
Vara bergegas ke pasar modern yang lokasinya tak jauh dari komplek perumahan elit tersebut. Ia membaca berkali-kali daftar belanjaan ajaib itu. Ia segera menelepon Mbak Rani, ibu rumah tangga yang sudah berumah tangga selama dua puluh tahun.
"Mbak Rani, telur bersertifikasi itu apa, ya?" tanya Vara.
"Telur apa?" Mbak Rani balik bertanya.
"Telur bersertifikasi," Vara mengulangi.
"Telur yang ada label halalnya mungkin, kenapa kau tanya itu, Vara?"
"Terima kasih, Mbak, nanti kuhubungi lagi," kata Vara mengakhiri teleponnya.
Ia sudah berada di kios yang menjual telur.
Vara kembali menghubungi seseorang.
"Ozy, apa kau tahu, apa itu telur bersertifikasi?" tanya Vara.
"Kenapa kau tanya begitu?" tanya Ozy.
"Cepat dijawab saja," kata Vara.
"Telur bersertifikasi itu hmm... hihi...," Ozy terkekeh.
"Apa sih, Ozy, kenapa kau malah tertawa?" protes Vara.
"Telur bersertifikasi itu, bukannya telur suamimu, ya? hihihi...," Ozy tertawa lagi, membuat Vara mendelik gusar.
"Ozy, mulut, Ozy," gerutu Vara.
"Loh, benar kan, suamimu sudah bersertifikasi dari Departemen Agama, sudah dapat stempel halal!" sahut Ozy.
Vara melihat ke arah telur-telur yang tersusun dalam piringnya.
__ADS_1
"Ozy, apa kau tahu, daging istimewa itu apa?" tanya Vara lagi.
"Ya ampun, Vara, tidakkah kau berpikir suamimu itu sungguh istimewa! Ketampanannya sungguh khas! Yang khas sudah pasti istimewa!" lanjut Ozy.
Vara kembali memutar bola matanya.
"Oke, oke, aku mengerti, lalu kau tahu hewan perusak susu itu apa?" tanya Vara lagi.
Terdengar Ozy tertawa di seberang sana.
"Kenapa pertanyaanmu sungguh cabul Vara? Apa suamimu begitu buas sehingga kau menjadi secabul itu?!" komentar Ozy.
Vara kembali mendelik gusar.
"Lagipula Vara, untuk apa kau menanyakan pertanyaan aneh-aneh seperti itu?" tanya Ozy.
"Ini tebak-tebakan berhadiah, kalau jawabanku benar semua, aku akan mentraktirmu makan!" jawab Vara.
"Benarkah?! Apa suamimu juga akan ikut?" tanya Ozy antusias.
"Vara, apa kau pernah mendengar sebuah pepatah?" tanya Ozy lagi.
"Pepatah apa?" tanya Vara.
Ozy tertawa lagi, sambil mengatakan pepatah itu.
"Baiklah, aku mengerti, terima kasih, ya, Ozy, sampai nanti," kata Vara.
"Vara, salam untuk suamimu yang tampan itu!" kata Ozy sebelum Vara menutup teleponnya.
Vara hanya bisa geleng-geleng kepala, Ozy, temannya itu sungguh nyentrik. Pria yang lebih pesolek daripada Viceroy. Vara seakan mendapat pencerahan setelah berbincang dengan Ozy. Ia segera membeli telur bersertifikasi di kios telur, bergegas ke kios daging untuk membeli daging istimewa, dan terakhir hewan perusak susu.
...*****...
__ADS_1
Vara kembali ke rumah ibu Viceroy, membawa hasil perburuannya di pasar. Vara tak menyangka dalam tiga puluh menit, ia sudah kembali. Viceroy masih ada di ruang keluarga, duduk bersama ibunya menunggu kedatangan Vara.
Virda menatap tajam pada Vara, ia berjalan menuju ke dapur, menyuruh Vara untuk membongkar barang-barang yang dibeli Vara. Virda sungguh akan melemparkan dan mengusir wanita itu, jika dia salah menafsirkan daftar barang ajaib yang diminta Virda. Mumpung ada Viceroy, jadi sekalian saja membuka mata Viceroy, bahwa wanita pilihan anaknya itu sungguh bodoh, tak punya otak, dan tak tahu malu.
"Keluarkan barang-barang belanjaanmu!" perintah Virda.
Vara mengeluarkan 10 butir telur bersertifikasi yang ditafsirkan Vara sebagai telur asin yang biasa diberi stempel pada bagian cangkangnya. Viceroy mengambil catatan yang dipegang Vara. Viceroy tersenyum, membaca daftar barang ajaib nan misterius yang menjadi bahan ujian Vara.
Virda memasang ekspresi datar, dalam hati ia mengumpat kesal, karena wanita muda di depannya ini membawakan telur asin yang sudah ia samarkan sebagai telur bersertifikasi.
Selanjutnya untuk daging istimewa, Vara mengartikannya sebagai daging sapi khas dalam yang lagi-lagi membuat Virda harus menutupi keterkejutannya.
"Mengapa kau menafsirkan hewan perusak susu sebagai ikan ini?!" tanya Virda saat melihat ikan hidup yang diletakan Bi Jiah dalam wadah kaca besar.
Vara tersenyum.
"Saya teringat pepatah yang mengatakan 'karena nila setitik rusak susu sebelanga'," jawab Vara.
Virda masih memasang ekspresi datar, ia sungguh tidak terima wanita muda ini begitu cerdas dalam menafsirkan semua daftar belanjaan uniknya. Dari semua wanita yang pernah diujinya dengan menggunakan daftar barang itu, hanya wanita ini yang bisa menafsirkan semuanya dengan benar. Lagi-lagi Virda tidak bersedia mengakui keberhasilan Vara. Ia melihat Viceroy yang menatap Vara sambil tersenyum. Terlihat jelas, bahwa dua manusia di depannya ini saling jatuh cinta.
Virda menghela nafas berat, tanpa mengatakan sepatah kata pun, Virda meninggalkan mereka.
...*****...
"Viceroy, mengapa ibumu hanya diam saja?" tanya Vara begitu mereka bergegas meninggalkan rumah.
Viceroy tersenyum menatap Vara.
"Harusnya kau senang, ibuku tidak mengomel," sahut Viceroy.
"Benarkah?" tanya Vara keheranan.
"Saat aku masih kecil, ibu mengomeliku saat aku salah membeli tepung tapioka. Ibu menyuruhku membeli tepung tapioka merek H, karena tidak ada, aku membeli tepung tapioka merek lain yang harganya lebih murah. Ibuku marah dan mengomel, menyuruhku untuk mengembalikan tepung tersebut dan bersikeras menyuruhku mencari tepung tapioka merek H," kenang Viceroy.
__ADS_1
Vara tertawa, ia sungguh harus berterima kasih kepada Ozy yang telah memberinya inspirasi untuk menjawab tebak-tebakan itu.