
Sofia berkutat di depan cermin sambil memulas pewarna bibir berwarna merah gelap pada bibirnya yang tebal dan penuh. Ia sangat senang dengan hasil sulam bibir yang membuat bibirnya terlihat sensual. Ia mengamati pipinya yang masih berisi padahal ia sudah menjalani prosedur tanam benang guna menghilangkan efek pipinya yang begitu bulat.
Ia berpikir untuk melakukan operasi bedah plastik jika sudah resmi menjadi istri Viceroy. Dengan kekayaan yang dimiliki oleh calon suaminya itu, tentulah ia harus mempermak habis dirinya agar bisa nampak seseksi istri Viceroy. Sepertinya calon suaminya itu memang suka sekali wanita bertubuh kurus dengan aset besar.
Hari ini Sofia akan kembali mengunjungi Viceroy. Ia bertekad untuk semakin mengakrabkan diri dengan calon suaminya itu. Terserah jika pria itu masih tetap bersikap dingin terhadapnya. Jika Sofia terus berusaha keras, suatu saat calon suaminya itu pasti akan luluh juga. Sofia tentu sangat berharap calon suaminya yang begitu keras dan dingin seperti es batu itu suatu hari akan mencair dengan kehangatan yang diberikan oleh Sofia.
"Sofia, kau mau ke mana?" tanya Alya melihat Sofia yang bergegas pulang dari kantor padahal belum jam pulang kerja.
"Aku harus datang ke kantor suamiku untuk menemuinya, Alya," sahut Sofia dengan penuh percaya diri.
Sofia segera melangkah pergi meninggalkan ruang kerjanya. Ia berpapasan dengan semua orang, yang diabaikannya begitu saja. Matanya tertuju pada ruangan staff kas operasional yang nampak dipenuhi pegawai pria. Ia mencari tahu siapa Vara yang digunjingkan bersama teman-temannya.
Sofia melayangkan pandangan kepada sosok wanita berkulit putih yang nampak menebarkan senyum kepada para pegawai laki-laki yang mengantri di depan meja kerjanya.
Sungguh wanita murahan! Itulah yang ada dalam benak Sofia.
Wanita itu benar-benar sangat berbahaya untuk Kak Ryo! Sofia masih membatin.
...*****...
Sofia segera memarkirkan mobilnya di depan pelataran gedung perusahaan Royal Grup. Petugas keamanan segera menghadang Sofia yang hendak menerobos masuk ke gedung perusahaan tersebut.
"Kalian benar-benar keterlaluan! Bagaimana bisa kalian menghalangiku untuk masuk ke kantor suamiku sendiri?!" teriak Sofia penuh kemurkaan.
"Maaf Bu, pesan Pak Roy anda dilarang masuk jika hanya akan membuat keributan," Pak Edris selaku petugas keamanan menjelaskan pada Sofia.
"Apa?! Aku dilarang masuk untuk menemui suamiku sendiri?!" sembur Sofia penuh kemurkaan.
"Maaf Bu, saya hanya menjalankan perintah," lanjut pria berusia awal empat puluh tersebut.
Sofia benar-benar geram, Viceroy bahkan tidak mengizinkannya untuk menemuinya di kantor. Sofia mengumpat dalam hati.
Bagaimana cara untuk mendekatkan diri pada Viceroy sementara pria itu terus-menerus membangun tembok penghalang setinggi langit yang menghalangi Sofia untuk masuk dalam kehidupan pria itu?
"Roy, kau benar-benar salah jika terus memperlakukanku seperti ini," Sofia bermonolog sambil memukul setir mobilnya.
"Ini semua pasti karena pengaruh istrinya itu! Dasar wanita murahan yang tidak tahu diri!" maki Sofia yang terdengar begitu frustrasi.
Sofia segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Tante Virda. Ia benar-benar harus mengadukan semua kepada calon mertuanya itu.
...*****...
Sofia segera menuju ke halaman belakang rumah mewah yang sebentar lagi akan menjadi miliknya itu. Ia bergegas menuju ke halaman belakang untuk menemui Tante Virda yang saat ini sedang melakukan kegiatan yoga bersama instruktur pribadinya.
Sofia sungguh takjub melihat penampilan calon ibu mertuanya yang senantiasa terlihat cantik meski usia Virda sudah akan mencapai kepala enam. Sofia seakan bisa melihat masa depannya nanti jika ia menjadi istri Viceroy. Ia akan secantik Tante Virda yang hidupnya sarat akan kemewahan paripurna. Padahal menurut penuturan dari ibunya, Virda dulu hidup tidak semewah ini. Kesuksesan kedua anaknya benar-benar mengubah kehidupan Virda.
__ADS_1
"Tante Virda," sapa Sofia.
Virda yang baru selesai berlatih yoga terlihat memasang ekspresi datar.
"Ada apa Sofia?" tanya Virda sambil menyeka keringat dengan handuk kecil.
Sofia segera memasang ekspresi sesedih mungkin.
"Tante Virda," Sofia mulai meneteskan air mata.
"Ada apa, Sofia?" tanya Virda keheranan.
"Beberapa waktu yang lalu aku bertemu dengan istri Roy. Aku meminta wanita itu untuk meninggalkan Roy," Sofia memulai ceritanya.
"Kau bertemu dengan istri Roy?" Virda memasang ekspresi terkejut.
Sofia mengangguk dengan air mata yang menganak sungai.
"Istri Roy menolak dengan tegas untuk meninggalkan Roy. Wanita itu bahkan tidak peduli meski Tante Virda tidak merestuinya. Wanita itu terang-terangan menentang keputusan Tante Virda," Sofia menangis sesenggukan.
"Roy juga begitu, Tante. Ia melarangku untuk datang ke kantornya. Bagaimana caraku untuk mendekatkan diri pada Roy, jika Roy makin memperdalam jurang pemisah di antara kami?"
"Sofia," kata Virda sambil menghela napas berat.
"Istri Roy benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya wanita itu menentang keputusanku," Virda tertawa dingin.
"Roy bahkan tidak tinggal di rumah ini, dia pasti masih tinggal bersama istrinya, bukankah begitu?!" kata Sofia.
"Roy memang orang yang sangat tertutup Sofia, jadi kau harus bersabar," kata Virda.
"Tapi Tante, istri Roy itu sungguh tidak tahu diri! Jelas aku yang lebih direstui Tante, tapi wanita itu justru tidak peduli! Tante harus mengambil tindakan!" kata Sofia memprovokasi Virda.
"Apalagi istri Roy begitu seksi, pantas saja Roy begitu bertekuk lutut!" gerutu Sofia.
"Baiklah Sofia, aku mengerti," kata Virda.
"Tante harus melakukan sesuatu untuk memisahkan mereka," desak Sofia.
Virda mengulas senyumnya, menatap Sofia yang benar-benar sangat peduli pada Roy.
"Baiklah Sofia, kau tenang saja. Biar aku yang mengurus semuanya. Sekarang kau pulanglah," kata Virda.
Sofia memeluk Virda dengan erat. Dalam hati ia bersorak kegirangan.
Habis memang kau istri Roy! Kita lihat siapa yang lebih berkuasa antara kau atau Tante Virda, batin Sofia.
__ADS_1
"Terima kasih Tante, kalau begitu aku pamit dulu," kata Sofia berpamitan.
...*****...
Virda merenung, kebijaksanaannya sebagai orang tua sedang diuji. Ryo dan Viceroy adalah anaknya yang begitu berharga. Ia tentu tidak ingin anak-anaknya hidup bersama wanita yang salah. Wanita yang tidak jelas asal-usulnya, terlebih jika hanya menginginkan harta anak-anaknya saja. Dari pada kekayaan anak-anaknya jatuh ke orang lain yang tidak jelas, lebih baik untuk keluarga sendiri.
Jangan sampai seperti keluarga suaminya yang justru meninggalkannya setelah kematian sang suami. Jelas sekali keluarga Vicram hanya baik padanya saat Vicram masih hidup.
"Ibu, apa yang Ibu lamunkan?" tanya Ryo mendapati ibunya melamun di meja makan.
"Kau baru pulang Ryo?" tanya Virda.
"Iya, Bu," jawab Ryo langsung memeluk ibunya.
Virda tersenyum menatap Ryo yang memiliki penampilan persis seperti suaminya, seakan Ryo merupakan hasil salin-tempel dari almarhum suaminya. Bahkan tahun ini Ryo berusia sama dengan suaminya saat meninggal.
"Jangan bekerja terlalu keras, jangan terlalu kelelahan, jaga terus kesehatanmu," kata Virda menasehati Ryo.
"Ibu, aku sungguh baik-baik saja," kata Ryo.
"Ayahmu dulu juga seperti itu! Ibu selalu mewanti-wantinya agar menjaga kesehatan!" kata Virda.
"Ibu, aku harus bekerja keras demi keluarga kita," kata Ryo.
"Ryo, apa kau tahu, di usia sepertimu ini ayahmu dulu sudah punya dua anak yang beranjak remaja?" kata Virda.
"Ibu, bukankah kita sudah sepakat, Ibu harus fokus pada masalah Roy dulu," kata Ryo.
"Iya, maksud Ibu, bukankah lebih baik jika kau dan Roy sama-sama menikah? Kalian bisa membuat resepsi pernikahan bersama agar lebih efisien," usul Virda.
"Jadi tidak perlu repot membuat acara pesta pernikahan dan mengundang orang berkali-kali," lanjut Virda.
Ryo menghela napas berat.
"Ryo, setiap tahun Ibumu ini semakin tua. Ibu tentu harus membatasi kegiatan-kegiatan yang melelahkan. Ibu sungguh tidak sabar melihatmu dan juga Roy naik pelaminan dengan pasangan kalian!" kata Virda.
"Apa Ibu juga akan mengaturkan perjodohan untukku?" tanya Ryo.
"Kalau melihat wanita yang kau bawa seperti siapa dulu itu, tentu saja Ibu harus menjodohkanmu dengan wanita lain pilihan Ibu! Pokoknya jangan ikut-ikutan dengan Roy! Cukup jadikan pengalaman Roy sebagai pelajaran!" kata Virda.
"Iya, aku mengerti, Bu," kata Ryo.
"Sumpah, Ibu lelah harus mengurus masalah Roy! Roy masih saja belum bergerak untuk menceraikan istrinya!" gerutu Virda.
"Ibu, mereka bahkan masih hidup bersama. Bagaimana Roy bisa menceraikan istrinya?! Apalagi istri Roy adalah wanita yang begitu berpengalaman dalam memuaskan pria! Sudah jelas Roy keberatan berpisah dari istrinya itu!" beber Ryo.
__ADS_1
"Lebih baik Ibu menyuruh Roy tinggal di sini lagi. Jadi Ibu bisa mengawasi pergerakan Roy," usul Ryo.
"Kita lihat saja Bu, Roy lebih menuruti permintaan Ibu ataukah lebih memilih istrinya itu," Ryo tersenyum penuh kemenangan.