
"Bu Vara, maaf sepertinya saya harus pergi lebih dulu," kata Ryo begitu mereka keluar dari bioskop.
"Baik, Pak, tidak masalah, terima kasih sudah ditraktir nonton film yang begitu seru," kata Vara.
"Baiklah, kalau begitu permisi," Ryo bergegas meninggalkan Vara.
Dalam hati, Ryo hanya bisa mengutuk tubuhnya yang tidak bisa dikondisikan. Bagaimana ia bisa bermimpi basah di siang bolong yang membuat celananya harus kotor?
Ryo benar-benar malu saat menuju ke toilet untuk membersihkan diri. Pesona Vara benar-benar mengguncang kewarasannya. Hanya duduk di samping wanita itu saja sudah membuatnya bermimpi erotis.
Ryo mau tidak mau harus bergegas pergi meninggalkan Vara. Itu pun juga karena ia mendapat pesan dari klien yang harus ditemuinya. Padahal Ryo sudah berpikir untuk mengajak Vara makan malam bersama. Siapa tahu sekalian bisa merealisasikan mimpi erotisnya.
Sungguh Ryo merasa ia begitu rindu untuk melakukan aktivitas panas. Ia bahkan sudah setahun terakhir ini tidak menyentuh wanita sama sekali lantaran terlalu sibuk bekerja. Ryo sebenarnya bukan pria bejat yang suka main perempuan. Ia hanya melakukan hal yang membuatnya senang bersama wanita yang juga bisa membuatnya senang. Percintaan mereka cukup berlandaskan rasa suka sama suka.
Ryo tidak mau terlalu terbawa perasaan pada setiap wanita yang dikencaninya. Hal tersebut dikarenakan ia tidak mau repot-repot kecewa jika ibunya menolak wanita yang dipilihnya. Lagipula saat ini hatinya sedang tertawan oleh kehadiran Vara. Sungguh Ryo ingin cepat-cepat membawa Vara kepada ibunya saat urusan Roy dengan istrinya selesai.
...*****...
Usai berpisah dari Pak Ryo, Vara bergegas menuju ke swalayan yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Sepertinya ia harus membeli beberapa keperluan dapur yang stoknya mulai menipis.
Vara mencoba mengingat-ingat berapa banyak minyak goreng, beras, gula pasir, makanan beku, hingga mie instan yang masih tersisa di dapur. Ia juga akan membeli buah-buahan segar yang nampak begitu menggiurkan begitu memasuki pintu swalayan.
Ponselnya berdering, ia segera mengangkatnya.
"Vara, kau di mana? Aku tunggu di depan gerbang," kata Viceroy.
"Viceroy, aku sedang ada di swalayan yang ada di Mall GH," kata Vara.
Terdengar Viceroy tidak menyahut.
"Baiklah, tunggu di sana," kata Viceroy sebelum menutup teleponnya.
Vara mengambil troli dan mulai menyusuri rak-rak yang berisi begitu banyak barang, mulai dari kebutuhan dapur hingga perlengkapan rumah. Ia berkeliling melihat aneka barang elektronik yang dipajang. Memerhatikan harga dan juga spesifikasinya. Barang-barang elektronik di swalayan ini sama sekali tidak sama dengan yang ada di rumah Viceroy.
Lemari es di rumah Viceroy saja besarnya seperti lemari pakaian yang bisa menjadi tempat Vara untuk bersembunyi.
Rumah Viceroy meski tidak besar sudah difasilitasi secara lengkap. Vara tidak perlu sibuk mencari furnitur, barang-barang elektronik, hingga perlengkapan dapur. Padahal pasangan pengantin baru pada umumnya saat menempati rumah baru, pastilah akan disibukkan untuk mencari furnitur. Mendiskusikan bersama warna sofa yang diinginkan saat ingin membeli sofa. Mendiskusikan harga mesin cuci yang ingin dibeli. Hingga mendiskusikan pembayaran secara kredit atau tunai. Vara sungguh tinggal masuk ke rumah itu dan memakai semua fasilitas yang ada.
Hanya saja, di rumah itu tidak ada televisi. Vara berdiri di depan televisi yang dipajang di deretan barang-barang elektronik.
Pasti asyik bisa nonton film bersama sebelum tidur, seperti waktu mereka masih hidup nomaden di hotel. Hanya saja, Viceroy pasti sudah tertidur lebih dulu sebelum filmnya selesai. Ada berbagai macam merek dan ukuran, hingga adu kualitas gambar.
__ADS_1
Vara terpana melihat sosok pria yang tertangkap dalam layar televisi yang terhubung dengan kamera cctv. Pria itu memakai setelan jas hitam, berpose dengan jari telunjuk dan jempol yang membentuk hati. Vara tersenyum sumringah saat pria tampan itu menghampirinya.
"Viceroy, dari mana kau belajar pose seperti itu?" tanya Vara keheranan.
"Aku melihat Ozy diam-diam melakukannya di belakang Santika," jawab Viceroy seraya tertawa. "Saat kutanya maksudnya apa, katanya itu simbol cinta."
"Astaga, Ozy kebanyakan nonton drama Korea," Vara tertawa.
"Kenapa kau melihat televisi? Mau beli?" tanya Viceroy.
"Sepertinya bagus kalau di kamar ada televisi," jawab Vara.
"Tidak! Kamar itu tempat untuk beristirahat, kalau di kamar kita ada televisi, yang ada kau hanya nonton sepanjang malam!" kata Viceroy.
Saat masih menginap di hotel, Viceroy sering memergoki Vara yang nonton film hingga jauh malam. Makanya ia tidak mau ada televisi di rumahnya.
"Lagi pula nanti kau justru sibuk dengan televisi, bukannya fokus padaku," lanjut Viceroy.
"Viceroy, kau cemburu juga pada televisi?" tanya Vara keheranan.
"Tentu saja," jawab Viceroy sambil mencubit ujung hidung Vara dengan gemas.
"Cedera ringan," jawab Vara.
"Apa perlu dibawa ke rumah sakit?" tanya Viceroy nampak cemas.
"Tidak apa-apa, Viceroy, kulitku hanya terlalu sensitif," jawab Vara.
Viceroy menghela nafasnya.
"Vara, kau sudah menjadi asetku yang sangat berharga," kata Viceroy.
Vara tersenyum melihat Viceroy yang nampak mencemaskannya.
"Viceroy, kau terlihat begitu tampan dalam setelan jas, wanita mana lagi yang kau incar?" tanya Vara.
Viceroy tercengang mendengar pertanyaan Vara. Ia terburu-buru dari kantor, hingga tak sempat mengganti pakaiannya.
"Aku mengincar seorang wanita bernama Varadisa," jawab Viceroy langsung menggandeng tangan Vara.
Mereka segera menuju ke rak-rak berisi kebutuhan dapur, mulai dari minyak goreng, beras, gula pasir, hingga mie instan. Lalu menuju ke rak berisi aneka sabun, mulai dari detergen, pewangi pakaian, hingga sabun cuci piring.
__ADS_1
Viceroy memborong sikat gigi, pasta gigi, benang gigi, hingga obat kumur. Agar kondisi mulutnya senantiasa prima kapan pun ia ingin menciumi Vara.
Vara menuju ke rak yang menyediakan berbagai macam losion tubuh. Ia menghirup satu per satu aroma losion itu.
"Sudah, ambil saja semuanya," kata Viceroy memasukkan semua losion itu ke dalam troli.
"Viceroy, memangnya kita mau mandi losion?" tanya Vara.
"Iya, kan wangi," jawab Viceroy sambil berpose imut.
Vara tertawa melihat tingkah Viceroy yang sok imut. Viceroy terhenti di depan rak yang memajang lip balm.
"Vara, apa kau tahu, dulu lip balm ini harganya mahal sekali! Satu bulan uang sekolah! Kenapa sekarang jadi lebih terjangkau ya?" tanya Viceroy.
"Tentu saja! Sekarang sudah banyak pesaingnya, merek-merek dari luar juga banyak," jawab Vara. "Aku rasa hanya pelanggan setia yang masih memakainya," lanjut Vara.
Viceroy mengangguk, ia termasuk pelanggan yang begitu setia. Ya, secara satu tahun hanya butuh dua buah saja tentu saja lebih ekonomis.
Vara dan Viceroy menuju ke kasir untuk membayar semua barang belanjaan mereka. Saat menyerahkan kartu debitnya, kasir menolak karena saldo tidak mencukupi.
Viceroy tersenyum ke arah Vara yang mulai panik saat membuka dompetnya yang nampak kosong. Viceroy bisa saja mengeluarkan kartu hitam saktinya yang bahkan bisa ia gunakan untuk membeli pusat perbelanjaan ini. Namun ia tidak melakukannya lantaran ia sudah menyerahkan salah satu koleksi kartu debitnya untuk Vara sebagai jatah periodikal Vara. Vara bahkan belum pernah menggunakan kartu debit itu sejak Viceroy memberikannya.
Vara tersadar, bahwa kartu kreditnya selalu ia tinggal di kantor, agar tidak ada keinginan untuk gesek-gesek manja. Satu kartu debit yang tersisa di dompet Vara mau tidak mau harus digunakannya. Kartu debit yang diberikan Viceroy dengan pin yang berupa tanggal pernikahan mereka.
"Tidak apa-apa, kan, aku menggunakannya?" tanya Vara ke arah Viceroy.
"Vara, bukankah sudah pernah kukatakan padamu, habiskan saja semuanya," Viceroy tersenyum sumringah.
"Apa kau akan menagihku dengan menambahkan bunga sebesar sepuluh persen sehari?" tanya Vara ke arah Viceroy.
"Apa kau juga akan menagihku untuk membayarmu setiap kali aku menidurimu?" bisik Viceroy yang langsung membuat wajah Vara memerah.
"Viceroy! Bagaimana kau bisa berpikir begitu?!" Vara melotot ke arah Viceroy yang terkekeh geli.
"Mbak, tolong pembayarannya," kata kasir yang sudah menodong Vara untuk segera membayar belanjaannya.
Viceroy tersenyum menatap layar ponselnya yang menampilkan laporan penggunaan kartu debit tersebut. Akhirnya, Vara menggunakan uangnya juga.
Senyum Viceroy seketika sirna tatkala ponselnya berdering dan nama ibunya muncul di layar.
"Roy, bawa istrimu ke rumah sekarang," perintah ibunya.
__ADS_1