
Ozy mengemudikan mobilnya menyusuri kawasan yang dipenuhi pepohonan di kiri kanan. Ia memutuskan mengajak Santika untuk pergi piknik, sudah bosan rasanya hari libur hanya digunakan untuk jalan-jalan keliling mall, nonton film di bioskop, pergi karaoke, bahkan hanya rebahan seharian di rumah. Penghuni di rumahnya terlalu banyak, apalagi para keponakan yang kepo membuat Ozy tidak betah di rumah. Ingin rasanya tinggal di rumah sendiri, sayangnya pasangan belum tersedia.
Ozy awalnya hanya mau mengajak Santika, tetapi Santika justru mengajak Vara, dan tahu sendiri, Vara pasti membawa bodyguard tampannya. Yah, hitung-hitung, semakin banyak orang semakin ramai. Ozy benar-benar berdebar-debar, karena Mas Tampan suami Vara duduk di kursi depan. Pria itu memakai kacamata hitam yang membuatnya semakin bergaya. Vara dan Santika duduk di kursi belakang sambil berbincang-bincang santai.
"Mas Tampan," kata Ozy memanggil suami Vara.
"Hmm," jawab Viceroy tanpa menoleh ke arah Ozy.
"Bisa mengemudikan mobil?" tanya Ozy malu-malu.
"Bisa," jawab Viceroy.
"Mas Tampan, di dalam laci dashboard, ada daftar harga mobil, siapa tahu tertarik," kata Ozy.
"Ozy, merangkap jadi sales mobil juga?" tanya Vara.
"Bantu kakak iparku," jawab Ozy seraya terkekeh. "Mas, apa tidak kasihan istrinya, naik motor itu, ya, panas ya kepanasan, hujan ya kehujanan, kena debu, polusi asap kendaraan," Ozy melontarkan argumentasinya.
__ADS_1
"Ozy, naik motor itu lebih praktis, hemat waktu, tidak perlu terjebak kemacetan," Vara membantah argumentasi Ozy.
"Selain itu Ozy, yang perlu diperhatikan juga cicilannya, asuransinya, biaya perawatannya, biaya bahan bakarnya, harus diperhitungkan dengan matang," Vara menambahkan.
"Tapi, Mas Tampan, Vara, kalau naik mobil, pas lagi ingin enak-enak, tidak perlu cari semak-semak! Asal tempatnya sepi, sudah bisa mantap-mantap!" Ozy terkekeh geli.
"Ozy, mulut, Ozy!" celetuk Vara.
"Ozy bahaya, otaknya rusak!" cibir Santika.
"Ozy, kalau tahu, tadi singgah di minimarket beli lakban hitam ya!" celetuk Vara.
"Huuhh," gerutu Ozy.
"Haha," Viceroy tertawa mendengar perkataan Ozy. "Ozy, bagaimana kau bisa terpikir mencari semak-semak? Pengalaman pribadi, ya?" tanya Viceroy menggoda Ozy.
"Ihh, maaf ya, tidak level di semak-semak, takut deh, ular dipatuk ular!" seloroh Ozy yang langsung mengundang gelak tawa.
__ADS_1
Viceroy mengamati Vara yang nampak tertawa lepas. Mereka memang perlu pergi piknik untuk melepas lelah meski hanya sejenak. Viceroy sebenarnya ingin mengajak Vara pergi liburan, namun banyaknya pekerjaan membuatnya belum bisa pergi. Liburan keliling Eropa untuk bulan madu sudah masuk dalam agendanya, hanya saja belum tahu kapan bisa terealisasikan.
Mobil yang dikemudikan Ozy memasuki kawasan wisata petik buah yang berada di luar kota. Berjarak satu setengah jam dari pusat kota. Berada di area perbukitan yang begitu asri. Pemandangan yang sungguh memanjakan mata pengunjung yang merasa lelah dengan hingar-bingar perkotaan.
"Vara, kita berpencar ya, satu jam lagi kita berkumpul di gazebo utara," kata Ozy segera mengajak Santika.
"Ozy, kenapa kita tidak bersama-sama saja?" tanya Santika.
"San, di sini buahnya banyak sekali, berpencar lebih efisien," jawab Ozy.
"Ozy, jangan cari semak-semak, di sini tidak ada," kata Viceroy seraya tertawa.
"Aih, Mas Tampan ini, bisa saja," Ozy mencubit lengan Viceroy dengan gemas.
"Viceroy, bagaimana kau tahu di sini tidak ada semak-semak? Kau pernah ke sini sebelumnya?" tanya Vara.
Viceroy tertawa, ia tak mungkin mengatakan bahwa ia adalah pemilik tempat ini. Ia bahkan merancang, mengatur, dan membangun tempat wisata ini sebagai salah satu penghasil pundi-pundi uangnya.
__ADS_1