Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Pekerjaan Viceroy


__ADS_3

Sementara Viceroy, ia sudah tiba di Singapura untuk menemui klien bisnis yang tertarik untuk berinvestasi pada perkebunan sawit miliknya. Belum lagi pertemuannya dengan importir hasil budidaya ikan dan seafood yang dikelola oleh Viceroy. Makanya, Viceroy tidak menyangkal saat dikatai sebagai pedagang ikan, karena ia memang menjual ikan di pasar ekspor.


Ia menyebut dirinya sebagai pedagang hasil laut, karena minyak bumi pun juga dijualnya. Belum lagi bisnisnya di bidang perkapalan yang dikhususkan untuk mengangkut minyak ke seluruh tanah air. Saat ini, ambisi untuk membawa perusahaannya ke kancah internasional juga begitu menggebu. Sungguh hanya tinggal menunggu waktu, wajahnya akan menghiasi sampul majalah bisnis sebagai pengusaha yang begitu sukses di usia yang terbilang muda.


Viceroy berencana untuk langsung pulang ke tanah air begitu semua urusannya selesai. Namun, rupanya ia belum bisa langsung pulang. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukannya. Sebagai pemilik sekaligus penggerak perusahaan, ia tentu harus bekerja lebih keras dari siapapun.


Selama ini ia juga selalu memisahkan antara kehidupan pribadi dengan pekerjaannya agar selaĺu fokus dalam bekerja. Jatuh bangun dalam merintis usahanya yang kian merangkak naik, pelan tapi pasti, dalam kurun waktu dua belas tahun terakhir ini. Terlebih usahanya bukan karena ia mendapat warisan, melainkan murni berkat kerja keras dan kerja cerdas yang dilakukannya. Maka tak heran baginya jika ia merasa waktu selama dua puluh empat jam sangat kurang, itu karena ia hampir bekerja selama dua puluh empat jam dalam sehari.


Untunglah ia mendapatkan istri seperti Vara yang bisa diajak bekerja sama dengan baik dan sangat menghormati kesibukan dan urusan masing-masing, lantaran pernikahan yang mereka jalani memang hanya pernikahan untuk mendapatkan status saja. Namun entah mengapa ia merasa ingin selalu dekat dengan Vara. Ia jadi ingin tahu apa yang dilakukan oleh istrinya itu.


"Vara, aku masih ada urusan yang harus kuselesaikan, aku sudah check in hotel J untuk empat hari ke depan," kata Viceroy menelepon Vara.


"Apa kau memberiku charge untuk kamar itu?" tanya Vara.


"Gratis untukmu, tentu saja minibar tidak termasuk," jawab Viceroy.

__ADS_1


Viceroy tidak mau jika diam-diam Vara mencicipi bir lagi, bagaimana jika Vara mabuk dan membawa pria lain?


"Baik-baik, ya, aku akan segera pulang," kata Viceroy.


"Baiklah, semoga urusanmu cepat selesai," kata Vara.


"Terima kasih, Vara, aku - ," Viceroy baru akan mengatakan sesuatu namun Vara sudah keburu menutup teleponnya.


Viceroy menghela nafas berat, mengapa ia jadi tidak bisa menahan diri? Ciuman mereka tadi pagi benar-benar membuat Viceroy nyaris tak mampu menahan diri. Saat ini pikiran dan tubuhnya benar-benar hanya menginginkan Vara. 


"Pak Roy, mau langsung ke hotel atau mau pergi ke tempat lain?" tanya Pak Bagas.


"Sepertinya saya langsung ke hotel saja," jawab Viceroy.


"Bagaimana kalau kita mampir makan malam?" ajak Pak Bagas.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih atas bantuan Pak Bagas," kata Viceroy.


Pak Bagas membawa Viceroy ke salah satu pusat kuliner yang sangat terkenal di Singapura. Pak Bagas tahu, atasannya ini lebih suka hidangan lokal.


"Pak Viceroy!" terdengar seseorang memanggilnya.


Viceroy menoleh, Laras menghampirinya bersama dua orang wanita yang mengekorinya. 


"Pak Bagas," sapa Laras menjabat tangan Pak Bagas.


"Pak Viceroy, sungguh suatu kebetulan bertemu di sini," Laras menjabat tangan Viceroy, menatap pria itu dengan penuh minat.


Dua teman yang dibawa Laras nampak terpana menatap Viceroy yang luar biasa tampan di mata mereka. Keduanya nampak saling berebut menjabat tangan Viceroy saat Laras memperkenalkan mereka. 


 

__ADS_1


__ADS_2