
Ryo langsung mengikuti Viceroy yang menuju ke parkiran. Bertemu dengan adiknya itu sungguh tidak mudah, mengingat betapa padatnya jadwal mereka. Ia sungguh kaget, begitu keluar dari ruang meeting sosok yang ditemuinya adalah pasangan suami istri yang begitu licik dan ambisius.
Viceroy segera duduk di kursi kemudi, Ryo pun segera membuka pintu depan di samping pengemudi.
"Roy, kita harus bicara," kata Ryo yang langsung duduk dan memasang sabuk pengamannya.
Viceroy menghela nafas berat, sambil memasang sabuk pengaman. Ia segera menginjak pedal gas menyusuri parkiran bawah tanah yang temaram.
"Aku sungguh kecewa, kau begitu curang, sebegitu inginnya kau menang dariku," kata Ryo sambil tertawa.
"Siapa yang curang? Bukankah justru yang curang adalah kau yang tidak bisa menerima kekalahan," Viceroy balas mengejek tanpa mengalihkan pandangannya.
"Seleramu terhadap wanita sungguh buruk! Sungguh, aku mendukung ibu yang begitu selektif untuk mencarikanmu jodoh!" lanjut Ryo.
"Ryo, bukankah kita sudah bertaruh, yang lebih dulu menikah adalah pemenangnya! Kau tak berhak mengomentari seleraku, akui saja kekalahanmu," balas Viceroy seraya tertawa.
"Mana bisa aku mengakui kekalahanku, sedangkan kau berbuat curang seperti itu!" tandas Ryo.
"Katakan padaku, di mana kecuranganku?! Aku benar-benar sudah menikah dengan wanita yang kuinginkan! Kami menikah secara resmi, sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku!" balas Viceroy.
"Haha!" Ryo tertawa lagi.
Adiknya ini benar-benar sudah kepincut janda gatal dan mata duitan karena dibutakan oleh ambisi.
__ADS_1
"Aku sungguh berharap, ibu tidak merestui pernikahan kalian! Sehingga pernikahan kalian dibatalkan!" kata Ryo menghentikan tawanya.
"Ryo, kau berkata seyakin itu, seakan kau mengenal istriku saja!" kata Viceroy.
"Tentu saja aku mengenal istrimu, istrimu itu bahkan menawarkan dirinya untuk tidur denganku!" sahut Ryo seraya tertawa.
Viceroy menginjak pedal rem dalam-dalam, terdengar bunyi ban yang berdecit nyaring disertai bunyi klakson panjang dari kendaraan di belakang mereka.
"Woi! Bisa nyetir tidak?!" terdengar teriakan dari luar mobil Viceroy.
Viceroy membuka kaca mobilnya saat ada pria dan disusul wanita paruh baya yang langsung berdiri di balik pintu kemudi.
"Mobil saja yang bagus, tapi tidak bisa menyetir! SIM-nya pasti nembak!" seru pria paruh baya itu berang.
Viceroy keluar dari mobilnya, pria dan wanita paruh baya itu langsung mundur begitu melihat sosok tampan di hadapan mereka.
"Maaf," kata Viceroy. "Apa ada yang rusak?" tanya Viceroy.
"Ti-tidak ada," jawab pria itu tergagap.
Sementara wanita paruh baya itu nampak mematung.
Viceroy kembali memasuki mobilnya. Perkataan Ryo benar-benar memancing emosinya. Ia kembali menginjak pedal gas dan melajukan kembali mobil. Sementara Ryo tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Ryo, bagaimana kau bisa termakan berita hoaks seperti itu?!" teriak Viceroy murka.
"Berita hoaks? Aku bicara sesuai fakta, Roy! Entah kau memilih menutup mata karena sudah dibutakan oleh cinta atau ambisimu! Begini saja, mungkin kita perlu merevisi taruhan kita!" kata Ryo masih tetap tenang.
"Aku bertaruh, ibu tidak akan merestui kalian."
"Maaf, Ryo, aku tidak tertarik menjadikan istriku sebagai bahan taruhan!" tolak Viceroy.
"Kau tidak tertarik, atau istrimu itu begitu memalukan? Ah, ya, dia memang wanita murahan, binal, dan gatal ?!" Ryo memprovokasi Viceroy.
"Ryo! Tolong kau tarik ucapanmu barusan! Kau sungguh merendahkan istriku!" tandas Viceroy geram.
"Sungguh, aku akan memohon pengampunan, berlutut, bersujud, dan meminum air cucian kaki istrimu itu, kalau kau bisa menang dariku!" kata Ryo tersenyum lagi. "Kalau kau kalah, kau harus memohon pengampunanku! Menceraikan istrimu itu! Sungguh, aku tidak sudi punya adik ipar menjijikkan seperti itu!"
"Cukup, Ryo! Pembicaraan kita selesai di sini," Viceroy menepikan mobilnya di pinggir jalan raya.
"Sepakat, ya!" kata Ryo sebelum keluar dari mobil.
Viceroy hanya diam saja, dalam hati ia mengutuk siapa pun yang menyebarkan berita hoaks tentang Vara. Bagaimana Ryo bisa menghakimi Vara?! Bahkan mengatakan bahwa Vara sudah menggodanya?
Pasti ada pihak yang sengaja menjatuhkan Vara. Vara bukan wanita murahan yang binal dan gatal! Wanita itu bahkan menangis ketakutan karena Viceroy ingin menyentuhnya. Vara bahkan mengaku bahwa Viceroy adalah pria pertama yang berciuman dengannya. Pun demikian Viceroy yang juga baru pertama kali mencium seorang wanita. Tubuhnya tidak semurah itu untuk bisa disentuh oleh sembarang wanita. Dua tahun ia dekat dengan Regina, menggenggam tangan Regina pun tak pernah ia lakukan. Pria sejati adalah pria yang menghargai dan menghormati wanita, terlebih wanita yang diinginkannya.
__ADS_1