Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Siapa Dia?


__ADS_3

Para perawat di rumah sakit menatap takjub saat melihat pasien berwajah tampan yang menghuni ruang perawatan VIP. Pria tampan itu selalu menatap kosong ke arah luar jendela. Mereka selalu mencuri pandang ke arah pasien tersebut saat mengantarkan makanan dan juga obat-obatan.


"Kasihan sekali, pria itu begitu tampan dan masih muda namun sudah terkena serangan jantung," komentar para perawat.


"Sekarang serangan jantung tidak mengenal usia," sahut yang lain.


"Tidak ada yang menjaga pria itu selain wanita paruh baya berpenampilan mewah itu," kata salah satu perawat.


"Kasihan sekali seperti tidak ada keluarga saja, apa tidak ada yang datang menjenguknya?" tanya yang lain.


"Tadi kulihat ada pria tampan lain yang menjenguknya, asli tampan sekali seperti artis!" perawat lain menimpali.


...*****...


Viceroy sudah duduk di sofa memandangi Ryo yang hanya melempar tatapan ke luar jendela. Ia membuka sebuah amplop dan memeriksa isi amplop tersebut dengan seksama. Memastikan semua dokumen sudah ditanda tangani oleh Ryo tanpa ada yang terlewatkan.


Ryo benar-benar tidak ingin bicara apapun lagi pada Viceroy. Ia benar-benar kesal dan masih belum bisa menerima kekalahannya. Kekalahan dramatis ini benar-benar telah melukai harga dirinya yang begitu tinggi.


"Baiklah, sepertinya semua sudah kau tanda tangani dengan baik dan benar," Viceroy menyimpan semua dokumen tersebut ke dalam amplop.


Dokumen tersebut adalah dokumen yang disiapkan tim kuasa hukum Viceroy untuk mengambil alih Victory Grup dari tangan Ryo.


"Kalau begitu, permisi," Viceroy segera berpamitan.


Viceroy segera meninggalkan ruangan tempat Ryo dirawat.


"Roy," tegur Virda yang kebetulan melihat Viceroy keluar dari kamar Ryo.


Viceroy menoleh ke arah ibunya.


"Ibu," kata Viceroy.


"Kita harus bicara, Roy," kata Virda.


...*****...


Viceroy dan Virda duduk di sebuah bangku yang ada di taman rumah sakit. Virda tentu tak bisa membiarkan masalah Ryo dan Viceroy ini terlalu berlarut-larut.


"Roy, kembalikan perusahaan Ryo," kata Virda.


Viceroy hanya diam melempar pandangannya ke segala arah.


"Lelucon kalian sungguh mengerikan! Ryo hampir kehilangan nyawanya gara-gara pertaruhan konyol kalian," kata Virda.


Viceroy mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Ibu, apa ibu benar-benar berpikir bahwa pernikahanku juga hanya lelucon?" tanya Viceroy.


"Tapi Roy, bagaimana kau bisa setega itu pada Ryo?  Ryo adalah kakakmu, Roy!" kata Virda.


"Ibu, Ryo kehilangan perusahaannya karena salahnya sendiri! Sementara aku kehilangan istriku karena siapa?" tanya Viceroy.


Virda terdiam, ia hanya bisa menjawab pertanyaan Viceroy dalam hatinya saja. Virda benar-benar merasa bersalah karena sudah memaksa dan mendesak Viceroy menceraikan istrinya. Virda benar-benar tak menyangka bahwa perintahnya pada Ryo justru menjadi bumerang untuk Ryo sendiri. Virda jadi merasa bertanggung jawab untuk meminta Viceroy mengembalikan perusahaan Ryo.


"Roy, tolong kembalikan perusahaan Ryo," kata Virda memohon.


"Maaf Bu, bagiku bisnis adalah bisnis!" kata Viceroy.


"Betapa teganya kau, Roy!" sergah Virda yang mulai menangis.


"Ibu, aku tanya, siapa yang lebih tega? Berapa banyak air mata yang harus menetes dari mata istriku? Padahal itu bukan ulahku! Betapa besar rasa bersalahku padanya! Aku bahkan sudah berjanji pada orang tuanya untuk membahagiakannya, Bu! Tapi lihat sekarang! Aku sudah menjadi pria paling jahat di matanya!" kata Viceroy.


"Roy, jadi kau menyalahkan Ibu?" tanya Virda.


Viceroy tidak langsung menjawab, ia benar-benar harus membuat ibunya merasa sangat bersalah, dengan begitu ia juga tak perlu merasa bersalah dan tentunya tidak bisa disalahkan.


"Menurut Ibu bagaimana?" Viceroy bertanya balik.


Virda benar-benar terdiam dan tak mampu untuk bicara. Saat ini ia benar-benar dalam keadaan terpuruk. Di mata kedua anaknya, Virda benar-benar menjadi dalang penyebab masalah ini terjadi. Kedua anaknya jadi kehilangan hal yang menurut mereka berharga dalam hidup mereka. Ryo kehilangan perusahaannya dan Viceroy kehilangan istrinya.


"Baiklah kalau begitu, aku harus kembali bekerja, Bu," kata Viceroy berpamitan.

__ADS_1


Ia mengecup punggung tangan ibunya sebelum meninggalkan sang ibu yang nampak kehilangan kata-kata.


...*****...


"Roy itu sangat licik, Bu, dia pasti sudah merencanakan hal ini! Dia menjebakku dengan jebakan spektakulernya!" tandas Ryo.


"Ryo, jangan emosi begitu, jaga-jaga jantungmu," sergah Virda sambil mengupas apel di tangannya.


"Mereka itu pasangan licik, Bu! Aku yakin, mereka benar-benar sudah merencanakan untuk merampokku seperti ini! Aku kehilangan segalanya gara-gara ulah mereka! Aih benci rasanya!" omel Ryo.


"Ryo, sudah, hentikan! Jangan mengomel seperti itu, kau mau terkena serangan jantung jilid dua?" tanya Virda.


Ryo mencebik, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana ia bisa begitu bodoh dan tertipu mentah-mentah seperti ini.


"Ryo, bagaimana jika kita minta tolong pada istri Roy, maksud Ibu, mantan istrinya?" kata Virda.


"Apa Ibu sudah gila? Mereka jelas sekali berkomplot, Bu! Ini kudeta!" gerutu Ryo.


"Mereka berdua pasti sedang berbahagia di atas penderitaanku ini! Roy benar-benar anak durhaka, Bu!" lanjut Ryo.


"Ryo, apa salahnya jika kita mencoba? Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa Roy sangat tunduk dan patuh di bawah kendali istrinya?" tanya Virda.


Ryo nampak berpikir.


"Ryo, bukankah kau ingin perusahaanmu kembali? Kita harus melakukan segala cara yang bisa kita lakukan. Ibu bisa melihat Roy nampak terpukul dengan perceraiannya," kata Virda.


Ryo tertawa karena menertawakan adiknya yang memang pandai sekali bersandiwara.


"Baiklah, kalau memang menurut Ibu kita harus meminta pada wanita itu, hanya saja Bu, aku malas sekali meminta tolong padanya! Aku seperti pria yang tidak punya harga diri! Bagaimana jika dia memintaku untuk menidurinya seperti dulu?" tanya Ryo.


Virda memutar bola matanya.


"Ryo, biarkan Ibu yang bicara padanya! Kau cukup dengarkan saja, dan kalau perlu kau memelas belas kasihnya!" tandas Virda.


"Besok kita harus bertemu dengannya, wanita itu harus melihat keadaanmu agar dia tahu karena ulahnya kau jadi terbaring seperti ini!" lanjut Virda.


"Ibu saja yang hubungi dia, aku malas, Bu," kata Ryo.


"Ryo, Ibu bahkan tidak punya nomor teleponnya, bagaimana Ibu bisa menghubungi mantan istri Roy?" sergah Virda.


...*****...


Laras melangkah menyusuri koridor rumah sakit. Ia sungguh terkejut mendengar kabar bahwa Pak Ryo menghubunginya dan mengabarkan bahwa pria itu saat ini sedang diopname di rumah sakit.


Laras memang tidak memiliki hubungan spesial dengan Pak Ryo dari Victory Grup. Mereka hanya pernah terlibat kerja sama saat pengadaan tender Aurum Mining. Bagi Laras, Pak Ryo sungguh pria yang begitu jual mahal karena berani menolaknya pada saat Laras sedang membutuhkan sentuhan pria, lantaran saat itu ia sedang berada di bawah pengaruh alkohol.


Laras menenteng kue dari toko kue ternama sebagai buah tangan untuk Pak Ryo. Penampilan Laras begitu mencolok dan mengundang perhatian. Laras mengenakan baju terusan berwarna merah gelap dengan belahan dada rendah yang ia tutupi dengan kalung-kalung bertumpuk. Ia mengenakan blazer berwarna hitam yang memberi penampilannya kesan formal.


Laras segera mengetuk pintu ruang rawat VIP, seorang wanita paruh baya berpenampilan nyentrik langsung menyambutnya.


"Sore, Tante," sapa Laras sambil menyodorkan kotak kue yang dibawanya pada Virda.


Virda mengerutkan keningnya.


"Bu Laras," sapa Ryo.


"Pak Ryo, apa kabar? Bagaimana keadaan Anda? Sudah lebih baik?" tanya Laras.


"Terima kasih, saya merasa lebih baik," jawab Ryo.


Ryo mengawasi ibunya yang nampak hanya diam saja. Ryo memberi kode pada ibunya agar segera bicara pada Laras. Namun Virda hanya diam saja.


"Ibu," Ryo melotot pada Virda. 


"Oh, ini ibu Pak Ryo?" tanya Laras. 


Ryo terperangah, entah mengapa ia jadi menyadari bahwa ada yang aneh dengan situasi ini. Mengapa ibunya seakan tidak mengenali Laras?


"Apa kabar, Tante?" tanya Laras.


"Baik," jawab Virda singkat.

__ADS_1


"Wah, Anda begitu cantik dan mewah," puji Laras.


"Terima kasih," jawab Virda.


"Ehem, Ibu," Ryo memberi kode lagi pada ibunya.


Virda nampak tak bergeming.


"Ehem, Ibu tolong bicara," Ryo kembali berdeham.


"Ehem, Ryo, apa maksudmu?" tanya Virda balas berdeham.


"Ehem, Ibu," kata Ryo sambil melotot.


Laras mengamati ibu dan anak yang nampak terlihat aneh. 


Apa mereka sedang sakit tenggorokan? pikir Laras.


"Pak Ryo, ngomong-ngomong anda sakit apa ya?" tanya Laras berbasa-basi.


"Sakit hati saya ini, Bu Laras," jawab Ryo.


"Sakit hati?" tanya Laras.


"Ya, saya sakit hati karena anda, Bu," jawab Ryo lagi.


"Ya, ampun! Kok bisa, Pak? Anda naksir saya begitu?" tanya Laras seraya terkekeh.


"Haha," Ryo tertawa.


"Pak Ryo, Anda memang pandai menggombal," Laras ikut tertawa.


Ryo benar-benar bingung pada ibunya, mengapa ibu tidak kunjung juga bicara. Bukankah ini ide ibu untuk bertemu dengan mantan istri adiknya yang benar-benar luar biasa. Pasca perceraiannya dengan Viceroy, wanita ini terlihat baik-baik saja.


"Kalau begitu, Pak Ryo, saya pamit dulu ya, semoga cepat sembuh," kata Laras.


"Permisi, Tante," kata Laras berpamitan.


Laras pun akhirnya pergi meninggalkan ruang VIP. Ryo menatap tak percaya pada ibunya yang hanya diam saja.


"Ibu, kenapa Ibu jadi diam saja? Bukankah Ibu harusnya bicara pada istri Roy untuk mengembalikan perusahaanku?" kata Ryo.


"Istri Roy?" Virda balik bertanya.


"Ibu, ada apa dengan Ibu? Ibu belum pikun kan? Ibu tidak rabun kan?" tanya Ryo.


"Ryo, apa maksudmu mengatai Ibu seperti itu?!" sergah Virda.


Ryo berdecak kesal.


"Ibu, bukankah wanita itu istri Roy?!" sergah Ryo.


"Wanita yang mana, Ryo?" tanya Virda keheranan.


"Wanita yang tadi datang ke sini! Siapa lagi kalau bukan Laras?!" sahut Ryo.


Virda terdiam.


"Ryo, wanita itu bukan istri Roy!" kata Virda.


Ryo merasa ada petir yang menyambar dalam kepalanya. 


"Ibu! Bagaimana bisa Laras bukan istri Roy?! Roy memanfaatkan wanita itu untuk mendapatkan tender besar dan memenangkan pertaruhan denganku, Bu!" sergah Ryo.


"Ryo! Tapi wanita itu bukanlah wanita yang Ibu uji!" tandas Virda.


"Kalau bukan Laras, lantas siapa wanita itu, Bu?" tanya Ryo.


Virda dan Ryo saling berpandangan.


"Ibu lupa siapa namanya, karena Ibu tidak memerhatikannya," jawab Virda.

__ADS_1


"Arghh!" Ryo menjambak rambutnya dengan kesal.


Lagi-lagi ia merasa Viceroy telah menipunya.


__ADS_2