
Ibu merasa bahwa Vara menyembunyikan sesuatu mengenai pernikahannya dengan Viceroy. Ibu mencoba mengingat sosok Viceroy, ibu kebetulan cukup mengenal teman-teman masa sekolah Vara. Apalagi ibu merupakan orang tua yang rajin mengikuti pertemuan orang tua yang diadakan di sekolah. Vara memang sering memperkenalkan teman-temannya kepada ibunya. Namun, Vara tidak pernah memperkenalkan sosok Viceroy.
Ibu rasanya menjadi ragu dengan pria pilihan Vara. Meski Viceroy memiliki penampilan yang rupawan, namun itu saja tidak cukup. Latar belakang keluarga Viceroy begitu abu-abu. Ibu takut Vara akan mempunyai ibu mertua seperti di sinetron, belum lagi kakak Viceroy itu seperti apa, karena Vara adalah anak tunggal. Ibu takut Vara akan bertengkar dengan saudara Viceroy itu.
"Bapak, kenapa Ibu begitu meragukan Viceroy, ya?" tanya ibu pada bapak yang sudah sibuk menonton kembali televisi.
"Kenapa, Bu?" tanya bapak.
"Vara, kemari, duduk di sini dulu," panggil ibu saat Vara hendak masuk ke kamarnya.
Vara segera duduk kembali di meja makan.
"Ada apa, Bu?" tanya Vara.
"Vara, menurut Ibu, Riko jauh lebih baik. Kita semua sudah tahu keluarga Riko. Riko adalah sarjana dengan lulusan terbaik, Riko juga bekerja di perusahaan bagus sebagai manajer, sungguh tidak bisa dibandingkan dengan Viceroy yang hanya bermodal tampan," jawab ibu.
"Ibu," sergah Vara.
"Ibu hanya takut memikirkan masa depanmu dengan Viceroy! Beras itu dibeli dengan uang Vara, bukan dengan ketampanan!" ibu melanjutkan.
Bapak terlihat mengangguk.
__ADS_1
"Bapakmu ini memang tidak setampan Viceroy, tapi Bapakmu ini bekerja di perusahaan bagus, bergaji besar, dan dapat uang pensiun," kata ibu lagi.
"Ibu, siapa bilang Bapak tidak tampan? Bapak ini dulu primadona!" sahut bapak seraya terkekeh.
"Ibu jadi bingung, apa yang bisa Ibu banggakan dari menantu Ibu di hadapan keluarga di kampung nanti?" keluh ibu.
"Ibu, sudahlah, rejeki tiap orang itu berbeda-beda. Bapak sungguh salut pada Viceroy, ia benar-benar bertanggung jawab penuh pada hidupnya, apalagi pada Vara? Sungguh luar biasa ia bisa hidup dengan baik meski tanpa ada sosok seorang ayah! Itu yang jadi pertimbangan Bapak untuk merestui Viceroy, Bu!" bapak menjelaskan panjang lebar.
Vara mengangguk setuju pada bapak.
"Bapak jadi tenang karena sudah ada yang menjaga Vara," kata bapak.
"Bapak, terima kasih," Vara langsung memeluk bapak.
Vara sudah berjanji akan menemui Santika untuk makan malam bersama di rumah makan pinggir jalan yang menyediakan menu makanan Jepang.
"Hari ini makan yang banyak, aku traktir!" kata Vara.
"Merayakan apa, Vara?" tanya Santika.
"Besok aku akan menikah," jawab Vara seraya tertawa.
__ADS_1
"Serius?" tanya Santika tak percaya.
"Dua rius," sahut Vara sembari terkekeh.
"Gila, belum satu minggu kau sudah mau menikah! Pria gila mana yang mau menikah denganmu? Dia tidak berpikir kau hamil lalu minta dia bertanggungjawab, kan?" tanya Santika.
"Tentu tidak, Syantik," sahut Vara.
"Selamat untukmu, jadi kapan pestanya? Kau harus memberiku kain!" kata Santika.
"Kami tidak mengadakan pesta," jawab Vara.
"Loh, kenapa? Kau menikah sekali seumur hidup! Masa' tidak ada perayaan?!" celetuk Santika.
Vara menggeleng.
"Alasan pertama, karena pernikahan ini mendadak, kami tidak bisa mengadakan pesta. Kedua, pria itu tidak punya waktu karena terkait dengan pekerjaannya. Yang ketiga, aku memutuskan untuk membeli rumah saja, kau pasti tahu bahwa bapakku sudah menjual rumahnya sebagian untuk modal tinggal di kampung dan sebagian lagi untuk membiayai pernikahanku, tapi kurasa aku lebih perlu rumah daripada pesta pernikahan," Vara membeberkan alasannya.
"Senangnya, akhirnya kau menikah juga! Seperti apa orang yang akan kau nikahi?" tanya Santika.
"Wajahnya cocok memerankan tokoh antagonis!" sahut Vara terkekeh.
__ADS_1
"Wah, aku jadi penasaran," Santika terkekeh.