara, yang dianggapnya sebagai pencuri. 


"Aku cuma pinjam saja! Kau tak perlu marah seperti itu!" kata Ryo dengan ketusnya.


"Pinjam tanpa izin itu maksudnya apa?!" Viceroy geram sekali pada Ryo. "Kalau aku tidak tahu, pasti sudah jadi hak milikmu, Ryo!".


"Aduh, Ryo, Roy! Kalian ini meributkan apa?!" protes ibu mereka.


"Roy, Bu, pakai lipstik! Dia marah lipstiknya kusita," kata Ryo.


"Roy! Kau itu laki-laki! Untuk apa pakai lipstik?!" sergah ibunya.

__ADS_1


"Bukan lipstik, Bu! Ryo kuno sekali!" protes Viceroy.


"Roy, kita ini sudah susah, jangan berbuat yang aneh-aneh! Nanti jadi bahan tertawaan tetangga! Malu!" kata ibunya.


Viceroy kesal, karena ibu selalu berpihak pada Ryo.


"Tuh Bu, aku curiga, Roy jangan-jangan belok!" kata Ryo. 


"Ya sudah, nanti begitu lulus, Ibu carikan dia jodoh! Amit-amit jabang bayi, jangan sampai Roy jadi suka laki-laki!" rutuk ibunya.


Sejak saat itulah, ibu jadi lebih perhatian pada orientasi seksual Viceroy. Begitu lulus sekolah, ibu justru menyuruhnya untuk cari istri, bukan cari kerja.


Mana ada wanita yang mau menikah dengan pria tanpa penghasilan. Semua wanita butuh pria yang mapan secara finansial. Bahkan Regina pun demikian, wanita itu tidak menerima gaya hidup Viceroy yang dianggapnya terlalu sederhana.


Hanya Vara, wanita pertama yang dibonceng oleh Viceroy. Hanya Vara yang tak memandang rendah Viceroy yang bukan dari keluarga terpandang, bukan sarjana, dan bukan pekerja dari perusahaan multinasional papan atas.


Viceroy beringsut, mendekat ke arah Vara. Memeluk tubuh wanita itu, menghirup wangi sampo dan losion yang selalu dipakainya setiap sebelum tidur. 


Mengapa Viceroy merasa begitu kesal melihat wanita ini disentuh orang lain? 


Ingin rasanya ia mematahkan tangan terapis yang sudah begitu lancang beradegan erotis di depan matanya.


Vara mencoba untuk menutup matanya rapat-rapat. Ia tidak bisa tidur, karena Viceroy tiba-tiba memeluknya begitu erat. Vara mencoba berkompromi dengan jantungnya yang langsung berdebar-debar. Debaran ini sungguh berbeda dengan debaran yang ia rasakan dengan pria lain, bahkan dengan Pak Ryo yang selama tujuh tahun ini menjadi idolanya. Vara tidak bisa menolak pelukan Viceroy yang membuatnya merasa begitu nyaman. Tangan pria ini begitu kokoh melingkar memeluk perutnya. Vara tahu, ia sudah gila karena tidak menolak saat Viceroy menciumnya dengan begitu buas. Jika saja Vara tidak segera menyadari apa yang telah mereka lakukan, entah apa yang terjadi selanjutnya. Pria itu memberinya sentuhan erotis, menghipnotisnya dengan tubuh atletisnya yang menggiurkan. Vara tahu pria itu tidak mencintainya, mereka berciuman hanya sama-sama terbawa suasana. Jika mereka melakukan kegiatan merayu pulau kelapa, itu bukan karena mereka saling mencintai. Nantinya tak lebih hanya berakhir sebagai cinta satu malam. Kalau bisa cinta setiap malam, kenapa hanya boleh satu malam?

__ADS_1


Lagipula Viceroy juga terang-terangan menganggap Vara bukan seleranya, karena pastinya pria itu sudah memiliki tambatan hati lain, dan itu pasti bukan Vara.


__ADS_2