Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Pengungkapan


__ADS_3

Vara masih bisa mengingat dengan jelas. Ibu Suri adalah sosok wanita paruh baya dengan rambut berpotongan pendek warna merah menyala yang begitu kontras dengan kulitnya yang seputih susu. Riasan matanya bergaya smokey dengan lipstik berwarna salem. Ibu Suri selalu memakai gaun-gaun megah bertabur bling-bling yang menyilaukan mata. Tak lupa perhiasan berlian mulai dari anting, kalung bertumpuk, gelang hingga cincin berlian bermata besar memenuhi sepuluh jarinya yang nampak terawat indah dengan sapuan cat kuku berwarna merah gelap.


"Ke depannya saat kau bertemu denganku, berpura-puralah tidak saling mengenal."


Perkataan Ibu Suri benar-benar masih melekat jelas dalam ingatan Vara.


Mengapa mantan mertuanya ada di sini? Batin Vara bertanya-tanya.


Sepertinya Vara keliru menyebut wanita paruh baya itu sebagai mertuanya. Ibu Suri bahkan tidak mengakui Vara sebagai menantunya.


Begitu pula Virda yang saat ini masih tercengang tak memercayai apa yang dilihatnya.


Bagaimana bisa ada mantan istri Roy di sini? batin Virda bertanya-tanya.


"Ibu, ada apa?" tanya Ryo menyadarkan Virda.


Vara tertegun mendengar Pak Ryo menyebut Ibu Suri dengan sebutan Ibu.


Yakin? Ibu Suri adalah ibu Pak Ryo?


Kalau begitu, Pak Ryo dan Viceroy adalah kakak beradik? Vara berpikir cepat.


Virda hanya mengulas senyum dingin, menatap tajam ke arah Vara.


"Ibu, perkenalkan ini Bu Vara," kata Ryo memperkenalkan Vara.


"Ya, Ibu tahu," jawab Virda dengan cepat.


Ryo tertegun, bagaimana Ibunya bisa tahu?


Ryo mengarahkan pandangannya pada Vara yang nampak menunduk namun mencuri pandang. Terlihat jelas di mata Ryo keduanya nampak saling kenal satu sama lain.


"Sungguh tak kusangka kita bertemu di sini," kata Virda dengan nada sinis.


Vara hanya terdiam, tatapan mata Virda yang begitu tajam benar-benar sangat mengintimidasi Vara. Tatapan yang selalu membuat Vara merasa gentar.


"Ibu, bagaimana Ibu bisa mengenal Bu Vara?" tanya


Ryo keheranan.


"Ryo, wanita inilah yang selama ini menjadi istri Roy," jawab Virda.


Ryo terbelalak, ia seakan bisa mendengar petir yang menyambar-nyambar dalam kepalanya. Seketika ia nyaris lupa cara bernapas yang baik dan benar. Selama ini Ryo sudah salah menduga bahwa Laras adalah istri Viceroy. Namun ia sama sekali tidak menyangka bahwa istri adiknya adalah Vara.


Kok bisa, Vara adalah istri Roy?


Bagaimana bisa?


Ryo bisa merasakan jantungnya kembali bergemuruh dan rasa sesak itu perlahan mulai merasukinya lagi.


"Kembalikan perusahaan Ryo!" kata Virda.


"Apa?" tanya Vara keheranan.


"Bukankah katanya Roy sangat mencintaimu, mintalah padanya untuk mengembalikan perusahaan Ryo," sahut Virda.


"Tunggu, apa maksudnya ini, Nyonya?" tanya Vara.


"Kau tidak usah pura-pura! Kau pasti sudah tahu bahwa Ryo dan Roy melakukan pertaruhan yang begitu fantastis! Dan lihatlah akibat pertaruhan tersebut! Ryo kehilangan perusahaan dan juga hampir kehilangan nyawanya!" jawab Virda.


"Dan, apa kau tahu? Semuanya terjadi karena kau!" kata Virda sambil menunjuk ke arah Vara.


Vara benar-benar teringat pesan dari Viceroy, saat menghadapi Ibu Suri lebih bijaksana jika diam dan mendengarkan saja. Namun, tiba-tiba ia merasa sesak karena dicecar seperti ini. Ia bahkan dituntut untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak ia lakukan.


Virda sungguh tak terima karena kedua anaknya menyalahkannya. Ryo menyalahkannya karena akibat perceraian Viceroy, Ryo mengalami kekalahan yang nyaris merenggut nyawa. Sementara Viceroy menyalahkan Virda lantaran anak bungsunya itu kehilangan istri yang begitu dicintainya.


Virda harus bisa mendesak wanita ini agar Viceroy mengembalikan perusahaan Ryo. Melimpahkan semua kesalahan pada wanita yang sudah membuat kedua anaknya melakukan pertaruhan yang akibatnya benar-benar membahayakan nyawa anak-anaknya.


"Nyonya, sebenarnya apa, sih, salah saya? Pernikahan saya bahkan sudah berakhir karena Anda tidak merestui saya, lantas mengapa Anda masih menyalahkan saya dan menuntut pertanggung jawaban saya?" tanya Vara yang akhirnya memberanikan diri bertanya.


Virda tertawa, bagi Vara, tawa Virda terdengar seperti tawa Mak Lampir pada sinetron sejarah di televisi.


"Kau harus tahu alasan aku tidak merestui pernikahanmu dengan Roy! Kau hanya menjadi alat agar Roy memenangkan pertaruhannya dengan Ryo! Roy hanya memanfaatkanmu saja demi kemenangannya! Itulah yang menjadi kesalahan utamamu!" cecar Virda.


"Jadi, sudah menjadi tanggung jawabmu untuk meminta kembali perusahaan Ryo dari tangan Roy!" kata Virda lagi.


Virda masih tetap melayangkan tatapan tajamnya pada Vara. Saat ini satu-satunya cara untuk mengembalikan perusahaan Ryo dari tangan Roy adalah dengan mendesak mantan istri Roy.


"Ibu, kumohon hentikan!" kata Ryo.

__ADS_1


"Ryo, wanita ini harus bertanggung jawab atas perbuatannya! Gara-gara dia menikah dan bercerai dari Roy, kau terkena dampaknya!" cecar Virda.


"Ada apa ini?" tanya Viceroy saat memasuki ruangan yang dipenuhi dengan atmosfer menegangkan.


Viceroy baru saja tiba di rumah sakit karena Virda menyuruhnya untuk datang. Mata Viceroy menangkap sosok Vara yang saat ini sedang bersitegang dengan ibunya.


"Vara," kata Viceroy pada Vara.


Vara hanya diam dengan mata yang nampak berkaca-kaca.


"Ibu, hentikan!" bentak Ryo yang merasa bahwa ibunya benar-benar sudah bersikap keterlaluan.


Virda terdiam, Ryo bisa melihat Vara yang terlihat hampir menangis. Ryo benar-benar tidak tega pada Vara yang disalahkan habis-habisan oleh ibunya. Rasa bersalah segera mendera Ryo, menghantamnya bagai ombak yang siap menenggelamkan kapal.


"Bu Vara, selama ini Anda sudah menikahi adik saya?" tanya Ryo sambil menatap tak percaya ke arah Vara.


"Iya, Pak Ryo," jawab Vara singkat.


Ryo menghembuskan napas berat. Jujur saja ia benar-benar merasa sangat terpukul mendengar pengakuan Vara. Wanita yang akhir-akhir ini meracuni pikirannya dengan senyum yang menawan, wanita yang menjadi idamannya, dan wanita yang sangat diinginkannya selama ini ternyata adalah istri adiknya. Bagi Ryo, ini benar-benar lebih buruk dari pada mimpi buruk itu sendiri.


"Roy, selama ini apakah benar Bu Vara adalah istrimu?" tanya Ryo melemparkan tatapan tak percaya pada adiknya.


"Ya, tapi sekarang sudah tidak lagi, karena kau pasti tahu sendiri, siapa dalang penyebab perceraianku dengan istriku," Viceroy melemparkan tatapan skeptis pada Ryo dan ibunya secara bergantian.


"Roy, tentu saja Ibu tidak mungkin merestui pernikahanmu jika kau menikah hanya untuk memenangkan pertaruhan! Lagi pula Ibu lebih menginginkan pendampingmu dari kalangan keluarga kita saja! Keluarga lebih baik dari orang lain yang tidak Ibu kenal! Terlebih jika kau menikah dengan wanita sembarangan yang tidak jelas asal usulnya!" tandas Virda.


"Ibu! Bagaimana Ibu bisa berkata seperti itu? Aku menikahi Vara, karena aku memang ingin menikah, Bu! Bukankah dari awal aku sudah mengatakan pada Ibu dan Ryo bahwa aku ingin menikah dengan wanita pilihanku sendiri? Hanya saja kalian tidak memercayainya," kata Viceroy menatap ibu dan kakaknya bergantian.


Viceroy menatap ke arah Vara. Entah mengapa ia merasa bahwa ibunya sudah merusak skenario yang telah ia susun untuk mendapatkan kembali Vara. Ibunya benar-benar sudah membeberkan masalah pertaruhan yang tidak seharusnya diketahui oleh Vara. Viceroy sungguh tak ingin Vara berpikir bahwa ia hanya mempermainkan dan memanfaatkannya saja. Ia harus bisa memutar balikkan fakta agar semua masih bisa sejalan dengan rencananya.


"Aku ingin menikah, kalian tidak percaya. Saat aku menikah, kalian lebih tidak percaya lagi, dan lihatlah sekarang, aku sudah bercerai dari Vara, apakah kalian masih belum percaya juga?!"


"Roy, bagaimana kami bisa percaya sementara kau bahkan tidak pernah memperlihatkan buku nikahmu!" sergah Ryo.


"Maka dari itu aku sangat yakin bahwa kau menikah hanya untuk memenangkan pertaruhan denganku!" tuding Ryo.


"Ryo, meski aku menunjukkan buku nikahku padamu, kau tetap tidak akan memercayainya! Bukankah kau lebih percaya bahwa aku menikah hanya untuk memenangkan pertaruhan?!" sergah Viceroy.


Ryo dan Virda nampak saling berpandangan.


"Ryo, kau bahkan sudah begitu tega menghina dan merendahkan istriku! Kau jangan pura-pura lupa dengan semua penghinaan yang kau lakukan! Kau menghasut Ibu, memberi bisikan-bisikan gaib yang menyesatkan!" sergah Viceroy.


"Dan kini kau menuduhku berambisi untuk menang? Harusnya kau berkaca siapa yang lebih berambisi untuk memenangkan pertaruhan! Aku bahkan sudah tidak peduli lagi dengan pertaruhan itu! Hanya saja, bukankah kau sendiri yang justru datang dan menantang?!"


Ryo hanya bisa terdiam, semua yang dikatakan oleh adiknya merupakan sebuah kebenaran yang tak mampu dielak oleh Ryo. Ia benar-benar merasa menjadi orang yang paling bersalah dalam hal ini. Ia jadi teringat bagaimana ia menghasut ibunya, menghina, dan merendahkan istri Roy di depan ibunya. Ryo merendahkan istri Roy karena saat itu ia sendiri tidak tahu siapa istri Roy yang sesungguhnya. Ryo benar-benar sudah melakukan kesalahan fatal karena termakan asumsinya sendiri. Saking inginnya ia memenangkan pertaruhan, ia sama sekali tidak mempedulikan hal lain.


"Ibu, maafkan aku, Bu," kata Ryo ke arah Virda.


"Aku yang salah mengenali istri Roy! Aku yang sa- ugh, ugh," Ryo kembali memegangi dadanya yang kembali bergemuruh.


Ryo yang tadinya duduk di tempat tidurnya terlihat ambruk ke depan sambil memegangi dada.


"Ryo!" seru Virda.


Viceroy segera menekan bel untuk memanggil perawat dan juga dokter. Kepanikan benar-benar terjadi di ruangan tersebut, sedangkan Vara, hanya bisa terdiam menyaksikan semuanya dengan kepala dingin.


...*****...


Virda terdiam dengan pandangan matanya yang kosong. Virda hanya bisa menyeka air matanya berkali-kali. Ryo harus kembali menjalani perawatan di ruang ICU. Virda merasakan sesak luar biasa yang bergemuruh di dadanya. Lagi-lagi ia melakukan kesalahan yang membuat Ryo harus kembali meregang nyawa.


Viceroy hanya bisa duduk terdiam sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia benar-benar tak menyangka bahwa rencana yang telah disusunnya tidak berjalan sesuai keinginannya. Ia sungguh tak menduga bahwa Ryo dan Vara ternyata saling mengenal. Serangan jantung yang dialami oleh Ryo juga merupakan hal yang tidak diperhitungkannya.


Viceroy sudah menyusun rencana pasca perceraiannya dari Vara dan memenangkan taruhan, ia akan menjadikan perusahaan Ryo sebagai pertukaran agar Ibunya bisa memberinya restu untuk membawa Vara kembali dalam hidupnya. Viceroy bahkan menutup rapat-rapat mengenai masalah pertaruhannya dengan Ryo. Namun ternyata ibunya justru membongkar masalah itu dengan sempurna bahkan menuduh Vara menjadi dalang utamanya.


"Roy, maafkan Ibu," kata Virda sambil menangis.


Viceroy tidak tahu harus bersikap seperti apa pada ibunya.


"Ibu, aku tidak mengerti, mengapa Ibu tak pernah mendengarku, Ibu lebih percaya apa yang dikatakan oleh Ryo, padahal belum tentu semua yang dikatakan oleh Ryo adalah benar," kata Viceroy.


"Ibu hanya terlalu mencemaskanmu, Roy," kata Virda.


"Ibu, aku sudah dewasa, semua pilihanku, apapun keputusanku, semuanya adalah tanggung jawabku terhadap hidupku! Jauh lebih bijaksana, jika Ibu menghormati keputusanku dengan memberi dukungan dan bukannya malah menentang," kata Viceroy lagi.


"Ibu harus tahu bahwa Vara sangat berarti bagi hidupku. Pernikahan kami murni atas dasar kesepakatan bersama. Mungkin pada awalnya tujuan pernikahanku hanyalah untuk memenangkan pertaruhan. Namun seiring berjalannya waktu, aku benar-benar jatuh cinta padanya, Bu, aku belum pernah merasa sebahagia ini bersama seorang wanita yang menerimaku apa adanya, bukan karena ada apanya," lanjut Viceroy.


"Sungguh, seandainya Ibu dan Ryo menerima dan menyambut dengan baik pernikahanku tentunya kejadian ini tak perlu terjadi, Bu," kata Viceroy menatap ibunya.


Virda masih meneteskan air matanya tanpa henti.

__ADS_1


"Ibu, aku sungguh tidak berkenan Ibu mengaturkan perjodohan untukku. Aku masih mengingat dengan jelas, bagaimana mereka semua menolakku yang saat itu tidak punya apa-apa, dan kini saat aku memiliki segalanya, mereka semua berlomba-lomba untuk menginginkanku! Sementara Vara, ia bahkan tidak peduli meski aku tidak punya apa-apa! Ia hanya menginginkanku sepenuhnya dan seutuhnya," kata Viceroy lagi.


"Roy, maafkan Ibu," Virda masih menangis sesenggukan.


Viceroy memeluk sang ibu. Sosok keras dan tegas itu terlihat begitu rapuh lantaran menangisi semua kesalahannya. Virda benar-benar menyesal sudah melakukan banyak kesalahan. Sebagai orang tua ia terlalu berpihak pada Ryo, ia terhasut omongan Ryo yang rupanya juga terhasut omongan orang lain tentang istri Viceroy. Ia bahkan mendesak perceraian Viceroy yang ternyata menjadi bumerang untuk Ryo. Dan kini ia kembali menimbulkan masalah baru dengan memfitnah mantan istri Viceroy yang sama sekali tidak tahu masalah pertaruhan yang dilakukan oleh kedua anaknya.


Harga diri yang dijaga oleh Virda terlalu tinggi. Ia tidak tahu bahwa wanita yang diduga Ryo, dengan wanita yang dibawa Roy adalah dua wanita yang berbeda. Hanya saja, dari awal Virda memang menginginkan menantu dari kalangan keluarganya sendiri. Sehingga amatlah berat baginya untuk menerima Vara sebagai menantunya.


"Ibu, tolong hormati keputusanku," kata Viceroy.


Virda benar-benar baru menyadari, bahwa anak bungsunya sudah begitu dewasa. Tangannya yang begitu kokoh menepuk lembut punggungnya. Padahal tiga puluh tahun yang lalu, Virda-lah yang selalu memeluk dan menenangkan anak bungsunya ini saat menangis lantaran berebut apapun dengan anak sulungnya yang tak pernah mau mengalah pada adiknya.


"Keluarga Pak Victoryo," terdengar seorang dokter keluar dari ruang ICU.


Viceroy dan Virda segera menghampiri dokter tersebut. Saat ini mereka berharap bahwa Ryo baik-baik saja. Entah mengapa Viceroy merasa menyesal dengan semua perbuatan yang telah ia lakukan.


Hubungan persaudaraannya dengan Ryo memang terbilang aneh. Ia dan Ryo saling berkompetisi satu sama lain. Saling berusaha mengungguli satu sama lain. Saling sindir, perdebatan, dan perang dingin selalu mewarnai hubungan persaudaraan mereka.


Melihat ibunya menangis begitu histeris sungguh terasa menyedihkan. Akibat pertaruhan fantastis mereka, Viceroy baru menyadari bahwa nyawa Ryo ternyata jauh lebih berharga daripada nilai taruhan mereka.


...*****...


Vara duduk di taman rumah sakit. Viceroy memintanya untuk menunggu karena pria itu harus menemani ibunya terlebih dulu. Vara terenyuh, ia menyalakan rokoknya. Akhir-akhir ini, rokok memang menjadi pelariannya saat ingin menenangkan diri. Kepulan asap rokok dibiarkannya beterbangan ke udara.


Vara benar-benar tak menyangka bahwa selama ini ia menjadi wanita yang menjadi adik ipar Pak Ryo. Pantas saja Viceroy terlihat seperti pengangguran berkantong tebal. Vara menghisap kembali batang rokoknya.


Ibu Suri tidak merestui pernikahan mereka lantaran Viceroy terlibat pertaruhan dengan Pak Ryo. Pantas saja selama ini Ibu Suri begitu membencinya, itulah yang saat ini sedang berputar-putar dalam benak Vara.


Terlihat Viceroy segera menghampiri Vara dan langsung duduk di samping Vara.


"Tolong rokoknya sebatang," kata Viceroy ke arah Vara.


"Mau merokok juga?" tanya Vara menyerahkan kotak rokoknya pada Viceroy.


Viceroy tersenyum lalu mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Vara terpana melihat Viceroy yang nampak terlihat begitu keren saat menyalakan rokok. Pria itu menghembuskan asap rokok yang dihisapnya.


"Uhuk-uhuk!" Viceroy terbatuk-batuk karena tersedak asap.


"Haha," Vara tertawa.


Mantan suaminya jadi gagal terlihat keren, padahal tadinya sudah begitu meyakinkan. Bahkan sudah terlihat seperti bintang iklan rokok mahal.


"Asli, rasanya membuatku seperti menelan knalpot sepeda motor mesin dua tak," Viceroy terkekeh sambil mematikan rokok dengan cara menginjaknya.


Vara tersenyum dan masih menikmati rokoknya.


"Vara, aku minta maaf atas sikap ibuku padamu," kata Viceroy.


"Aku minta maaf karena begitu banyak kesalah pahaman yang terjadi antara aku, kakak, dan ibuku," lanjut Viceroy sambil menatap ke arah Vara.


Vara menghembuskan kembali asap rokoknya.


"Vara, aku sama sekali tidak bermaksud memanfaatkanmu untuk memenangkan pertaruhan seperti yang dikatakan ibuku, sungguh aku menikahimu karena aku memang ingin menikah, mereka saja yang tidak percaya dan menganggapku bercanda. Padahal aku tidak mungkin bercanda untuk hidupku," kata Viceroy.


"Vara, aku serius menikah denganmu, meski pada awalnya aku belum mencintaimu, namun seiring berjalannya waktu, aku benar-benar jatuh cinta padamu."


"Viceroy, aku mengerti, pada awalnya pernikahan kita memang hanyalah berupa kesepakatan. Aku pun tak menyangka akan jatuh cinta padamu," kata Vara sambil mematikan rokoknya.


Viceroy tersenyum lembut ke arah Vara yang juga menatapnya.


"Vara, mari kita kembali menikah, kita mulai kembali kehidupan kita yang baru, membuka semua lembaran baru, dan menutup kisah lama yang membuat kita terluka," kata Viceroy.


Vara tersenyum.


"Viceroy, aku sungguh ingin kembali bersamamu, hanya saja, lebih baik kita saling memberi ruang dan waktu untuk benar-benar berpikir dan menyadari apakah kita benar-benar saling mencintai ataukah hanya terbawa perasaan," kata Vara.


Viceroy tertegun mendengar ucapan Vara.


"Vara, apa kau tidak mau menikah lagi denganku?" tanya Viceroy.


Vara menggeleng.


"Viceroy, aku sungguh ingin menikah denganmu lagi, hanya saja, kita harus saling memberi ruang dan waktu agar kita yakin bahwa kita benar-benar saling mencintai dari hati ke hati, bukan sekedar untuk pelepasan nafsu semata. Lagipula sepertinya ibumu masih begitu berat untuk memberi restu."


"Vara, kau tak perlu memikirkan restu, ibuku pasti akan merestui kita," kata Viceroy.


"Viceroy, aku sungguh mencintaimu, namun bisakah kau hargai keinginanku?" tanya Vara.


Viceroy mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia sadar bahwa Vara benar-benar sudah terlanjur kecewa padanya.

__ADS_1


Seorang wanita yang terluka memang bisa memaafkan namun pastinya akan sulit untuk melupakan.


Dan Viceroy harus bisa menerima keputusan Vara, karena Vara pun selalu menghargai dan menghormati keputusan Viceroy.


__ADS_2