
Sofia bersama pamannya datang menemui kumpulan preman-preman yang menjadi teman-teman pamannya. Paman Sofia bernama Bahar. Pria berkulit gelap dengan tampang kasar nan bengis itu memang terkenal di antara para preman penjaga pasar. Bahar berprofesi sebagai kepala preman yang berkuasa di pasar daerah Timur, terlebih ia didukung oleh Pak Haji Bahra selaku juragan sembako di pasar tersebut.
"Paman-paman sekalian, aku mau kalian singkirkan wanita ini, tapi dengan cara ditakut-takuti!" kata Sofia sambil menyodorkan selembar foto wanita pada mereka.
"Awas memang, jangan sampai kalian ketahuan!" ancam Bahar.
"Aman bosku, yang penting sesuai harga saja," sahut mereka.
"Tentu saja, ini uang muka untuk kalian, sisanya setelah misi suci kalian selesai," kata Sofia menyodorkan amplop cokelat berisi uang tunai.
"Siapa ini, Po'?" tanya para preman.
"Sudah, tidak usah banyak tanya! Kalian kerjakan saja!" tandas Bahar.
"Ya, siapa namanya, orang dari daerah mana, biasa mangkal di mana?" tanya salah satu preman sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Itu sudah! Harus jelas, jangan bikin kami cari kutu," sahut yang lain.
"Namanya Laras, setiap malam sering pergi ke klub malam di pusat kota, cari saja di sana!" sahut Sofia.
"Oke, siap bosku!" sahut para preman itu.
Sofia tersenyum puas. Baginya inilah saat yang tepat untuk menyingkirkan istri Viceroy dari muka bumi. Sungguh mudah sekali mendapatkan informasi tentang wanita yang selalu mengumbar kehidupan pribadinya di sosial media. Wanita yang suka pamer kehidupan mewahnya yang glamor. Sedikit-sedikit membagikan semua aktivitasnya. Mulai dari tempat kerjanya hingga tempat nongkrongnya. Kak Ryo yang memberi informasi mengenai sosial media istri Viceroy. Terdapat dua buah foto yang menampilkan Viceroy dan wanita itu disertai dengan caption hati. Kolom komentar wanita itu pun kebanjiran komentar dari para warganet yang penasaran dengan pria tampan itu.
"Roy itu tidak pernah mau difoto! Sulit untuk mendapatkan fotonya! Berhubung wanita ini istrinya, tentu saja mudah mendapatkan foto bersama," kata Ryo saat menunjukkan sosial media wanita itu.
Benar, Viceroy sangat sulit untuk difoto. Sofia bahkan pernah beberapa kali mencoba mengambil foto pria itu secara diam-diam, namun tidak pernah berhasil.
Sofia tahu bahwa Viceroy dan istrinya telah resmi bercerai dari Tante Virda. Namun tidak menutup kemungkinan mereka masih akan saling bertemu. Sehingga menurut Sofia lebih baik ia menyingkirkan wanita itu agar rumah tangganya dengan Viceroy nantinya tak akan diganggu dengan kehadiran wanita itu.
Sofia benar-benar harus merayakan kemenangannya karena sudah merasa mendapatkan Viceroy seutuhnya.
...*****...
Ryo tersenyum saat mendapat kabar bahwa Viceroy dan istrinya telah resmi bercerai. Ryo tersenyum puas karena pada akhirnya ia benar-benar telah mendapatkan kemenangan atas pertaruhan yang mereka lakukan. Ryo mulai membayangkan resort mewah seperti apa yang akan dibangun di atas lahan luas yang diperolehnya dengan sangat mudah.
Ryo adalah orang yang mengambil prinsip untuk mengutamakan kerja cerdas daripada kerja keras. Ia tak perlu menggelontorkan dana yang begitu besar untuk menggarap lahan yang tadinya hanya berupa kawasan hutan. Ibarat orang yang sedang bercocok tanam, Ryo tidak perlu direpotkan dengan menggarap lahan, menyemai bibit, hingga proses penanaman serta perawatan secara berkala. Ryo hanya perlu memanennya dan langsung menikmati hasilnya saja.
Kalau ada yang praktis untuk apa harus repot-repot, itulah yang selalu menjadi motto hidup Ryo. Bagi Ryo, biarkan uang yang berbicara dan bekerja. Ia cukup duduk manis sambil menunggu hasilnya.
"Sepertinya aku harus segera mencari arsitek yang bisa mulai membuat rancangan untuk proyek resort mewahku," kata Ryo sambil memegangi dagunya.
...*****...
Viceroy duduk di meja kerjanya, ia termenung cukup lama sambil menatap layar besar yang sedang menayangkan secara langsung aktivitas para karyawan yang sedang bekerja. Para karyawannya terlihat begitu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Viceroy sudah menutup pintu ruang kerjanya. Semua karyawan sudah paham, itu artinya ia tidak ingin diganggu dulu untuk sementara.
Viceroy sungguh tak menyangka, ia akhirnya bisa punya pekerja sebanyak itu. Ia mencoba mengingat, lebih dari satu dekade yang lalu saat ia merintis usahanya ini hanya sendiri saja. Bermodal nekat dan yakin pasti bisa sukses seperti pria-pria sukses bergelimangan harta di luar sana.
Ketika mengetahui kakaknya yang memulai usaha, membuat Viceroy termotivasi untuk memulai usahanya juga.
Perjuangan dalam merintis usahanya tentulah penuh liku dan membuatnya jatuh bangun serta berdarah-darah. Semua hasil jerih payahnya terbayar saat usaha kerasnya membuahkan hasil. Ia bisa membangun perusahaannya sendiri dan mengembangkan kerajaan bisnisnya hingga menggurita, semua berkat usahanya sendiri. Semua yang telah diraihnya murni hasil perahan keringat, darah, dan air matanya.
Viceroy bukanlah pria yang punya segalanya karena warisan keluarga. Ia begitu perhitungan dengan semua uang yang dimilikinya karena ia tahu betul susahnya cari uang. Makanya ia tidak bisa menghambur-hamburkan uangnya dengan mudah seperti pria lain. Ia bahkan tidak mau berkencan karena menurutnya untuk apa menghamburkan uang untuk hal yang tidak pasti dimilikinya. Lebih baik ia menginvestasikan uangnya untuk hal-hal yang lebih menguntungkan dan menambah pundi-pundi uangnya, daripada berkencan dengan wanita-wanita yang hanya mau menguras uangnya saja.
Viceroy segera mengalihkan perhatiannya dari para pegawai, ia menyingkirkan semua dokumen yang ada di atas meja kerja dan menukarnya dengan sebuah papan catur yang diambil dari lemari penyimpanan barang-barang pribadinya. Ia membuka papan catur berbahan akrilik. Ia mulai menyusun bidak-bidak bening dan hitam yang tembus cahaya itu pada posisinya masing-masing. Almarhum ayahnya yang mengajarinya bermain catur. Saat masih kecil, rumah mereka dipenuhi orang-orang dewasa yang bermain catur hingga jauh malam. Ayahnya dulu jago sekali bermain catur. Banyak orang yang datang untuk menyaksikan pertandingan catur yang diselenggarakan hampir setiap malam hari.
Saat sudah jauh malam dan para bapak-bapak hadirin itu tidak kunjung selesai bermain catur, ibunya akan datang sambil melempar piring guna membubarkan massa yang berkumpul. Ibu Viceroy memang orang yang terkenal keras dan tegas, yang membuatnya sangat disegani dan ditakuti.
Viceroy melupakan sejenak rutinitas pekerjaannya untuk bermain catur melawan dirinya sendiri. Kegiatan yang dianggapnya ampuh untuk mengembalikan fokus dan konsentrasinya yang beberapa waktu lalu terpecah belah.
Konsentrasi Viceroy buyar tatkala mendengar dering ponsel pribadinya berbunyi. Nama Ryo muncul di layar datar tersebut.
Viceroy tidak langsung menjawab, karena saat ini ia sedang memandangi bidak-bidak catur yang sedang dimainkannya.
"Roy, jangan lupa siapkan semua dokumen lahan pribadimu! Kau harus segera menyerahkan lahan pribadi itu untukku karena aku sudah berencana untuk merancang resort mewahku," kata Ryo di seberang sana begitu Viceroy menjawab teleponnya.
Viceroy masih tetap diam mendengarkan perkataan Ryo sebelum akhirnya ia menjawab.
"Maaf ya, Ryo," kata Viceroy sambil memainkan bidak caturnya.
"Aku tidak akan menyerahkan lahan itu padamu," kata Viceroy.
"Hoo, kenapa kau menolak? Kau sungguh tidak sportif karena tidak bisa menerima kekalahan!" sergah Ryo.
"Aku merasa tidak kalah! Bukankah harusnya kau yang menyerahkan perusahaanmu padaku?" Viceroy bertanya.
"Apa maksudmu, dasar anak durhaka?!" tandas Ryo.
"Ryo, bukankah dari awal pertaruhan kita tentang siapa yang lebih dulu menikah di antara kita!" kata Viceroy.
"Aku bahkan sudah menikah lebih dulu darimu," kata Viceroy tetap tenang.
"Roy, pernikahanmu itu palsu! Ibu tidak menerima pernikahanmu! Ibu bahkan sudah jelas tidak merestui pernikahan kalian!" tandas Ryo.
"Ryo, meski pernikahanku itu palsu dan tidak direstui oleh ibu, namun aku tetap sudah menikah lebih dulu darimu! Sekarang cobalah kau berpikir! Logikanya tanpa adanya pernikahan, bagaimana bisa aku bercerai ?! Kau bahkan repot-repot menyiapkan tim pengacara untuk mengurus perceraianku, bukankah itu artinya kau sendiri mengakui bahwa penikahanku itu nyata adanya?!" Viceroy menjelaskan.
Ryo terdengar tak mampu mengatakan apapun.
"Jadi Ryo, bersiaplah! Aku akan mengambil alih perusahaanmu! Aku sudah mempersiapkan tim kuasa hukumku untuk memproses surat perjanjian pertaruhan kita," kata Viceroy.
Ryo sungguh tak mampu berkata apa-apa lagi saat Viceroy mengirimkan salinan surat perjanjian yang sudah mereka tanda tangani di atas materai. Di sana tertulis jelas bahwa siapapun yang menikah lebih dulu adalah pemenangnya. Viceroy kini bahkan telah resmi bercerai dari istrinya, melalui kuasa hukum yang ditunjuk Ryo untuk mengurus perceraian adiknya itu.
Itu artinya secara tidak langsung, Ryo mengakui adanya pernikahan Viceroy. Ia merasa sedang terjebak dalam jebakan yang disiapkan oleh Viceroy. Pantas saja Viceroy bersikeras tidak mau menceraikan istrinya. Hingga akhirnya sang ibu meminta bantuan Ryo agar mengutus tim pengacara untuk mengurus perceraian Viceroy.
"Kau benar-benar licik, Roy!" tandas Ryo.
"Kau menghalalkan segala cara agar bisa menang dariku! Kau sudah berbuat curang!" teriak Ryo penuh kemurkaan.
Viceroy tertawa.
__ADS_1
"Ryo, kenapa kau selalu menuduhku seperti itu?! Coba katakan padaku, di mana letak curangku?" tanya Viceroy.
"Dasar kau anak durhaka!" maki Ryo.
"Huhu, Ryo, aku sudah berusaha menjadi anak yang berbakti pada orang tua kita! Sudah kulaksanakan semua yang diminta oleh ibu! Coba sebutkan dan jelaskan padaku, di mana letak kedurhakaanku pada ibu?" Viceroy terkekeh.
"Roy, kau benar-benar pria licik yang begitu berambisi untuk menang!" geram Ryo.
"Ryo, aku tidak akan bertaruh jika tidak yakin akan menang!" kata Viceroy.
"Roy, aku tidak mengakui kemenanganmu yang penuh kecurangan seperti ini!" teriak Ryo penuh kemurkaan.
"Ryo, mau itu menang tipis, menang telak, ataupun menang dengan cara curang, menang tetaplah menang!" Viceroy tersenyum dingin.
Ia bisa membayangkan bagaimana ekspresi Ryo saat harus menerima kekalahannya.
Ryo terdengar memutus sambungan telepon. Viceroy meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Ia bersandar sambil melipat tangan di depan dada.
Ia benar- benar tak menyangka bahwa strateginya akan berhasil memenangkan pertaruhannya dengan Ryo.
"Skakmat, Ryo," kata Viceroy sambil menatap bidak-bidak catur yang terdiam di posisi masing- masing.
...*****...
Viceroy mencoba mengingat-ingat bahwa sepertinya selama ini Ryo sudah salah menduga siapa istri Viceroy yang sesungguhnya. Viceroy bukannya mengabaikan semua desas-desus yang beredar mengenai istrinya. Hanya saja ia tidak mau ambil pusing. Di luar sana memang banyak wanita-wanita yang mengaku sebagai istri Viceroy.
...*****...
Hari itu Sofia datang menemuinya, Sofia menceritakan bagaimana ia merasa kesal lantaran perlakuan istri Viceroy terhadap Sofia.
"Roy, aku tahu istrimu lebih seksi dariku! Wanita itu hanya punya dada besar hasil silikon! Aku juga bisa mengubah penampilanku agar sama sepertinya! Aku bisa mempermak habis diriku agar sama sepertinya, toh aku dan dia sama-sama memiliki warna kulit yang sama!" kata Sofia.
"Apa?!" kata Viceroy berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
Bagaimana bisa Sofia mendeskripsikan sosok istrinya dengan sosok yang sama sekali berbeda dengan Vara?
"Sofia, apa kau yakin wanita yang kau temui adalah istriku?" tanya Viceroy.
"Tentu saja aku yakin! Karena Kak Ryo yang sudah memberiku informasi tentangnya!" jawab Sofia tanpa ragu.
"Lalu, apa yang dia katakan padamu?" tanya Viceroy.
Saat itu Sofia membeberkan semua informasi yang ia ketahui, tanpa pernah tahu bahwa informasi itu digunakan oleh Viceroy untuk mengatur strateginya. Menjadikan semua informasi yang didapatnya untuk diubah menjadi senjata pamungkas guna memenangkan peperangan ini.
Begitulah, Viceroy sudah tahu bahwa Ryo telah salah menduga siapa istrinya yang sebenarnya. Ryo sudah seenaknya menghina dan merendahkan istrinya, bahkan menghasut ibu mereka. Membuat Ibu mereka membenci istrinya hanya karena terhasut omongan Ryo. Ryo sendiri pun sepertinya jelas sekali terhasut desas-desus orang lain yang tidak bertanggung jawab.
Bisa jadi saingan bisnis Viceroy yang tidak suka melihat pencapaiannya.
Iri bilang, bos!
Viceroy benar-benar membiarkan Ryo termakan asumsinya sendiri. Hanya saja ia memilih untuk diam dan menunggu, sambil mengatur strategi yang tepat. Siapa tahu ia bisa menjadikan hal tersebut sebagai keuntungan untuknya.Terlebih Ryo dan ibunya memiliki sifat mudah kehilangan simpati saat mendengar desas-desus yang tidak baik dari berita yang beredar. Ibarat pepatah mengatakan, karena nila setitik rusak susu sebelanga, itulah karakter Ryo dan ibunya saat sudah ilang feeling yang lagi-lagi menguntungkan Viceroy.
Viceroy mengulas senyum, sepertinya di kehidupan lampau ia adalah seorang jenderal perang yang punya segudang strategi untuk memenangkan peperangan.
Viceroy memandangi bidak raja dari papan caturnya. Ia tersenyum pada bidak raja yang nampak hanya bisa terdiam di posisinya.
"Kau benar-benar harus tahu siapa yang kau lawan Ryo, kau benar-benar salah jika meremehkanku," Viceroy bermonolog.
"Jadi, terimalah kekalahanmu yang gemilang, Ryo," Viceroy tersenyum dingin pada bayangan Ryo yang saat ini sedang duduk berhadapan dengan Viceroy.
...*****...
Ryo masih tertegun saat mendengar penjelasan dari Viceroy. Bagaimana mungkin ia melakukan tendangan bunuh diri ke gawangnya sendiri. Ibunya memintanya untuk mengaturkan perceraian adiknya. Ryo sama sekali tidak terjun langsung dalam mengurus perceraian tersebut. Ryo tinggal memberi perintah pada tim kuasa hukumnya. Ryo benar-benar hanya tinggal duduk manis dan menunggu hasil perceraian adiknya saja.
Namun ternyata perceraian itu dijadikan senjata oleh Viceroy untuk memenangkan pertaruhan mereka.
Padahal Ryo sudah berpikir bahwa ia benar-benar telah memenangkan pertaruhan mereka. Ryo jadi merasa bahwa ia terkena prank yang mengerikan.
Tak salah jika semua orang mengatakan bahwa Viceroy Lavais adalah seorang pria licik yang disegani dalam dunia bisnis. Pamornya sebagai seseorang yang pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan benar-benar nyata adanya. Sungguh tak mengherankan melihat ia bisa sesukses itu, lantaran pria itu memang seorang oportunis sejati.
Dalam sekejap, Ryo jadi kehilangan semua yang ia miliki lantaran kalah bertaruh dari adiknya.
Ryo tertipu, terjebak, dan terperangkap muslihat adiknya yang luar biasa licik dan penuh perhitungan itu. Rasa luar biasa kesal dan kemarahan berkecamuk dalam dada Ryo.
"Hahaha," Ryo tertawa keras-keras.
Semua karyawan yang bekerja di luar ruangannya mendengar atasan mereka itu tiba-tiba saja tertawa begitu dahsyat. Entah apa yang ditertawakan karena terdengar begitu histeris.
Ryo menertawakan dirinya yang terjatuh dalam jebakan yang disiapkan oleh adiknya. Akibat taruhan menikah yang dilakukannya dengan adiknya benar-benar membuat ia kehilangan segalanya.
"Roy, dasar kau anak durha--," kata Ryo tertahan.
Ryo merasakan dadanya terasa sesak, ia memegangi dadanya yang bergemuruh. Ia kehilangan keseimbangannya dan jatuh sambil berlutut.
"Ugh, Ugh!"Ryo memegangi jantungnya yang seakan berhenti berdetak.
"Pak Ryo!!" terdengar teriakan seorang karyawan yang mendapati atasan mereka sudah terjerembab di atas lantai.
Ryo bisa mendengar suara teriakan perlahan-lahan menghilang bersama dengan kesadarannya yang ikut menghilang.
...*****...
Kediaman Virda selalu menjadi tempat termewah yang didatangi oleh para keluarga dari pihaknya. Mereka semua selalu terpana melihat rumah bertema ala kerajaan Timur Tengah. Kursi-kursi besar bak singgasana kerajaan dengan semua interior bersepuh emas selalu membuat semua orang yang datang terpesona. Di rumah itu sama sekali tidak terpajang foto keluarga. Anak bungsunya selalu menolak untuk difoto lantaran merasa tidak tampan dan selalu diejek oleh anak sulungnya.
"Memajang wajah Roy di dinding rumah kita membuat malaikat pembagi rejeki enggan berkunjung, Bu! Wajah Roy sungguh menakutkan," ejek Ryo.
Begitulah, akhirnya Virda memutuskan untuk tidak memajang foto keluarga di rumah mereka daripada menjadi bahan perdebatan antara Ryo dan Viceroy.
Virda duduk di meja makan bersama keluarga Haji Bahra. Mereka semua sedang menikmati santap siang bersama.
__ADS_1
"Jadi, Kak Virda, kapan Roy akan melamar Sofia?" tanya Bu Haji Bahra.
"Sabar Bu Haji, Roy masih sibuk dengan pekerjaannya," jawab Virda.
"Sudah tidak sabar rasanya melihat Roy dan Sofia naik pelaminan," kata Bu Haji Bahra.
"Aku maunya juga begitu, Bu Haji, sekalian Ryo juga naik pelaminan," kata Virda.
"Senangnya jadi Kak Virda ini, punya dua anak laki-laki tampan yang sukses sekali," puji mereka.
"Ryo dijodohkan dengan cucu Haji Jumardi saja, orangnya cantik, sekolahnya juga bagus, cocok buat Ryo."
Virda tersenyum, ia tentu harus menguji kembali semua gadis-gadis itu. Ponsel Virda berdering, ia segera menjawabnya.
Senyum Virda seketika sirna karena mendapat informasi yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
...*****...
Virda setengah berlari menyusuri koridor rumah sakit. Ia mendapat informasi dari sopir pribadi Ryo bahwa Ryo mengalami serangan jantung. Dengan air mata yang mengalir, ia menunggu dengan gusar di depan ruang ICU. Ia jadi teringat almarhum suaminya yang juga meninggal lantaran terkena serangan jantung.
Virda berdoa, memohon kepada Tuhan agar masih memberikan umur yang panjang untuk Ryo. Jangan sampai ia kehilangan anaknya seperti saat ia kehilangan suaminya.
Bagaimana bisa Ryo terkena serangan jantung?
Padahal Virda sudah mewanti-wanti Ryo untuk menjaga kesehatan. Virda juga telah menasehati Ryo agar jangan terlalu lelah bekerja.
"Halo, Roy, cepat ke Rumah Sakit PM, kakakmu terkena serangan jantung," Virda meninggalkan pesan karena Viceroy tidak menjawab teleponnya.
Virda masih menangis, ia benar-benar tidak ingin kehilangan Ryo.
...*****...
Restoran cepat saji nampak sepi karena jam sudah menunjukan hampir pukul sepuluh malam. Dua orang wanita duduk berhadapan di sebuah meja yang berada di sudut ruangan terbuka. Wanita itu menyulut batang rokok di tangannya. Ia menghisap kuat-kuat batang rokoknya dan menghembuskan asap rokok yang lepas bebas terbang ke udara.
"Jadi, apa masalahmu, Vara?" tanya Santika yang juga ikut menyulut sebatang rokok.
Vara hanya diam, masih menikmati rokok yang saat ini benar-benar dijadikan obat penenangnya. Pantas saja banyak pria yang memilih merokok untuk menghilangkan beban pikiran.
"Aku rasa aku akan berhenti bekerja," jawab Vara.
"Loh, kok tiba-tiba?" tanya Santika.
"Lelah, kantor sudah tidak asyik lagi! Apa kau tahu, sudah seminggu ini aku diskors gara-gara dianggap melakukan penyerangan terhadap adik ipar atasanku?" Vara tertawa.
"Wah, gila kau, Vara!" Santika terkekeh.
"Haha, kalau dia bukan adik ipar atasanku, sudah kusulut itu mulutnya dengan rokokku ini," sahut Vara.
"Kok bisa kau sampai menyerang keluarga atasanmu?" tanya Santika keheranan.
"Aku muak dengan mulutnya yang seperti orang tidak pernah sekolah! Kesal sekali mendengar dia menghinaku dan juga orang tuaku!" geram Vara.
"Aih, sudahlah, tidak usah dibahas, naik tekanan darahku kalau membahas masalah itu lagi," gerutu Vara.
Vara menghembuskan kembali asap rokoknya.
"Kau sendiri bagaimana?" tanya Vara.
"Ozy melamarku," jawab Santika.
"Terus?" tanya Vara.
"Aku rasa dia kerasukan setan!" sahut Santika.
"Jadi kau menolaknya?" tanya Vara.
"Aku belum memberinya jawaban," jawab Santika cepat.
"Tapi, aku rasa aku tidak bisa menerimanya. Ozy sungguh pria yang baik,"lanjutnya lagi.
"Hmm, pria yang baik ya," Vara tertawa.
Viceroy bahkan pria yang begitu baik. Pria yang sangat berbakti pada orang tuanya terutama pada ibunya. Walaupun Ibu Suri jelas sekali berbuat zalim terhadap Vara dan Viceroy, tetap saja Ibu Suri adalah Ibu Viceroy. Meski dicuci dengan air satu lautan pun tetap tidak bisa mengubah hubungan mereka sebagai ibu dan anak.
Pria sebaik Viceroy saja lebih memilih ibunya daripada Vara, apalagi pria yang jahat, ya?
Sudah pasti pria yang jahat itu akan meninggalkan Vara demi wanita lain yang lebih segalanya dari Vara.
"Hahaha," Vara masih tetap tertawa lantaran menertawai dirinya sendiri.
"Hush, Vara! Sudah, berhenti tertawanya, nanti kau dikira orang gila!" sergah Santika yang merasa orang-orang mulai memerhatikan mereka.
Vara menghentikan tawanya, lalu kembali menghembuskan asap rokok yang mengepul bersama rasa sedih dan kecewa.
"Lantas, kalau kau berhenti bekerja, kau mau cari pekerjaan lain?" tanya Santika.
"Entahlah, aku rasa aku akan istirahat dulu," jawab Vara.
"Itu rencana yang bagus, jadi kau bisa sekalian pulang kampung bersama suamimu, hitung-hitung sekalian pergi bulan madu," Santika terkekeh.
"Hahaha," Vara tertawa lagi.
"Vara, kau ini dari tadi tertawa terus, awas loh kesambet setan," cibir Santika.
Vara hanya mengulas senyum sambil menghisap dan kembali menghembuskan asap rokoknya. Saat ini ia tidak punya keberanian untuk mengungkapkan bahwa ia sudah bercerai dari suami. Vara terlalu takut untuk menemui orang tuanya. Terlebih ibunya masih berambisi untuk menjadikan Vara sebagai istri Riko.
"Hahaha," Vara tertawa lagi.
Namun kali ini disertai dengan air mata yang kembali menetes yang harus pandai-pandai disembunyikannya.
__ADS_1
Sepertinya Vara jadi mengerti betapa pentingnya ucapan mohon doa restu yang selalu ada pada undangan, cendera mata hingga dekorasi yang ada dalam acara resepsi pernikahan.
Yah, semua sudah terjadi, tidak perlu ada yang disesali, karena Vara sadar bahwa menikahi Viceroy adalah pilihannya sendiri. Pernikahan yang awalnya hanya berupa kesepakatan itu pun harus berakhir dengan kesepakatan juga.