Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Saling Cemburu


__ADS_3

Vara segera duduk di kursi depan, lalu memasang sabuk pengaman, ia menatap Viceroy yang terlihat berbeda dari biasanya. Viceroy mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja berwarna abu-abu dan dasi hitam yang membuatnya terlihat lebih mewah. Mengingat biasanya Viceroy hanya mengenakan kaos dan jaket bertudung. Meski ini bukan pertama kalinya Vara melihat Viceroy memakai setelan jas, hanya saja saat ini pria itu terlihat begitu berbeda. Ya, Viceroy pasti menemui ibunya untuk menemui calon istrinya makanya berpenampilan serapi ini dan itu sungguh membuat Vara kesal.


Viceroy segera menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya menembus hujan yang begitu deras.


"Viceroy, kau terlihat begitu tampan, apa benar kau bertemu dengan ibumu?" tanya Vara mencoba menyembunyikan rasa cemburunya.


"Benar," jawab Viceroy singkat.


Entah mengapa Vara merasa atmosfer di sekitar mereka terasa menegangkan.


Viceroy merasa kesal, lantaran melihat Vara keluar dari sebuah mobil mewah bersama seorang pria. Ia hanya diam memendam rasa cemburunya. Apa Vara sering diantar pria itu? Karena pria asing itu nampak menunjukkan perhatian lebih. Apalagi sampai memayungi Vara, itu artinya Vara dan pria itu sudah saling mengenal.


"Siapa pria yang mengantarmu tadi?" tanya Viceroy memecah keheningan di antara mereka.


Nada bicara Viceroy terdengar mengintimidasi.


"Atasanku," jawab Vara.


"Atasan?" tanya Viceroy penuh selidik.


"Beliau memberiku tumpangan ke gerbang depan karena sedang hujan," Vara menjelaskan.


Vara merasa kurang nyaman dengan nada bicara Viceroy yang terkesan mencurigainya.


"Baik sekali beliau, sampai memayungimu juga," komentar Viceroy.


"Ya, beliau atasan yang baik dan ramah," kata Vara.


Viceroy merasa kesal dan cemburu, karena Vara memuji pria lain di hadapannya, terlebih itu adalah atasannya. Viceroy juga seorang atasan, namun ia tak pernah terpikir untuk memberi tumpangan kepada karyawannya. Lain halnya jika atasan tersebut tertarik pada si karyawan.


Viceroy mengawasi Vara yang nampak membuang pandangannya ke luar jendela.


Viceroy menepikan mobil begitu memasuki kawasan yang begitu sepi dan gelap.


"Vara, aku sungguh cemburu melihatmu begitu akrab dengan atasanmu," kata Viceroy.


Vara mendelik gusar.


"Lihat, kau bahkan begitu tampan memakai setelan jas seperti ini, kau pasti menemui calon istri barumu," kata Vara memberi penekanan pada kata istri baru.


Viceroy hanya diam melihat Vara yang nampak menahan kekesalannya.


Vara kesal, karena mereka sudah membuat janji untuk makan malam bersama di luar dan Viceroy justru membatalkan janjinya.


"Viceroy, ayo kita pulang, aku sudah lapar sekali," kata Vara.


"Kau tidak sekalian makan malam bersama atasanmu itu?" sindir Viceroy.

__ADS_1


"Kami bahkan baru bertemu di lobi kantor," kata Vara seraya tertawa.


"Lobi kantor? Aku bahkan tidak melihat kalian seperti baru bertemu di lobi kantor," kata Viceroy.


"Kau bisa periksa rekaman cctv kantorku! Apa perlu kumintakan?" tanya Vara menahan kekesalannya.


"Tidak perlu! Bisa saja rekaman itu sudah di sunting-sunting!" kata Viceroy tertawa getir.


"Jadi, kau perlu bukti apa yang bisa meyakinkanmu?" tanya Vara dengan nada menantang.


Viceroy hanya diam, tangannya masih memegang setir dengan perasaan cemburu yang benar-benar membakarnya sempurna.


"Apa atasanmu itu ada menyentuhmu?" tanya Viceroy lagi.


"Viceroy, apa kau pikir tubuhku semurah itu?!" Vara balik bertanya.


Vara merasa Viceroy berpikir terlalu jauh. Pria itu jadi mencurigainya seperti ini.


Viceroy membuka sabuk pengaman Vara, lalu menarik Vara ke atas pangkuannya.


"Lihat aku," kata Viceroy.


Vara membuang pandangannya.


"Apa pria itu ada menciummu seperti ini?!" Viceroy memburu bibir Vara.


Vara menolak ciuman Viceroy yang begitu memaksa. Vara mendorong wajah Viceroy menjauh darinya.


"Aku tidak akan menikahinya," kata Viceroy.


"Benarkah?!" tanya Vara menatap ke arah Viceroy.


"Vara, hanya kau satu-satunya istriku, satu-satunya wanita yang kucintai," kata Viceroy menatap Vara lekat-lekat.


Vara langsung mencium bibir Viceroy, Viceroy membalas ciuman Vara yang semakin lama semakin menuntut. Mereka bahkan tersengal-sengal bersama, mengatur nafas yang nyaris hilang lantaran keduanya saling melampiaskan kemarahan yang tertahan. 


"Maafkan aku, Vara, aku hanya mencintaimu, percayalah padaku," kata Viceroy sambil memeluk Vara yang masih berada di atas pangkuannya.


"Maafkan aku, Viceroy, bagiku hanya kau pria yang paling kuinginkan dalam hidupku," kata Vara membalas pelukan Viceroy yang begitu erat.


Viceroy tersenyum, menatap Vara yang kembali menciumnya.


"Vara, apa kita perlu mencari semak-semak? Tapi di luar sedang hujan," kata Viceroy.


"Ya sudahlah, di sini saja kalau begitu," kata Vara sambil membuka jas Viceroy.


Viceroy tersenyum, lalu mulai membuka kancing kemeja Vara satu per satu.

__ADS_1


"Viceroy," kata Vara.


"Hmm," jawab Viceroy singkat.


"Aku mencintaimu," Vara memeluk erat pria itu.


"Aku juga sangat mencintaimu," jawab Viceroy.


Vara menatap sekeliling mobil yang dibawa Viceroy untuk menjemputnya. Mobil mewah yang harganya tentulah begitu fantastis mengingat betapa kerennya interior di dalamnya.


"Viceroy, ini mobil siapa?" tanya Vara keheranan.


"Mobil kakakku, aku pinjam karena sekarang sedang hujan," jawab Viceroy sambil tersenyum menatap Vara.


"Astaga! Bagaimana jika dia tahu mobilnya kita pakai berbuat hal aneh?!" Vara mendelik gusar.


"Haha, makanya dia jangan sampai tahu," Viceroy tersenyum lalu kembali menciumi Vara.


"Viceroy, aku lapar," kata Vara.


"Baiklah, ayo kita pulang," sahut Viceroy.


...*****...


Ryo mengemudikan mobilnya kembali menuju ke gerbang utama tempat Vara menunggu jemputannya. Ia mencemaskan Vara. Wanita itu bersikeras menolak Ryo yang akan mengantarnya pulang. 


"Saya akan menunggu di sini, Pak, Anda bisa pergi," kata Vara saat Ryo memayunginya.


"Tunggu di dalam mobil saja, Bu, hujannya cukup deras," kata Ryo membujuk Vara.


"Maaf Pak, di dalam saya kesulitan melihat," kata Vara.


Kaca mobil Ryo begitu gelap, sehingga sulit untuk melihat ke luar.


Ryo melihat Vara yang bersikeras menunggu, entah siapa yang ditunggu wanita itu. 


"Baiklah, kalau begitu, tolong antar saya kembali ke mobil," pinta Ryo.


Ponsel Vara berdering, wanita itu menjawabnya, sambil celingukan.


... *****...


Ryo segera masuk ke mobilnya, menatap Vara yang masih memayunginya. 


"Terima kasih atas tumpangannya, Pak," kata Vara dengan ponsel yang masih menempel di telinga kirinya.


Ryo mengangguk, ia segera menginjak pedal gas meninggalkan Vara. Ia tentu tidak mau terkesan memaksa wanita itu. Terlebih ada petugas keamanan yang berjaga dan memerhatikan mereka. Jika Ryo memaksa, tentu akan menimbulkan masalah. Sehingga Ryo memilih mengalah dan pergi. Hanya saja hatinya tidak tenang, ia sungguh penasaran dengan seseorang yang menjemput Vara.

__ADS_1


Sebuah mobil sport mewah berwarna putih berpapasan dengannya. Entah mengapa ia merasa familiar dengan mobil tersebut. 


Ryo tidak melihat lagi sosok Vara yang menunggu di dekat gerbang utama, mungkin sudah dijemput. Entah mengapa ia merasa kesal, karena wanita itu menolaknya. 


__ADS_2