
Ryo mengemudikan mobilnya secara lambat, ia mengawasi Vara yang nampak menegang. Sungguh Ryo merasa bersalah, karena hari itu ia begitu panik, konsentrasinya pecah lantaran mendapat berita kurang menyenangkan. Ryo menyalakan musik untuk memecah keheningan yang terjadi di antara mereka.
"Bu Vara, saya minta maaf, karena tempo hari mengemudi secara ugal-ugalan," kata Ryo membuka pembicaraan.
Vara hanya bisa diam saja, ia tidak mungkin bisa mengungkapkan betapa kesalnya ia pada atasannya itu. Ingin meluapkan kemarahan, mana berani.
"Terima kasih Anda bisa mengerti, Pak," kata Vara akhirnya.
"Bu Vara, ada lagu yang ingin didengar? ada genre tertentu yang disuka?" tanya Ryo.
"Saya penikmat segala genre," jawab Vara.
Ryo memilih menyalakan radio. Sebuah lagu dari grup band legendaris dengan lagunya yang begitu melegenda langsung memenuhi seisi mobil mewah Ryo.
Lagu berjudul 'Risalah Hati' yang langsung membuat mereka terhanyut.
Aku bisa membuatmu
Jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta
__ADS_1
kepadaku
Ryo melirik ke arah Vara, terlihat Vara bersenandung kecil mengikuti syair lagu tersebut. Vara jadi terkenang, lagu itu memang menjadi lagu kesukaannya waktu masih sekolah dulu. Setiap hari teman-teman di kelas Vara menyanyikan lagu itu sambil memetik gitar.
Ryo memarkirkan mobilnya memasuki area parkir sebuah kafe mewah yang lokasinya begitu tertutup dan jauh dari pusat kota. Ryo turun dan segera membukakan Vara pintu mobil. Mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak yang di kanan-kirinya dipenuhi tumbuhan tropis.
Vara sungguh tak mengerti, mengapa Pak Ryo tidak mengantarnya pulang sesuai negosiasi di awal?
Angin laut segera menerpa tubuh Vara, Ryo segera mengajak Vara untuk duduk di salah satu meja kosong, letaknya tak jauh dari band akustik pengiring penyanyi yang sedang menghibur pengunjung kafe yang jumlahnya hanya segelintir orang saja. Mengingat betapa mewah dan eksklusifnya tempat ini, mayoritas pengunjungnya pun adalah warga internasional.
Pelayan kafe segera menghampiri mereka dengan membawa buku menu. Vara tak berani memesan menu yang tidak ada daftar harganya. Tempat semewah ini harga makanan dan minumannya pasti mahal sekali.
"Silakan pilih yang Bu Vara mau," kata Ryo.
Ryo mengerutkan alisnya.
"Bu Vara, kita sudah jauh-jauh ke sini, kenapa hanya minum air mineral saja?" tanya Ryo.
"Saya sukanya air mineral saja," jawab Vara.
Air mineral harganya pasti yang paling murah daripada minuman lain yang namanya aneh-aneh, menurut Vara. Vara mengamati sekeliling kafe yang sungguh nyaman, pencahayaan yang temaram dari nyala obor, cerahnya langit malam, dan angin laut yang bertiup lembut, sungguh membuat suasana begitu terasa romantis. Vara jadi berpikir, jika ia membawa Viceroy ke tempat ini, pasti pria itu tidak mau. Tempat ini sungguh eksklusif, mewah, dan tentunya sangat mahal. Camilan mini bar di hotel saja sudah dianggapnya sangat mahal, apalagi nongkrong di tempat mewah seperti ini. Kalau bisa gratis untuk apa harus bayar, menjadi prinsip hidup pria itu.
__ADS_1
Bagi Vara, wajar saja Viceroy seperti itu, karena pria itu tidak berpenghasilan tetap seperti Vara yang menerima gaji setiap bulan. Apalagi membandingkan Viceroy dengan pimpinan perusahaannya ini. Tentu saja tidak mungkin bisa dibandingkan. Meski keduanya memiliki wajah yang sama-sama rupawan, Viceroy hanya kalah nasib saja. Sungguh bodoh jika Vara membandingkan Viceroy dengan Pak Ryo. Itu sama saja sedang membandingkan rakyat jelata dengan raja.
Vara memutar bola matanya, mengapa ia jadi memikirkan Viceroy?
Padahal saat ini bisa saja Pak Ryo sedang melanjutkan ujian untuk Vara agar Vara mendapat promosi sebagai pegawai tetap. Vara merasa akhir-akhir ini kehidupannya yang tenang menjadi penuh dengan ujian. Ujian dari Nyonya Meneer alias ibu Viceroy, lalu ujian dari Pak Ryo, ke depannya siapa lagi yang akan menguji Vara?
Ryo tersenyum menatap Vara yang nampak sedang berpikir keras. Ia sungguh ingin tahu apa yang dipikirkan wanita itu, namun ia terlalu sungkan.
Ryo berjalan menghampiri penyanyi di panggung. Vara menatap heran saat pria itu mengambil alih gitar dari sang gitaris. Ryo tersenyum ke arah Vara, yang menatapnya keheranan.
Vara terperangah karena Ryo benar-benar memetik gitar sambil menyanyikan salah satu lagu kesukaan Vara yang tadi mereka dengar di radio saat perjalanan menuju ke kafe. Vara merasa sungguh tak menyangka atasannya pandai bermain gitar dan suaranya pun bagus. Di mata Vara, Pak Ryo terlihat makin berkilauan. Sepanjang ia memetik gitar dan menyanyi, tak henti-hentinya pria itu tersenyum sambil menatap Vara. Dalam sejenak, Vara tenggelam dalam angan-angan.
Pria itu memiliki segala yang diinginkan oleh wanita yang mengaguminya. Pria itu berwajah rupawan, dengan senyum yang menawan, serta hartawan. Pastinya begitu banyak wanita yang menginginkannya. Jika dan hanya jika Vara diberi kesempatan untuk mendampingi pria hebat macam Pak Ryo, pastilah kehidupan Vara tidak seperti saat ini. Ia mungkin hidup di rumah mewah yang nyaman dengan segala macam fasilitas mewah yang lengkap. Mungkin untuk mandipun sudah ada asisten yang akan memandikannya, memakaikannya pakaian-pakaian indah, dan mendandani Vara bak boneka hidup.
Vara dan ibunya mungkin saja tidak akan berperang dingin yang berkepanjangan seperti saat ini. Ibunya pasti akan benar-benar bangga karena anak perempuan yang sudah dibekalinya dengan berbagai hal penting untuk menunjang Vara menjadi istri orang hebat mendapat pria yang begitu hebat. Ibunya pasti akan sangat bangga memiliki menantu yang tidak hanya sekedar tampan, namun juga hartawan, yang membuat semua tetangga begitu iri mendengar betapa beruntungnya Vara memiliki suami seperti Pak Ryo. Pengusaha sukses yang memiliki perusahaan besar dengan kekayaan melimpah ruah.
Ibunya mungkin tidak akan jadi pulang kampung, lantaran memiliki menantu yang begitu sempurna dalam memenuhi egonya.
Membuat Riko dan keluarganya yang nyinyir itu bungkam, karena Vara bisa mendapatkan pria yang lebih dari Riko yang merasa sok dibutuhkan sekali. Vara benar-benar akan hidup dalam sangkar emas yang tentu saja membuatnya makin kehilangan kebebasan. Karena menikahi pria sehebat Pak Ryo, pasti tidak bisa bebas melakukan apapun. Karena semua gerak-gerik Vara akan terpantau kamera cctv dua puluh empat jam, bahkan mungkin akan ada pelacak yang ditanamkan di tubuh Vara agar keberadaan Vara mudah terlacak.
Lalu akan ada begitu banyak wanita yang berusaha menggeser posisi Vara sebagai istri Pak Ryo.
__ADS_1
Lamunan Vara buyar karena ponselnya berdering, Vara tersenyum menatap nama yang tertera di layar ponselnya.