
Viceroy menjemput Vara untuk makan siang bersama. Selama mereka menikah, bisa makan siang bersama hanya saat hari libur, itupun Viceroy jarang sekali memiliki hari libur, kecuali ia bolos dari jadwal hariannya. Pekerjaannya semakin banyak, dan hampir-hampir menyita semua waktunya. Maka dari itu, setiap kali ada waktu luang di siang hari, ia akan menyempatkan diri untuk menjemput Vara dan makan siang bersama. Lantaran tak memiliki banyak waktu untuk duduk menunggu di rumah makan atau pun warung makan, mereka biasa makan siang bersama di mobil.
Ozy senang sekali saat Viceroy membeli sebuah mobil kelas menengah yang tempo hari ia tawarkan untuk membantu kakak iparnya yang bekerja sebagai sales mobil. Viceroy membeli sebuah mobil kelas menengah lantaran Vara mengeluhkan mobil yang dipakainya untuk mengantar dan menjemput Vara ke kantor. Viceroy memang kurang suka mengoleksi mobil, ia hanya punya satu mobil namun sekalian yang mahal daripada beli mobil kaleng-kaleng. Hal itu dikarenakan menurutnya mobil adalah aset yang nilainya mengalami depresiasi setiap tahunnya. Sungguh mubazir dan buang-buang uang.
Vara sendiri bukannya tidak suka mobil sport mewah yang dibawa oleh Viceroy. Hanya saja mobil itu terlalu mewah dan mengundang banyak pertanyaan dari orang-orang yang melihat Vara diantar dan dijemput dengan mobil super mewah.
"Gila, Mbak Vara di jemput siapa itu?"
"Ke mana tukang ojeknya, Mbak?"
"Om-Om mana lagi yang digodain, Mbak?"
Vara hanya menjawab dengan senyum. Lebih baik ia diam daripada menjawab pertanyaan yang akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain dan terus menggiring opini publik.
Lagipula mobil super mewah itu adalah milik kakak Viceroy yang kaya raya. Sungguh tindakan yang kurang pantas meminjam barang milik orang lain, lalu memperlakukannya seperti milik sendiri. Belum lagi mereka pernah menjadikan mobil itu sebagai tempat untuk berburu kenikmatan. Kalau pemiliknya tahu mobilnya pernah dipakai untuk berbuat mesum, entah apa yang akan terjadi, itulah yang diutarakan oleh Vara dan justru membuat Viceroy tertawa terbahak-bahak. Vara sungguh percaya saat Viceroy mengatakan bahwa mobil mewah itu adalah milik kakaknya.
"Viceroy, untuk apa beli mobil? Aku tidak keberatan naik motor ke mana-mana," kata Vara sewaktu Viceroy membeli mobil dari Ozy.
"Vara, tentu saja supaya kita tidak perlu cari semak-semak, saat kita saling menginginkan kapan pun, di mana pun," kata Viceroy terkekeh.
"Viceroy, kenapa kau jadi ikut-ikutan mesum seperti Ozy?!" Vara keheranan.
"Vara, bukankah kita sama-sama ketagihan berbuat mesum?!" goda Viceroy.
"Hmm, ya habisnya enak, bagaimana bisa tidak ketagihan?" balas Vara menggoda Viceroy.
...*****...
"Kenapa makanmu sedikit sekali, Vara?" tanya Viceroy saat Vara lebih memilih makan nasi bungkus, satu bungkus berdua.
"Viceroy, semua bajuku terasa sempit," jawab Vara.
"Vara, kau bisa membeli baju baru lagi," kata Viceroy.
Vara menggeleng.
"Ini bukan masalah beli baju baru, aku hanya kurang nyaman jika terlalu gemuk, lantaran merasa tubuhku jadi tidak seringan dulu, obesitas juga tak baik untuk kesehatan," Vara menjelaskan.
"Aku pikir kau takut gemuk lantaran merasa tidak cantik lagi," Viceroy tertawa.
"Viceroy, semua perempuan itu cantik, apapun keadaannya, yang tampan itu laki-laki," kata Vara diplomatis.
Tentu saja Vara awalnya sangat mengabaikan berat badannya, karena dulu merasa apapun yang dimakannya tak akan menjadi daging. Namun sekarang ia jadi kepikiran perkataan ibunya yang dulu terlalu menjaga berat badan Vara. Jangan sampai masih bujang, masih belum punya anak sudah begitu gendut, apalagi sudah punya anak, bisa-bisa sebesar tandon air!
__ADS_1
Apalagi penampilan Viceroy yang begitu membuat Vara merasa sangat insecure. Punya suami tampan membuat Vara harus menjaga penampilannya. Belum lagi mengingat Viceroy masih merahasiakan siapa calon istri yang disiapkan Ibu Suri. Dalam bayangan Vara, wanita itu pastilah luar biasa cantik, dengan kulit semulus porselen, tinggi dan ramping bak model pada peragaan adibusana.
"Viceroy, kenapa kau sama sekali tidak mau memberitahuku mengenai calon istri barumu itu?" tanya Vara.
"Vara, ada hal-hal yang sebaiknya tidak perlu kau ketahui dan lebih baik kau abaikan saja," kata Viceroy usai menelan nasi bungkus yang disuapkan Vara untuknya, sementara tangannya sibuk membalas satu per satu pesan yang masuk ke ponselnya.
Bahkan sambil makan pun Viceroy masih tetap sibuk dengan ponselnya, sebenarnya apa sih pekerjaan Viceroy ini, pikir Vara dalam hati.
"Viceroy, kau pasti tahu, bahwa untuk memenangkan perang, kau harus mempelajari musuhmu, mencari kelemahannya," kata Vara.
"Jadi, apakah wanita itu cantik? Masih Muda?" tanya Vara.
"Vara, sungguh itu tidak perlu!" jawab Viceroy.
Vara mengerucutkan bibirnya, membuat Viceroy menjadi gemas. Viceroy menyimpan kembali ponselnya lalu menatap lembut ke arah Vara yang juga mengunyah makanan dalam mulutnya lambat-lambat. Vara merasa kesal karena Viceroy benar-benar merahasiakan calon istri pilihan Ibu Suri.
Wanita yang terpilih dan direstui Ibu Suri untuk menjadi istri Viceroy pastilah bukan wanita sembarangan. Wanita itu pastilah begitu hebat karena bisa lolos dari serangkaian tes aneh yang diberikan Ibu Suri untuknya.
"Viceroy, apa wanita itu juga diberi tes mencari daftar barang ajaib dari Ibumu?" tanya Vara.
"Astaga Vara, tolong abaikan saja wanita itu! Aku pun sama sekali tidak peduli pada wanita itu," sahut Viceroy.
Vara merengut, wanita itu pasti lebih segalanya dari Vara.
"Begitu ya?!" komentar Vara.
Viceroy mengangguk.
"Sepakat ya, kau tidak usah pedulikan wanita yang dipilih ibuku, kupastikan semua yang ada pada diriku hanya untukmu," kata Viceroy. "Jangankan hartaku, darah, keringat, air mata, bahkan nyawaku akan kuberikan untukmu! Ambil semuanya hanya untukmu! Kuberikan semuanya untukmu secara gratis!" Viceroy meyakinkan Vara sambil menunjukan koreografi yang membuat Vara tercengang.
"Viceroy, dari mana kau belajar koreografi lagu grup idola tersohor itu?" tanya Vara.
"Hahaha," Viceroy tertawa.
Ia tentu saja ingat lantaran ada karyawannya yang kepergok sedang menirukan gerakan tari dari boyband yang disukai oleh karyawannya itu. Bahkan di meja kerja karyawannya itu dipenuhi wajah-wajah pria tampan dari grup idola asal Negeri Ginseng tersebut. Penyemangat kerja, begitulah alasan karyawannya itu memasang wajah-wajah pria tampan itu.
"Sepakat ya, Nyonya Viceroy," Viceroy tersenyum sambil menepuk lembut kepala Vara.
"Baiklah," kata Vara.
Viceroy tersenyum, mereka segera menyelesaikan sesi makan siang yang singkat. Viceroy segera meneguk air mineral dan langsung berkumur dengan cairan pembersih mulut sebanyak satu botol kecil. Ia benar-benar tidak bisa menahan diri jika hanya berduaan bersama Vara di tempat yang sepi.
"Vara, bolehkah aku minta hidangan penutup?" tanya Viceroy membuka sabuk pengamannya.
__ADS_1
"Viceroy, nanti ada yang lihat," kata Vara.
"Tenang saja, kaca mobil ini sudah kubuat segelap mungkin," Viceroy menyeringai lalu menarik Vara ke atas pangkuannya.
"Viceroy, pelan-pelan, nanti kau sakit pinggang lagi," Vara membiarkan Viceroy membuka kancing kemejanya satu per satu.
"Tenang saja, kan ada Bang Ijo," Viceroy menyeringai sambil membuka ikat pinggangnya dan menurunkan ritsleting celananya.
"Viceroy," Vara begitu gemas pada suaminya ini.
Ia langsung membalas ciuman Viceroy yang kembali menerjang hasratnya. Vara sungguh tak bisa menolak Viceroy, kapan pun, di mana pun pria itu menginginkannya. Vara sungguh harus siap melayaninya daripada Viceroy mencari wanita lain, pasti begitu banyak wanita yang siap memberi kepuasan untuk Viceroy.
...*****...
Vara berusaha untuk mengatur nafasnya saat mereka sudah sama-sama melepaskan apa yang harus dilepaskan. Peluh kembali membasahi sekujur tubuh mereka berdua. Meski terasa singkat bagi mereka berdua namun sangat menyenangkan. Viceroy tersenyum puas, menciumi Vara yang masih berada di atas pangkuannya, memeluknya begitu erat.
"Vara, terima kasih, ya," kata Viceroy setiap kali ia selesai terpuaskan.
Vara mengangguk malu-malu, benar-benar membuat Viceroy begitu gemas.
"Nanti malam kita lanjutkan," Viceroy tersenyum nakal.
"Iyaa," sahut Vara masih dengan wajah merona merah.
Vara segera merapikan kembali dirinya, sungguh suaminya begitu buas, namun begitu lembut.
Viceroy tersenyum, memerhatikan Vara yang menyisir rambut dan memakai lipstik berwarna lebih cerah.
"Hmm, merahnya bibirnya, siapa lagi yang diincar di kantor?!" goda Viceroy.
"Aku mengincarmu, Viceroy," sahut Vara.
Viceroy tertawa lalu mengacak rambut Vara dengan gemas, saat itulah ponselnya berdering.
"Iya, Bu," Viceroy menjawab telepon dari ibunya.
Vara mengawasi Viceroy yang nampak mengerutkan keningnya, memijat pelipisnya lalu menatap ke arah Vara yang saat ini sedang berada di sampingnya.
"Baiklah, aku mengerti, Bu," kata Viceroy menutup teleponnya.
"Ada apa, Viceroy?" tanya Vara.
"Vara, kuantar kembali ke kantor, ya," kata Viceroy sambil tersenyum.
__ADS_1