Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Pernikahan Kedua


__ADS_3

Viceroy terperangah mendengar ucapan Ryo. Ia bahkan berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa ia salah mendengar ucapan sang kakak. Yang benar saja, mengapa jadi Ryo yang melamar Vara?


"Ehem, Ryo, kau mau merasakan siksa kubur lebih cepat, ya?" rutuk Viceroy.


Ryo masih mengulas senyum misteriusnya.


"Maksud saya, saya ingin melamar Vara untuk Roy," lanjut Ryo.


Viceroy mencebik ke arah Ryo yang masih tersenyum misterius.


"Roy, jadi orang jangan asal ngegas begitu, tolong jangan jadi kaum sumbu pendek," Ryo melemparkan sindiran pedas untuk Viceroy.


"Ryo, mana tahu kau mau menikungku di garis finish," rutuk Viceroy yang merasa kesal karena dipermainkan oleh Ryo.


Sempat-sempatnya Ryo mempermainkannya disaat genting seperti ini. Sungguh pria tidak berakhlak!


"Hoho, Roy, kita tidak sedang balapan motor, ya," balas Ryo seraya terkekeh.


Virda sepertinya harus angkat bicara daripada membiarkan kedua anaknya ini kembali saling sindir setiap kali bersama.


"Ryo, Roy, tolong luruskan niat dan satukan tujuan!" sergah Virda.


Ryo dan adiknya langsung terkesiap. Pak Slamet dan Arvia benar-benar terpana melihat ketegasan Virda.


"Bagaimana, Pak Slamet, bisakah saya mengambil Vara untuk menjadi menantu saya?" tanya Virda dengan penuh ketegasan.


"Bu Virda," kata Arvia menyela.


"Sejujurnya, saya pribadi mendambakan menantu yang pendidikannya kalau bisa setara dengan Vara," kata Arvia. "Maksud saya gelar akademiknya."


Vara menegang mendengar perkataan ibunya. Apakah ibunya masih tetap bersikeras menginginkan menantu yang berpendidikan tinggi di atas segalanya?


"Mohon maaf, bolehkan saya tahu apa tujuannya?" tanya Viceroy.


"Ya, tentu saja supaya di undangan nanti terlihat bagus, dan semua orang tahu saya punya menantu yang berpendidikan," jawab Arvia.


Virda melihat dengan jelas bahwa Arvia sedang mengibarkan bendera perang untuknya. Apa maksud wanita ini anakku tidak pantas untuk anaknya?


Menyebalkan sekali! Virda membatin.


"Bu Arvia, sejujurnya saya pun lebih mendambakan pendamping anak-anak saya yang berasal dari kalangan keluarga saya sendiri. Hanya saja anak saya ini lebih memilih wanita yang dipilihnya sendiri! Sebagai orang tua yang bijaksana, saya akhirnya mendukung keputusan tersebut, dengan catatan anak saya bertanggung jawab penuh terhadap pilihannya," kata Virda sambil tersenyum dingin.


Virda tentu tak terima latar belakang pendidikan anaknya dipermasalahkan. Sebagai orang tua tunggal dan dulunya hidup penuh keprihatinan, menguliahkan anak tentulah bukan prioritas utamanya. Toh, pada akhirnya anak-anaknya berusaha keras sehingga bisa meraih kesuksesan tanpa perlu mengenyam bangku kuliah.


Arvia benar-benar merasa tertampar dengan perkataan Virda. Sebelumnya Pak Slamet memang sudah menyampaikan pada Arvia alasan mengapa Vara bercerai, sehingga kini mantan menantunya itu ingin kembali rujuk lantaran masih begitu mencintai Vara.


Viceroy nampaknya harus mengambil alih pembicaraan. Ia tentu harus mampu meyakinkan mantan mertuanya yang nampak masih tetap bersikeras pada pendiriannya. Sebegitu pentingnyakah mencantumkan gelar pendidikan di undangan pernikahan? Bagi Viceroy, ia tentu tidak memerlukan gelar pendidikan karena ia tidak berniat terjun ke dunia politik.


"Ibu Arvia," kata Viceroy.


"Kalau memang Ibu mendambakan menantu yang punya gelar pendidikan, saya akan mengambil kuliah," kata Viceroy.


"Jujur saja, saya pun sebenarnya ingin mengambil kuliah. Hanya saja bagi saya dua puluh empat jam itu kurang, Bu, saya harus mengurus pekerjaan yang menyita hampir semua waktu saya, maka dari itu, jika Vara menikah dengan saya, Vara pasti bisa membantu untuk meringankan pekerjaan saya," kata Viceroy lagi.


"Apalagi Vara adalah seorang wanita yang cerdas dan berpendidikan tinggi, benar-benar sosok yang sempurna untuk mendampingi saya," lanjut Viceroy.


"Ryo, bagaimana menurutmu hasil kinerja Vara selama bekerja di perusahaanmu?" tanya Viceroy ke arah Ryo.


"Ya, Bu Vara memiliki dedikasi yang tinggi dan bertanggung jawab pada pekerjaannya," jawab Ryo.


Vara mengulas senyumnya, entah mengapa ia merasa senang mendengar Pak Ryo menyanjungnya seperti itu. Itu artinya selama ini usaha dan kerja keras Vara tidak sia-sia.


"Va-Vara, Ryo ini bosmu?" tanya Arvia terbelalak.


"Benar Bu, Pak Ryo adalah pemilik perusahaan tempat Vara bekerja dulu," jawab Vara.


Arvia benar-benar kehilangan kata-kata. Rasa malu menyergapnya. Wanita di hadapannya ini benar-benar luar biasa karena memiliki dua anak laki-laki yang begitu hebat. Keduanya begitu sukses di usia yang terbilang muda.


"Kalau saya secara pribadi, tidak masalah Vara menikah dengan siapa pun asalkan Vara bahagia," kata Pak Slamet.


"Saya tidak mau lagi menjadi orang tua yang memaksakan kehendak, yang menjalani pernikahan adalah anak-anak, sebagai orang tua, saya hanya bisa memberi dukungan tanpa harus campur tangan," lanjut Pak Slamet.


Vara tersenyum dan dalam hati sungguh berterima kasih pada bapak yang mendukungnya. Pak Slamet menyadari hal tersebut saat ia berperang dingin dengan Vara selama dua minggu lantaran Vara menolak ketika dijodohkan dengan Riko.


"Bagaimana Vara, apa kau bersedia menikah kembali dengan Roy?" tanya Virda.


"Saya bersedia, Nyonya," jawab Vara.


Virda menatap tajam Vara, membuat Vara terkesiap.


"Panggil saja saya Ibu," kata Virda mengoreksi ucapan Vara.


Vara mengembangkan senyum. Rupanya calon mertuanya ini benar-benar sudah memberinya restu dan menerimanya sebagai menantunya.


"Iya, Ibu," kata Vara dengan matanya yang nampak sudah berkaca-kaca.


"Maafkan atas sikap Ibu selama ini padamu," kata Virda yang merasa berat untuk meminta maaf.


Hanya saja ia harus menunjukkan sikap berjiwa besar dan mengakui kesalahannya. Agar kelak ke depannya hubungan mereka bisa lebih harmonis lagi. Sungguh Virda tidak ingin menjadi sosok mertua zalim terhadap menantu pertamanya ini.


"Terima kasih, Bu," kata Vara.


"Bagaimana, Bu?" tanya Pak Slamet ke arah istrinya yang terlihat merengut.


"Lantas, berapa uang mahar yang akan kau berikan pada Vara?" tanya Arvia.


"Saya menyiapkan sebuah kapal cargo pengangkut bahan bakar minyak berkapasitas lebih dari sepuluh juta liter, penghasilan bersih untuk satu kali kegiatan bunker mencapai kisaran empat hingga lima miliar, dalam satu bulan ada lima kegiatan, yang mana artinya bisa mencapai dua puluh lima miliar, itu hanya satu bulan loh, Bu," jawab Viceroy.


Arvia terbelalak, apa ia tidak salah dengar?


"Saya juga bisa menyiapkan kebun pisang, kebun tebu, kebun kelapa, jika memang harus, daripada membawa dalam bentuk gerobak yang tidak efisien," lanjut Viceroy.


"Untuk hewan ternak, sekalian saja saya beli itu peternakannya, jadi tidak perlu membawa sapi dan kambing yang hanya beberapa ekor saja," kata Viceroy lagi.


Bagaimana, Bu? Apa lagi yang anda minta? Akan saya beri lebih banyak daripada orang kaya kampung itu! Pikir Viceroy.


Arvia sungguh tak mampu untuk berkata apa-apa lagi. Seriuskah menantunya bisa menyiapkan semua itu?


"Yakinkah apa yang kau ucapkan bukan hanya sekadar wacana semata?" tanya Arvia.


Viceroy beranjak dari tempat duduknya, ia membuka pintu dan memanggil Riko.


Riko segera duduk dan bergabung bersama dua keluarga yang nampak saling bersitegang.


"Pak Riko, tolong dibantu uruskan pembelian kebun pisang, kebun tebu, kebun kelapa, dan peternakan sapi yang Anda tahu! Tolong semua sertifikatnya nanti diuruskan atas nama Vara," kata Viceroy memberi perintah pada Riko.


"Baik Pak, saya mengerti," kata Riko.


Riko segera keluar dari rumah dan mulai menghubungi para relasinya. Inilah yang menjadi sebab mengapa Riko memilih mundur seribu langkah daripada harus bertarung melawan Pak Roy dalam memperebutkan Vara. Meski Riko menjual semua organ tubuhnya, tetap tak bisa menyaingi kekayaan pria itu.


Aku mundur alon-alon mergo sadar aku sopo.


Itulah yang ada dalam pikiran Riko saat ini.


Vara tersenyum ke arah Viceroy, pria itu sungguh mengerti cara bernegosiasi yang baik untuk menghadapi Arvia. Menghadapi ego Arvia yang benar-benar ingin Vara membuatnya bangga dunia akhirat.


Arvia nampak memasang ekspresi datar. Namun dalam hatinya, ia sudah berjingkrak-jingkrak heboh yang tak mungkin ia tampilkan di depan semua orang. Tentu saja ia harus menjaga gengsinya yang begitu tinggi.


"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Pak Slamet.


"Kalau bisa sekarang, kenapa harus nanti, Pak," jawab Viceroy.


"Apa? Sekarang?" Pak Slamet dan Arvia terbelalak.


Vara terperangah, apa Viceroy serius dengan ucapannya?


"Di depan sudah ada penghulu yang menunggu, Pak," sahut Ryo.


Adiknya ini benar-benar sudah gila saat memintanya untuk sekalian membawakan penghulu. Untuk surat-surat akan disusulkan, yang penting adiknya itu sudah kembali menikah lagi.


"Tunggu, bagaimana dengan pestanya?" tanya Arvia keheranan.


"Resepsi bisa menyusul, Bu," jawab Viceroy.


Viceroy sungguh tak mau membuang-buang waktunya. Ia tak mau membiarkan Vara terlalu lama menjadi janda yang pada akhirnya justru menjadi incaran pria lain.


"Benarkah? Saya tidak mau kau hanya sekadar janji-janji kampanye!" kata Arvia.


Arvia tentu tak mau pria ini hanya menebar janji seperti dulu.


"Saya mau resepsi besar-besaran dan mewah! Saya ini cuma punya anak satu, jadi benar-benar harus mewah dan semeriah mungkin!" tandas Arvia.


"Baik Bu, saya mengerti, sungguh itu bukan masalah besar bagi saya," kata Viceroy.


"Apapun akan saya berikan untuk Vara," kata Viceroy.

__ADS_1


"Kalau begitu, besok saya mau resepsi diadakan di sini!" kata Arvia.


"Baik, Bu," jawab Viceroy.


...*****...


Keluarga besar Pak Slamet dan Ibu Arvia sudah berkumpul di rumah tersebut. Mereka sungguh terkejut mendengar kabar bahwa Vara mendadak akan menikah lagi.


"Apa Vara akan menikah dengan Tuan Takur?" tanya mereka.


"Bukan, katanya rujuk dengan mantan suaminya," sahut para warga.


"Hoo, kirain dengan Tuan Takur," sahut mereka.


"Tuan Takur bahkan begitu sibuk mengurus uangnya yang terkena badai!" para warga terkekeh.


Terlihat Tuan Takur masih begitu sibuk mengumpulkan semua uangnya yang terhambur. Ia tentu harus bekerja sangat keras demi melamar pujaan hatinya.


"Kok bisa mantan suami Vara datang kemari?" tanya keluarga Vara.


"Katanya mantan suami Vara itu yang punya perkebunan kelapa sawit ini," sahut mereka.


"Waduh! Yang benar?!" mereka terperanjat.


"Berat saingan Tuan Takur!"


...*****...


Viceroy segera mengambil air untuk berwudhu. Entah mengapa ia merasa lebih tegang daripada saat ia menikah pertama kali dengan Vara. Apa karena pernikahannya kali ini disaksikan lebih banyak orang?


Yah, tentu saja saat itu ia bahkan membayar penonton bayaran sebanyak dua orang untuk menjadi saksi pernikahannya. Ia cukup menyediakan uang rokok dan uang nasi bungkus untuk penonton bayaran tersebut.


Viceroy segera duduk bersila di depan penghulu. Sudah banyak orang yang duduk di sekitarnya.


"Maharnya apa?" tanya Pak Penghulu.


"Satu kapal tanker," jawab Viceroy.


"Dibawa kapalnya?" tanya Pak Penghulu.


"Tidak mungkin saya membawanya ke sini Pak, mau lewat mana? Terbang?" Viceroy balik bertanya.


"Mahar harus ada di tempat, harus bisa disaksikan oleh semua orang," kata Pak Penghulu.


"Oh, begitu," Viceroy tersenyum kecut.


"Lalu, saksinya siapa saja?" tanya Pak Penghulu. "Kalau bisa saksi itu harus orang yang benar-benar bertaqwa kepada Tuhan," lanjut Pak Penghulu.


"Ryo," kata Viceroy.


Ryo menggeleng.


"Tidak Roy, yang lain saja," sahut Ryo yang merasa ia adalah seorang pendosa yang tak layak untuk menjadi saksi momen sakral ini.


"Pak Rusdy, Pak Riko, maukah kalian menjadi saksi?" tanya Viceroy.


"Baik," jawab Pak Rusdy sambil tersenyum.


"Ba-baik, Pak," jawab Riko yang mencoba menyembunyikan rasa terpaksanya.


Riko benar-benar tak habis pikir. Tujuannya datang menemui keluarga Vara adalah untuk melamar Vara. Namun ternyata ia justru menjadi saksi pernikahan Vara.


"Jadi maharnya apa?" sekali lagi Pak Penghulu bertanya pada Viceroy.


Viceroy mengeluarkan dompet dan mengambil lembaran uang tunai yang jumlahnya hanya satu juta tiga ratus. Ia memang tidak pernah menyiapkan banyak uang tunai dalam dompetnya. Semua transaksi keuangannya lebih mudah dan aman via perbankan.


"Ada satu juta tiga ratus, Pak," jawab Viceroy.


Viceroy menyeringai, tak apa meski hanya satu juta tiga ratus dalam dompetnya untuk menikahi Vara, namun untuk selanjutnya semua yang ia miliki akan ia serahkan pada Vara.


Virda menutup wajahnya, anak bungsunya ini benar-benar membuatnya teringat sebuah lagu yang menceritakan seorang pria yang melamar seorang wanita dengan bermodal uang sebanyak satu juta tiga ratus.


Ryo tertawa dalam hati, adiknya ini benar-benar memalukan dunia persilatan. Bagaimana bisa orang banyak uang sepertinya membiarkan dompetnya kosong?! Sungguh memalukan sebangsa dan setanah air!


Aduh Roy, kamu ini memang ya, kebiasaan! Virda membatin.


...*****...


Proses akad nikah pun segera dilangsungkan tanpa perlu menunda waktu lagi.


"Saya terima," kata Viceroy diikuti seruan sah yang membahana.


Virda yang duduk di dekat pintu kamar Vara tersenyum. Ia menyeka air mata haru yang menetes dengan sapu tangannya. Rasanya ia tak percaya telah menyaksikan pernikahan anak bungsunya di pernikahan yang kedua kali namun masih dengan orang yang sama. Seandainya saja suaminya masih hidup untuk menyaksikan pernikahan anak mereka. Melihat pernikahan yang diadakan dengan begitu sederhana ini membuat Virda terkenang pernikahannya dulu.


"Sekarang jemput pengantin wanitanya," kata Pak Penghulu.


Viceroy segera beranjak dari tempat duduknya, bersama salah satu paman Vara, ia menuju ke arah kamar di mana Vara menunggunya. Terlihat beberapa tante Vara berjaga di depan pintu kamar Vara.


"Kasih dulu uang, tidak ada uang tidak dibuka ini pintu kamar," kata mereka yang terlihat melakukan pemalakan.


"Harus ya, Tante?" tanya Viceroy keheranan.


"Eh, harus itu," sahut mereka serempak.


Virda mengeluarkan beberapa lembar uang dari tasnya dan menyerahkannya pada Viceroy.


"Loh, Ibu, kenapa kita harus bayar?" tanya Viceroy keheranan.


"Sudah, ikuti saja," jawab Virda singkat.


"Terima kasih, anak ganteng!" seru para tante itu segera menyingkir dari depan pintu begitu menerima uang yang diserahkan Viceroy pada mereka.


Viceroy menatap Vara yang berdiri dengan mengenakan gaun terusan yang ia kenakan saat dulu menikah dengan Viceroy. Paman Vara segera mengambil tangan Viceroy dan juga Vara untuk disatukan. Terlihat mulut pria itu berkomat-kamit merapalkan doa sebelum mereka meninggalkan kamar untuk menghadap kembali ke depan penghulu.


Viceroy dan Vara sudah duduk di hadapan penghulu. Semua orang benar-benar sudah menjadi saksi bahwa mereka telah menikah lagi. Riko terlihat memasang wajah murung yang harus pandai-pandai disembunyikannya. Bu Muji, Bu Bejo, dan Bu Rudy nampak cemberut karena Bu Slamet sedari tadi sibuk menyampaikan rasa bangganya bahwa ia punya menantu yang luar biasa kaya yang selama ini tak pernah ia ketahui.


"Iya, menantu saya itu orang yang rendah hati, tidak suka menyombongkan apa yang dia miliki! Bangganya saya ini, Bu," kata Arvia seraya tertawa.


...*****...


Usai acara akad nikah, panitia dadakan resepsi pernikahan Vara dan Viceroy di kampung segera terbentuk. Banyak warga yang bergotong royong mendirikan tenda hingga menyiapkan meja dan kursi yang sebelumnya sudah disiapkan oleh rombongan Tuan Takur.


Keluarga Arvia segera mulai menyiapkan masakan yang akan disajikan untuk resepsi besok. Vara dan Viceroy juga langsung diantar untuk menemui perias pengantin yang ada di kampung untuk melakukan fitting busana pengantin.


Untunglah Virda selalu membawa banyak uang dalam tasnya, sehingga semua biaya yang keluar untuk acara resepsi tersebut ditanggung oleh Virda. Toh, selama ini kedua anaknya selalu memberikan jatah preman untuknya tanpa perlu Virda minta. Virda kerap merasa bingung bagaimana caranya ia menghabiskan uang sebanyak itu. Meski ia sudah membeli semua yang ia inginkan tetap saja uangnya seakan tak berseri.


Tak henti-hentinya ia bersyukur kepada Tuhan karena sudah memberikan dua anak laki-laki yang mau bekerja keras demi membahagiakannya.


...*****...


Selepas subuh Vara sudah didandani oleh perias di kampung yang terkenal. Vara mengenakan busana pengantin paling mewah yang ada di kampung. Viceroy tentu hanya bisa mengenakan jasnya karena tidak ada baju pengantin pria yang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Terlebih mereka melangsungkan resepsi pernikahan yang begitu mendadak.


Mereka berdua segera menunggangi kuda dan diarak keliling kampung. Mereka benar-benar nampak bagai raja dan ratu yang disambut oleh warga kampung yang melambaikan tangan ke arah mereka.


Kemudian mereka menyambut semua tamu yang datang dalam pesta pernikahan yang dibuat secara besar-besaran di kampung. Beraneka macam hidangan tradisional tersaji untuk menjamu para tamu yang datang.


"Iya, nanti di kota akan diadakan acara mewah dan besar-besaran juga!" kata Arvia begitu bangga.


"Jangan lupa seragamnya, Bu Slamet," kata Bu Muji.


"Oh, tentu saja Bu, harus itu!" sahut Arvia.


Tuan Takur terlihat datang bersama rombongannya dengan wajah yang begitu masam. Saking inginnya mengacaukan pesta pernikahan tersebut, Tuan Takur mendatangkan penari erotis kampung yang kerap disebut Candoleng doleng.


Para Candoleng doleng itu menari erotis di hadapan para tamu bahkan ada yang membawa ular sebagai partner pertunjukannya. Mereka benar-benar makin bersemangat saat Tuan Takur memberi mereka banyak saweran.


Ryo tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan para Candoleng doleng itu. Bukannya bernafsu, Ryo malah merasa jijik. Sungguh berbeda dengan penari tiang yang ada di klub malam yang dulu kerap ia sambangi untuk sekadar cari-cari hiburan bersama teman-temannya.


Viceroy sungguh hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Tuan Takur yang jelas sekali ingin mengacaukan pesta pernikahannya.


Terlihat para bapak-bapak hadirin yang ikut berjoged bersama para Candoleng doleng itu dilabrak oleh para istri mereka. Akibatnya kekacauan pesta pernikahan tersebut tak dapat dihindari.


"Hei, Takur!" teriak Viceroy penuh kemurkaan.


Tuan Takur yang sibuk berjoged bersama para Candoleng doleng itu terhenti karena melihat Viceroy datang menghampirinya.


"Kau ini ada masalah apa denganku sampai terlihat jelas tujuanmu untuk mengacaukan pesta pernikahanku?!" cecar Viceroy.


Tuan Takur terperanjat melihat pria yang sedang marah di hadapannya.


"He, aku hanya memeriahkan pestamu!" kata Tuan Takur seraya terkekeh.


"Sebenarnya ini pestaku atau pestamu?! Sadar diri kau!" teriak Viceroy.


"Viceroy," Vara segera menghampiri Viceroy.

__ADS_1


Sungguh memalukan rasanya melihat Viceroy bertengkar dengan Tuan Takur karena keduanya jadi bahan tontonan warga.


"Tuan Takur, saya sungguh berterima kasih Anda sudah datang ke pesta pernikahan kami, hanya saja saya merasa tak seharusnya pesta pernikahan dimeriahkan oleh penampilan penari erotis, sungguh tidak pantas!" kata Vara.


"Pernikahan itu kan acara yang sakral dan berbahagia, jangan dinodai dengan aksi seronok! Saya kecewa dengan sikap Anda, Tuan Takur," lanjut Vara.


"Aih, Adik Vara! Abang itu hanya kesal melihatmu diambil orang! Abang tidak senang!" tandas Tuan Takur.


"Tuan Takur, sikap Tuan Takur yang seperti inilah yang membuat saya tidak senang!" tandas Vara.


Tuan Takur nampak terpukul mendengar perkataan Vara. Terlihat pria itu melangkah gontai meninggalkan pesta diikuti rombongannya.


"Vara, nanti saat kita mengadakan resepsi di kota pastikan tamu yang datang harus dipilih dengan baik!" kata Viceroy.


"Iya, namanya juga ini di kampung, jadi harap dimaklumi. Ayo kita kembali, masih banyak tamu yang tidak kita kenal yang harus kita sambut," Vara tersenyum menenangkan suaminya itu.


Viceroy tentu tidak mau ada pengacau macam Tuan Takur yang akan mengacaukan jalannya pesta pernikahannya. Tak bisa ia bayangkan saat mengundang para relasi bisnisnya tiba-tiba muncul penari erotis yang memalukan seperti tadi.


Tuan Takur sungguh pria tidak berakhlak!


...*****...


Arvia segera mengantar kepergian para tetangganya. Sudah waktunya mereka untuk pulang. Riko nampak benar-benar sungkan saat berpamitan dengan Vara dan suaminya. Namun Riko terlihat harus berbesar hati menerima kenyataan ini. Niat hati Riko ingin menikahi Vara, apa daya ternyata ia justru harus menjadi saksi sekaligus tamu di acara pernikahan Vara.


"Pak Roy, Vara, selamat untuk pernikahan kalian," kata Riko.


"Pak Riko, terima kasih atas bantuan Anda," kata Viceroy.


"Nanti Anda akan melangsungkan resepsi lagi ya, Pak?" tanya Riko.


"Benar Pak, tolong dibantu tangani dulu pekerjaan yang ada ya, Pak," kata Viceroy.


"Baik, Pak," jawab Riko.


"Sampai ketemu lagi, Bu," kata para tetangga Arvia.


"Iya, hati-hati di jalan! Tunggu undangan selanjutnya, ya," Arvia melepas kepergian para tetangganya yang akan kembali ke kota.


Bu Rumi dan Pak Rusdy juga memberikan selamat untuk pernikahan Vara dan Viceroy. Kemudian mereka berpamitan meninggalkan rumah Pak Slamet.


Begitulah, akhirnya Riko pergi dengan membawa semua penyesalannya. Seandainya dulu Riko tidak menolak dijodohkan dengan Vara, sudah pasti tentu ialah yang akan bersanding bersama Vara di pelaminan.


...*****...


Virda dan Arvia nampak kembali bersitegang begitu pesta pernikahan yang diselenggarakan di kampung telah selesai. Mereka mempermasalahkan mengenai pesta yang akan diselenggarakan di kota.


"Bu Arvia, untuk masalah pesta di kota biar saya yang tangani!" kata Virda.


"Tidak bisa Bu, pesta di kota nanti harus tetap saya yang ambil alih!" kata Arvia.


"Anda bahkan sudah mengambil bagian di kampung ini, harusnya di kota nanti adalah bagian saya! Anda jangan serakah begitu!" sergah Virda.


Viceroy memijat keningnya, ibunya dan ibu mertuanya ini benar-benar belum bisa diajak berkompromi.


"Ibu, mohon maaf sebelumnya, begini saja biar adil, biarkan saya dan Vara yang mengurus semua persiapan pesta pernikahan kami," kata Viceroy.


"Itu benar Bu, Ibu fokus saja pada tamu undangan yang akan diundang," sambung Vara.


Arvia dan Virda nampak bersitatap, Pak Slamet hanya bisa menggelengkan kepala melihat istri dan besannya yang sepertinya masih belum bisa saling akur.


"Untuk tempat pesta mau diselenggarakan di mana?" tanya Arvia. "Saya maunya di hotel berbintang lima!" kata Arvia.


"Bagaimana kalau di atas kapal tanker yang menjadi maharmu untuk Vara, Roy?" usul Ryo. "Kan bagus raja minyak sepertimu menggelar pesta mewah di atas kapal!"


"Ryo, kau jangan mengada-ada! Itu kapal memuat bahan bakar minyak, bukan kapal pesiar! Kau mau membumi hanguskan kota jika ada tamu yang merokok atau bahkan hanya sekadar berfoto dengan menggunakan blitz!" sergah Viceroy.


"Lagipula akan sangat merepotkan jika harus menggelar pesta di atas kapal, kalau kebetulan cuaca sedang buruk, kau mau namamu terdaftar sebagai penumpang yang mati tenggelam?!" lanjut Viceroy lagi.


Ryo terkekeh, adiknya ini memang selalu memikirkan semua hal yang akan terjadi ke depannya.


"Jadi, kapan kalian mengadakan resepsi di kota?" tanya Virda.


"Secepatnya akan kami segerakan, Bu," jawab Viceroy.


"Jangan lama-lama, akhir bulan ini Ibu dan Ryo akan berangkat ke Jerman," kata Virda.


"Dalam rangka apa, Bu?" tanya Viceroy.


"Ryo akan menjalani operasi jantung sesuai jadwal yang sudah ada," jawab Virda.


"Iya Bu, aku mengerti," kata Viceroy.


"Sungguh Roy, kau harus mengadakan resepsi secepatnya, mumpung istrimu belum hamil! Akan sangat merepotkan jika istrimu dituding hamil duluan!" lanjut Virda.


Viceroy menyeringai, sementara Vara nampak tersenyum kikuk.


"Iya Bu, aku mengerti," kata Viceroy.


"Roy, kamu jangan iya-iya saja, tapi tidak dilakukan!" sergah Virda lagi.


Lagi-lagi Viceroy hanya bisa menyeringai.


"Baiklah, kalau begitu Ibu pulang dulu. Sampai bertemu lagi, Pak Slamet, Bu Arvia," kata Virda berpamitan.


Ryo mengangguk ke arah Pak Slamet dan Ibu Arvia.


"Duluan ya, Roy, Vara," Ryo berpamitan.


...*****...


Virda segera mengunjungi rumah para keluarga besarnya. Ia datang membawa undangan pesta pernikahan anak bungsunya yang sebentar lagi akan diselenggarakan. Sudah menjadi tradisi di keluarga Virda untuk mengantarkan sendiri undangan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang diundang dalam acara resepsi pernikahan tersebut.


Virda sungguh terkejut saat tiba di rumah Haji Bahra, banyak anggota keluarga besarnya yang berkumpul di rumah tersebut. Mereka semua sudah mendengar kabar pernikahan anak bungsu Virda yang diselenggarakan di kampung.


"Kak Virda, bagaimana bisa Kak Virda memutuskan untuk membatalkan perjodohan Roy dan Sofia secara sepihak?!" sergah Pak Haji Bahra.


"Kasihan itu Sofia masih dipenjara! Roy malah enak-enak kawin!" kata Bu Haji Bahra dengan air mata yang bercucuran.


"Maaf Pak Haji, Bu Haji, menurut saya Sofia dipenjara sebagai akibat dari ulahnya sendiri! Kenapa juga itu Sofia sembarangan menyerang orang lain?!" sergah Virda.


"Kak Virda, Sofia itu tidak mau saat menikah dengan Roy nanti, rumah tangga mereka dibayang-bayangi mantan istri Roy! Menurut Sofia, sudah betul itu yang dia lakukan!" kata Pak Haji Bahra membela Sofia.


"Itu sudah Pak Haji yang membuat saya merasa keberatan pada tindakan Sofia yang terlihat jelas tidak dipakai itu otaknya!" tandas Virda.


"Roy itu kan bukan orang sembarangan Pak Haji, mana bisa saya menikahkan dia dengan wanita yang bisa merusak reputasi dan nama baiknya! Belum menikah dengan Roy saja Sofia sudah bikin malu keluarga seperti ini! Apalagi nanti kalau mereka sudah menikah!" lanjut Virda.


Keluarga Haji Bahra nampak terdiam mendengar perkataan Virda.


"Eh, jangan sampai gara-gara saya kasih kawin itu Roy dengan Sofia, saya harus disalahkan oleh anak saya! Saya jaga betul-betul itu Pak Haji, Bu Haji, jangan sampai anak saya hilang rasa percayanya pada saya!" cecar Virda lagi.


"Makanya itu Kak Virda, harusnya Roy itu dijodohkan dengan cucu saya saja," Bu Haji Badrun menimpali.


"Bagusnya kemarin itu Roy dijodohkan sama cucu saya saja Kak Virda," sahut Bu Haji Jaelani.


"Roy sudah menikah dengan wanita pilihannya sendiri, tinggi pendidikannya, S2 loh Bu Haji! Jadi pemikirannya pasti beda, karena pendidikannya begitu tinggi! Anak buahnya Ryo juga ternyata, jadi Ryo tahu betul sudah itu istrinya Roy, makanya saya berani terima dia meski bukan dari kalangan keluarga kita!" kata Virda membanggakan menantunya.


"Wih, bagusnya itu pendidikannya! Pintar betul itu berarti ya istrinya Roy," Bu Haji Badrun terperangah.


"Iya Bu Haji, perempuan yang bagus untuk Roy itu tidak boleh hanya sekadar cantik, tapi harus pintar menempatkan diri! Jangan sampai bikin malu keluarga, itu sangat penting!" tandas Virda.


Bu Haji Bahra dan Pak Haji Bahra nampak menahan rasa kesal karena harus menahan rasa malu mereka.


"Datang ya Bu Haji, ke resepsinya Roy," kata Virda.


Virda segera berpamitan untuk pergi mengunjungi teman-temannya dalam rangka membagi undangan pesta pernikahan Viceroy dan Vara.


"Tidak mau aku datang ke acaranya Roy ini!" Pak Haji Bahra melempar undangan yang ditinggalkan oleh Virda ke lantai.


"Iya, lebih baik tidak usah ada yang datang!" tandas Bu Haji Bahra.


"Kak Virda harus tahu, kita bisa juga marah sama dia!" kata Pak Haji Bahra.


"Tapi Pak Haji, kalau saya sih datang saja, Kak Virda sudah mengundang kita," kata Pak Haji Jaelani.


Pak Haji dan Bu Haji Bahra saling berpandangan.


"Yang datang ke acara Kak Virda tidak usah datang lagi ke rumah ini!" ancam Pak Haji Bahra.


Nampak satu per satu keluarga meninggalkan rumah Pak Haji Bahra dan membuat pria paruh baya itu luar biasa kesal.


Ia merasa Virda sudah benar-benar sangat mempermalukannya.


"Bapak, sekarang yang paling penting kita bebaskan itu Sofia dari penjara! Bayar saja berapa pun itu, yang penting Sofia bisa bebas," kata Bu Haji Bahra.


"Dan sebaiknya kita datang saja ke acaranya Roy, kalau perlu kita hambur saja acaranya itu! Biar Kak Virda malu sekalian!" tambah Bu Haji Bahra.

__ADS_1


"Terlanjut basah, ya sudah mandi sekalian!" lanjut wanita paruh baya itu lagi.


__ADS_2