Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Amarah


__ADS_3

Semua mata tertuju pada pria berparas rupawan dengan tubuh tinggi menjulang yang terbungkus sempurna dalam setelan jas berwarna hitam. Semua orang akan lebih percaya bahwa pria itu adalah seorang model pakaian tersohor. Rambutnya yang hitam tertata rapi dengan gel rambut yang membuatnya nampak senantiasa basah. Semua orang sangat takut melihat tatapan matanya yang tajam dan dingin serta begitu mengintimidasi.


Pak Roy, begitulah semua orang memanggil pria yang kini menjadi pemegang kuasa penuh atas Victory Grup pasca Pak Ryo selaku pemilik perusahaan tersebut mendadak sakit. Semua karyawan berkumpul untuk mendengarkan arahan langsung dari pria bertampang kaku itu.


"Mulai hari ini, saya Viceroy Lavais adalah pemegang kuasa penuh atas Victory Grup. Oleh karena itu saya punya hak untuk merombak habis semua manajemen yang ada sebelumnya. Sehingga kerja sama yang baik harap lebih ditingkatkan guna tercapainya visi dan misi perusahaan! Sekian," kata Viceroy di hadapan ratusan pasang mata yang memandangnya.


Viceroy harus mulai memperbaiki manajemen perusahaan Ryo agar sama dengan perusahaannya. Viceroy sudah mempelajari betapa kacaunya perusahaan yang dikelola oleh Ryo. Perusahaan itu terkesan hanya jalan di tempat. Sehingga ia memang harus merapikan perusahaan tersebut secara signifikan.


Mata Viceroy tertuju pada Vara yang menatapnya sambil tersenyum. Wanita itu terus memandangnya dan sejujurnya membuat Viceroy salah tingkah sendiri. Hanya saja ia harus tetap bersikap profesional. Baginya pekerjaan adalah pekerjaan. Sementara urusan pribadi tidak boleh disangkut pautkan dengan pekerjaan. Namun, tetap saja senyum Vara yang begitu menawan benar-benar membuat Viceroy panas dingin. Siapa yang bisa menduga bahwa Vara ternyata akan menjadi pegawainya?


Jangan senyum-senyum seperti itu! Kau benar-benar terlihat semakin cantik! Batin Viceroy menatap tajam ke arah Vara.


Ia benar-benar berharap Vara bisa membaca pikirannya.


Sofia bertepuk tangan heboh membuat semua mata langsung tertuju padanya.


"Pidato yang bagus sekali, Roy! Bravo! Itu baru suamiku," kata Sofia bersorak heboh.


Namun, Sofia menyadari bahwa tak ada satu pun yang berani mengikutinya untuk bertepuk tangan karena Viceroy sudah menatap seakan hendak memutilasi Sofia.


...*****...


Vara segera bergegas menuju ke ruang kerja Pak Ryo. Ruang kerja itu kini dihuni oleh Viceroy. Terlihat Sofia berkeliaran di sekitar ruangan kerja itu. Vara benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata Sofia adalah calon istri yang telah disiapkan oleh Ibu Suri untuk Viceroy. Pantas saja Vara merasa begitu familiar dengan penampilan Sofia yang menggunakan gaya Ibu Suri sebagai kiblatnya. Vara benar-benar memilih untuk tidak bersama Viceroy lagi jika ia harus menggunakan style Ibu Suri sebagai kiblat fashionnya. Tak bisa Vara membayangkan dirinya memakai gaun-gaun besar penuh dengan taburan kristal swarovsky, mengenakan riasan bergaya gothic, serta memakai semua perhiasan emas dan berlian yang membuatnya persis seperti toko perhiasan berjalan.


Belum menjadi istri Viceroy saja, gaya Sofia sudah seperti itu. Apalagi jika Sofia menjadi istri Viceroy, mungkin Sofia akan memakai mahkota agar ia benar-benar terlihat seperti seorang ratu.


Fakta menarik lainnya tentang Sofia adalah selama ini wanita itu bahkan sudah mengaku dengan rasa bangganya yang sangat berlebihan bahwa Viceroy adalah suaminya. Padahal saat itu Viceroy masih menjadi suami sah Vara.


Vara jadi ingin tahu, bagaimana reaksi Sofia jika wanita itu tahu bahwa selama ini Vara adalah istri sah Viceroy.


"Mau ke mana kau, Vara?!" Sofia segera menghadang langkah Vara.


"Aku mau menemui Pak Roy," jawab Vara sambil tersenyum.


"Mau apa kau menemui suamiku? Apa karena kau tidak berhasil menggoda kakak iparku lantas kau berniat untuk menggoda suamiku?!" cecar Sofia pada Vara.


"Suamimu? Bukankah kau belum menikah dengan Pak Roy?!" tanya Vara dengan nada penuh ejekan.


Sofia terlihat menahan rasa kesalnya karena Vara mengejeknya.


"Ya, sekarang atau nanti, toh Pak Roy akan jadi suamiku juga!" sahut Sofia sambil melotot ke arah Vara.


Vara mencebik, ia mengabaikan Sofia, dan kembali melanjutkan langkahnya.


Ia segera mengetuk pintu ruang kerja yang terbuka. Matanya menangkap sosok Viceroy yang nampak sibuk memeriksa tumpukan dokumen di meja kerja Pak Ryo.


"Selamat siang, Pak Viceroy," sapa Vara.


Viceroy menatap Vara yang berdiri di ambang pintu.


"Bolehkah saya masuk?" tanya Vara.


"Silakan," jawab Viceroy singkat.


Vara menatap Viceroy sambil tetap tersenyum. Vara sungguh tak menduga bahwa mantan suaminya itu akan menjadi atasannya. Vara memang harus mundur dari perusahaan ini agar ia benar-benar fokus memberi ruang dan waktu pada dirinya dan juga hubungan mereka.


"Pak, dasi Anda terlihat tidak cocok," kata Vara.


Viceroy terlihat diam, ia meraih tas kerjanya dan mengeluarkan beberapa gulungan dasi. Tas kerja bermodel ransel itu benar-benar sudah seperti kantong ajaib Doraemon lantaran berisi banyak barang-barang pribadinya.


"Mana yang menurut Anda cocok, Bu?" tanya Viceroy tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang serius.


"Tanyakan saja pada istri Anda," jawab Vara dengan nada menyindir.


"Maaf Bu Vara, saat ini saya tidak punya istri," jawab Viceroy.


Vara kembali mengulas senyumnya. Mata tajam pria itu benar-benar menatap Vara tanpa henti.


"Bu Vara, Anda jangan senyum-senyum seperti itu, Anda benar-benar terlihat sangat cantik, saya jadi makin suka," kata Viceroy masih dengan ekspresi wajah yang begitu serius.


Vara merasa sudah cukup ia berbasa-basi untuk menghilangkan rasa tegangnya. Viceroy yang saat ini berada di hadapannya benar-benar sangat berbeda dengan Viceroy yang biasa ia temui saat mereka masih bersama. Tidak ada senyum ramah di wajah pria itu. Yang ada hanyalah wajah kaku seperti kanebo kering.


"Pak Viceroy, saya mau menyampaikan bahwa saya akan mengundurkan diri dari perusahaan ini," kata Vara.


Viceroy menatap tajam ke arah Vara.


"Kenapa Anda mengundurkan diri? Apa karena ada saya di sini?" tanya Viceroy.


"Tidak Pak, saya hanya lelah dan butuh istirahat. Tujuh tahun bekerja, saya bahkan tidak pernah mengambil cuti, karena sebelumnya saya hanya terfokus pada pekerjaan," jawab Vara dengan cepat.


Viceroy menghela napasnya, ia bersandar sambil melipat tangan di depan dada.


"Bu Vara, saya rasa itu hanya alasan yang Anda cari-cari untuk menghindari saya," kata Viceroy.


Vara menatap lurus ke arah Viceroy.


"Begini ceritanya, Pak," jawab Vara.


"Bu Vara, tolong jangan terlalu banyak cerita, nanti waktu saya di kantor habis! Kalau Anda mau cerita, nanti malam saya jemput Anda dan kita bisa makan malam bersama," kata Viceroy.


"Maaf Pak, saya harus berkemas untuk pulang kampung," jawab Vara.


"Bu, bagaimana jika saya beri Anda cuti saja?" tanya Viceroy.


Vara menatap lurus mantan suaminya itu.


"Maaf Pak, keputusan saya sudah bulat, saya mundur dari perusahaan ini," jawab Vara dengan tegas.


Viceroy beranjak dari kursi kerjanya, ia segera menjatuhkan dirinya ke atas sofa. Menatap langit-langit ruang kerja Ryo. Cukup lama ia terdiam dan berpikir. Viceroy melonggarkan ikatan dasinya sambil menghela napas berat berkali-kali.


Vara benar-benar serius untuk menjauh darinya, bagaimana Viceroy bisa mendekatkan diri pada Vara?


"Bu Vara, tolong pilihkan dasi yang menurut Anda bagus untuk saya," kata Viceroy.


Vara mengambil dasi berwarna biru gelap dengan garis berwarna abu-abu yang masih tergulung.


"Tolong pakaikan untuk saya," kata Viceroy memberi perintah.


Vara segera duduk di sofa dan mulai mengalungkan dasi yang akan dipasangnya di leher Viceroy. Vara jadi teringat saat pertama kali memasang dasi untuk Viceroy.


"Mengapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Viceroy.


"Aku pikir kau dulu marketing bank yang terlihat begitu rapi saat memakai dasi," jawab Vara.


"Ternyata, hanya pedagang ikan?" tanya Viceroy seraya terkekeh.


Vara hanya mengulas senyumnya. Viceroy benar-benar sangat rindu untuk menyentuh Vara seperti saat Vara masih menjadi miliknya.


"Vara, aku benar-benar ingin menciummu," kata Viceroy dengan ekspresi memelas.


"Maaf, aku tidak akan mengizinkanmu menciumku!" kata Vara sambil menyimpul dasi tersebut.

__ADS_1


"Kenapa? Apa karena kau bukan milikku lagi?" tanya Viceroy.


Vara menggeleng.


"Nanti kau akan berpikir bahwa aku juga melakukannya dengan pria lain! Tolong jangan membuatku terlihat rendah, mentang-mentang saat ini aku seorang janda," gerutu Vara.


"Begitu ya, jadi sekarang kau melihatku seperti seorang duda yang gatal?" tanya Viceroy seraya terkekeh.


"Vara, dedek aku kangen yang hangat-hangat sempit," kata Viceroy sambil menatap manja ke arah Vara.


Vara tersenyum kecut


"Viceroy, nyalakan saja kompor! Kau tidak hanya akan merasa hangat, tapi langsung terbakar!" tandas Vara.


"Vara, sungguh teganya dirimu!" cibir Viceroy. "Nanti kau yang menyesal loh, kehilangan dedek gemes aku," kata Viceroy masih bertingkah sok imut.


"Tidak masalah, masih banyak dedek gemes lain," jawab Vara dengan entengnya.


Viceroy terkesiap.


"Vara, apa maksudmu berkata begitu? Apa kau sudah berniat mencari laki-laki lain makanya kau menolak untuk menikah lagi denganku?" tanya Viceroy.


Vara hanya mengulas senyumnya, dan itu benar-benar membuat Viceroy tak henti-hentinya menatap Vara.


...*****...


Sofia mendelik gusar, ia benar-benar penasaran mengapa Vara belum juga keluar dari ruang kerja Viceroy. Sofia benar-benar ingin tahu, namun Viceroy sudah mengultimatum Sofia untuk tidak mencampuri urusannya.


Sofia benar-benar kehilangan kesabaran. Sungguh ia akan menjambak rambut wanita murahan itu jika wanita itu berani menggoda calon suaminya.


Sofia bergegas menuju ke ruangan kerja Viceroy. Alangkah terkejutnya ia saat mendapati Vara yang sedang memasang dasi ke leher Viceroy. Terlihat keduanya nampak tersenyum malu-malu.


Sofia merasa darahnya mendidih seketika saat menyaksikan adegan tersebut.


"Vara! Dasar kau wanita murahan!" teriak Sofia yang langsung berlari ke arah Vara untuk menyerang Vara.


Belum sempat Sofia meraih Vara, Sofia jatuh terjerembab ke lantai karena kakinya tersangkut gaun panjang yang dikenakannya. Sofia terjatuh cukup keras dan menimbulkan bunyi debuman yang membahana. Tubuh gempalnya ambruk dan ia mendarat sempurna di lantai, ia berpose seperti hewan bajing loncat raksasa yang melompat ke udara.


"Ughh, kesal!" maki Sofia saat berusaha bangkit dengan tertatih-tatih.


Bagian bawah gaun yang dikenakan Sofia robek, hidung Sofia nampak mengeluarkan darah, begitu pun dengan mulutnya. Sofia benar-benar tidak merasakan rasa sakit, lantaran saat ini kemarahan sedang menyelimutinya.


"Roy! Kau jangan mau tertipu dengan rubah betina ini! Dia perawan tua yang gatal dan bahkan sudah menggoda Kak Ryo! Lihat, setelah tak berhasil menggoda Kak Ryo, kini dia mencoba menggodamu, Roy!" sembur Sofia.


"Roy! Wanita murahan ini bahkan menggunakan uang perusahaan untuk menghidupi pacarnya yang tukang ojek itu! Kau jangan tertipu bujuk rayunya!" cecar Sofia.


"Tutup mulutmu, Sofia!" sergah Viceroy.


"Berani-beraninya kau bicara hal buruk tentang Bu Vara! Jaga-jaga itu mulutmu!"


Sofia terkesiap.


"Roy! Bisa-bisanya kau membela wanita murahan ini daripada aku yang akan menjadi istrimu!" teriak Sofia.


"Sofia! Berapa kali harus kukatakan padamu, jangan pernah bermimpi untuk menjadi istriku!" tandas Viceroy.


"Dasar wanita murahan! Apa yang sudah kau lakukan sampai Roy begitu membelamu?!" teriak Sofia penuh kemurkaan ke arah Vara.


"Sofia, apa kau tidak punya telinga?!" sergah Viceroy.


Sofia terdiam.


Vara beranjak dari sofa.


"Pak Roy, saya permisi dulu," kata Vara ke arah Viceroy.


Vara tersenyum misterius ke arah Sofia.


"Sofia, aku beri kau satu rahasia Pak Roy," kata Vara.


"Pak Roy itu, kalau tidur matanya tertutup," Vara mengulas senyum penuh kemenangan saat meninggalkan Sofia yang mematung.


"Ro-Roy! Apa maksud perkataan wanita sundal itu?! Kau tidur matamu tertutup, itu maksudnya apa?!" tanya Sofia.


"Sofia! Jangan beleng-beleng kau jadi orang! Memangnya kau pikir ada orang yang tidur dengan mata terbuka?!" tandas Viceroy.


"Dasar wanita sialan itu! Minta dijambak memang rambutnya!" maki Sofia meluapkan kemarahannya.


"Sofia! Tutup mulutmu! Sekali lagi kau bicara seperti itu, habis kau!" ancam Viceroy.


"Roy! Aku ini calon istrimu! Bagaimana bisa kau mengancamku seperti itu hanya demi wanita sundal itu?!" teriak Sofia.


"Wanita itu sudah kutandai! Jadi awas memang jika kau berani menyentuh Bu Vara seujung rambut pun! Tidak akan kuampuni kau hingga tujuh turunan dan tujuh tanjakan!" Viceroy kembali mengancam Sofia, membuat Sofia tak berani berkutik.


...*****...


Sofia benar-benar berang, ia segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Ia harus menemui Tante Virda untuk mengadukan perbuatan tidak menyenangkan yang ia terima dari calon suaminya. Berani-beraninya calon suaminya itu mengancamnya hanya karena tergoda seorang wanita murahan yang tidak tahu diri.


Sofia mencari ruang VIP tempat Ryo dirawat. Sofia memang baru mengunjungi calon kakak iparnya itu ĺantaran menurut Tante Virda, Ryo ingin ketenangan.


"Tante Virda," Sofia segera menerobos masuk ke ruangan tempat Ryo dirawat, setelah bertanya pada perawat di stasiun perawat.


Sofia terperangah melihat banyak mata yang menatap ke arahnya. Wajah-wajah yang sama sekali tidak ia kenal. Ekspresi mereka jelas terkejut dan terheran-heran melihat penampilan Sofia yang persis toko emas berjalan.


"Mana Tante Virda dan Kak Ryo?!" Sofia melemparkan tatapan tajam pada mereka semua.


"Siapa, ya?" mereka balik bertanya.


Sofia menyembunyikan rasa malunya, ia segera pergi tanpa permisi. Begitu melihat sosok Virda keluar dari salah satu kamar, Sofia langsung menghampiri Virda.


"Tante Virda!" Sofia langsung merengek seperti biasanya saat ia menemui Virda.


"Ada apa, Sofia?" tanya Virda.


"Tante, Roy benar-benar keterlaluan!" Sofia mulai mencucurkan air matanya.


"Sofia, apa maksudmu?" tanya Virda.


"Tante, di kantor Roy sudah digoda oleh perawan tua gatal, mentang-mentang Roy sudah menduda! Tante harus mengambil tindakan!" jawab Sofia.


Belum menikah denganku saja Roy sudah terang-terangan main gila di depanku! Benar-benar tidak bisa dibiarkan! Batin Sofia.


"Tante, tolong kasih tahu itu Roy, jangan jadi duda gatal begitu! Daripada dia menggatal begitu lebih baik Roy segera menikah denganku Tante!" desak Sofia yang masih menghambur-hamburkan air mata buaya.


Sofia harus bisa mendesak Virda untuk segera mengaturkan pernikahannya dengan Viceroy. Jangan sampai pria itu kepincut pesona perawan tua gatal yang tidak tahu diri. Berani-beraninya menikung Sofia tepat di depan mata Sofia.


Virda memijat pelipisnya yang mendadak nyeri.


"Sofia! Berhentilah mengeluh dan mengadu padaku!" sergah Virda.


"Ta-Tante," Sofia tergagap.

__ADS_1


"Kau harus tahu, aku benar-benar lelah mendengar aduanmu yang sungguh menyesatkan!" lanjut Virda yang nampak tak bisa menguasai emosinya lagi.


"Kau mengadu Roy begini, Roy begitu! Kau mengadu istri Roy begini, istri Roy begitu! Apa kau tahu, akibat aduan-aduanmu yang menyesatkan itu membuatku harus ikut terjerumus dalam kesesatan yang nyata?!" maki Virda.


"Lihatlah, akibat aduan-aduanmu! Ryo hampir kehilangan nyawanya! Roy kehilangan istrinya dan aku harus dipersalahkan oleh kedua anakku! Mereka jadi menyalahkanku atas semua keputusan yang kubuat hanya gara-gara selalu mendengar aduan dan keluhanmu!" cecar Virda.


Sofia terkesiap, ia tak pernah melihat Tante Virda seperti ini. Virda benar-benar meluapkan rasa kesalnya pada Sofia yang menganggapnya seperti call center. Mendengarkan dan melayani semua keluhan dan aduan Sofia yang benar-benar menyesatkan.


"Tante, tunggu! Apa maksud Tante, aku salah mengadu pada Tante?" tanya Sofia.


"Aku benar-benar mengadukan hal-hal yang kualami gara-gara Roy dan istrinya! Aku diperlakukan semena-mena oleh Roy dan istrinya, Tante!" lanjut Sofia berusaha membela dirinya.


"Huh, Sofia, apa kau yakin wanita yang memperlakukanmu dengan semena-mena itu adalah istri Roy?" tanya Virda.


"Tentu saja, Tante! Kak Ryo sendiri yang sudah memberi informasi!" jawab Sofia.


"Hahaha," Virda tertawa.


Ia menertawakan Sofia yang jelas sekali salah mengenali istri Roy.


"Sofia, asal kau tahu! Wanita yang melakukan tindak semena-mena padamu itu bukanlah istri Roy!" kata Virda.


Sofia terdiam.


"Kau benar-benar sudah melakukan tindakan bodoh yang membuatku akhirnya harus menyesali keputusan yang sudah kubuat!" cecar Virda.


"Ta-Tante, jadi Laras bukan istri Roy?" tanya Sofia ragu-ragu


"Haha! Siapa Laras itu?" Virda balik bertanya seraya tertawa.


"Istri Roy bernama Vara!" lanjut Virda.


Raut wajah Sofia nampak menegang mendengar nama Vara. Entah mengapa ia jadi teringat kata-kata Roy yang mengancamnya untuk tidak mengusik Vara.


"Sofia, kau benar-benar sudah berbuat hal bodoh! Aku rasa, aku malu punya calon menantu bodoh macam kau! Lebih baik pertunanganmu dengan Roy dibatalkan saja! Daripada menambah masalah lain!" kata Virda menatap tajam ke arah Sofia.


Sofia mematung, ia merasa ada balok yang menghantam kepalanya.


...*****...


Sofia benar-benar merasa terpukul karena Tante Virda memutuskan untuk membatalkan pertunangannya dengan Viceroy. Sofia melajukan mobilnya untuk kembali ke kantor. Ia benar-benar terlalu terkejut mendapati sebuah kenyataan yang tidak bisa ia terima.


Ternyata selama ini Vara adalah istri Roy! Pantas saja Roy sampai mengancam Sofia seperti itu!


Sofia benar-benar murka, ia tak peduli lagi dengan ancaman Viceroy. Ia harus membuat perhitungan pada Vara dengan tangannya sendiri.


Gara-gara wanita itu, Tante Virda menyalahkannya dan akhirnya malah membatalkan pertunangannya dengan Viceroy.


Sofia segera turun dari mobil. Ia berjalan seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya. Dalam benaknya sudah tersusun hal-hal yang harus dilakukannya saat menghadapi Vara.


Menampar wajah wanita itu, menjambak rambutnya, mencakar wajahnya, kurang lebih seperti itu.


Namun belum sempat Sofia menunaikan misi sucinya itu, semua mata sudah tertuju padanya. Semua orang nampak berkumpul di lobi.


Viceroy terlihat sedang berbincang dengan dua orang polisi.


"Ini Bu Sofia yang Anda cari, Pak Polisi," kata Viceroy mengarahkan pandangannya ke arah Sofia.


"Bu Sofia, Anda kami tahan atas laporan bahwa Anda menjadi dalang penyerangan yang dialami oleh pelapor atas nama Ibu Laras," kata seorang polisi yang langsung meringkus Sofia.


"Tu-tunggu! apa maksud semua ini?" tanya Sofia keheranan.


Kedua tangan Sofia langsung diborgol.


"Bu Sofia, Anda bisa mengetahuinya secara detail di kantor polisi," kata polisi yang memborgol tangan Sofia.


"Pak Roy, terima kasih atas kerja sama Anda, kami permisi dulu," kata salah seorang polisi berpamitan.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" jerit Sofia yang memberontak saat digiring oleh polisi.


Kepergian Sofia diiringi oleh teman-teman satu gengnya yang masih belum memercayai apa yang mereka dengar dan saksikan sendiri.


"Sofia berkomplot dengan preman untuk menyerang orang lain."


"Betapa jahatnya, Sofia."


"Tuhan tidak tidur, orang jahat pasti akan kena karmanya."


"Bahaya sekali berteman dengan Sofia, nanti ikutan jadi jahat juga."


Begitulah, semua karyawan akhirnya menggunjingkan Sofia yang membuat Alya, Imel, dan Dinda tertunduk malu karena selama ini mereka sudah berteman dengan Sofia.


...*****...


Satu jam yang lalu saat Sofia berteriak-teriak dan pergi meninggalkan kantor, datanglah dua orang polisi yang mencari Sofia Bahra.


Viceroy yang baru akan meninggalkan kantor untuk menuju ke perusahaannya sendiri tentu saja tidak bisa langsung pergi begitu saja.


Ada apa polisi sampai datang ke perusahaan ini?


"Permisi Pak, saya Viceroy, panggil saja saya Roy, saya adalah orang yang bertanggung jawab di perusahaan ini," kata Viceroy memperkenalkan dirinya.


"Ada apa Anda mencari Sofia Bahra?" tanya Viceroy.


Dua orang polisi itu menatap Viceroy.


"Saya kebetulan mengenal Bu Sofia Bahra secara pribadi," kata Viceroy dengan gaya yang sangat meyakinkan.


Dua polisi itu masih nampak ragu pada Viceroy.


"Kebetulan Sofia dan saya masih punya hubungan kekeluargaan, Pak. Apa Sofia sudah melakukan pelanggaran hukum?" tanya Viceroy.


Terlihat dua orang polisi itu saling bertukar pandang sebelum akhirnya menjawab.


"Kami mendapat laporan bahwa Ibu Sofia Bahra menjadi otak yang memprakarsai beberapa preman untuk melakukan penyerangan terhadap Ibu Laras," kata salah seorang polisi.


"Para preman tersebut saat ini sudah berhasil diamankan di kantor, Pak, dan mereka sudah memberi keterangan yang diperlukan untuk penyelidikan. Makanya kami harus menangkap Ibu Sofia untuk menindaklanjuti laporan korban," polisi yang lain menjelaskan.


Viceroy tertegun mendengar penjelasan dari polisi.


Sofia benar-benar sudah gila, pikir Viceroy.


"Separah apa penyerangan yang dilakukan oleh para preman itu, Pak?" tanya Viceroy penuh selidik.


"Yang pasti korban mengalami penyerangan fisik dan masih mengalami trauma," jawab salah satu dari dua polisi tersebut.


"Kok bisa, Pak? Apa motif penyerangan tersebut? Setahu saya, sepupu saya itu tidak mungkin melakukan tindakan berbahaya seperti itu," kata Viceroy berusaha mengorek informasi.


"Maaf sebelumnya, Pak, kita memang tidak bisa menilai seseorang hanya dari penampilannya saja, mungkin di hadapan Anda orang tersebut terlihat baik, namun belum tentu di belakang Anda juga baik," sahut yang lain.


"Oh, begitu ya, Pak, kalau begitu silakan tunggu saja, Ibu Sofia pasti akan segera kembali ke kantor, dan silakan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku," kata Viceroy.

__ADS_1


__ADS_2