Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Resepsi


__ADS_3

Vara sudah tiba di bandara, ia tak menyangka akan kembali pulang ke kota kelahirannya bersama bapak dan ibunya. Mereka sudah harus pindah dari rumah mereka yang ada di kampung lantaran proyek perluasan area perkebunan kelapa sawit milik Royal Grup sudah harus dimulai. Vara sebenarnya belum mau kembali ke kota lantaran ia masih mau menikmati hidup di kampung yang benar-benar tenang dari ingar-bingar perkotaan. Lagipula ia masih ingin menikmati waktunya sebagai pengangguran. Di kampung tentu tidak akan ada tetangga yang nyinyir saat Vara tidak pergi bekerja. Sayang sekali rasanya lahan milik bapak harus terkena proyek perluasan kebun kelapa sawit.


Vara dan kedua orang tuanya menumpang pesawat jet pribadi yang disiapkan Viceroy di area perusahaan perkebunan kelapa sawit miliknya karena ia sedang bepergian dengan helikopter. Saat akan menyewa helikopter dari perusahaan lain, semua unit helikopter sudah tersewa.


Arvia hanya bisa terkejut dan terheran-heran lantaran menantunya benar-benar tidak hanya sekadar pria kaya biasa. Viceroy benar-benar seperti sultan. Arvia rasanya menyesal karena sudah bersikap nyinyir terhadap menantunya itu. Hanya saja ia benar-benar bersyukur Viceroy sama sekali tidak mengambil hati atas sikap julid Arvia. Sungguh menantunya adalah pria yang luar biasa baik dan berjiwa besar. Betapa beruntungnya Vara mendapatkan pria seperti itu.


"Aduh Vara, kenapa tidak dari dulu-dulu ya, kamu nikahnya sama Roy," kata ibu tertawa senang.


"Ibu, aku bahkan sudah pernah bercerai darinya!" sungut Vara.


"Yah, habisnya kenapa juga dia harus ngeprank begitu, memangnya dia lagi bikin konten seperti artis Uyube itu, ya?" cibir ibu membela diri.


Vara mencebik, ia tentu tidak bisa mengatakan pada ibunya bahwa pada awalnya pernikahan Vara dan Viceroy sungguh hanya bermula dari kesepakatan bersama untuk tujuan tertentu yang pada akhirnya justru membuahkan cinta untuk mereka. Namun tentu saja hal itu lebih baik menjadi rahasia Vara dan keluarga Viceroy saja. Mungkin memang seperti ini jalan yang ditempuh oleh Vara untuk mendapatkan cintanya.


"Ibu, Vara, yang sudah lewat ya sudah, yang lebih penting adalah sekarang dan ke depannya," kata bapak menengahi Vara dan ibunya.


Mata Vara menangkap tulisan yang dipegang oleh seseorang yang mencari nama Pak Slamet, Arvia, dan Vara. Vara menghampiri pria berpakaian rapi itu.


"Permisi, apa kalian keluarga Pak Slamet?" tanya pria itu ramah.


"Benar," jawab Vara.


"Nama saya Yunus, saya adalah sopir yang diutus Pak Roy untuk menjemput keluarga Pak Slamet," kata pria itu ramah.


Vara tentu tak serta merta memercayai pria itu. Ia segera menghubungi Viceroy.


"Ada apa, cantik?" tanya Viceroy begitu menjawab teleponnya.


"Viceroy, siapa lagi itu cantik?" tanya Vara penuh selidik.


"Yang pasti kamu lah, cintaku," sahut Viceroy sambil terkekeh.


Mengapa Viceroy jadi kumat menggombalku lagi? pikir Vara.


"Viceroy, apakah ada pria bernama Yunus yang kau utus untuk menjemputku di bandara?" tanya Vara.


"Oh, kau sudah menemuinya?" tanya Viceroy.


"Ya, Pak Yunus sudah ada di hadapanku," jawab Vara.


"Baiklah, pastikan Pak Yunus tidak kebut-kebutan membawamu," kata Viceroy.


"Baiklah, terima kasih, tampan," kata Vara.


"Vara, siapa lagi tampan itu?!" sergah Viceroy namun Vara sudah keburu memutus sambungan teleponnya.


Sopir yang disiapkan oleh Viceroy segera mengantar Vara dan kedua orang tuanya ke tempat tinggal baru mereka yang dijanjikan Viceroy saat melakukan negosiasi dengan Pak Slamet.


Vara tercengang begitu melihat tempat tinggal yang dijanjikan oleh Viceroy kepada sang bapak. Rumah tersebut adalah rumah Pak Slamet yang tempo hari dijual Pak Slamet pada Riko saat Riko akan menikahi Vara.


Rumah itu nampak telah mengalami banyak renovasi, kini memiliki tampilan lebih minimalis dengan halaman yang jauh lebih luas. Di lantai bawah menjadi garasi yang bisa memuat lebih dari dua buah mobil. Bahkan mobil hitam yang dibeli Viceroy juga sudah terparkir di situ.


Di halaman juga tersedia kolam-kolam ikan dengan gazebo.


"Ibu, ini kan rumah kita yang dulu, Bu!" bapak berseru heboh.


"Iya ya, Pak, ini rumah kita yang dulu!" seru ibu.


Bapak dan ibu langsung melakukan sujud syukur seperti orang-orang dalam acara bedah tempat tinggal yang tayang di salah satu stasiun televisi swasta nasional.


"Duh, Gusti!" seru bapak dan ibu berpelukan sambil menangis haru.


Vara benar-benar sangat senang dengan kejutan yang disiapkan oleh suaminya. Viceroy benar-benar pria yang selalu penuh kejutan. Entah bagaimana cara pria itu mendapatkan kembali rumah ini. Yang pasti Vara benar-benar senang karena rumah penuh kenangannya ini akhirnya benar-benar kembali padanya dengan cara yang tak terduga.


Pak Yunus menyerahkan kunci rumah tersebut pada Vara. Vara segera membuka pintu rumah yang sudah terisi dengan fasilitas dan perabotan yang lengkap. Pantas saja bapak dan ibu membagikan semua barang-barang mereka kepada sanak saudara di kampung, termasuk sepeda motor dan mobil milik bapak.


"Duh, Gusti!" seru bapak dan ibu kembali melakukan sujud syukur begitu memasuki rumah mereka.


Pasangan suami istri itu langsung melakukan tur dadakan berkeliling rumah. Mereka benar-benar melakukan sujud syukur ke semua ruangan yang mereka masuki. Bahkan mereka menangis haru saat memasuki kamar mandi yang kini sudah dilengkapi dengan bathup.


"Duh, Gusti!" seru mereka saat berada di dapur bergaya minimalis dan modern.


Terdapat lemari es sebesar lemari pakaian yang membuat mereka kembali menangis haru. Entah bagaimana cara mereka berterima kasih pada menantunya yang luar biasa itu.


Ponsel Vara berdering, ia segera menjawabnya karena nama suaminya muncul di layar datar tersebut.


"Cintaku, bagaimana, apa orang tuamu suka dengan rumah yang kusiapkan?" tanya Viceroy di seberang sana.


Vara tersipu malu saat suaminya itu memanggilnya dengan sebutan cintaku. Rasanya terdengar aneh di telinga Vara.


"Viceroy, mereka tidak hanya sekadar suka, tapi mereka benar-benar sangat senang," jawab Vara.


"Baguslah, aku turut senang mendengarnya," jawab Viceroy.


"Oh ya, sebentar akan ada pihak wedding organizer yang akan datang menemuimu, silakan berkoordinasi dengan mereka, apa yang ingin kau tambahkan dari konsep yang diinginkan ibuku," kata Viceroy.


"Viceroy, aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu," kata Vara.


"Vara, justru aku yang harusnya berterima kasih padamu," kata Viceroy.


"Baiklah, sampai bertemu nanti, tolong berikan aku satu ciuman sebelum kau menutup teleponku," lanjut Viceroy.


Vara memutar bola matanya, mengapa Viceroy terdengar begitu menggemaskan sih?


"Muaachh," kata Vara malu-malu.


"Muaachh, aku mencintaimu, Vara," kata Viceroy sebelum menutup teleponnya.


"Aku juga sangat mencintaimu," balas Vara.


Vara tersenyum sumringah, suaminya itu benar-benar selalu pandai membuat hatinya berbunga-bunga.


...*****...


Para karyawan di perusahaan Royal Grup benar-benar terkejut saat mendapat undangan resepsi pernikahan dari bos besar mereka. Nama mempelai wanita yang menjadi istri bos mereka sungguh membuat mereka terkejut.


"Loh, bukannya Sofia itu istrinya Pak Roy, ya?" tanya mereka keheranan.


"Bukan, Sofia cuma mengaku saja," sahut Riko yang kebetulan mendengar pembicaraan anak buahnya.


"Oh, jadi nama Kapal Varadisa ini diambil dari nama istrinya Pak Roy ya, Pak Riko?" tanya mereka.


"Benar," jawab Riko dengan singkat.


"Jadi, apa hadiah pernikahan untuk Pak Roy, ya?" para karyawan nampak begitu sibuk mendiskusikan hadiah untuk bos mereka.


"Aduh, Pak Roy sudah kaya!" sahut mereka.


"Yah, tetap harus ada sesuatu yang bisa disiapkan sebagai kenang-kenangan untuk beliau," usul Riko.


"Bagaimana kalau hadiahnya menyusul saja, sudah mepet ini dengan waktu acaranya!" sahut yang lain.


Kabar bahagia yang harus didengar Riko lagi-lagi membuat hatinya kembali sakit seperti luka yang diperahi dengan air jeruk nipis.


Terlebih Laras juga menanyakan hal yang sama padanya.


"Loh, bukannya istri Viceroy itu Sofia?! Wanita biadab yang sudah menyerangku!" geram Laras saat Riko mengantarkan undangan yang dititipkan bosnya itu untuk Laras.


"Bukan, Sofia itu hanya mengaku-ngaku saja," sahut Riko.


Laras sudah terlihat lebih baik namun ia masih trauma. Ia masih belum lupa bagaimana tubuhnya dihajar dengan balok oleh para preman yang menunggunya di sekitar mobilnya ketika ia pulang dari klub malam. Beruntung rekaman cctv yang berada di area parkir merekam aktivitas mengerikan tersebut sehingga akhirnya berguna untuk menangkap para preman yang sudah nyaris membunuh Laras. Untunglah saat kejadian itu juga ada petugas keamanan yang sedang berpatroli dan menyelamatkan Laras dari aksi kejahatan terencana itu.


...*****...


Ozy menimbang-nimbang, apakah ia akan mengajak Santika untuk pergi bersamanya saat menerima undangan pesta pernikahan Vara. Ozy memang sempat putus berkomunikasi dengan Santika pasca wanita itu menolak lamarannya. Ozy merasa menyesal sudah mengutarakan keinginannya itu. Habisnya Ozy takut sih, Santika diambil orang.


Ozy mengamati undangan Vara, entah mengapa ia merasa heran dengan nama mempelai pria yang tertera pada undangan sederhana berwarna merah itu. Kenapa nama suami Vara sama dengan nama Pak Roy?


Kebetulan macam apa ini? Pikir Ozy.


"Halo, San, mau pergi bersama ke acara resepsi pernikahannya Vara?" tanya Ozy begitu Santika menjawab teleponnya.


"Boleh," jawab Santika singkat.


"Tapi, apa kau keberatan habis dari acaranya Vara, ikut denganku ke acara resepsi bosku?" tanya Ozy.


"Baiklah, tidak masalah," jawab Santika.

__ADS_1


"Oke, San, mau cari kado sama-sama?" tanya Ozy.


"Oke," jawab Santika singkat.


Ozy menutup teleponnya dengan perasaan yang hampa. Terjebak friendzone itu memang sakit rasanya. Ozy berusaha berbesar hati meski Santika sudah menolak lamarannya. Yah, sepertinya mereka memang hanya cocok berteman saja daripada membina hubungan ke jenjang yang lebih serius. Tidak semua teman bisa dijadikan teman hidup, itulah pesan moral yang diambil Ozy saat Santika menolak lamarannya. Bagi Ozy kejadian tersebut cukup dijadikan muhasabah diri agar ke depannya ia menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


...*****...


Rumah mewah milik Virda nampak ramai dipenuhi orang-orang. Vara dan Viceroy segera menyambut kedatangan orang tuanya yang datang bersama emak-emak rempong. Mereka terpesona melihat rumah mertua Vara yang dari luar saja sudah terlihat kemewahannya.


"Ibu, Bapak," Vara segera mencium punggung tangan ibu dan bapaknya bergantian.


Viceroy juga segera mencium punggung tangan bapak dan ibu Vara secara bergantian.


"Ibu-ibu, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk datang," kata Vara kepada para tetangganya.


"Silakan masuk, Bapak, Ibu," kata Viceroy mempersilakan rombongan itu untuk masuk.


"Aduh Bu Slamet, gila rumah besannya Bu Slamet!" Bu Bejo terperangah dengan mata yang berpetualang liar.


"Kata Riko, bosnya itu kan raja minyak," sahut Bu Muji.


"Gila, itu pajangan di dinding dilapis emas begitu," Bu Rudy menimpali.


Mereka semua benar-benar kehilangan kata-kata saat memasuki rumah bernuansa ala kerajaan Timur Tengah.


"Vara, kamu sekarang sudah jadi permaisuri raja, ya?!" Bu Muji terkekeh.


"Bu Muji bisa saja," Vara terkekeh.


"Terima kasih sudah datang ya, Pak Slamet, Bu Arvia," sapa Virda yang menghampiri besannya.


"Apa kabar, Bu Virda?" Arvia langsung memeluk dan bercipika cipiki dengan Virda tanpa merasa sungkan.


"Baik, terima kasih," kata Virda.


"Bu Virda ini selalu terlihat cantik," puji Bu Muji.


"Apa sih rahasianya, Bu Virda? Bisa kan ya, dibagi-bagi," kata Bu Bejo.


Vara hanya bisa mengulum senyum, terlihat jelas para tetangganya ini menjilat mertuanya habis-habisan.


"Nanti saya beritahu," jawab Virda.


"Bu Virda ini memang juara," Bu Rudy menimpali.


"Bagaimana Vara, kamu kerasan tinggal di rumah mertuamu ini?" Arvia berbisik ke arah Vara.


"Kerasan saja, Bu," jawab Vara.


Selama mendekati acara pesta pernikahan, Virda memang menyuruh Vara dan Viceroy untuk tinggal di rumah ini. Tujuannya tentu saja agar Virda bisa lebih mengakrabkan diri dengan menantunya itu.


Terlihat rombongan keluarga besar Virda datang kecuali keluarga Haji Bahra dan beberapa keluarga lainnya. Mereka semua duduk bersila di lantai beralaskan permadani mewah.


Vara segera duduk mendampingi Viceroy dan juga Ryo yang duduk di sisi ibunya.


"Saya ucapkan terima kasih untuk keluarga yang sudah hadir malam ini di acara syukuran sekaligus doa bersama agar Tuhan memberikan keselamatan dan kelancaran pada pesta pernikahan Roy dan Vara yang akan diselenggarakan besok malam," kata Virda.


Semua orang nampak mendengarkan dan mengamini bersama-sama. Usai menggelar doa bersama, mereka semua bisa menikmati hidangan yang tersedia.


"Cantiknya ya istrimu, Roy," puji Bu Haji Badrun dan Bu Haji Jaelani yang menghampiri Viceroy dan Vara.


"Terima kasih, Tante Haji," kata Viceroy.


"Pantas saja kau tidak mau betul sama Sofia, ya," kata Bu Haji Badrun.


"Tante Haji, satu saja istri saya ini tidak habis-habis, mana bisa saya tambah-tambah," sahut Viceroy seraya terkekeh.


"Bisa saja kau ini, Roy," Bu Haji Jaelani tertawa.


"Oh ya, ngomong-ngomong keluarga Pak Haji Bahra kok tidak kelihatan ya, Tante Haji?" tanya Ryo.


"Oh, mereka sibuk kasih keluar itu Sofia dari penjara," kata Bu Haji Badrun.


"Makanya tidak bisa datang kemari mereka," sambung Bu Haji Jaelani.


"Sebentar, ya," kata Vara beranjak pergi menghampiri ibunya.


Kedua wanita paruh baya itu meninggalkan Viceroy dan juga Ryo yang nampak saling bertukar pandang.


"Sofia dipenjara?" tanya Ryo keheranan.


Ryo selama ini tidak tahu Sofia mendekam di penjara karena ia sibuk melakukan pengobatan jantungnya.


"Ya, dia dipenjara karena menjadi otak dalam kasus penyerangan Bu Laras dari Aurum Mining," jawab Viceroy.


"Bagaimana bisa?" tanya Ryo lagi.


"Bisa saja dong Ryo, Sofia loh membayar beberapa preman untuk menyerang Laras yang ia sangka adalah istriku! Sungguh Sofia benar-benar sudah gila!" jawab Viceroy.


...*****...


Ballroom hotel berbintang lima berkapasitas hingga seribu orang itu didekor dengan dekorasi berkonsep negeri seribu satu malam. Paduan warna merah dan emas benar-benar menunjukan kemewahan dan kemeriahan. Protokol keamanan pun diperketat dengan banyaknya bodyguard yang berjaga di sekitar tempat acara. Para tamu diwajibkan datang dengan membawa undangan yang nantinya akan ditukar dengan souvenir saat mereka meninggalkan tempat acara. Khusus untuk para karyawan, Viceroy menyiapkan kupon yang dapat ditukar dengan souvenir yang telah ia siapkan berupa logam mulia lima gram untuk setiap karyawan yang datang dan menukarkan kuponnya. Tentu saja ia merahasiakan souvenir istimewa tersebut, sehingga hanya karyawan yang datang saja yang bisa mendapat souvenir mewah itu.


Acara resepsi pernikahan Viceroy dan Vara dilangsungkan mulai pukul tujuh petang hingga pukul sepuluh malam. Sebelum pukul tujuh petang keduanya segera menuju ke ballroom setelah semua persiapan mereka telah selesai.


Viceroy tentu saja benar-benar terpana melihat Vara yang begitu cantik dalam busana adat yang luar biasa mewah, bertabur manik dan payet, serta mutiara-mutiara hingga membuat Vara merasa pakaian itu begitu berat. Busana mewah itu berwarna merah yang dipadukan dengan warna emas. Belum lagi aksesoris mulai dari bando emas yang bersusun tinggi, anting, kalung bertumpuk, gelang emas di kedua lengan, hingga gelang keroncong sebatas siku.


Begitu juga Viceroy yang terlihat begitu tampan dalam busana pengantin pria yang benar-benar mengundang decak kagum. Ia juga memakai busana dengan nuansa yang serupa dengan Vara. Aksesoris emas membuat penampilannya terlihat semakin mahal dan mewah. Sebilah keris berwarna emas tersampir di pinggangnya membuatnya terlihat begitu gagah paripurna.


Tak henti-hentinya pujian terlontar untuk mereka, benar-benar terlihat bak raja dan ratu dari tanah Celebes.


"Vara, cantiknya kamu, Nak," puji Pak Slamet.


"Seperti bukan Vara ya, Pak," kata Arvia terheran-heran.


"Iya Bu, mama pengantinnya banyak baca-bacanya," kata Vara.


"Tentu saja, aku memilihkan langsung perias pengantin yang baca-bacanya banyak dan bagus! Tidak asal rias saja seperti kebanyakan perias zaman sekarang!" kata Virda membanggakan dirinya.


Ryo berusaha untuk menyembunyikan rasa kagumnya. Ia tentu tak bisa sembarangan melontarkan pujian yang nantinya akan membakar adiknya yang nampak tak bisa berkata-kata saat melihat kecantikan Vara.


Pada dasarnya Vara memang memiliki wajah yang sudah cantik, ditambah riasan dan baca-baca maka semakin cantik dan manis dipandang.


"Vara, betapa cantiknya kau, cintaku," Viceroy terpana dan terpesona.


"Ih, jadi malas aku nanti banyak yang mau sama kamu," rutuk Viceroy.


"Viceroy, biar banyak yang mau sama aku, aku kan maunya cuma sama kamu saja," kata Vara.


Viceroy tersenyum.


"Dari mana lagi kamu belajar menggombal begitu, Vara? Aku jadi tidak mau membawamu naik pelaminan, langsung saja kita naik ke atas ranjang lagi," bisik Viceroy.


"Viceroy, apakah tadi malam masih kurang?" Vara mencubit perut suaminya itu.


"Mana bisa puas kalau sudah ketagihan," Viceroy terkekeh melihat Vara yang nampak tersenyum malu-malu.


Pak Slamet, Bu Arvia, Ryo, dan Virda juga turut mengenakan busana yang bernuansa sama dengan pengantin agar nampak seragam. Ryo sungguh tak menduga bahwa ia bisa naik pelaminan bersama Vara yang ia cintai dalam diam. Hanya saja Ryo tidak menjadi mempelai pria. Sakit namun tidak berdarah, itulah yang dirasakan oleh Ryo.


Mereka semua mulai melakukan sesi pemotretan keluarga.


"Roy, jangan tegang begitu, senyum," kata Virda saat memergoki Viceroy yang nampak memasang ekspresi dingin.


"Iya Roy, nanti foto terbaikmu akan dipasang di tembok rumah untuk mengusir tikus!" ejek Ryo.


"Ih, kalau tahu tidak usah pakai tukang foto!" rutuk Viceroy.


"Roy, Ryo, cukup!" sergah Virda.


Vara tersenyum melihat suaminya yang nampak begitu tegang.


"Viceroy, kau benar-benar tampan," puji Vara.


"Benarkah? Aku bahkan tidak pernah merasa tampan," sahut Viceroy.


"Sekarang pengantinnya difoto berdua saja," kata pengarah gaya.

__ADS_1


Viceroy dan Vara nampak begitu canggung saat berpose berdua. Mereka dulu menikah tanpa ada foto bersama, menikah dan mengadakan acara di kampung juga tanpa ada fotografer. Selama ini mereka bahkan belum pernah mengambil foto dan melakukan swafoto bersama. Viceroy tidak percaya diri dan merasa tidak fotogenik sehingga ia tidak suka difoto.


"Mbak, Mas, tolong jangan canggung begitu, lebih rileks lagi ya agar hasil fotonya bagus," kata pengarah gaya.


Virda sungguh mengembangkan senyumnya, impiannya untuk mengantarkan anaknya naik pelaminan sudah tercapai. Ia benar-benar merasa menjadi orang paling bahagia di muka bumi ini.


Tiba-tiba senyum Virda sirna tatkala melihat rombongan tamu yang datang sebelum waktu yang ditentukan. Rombongan tamu yang tidak ada dalam daftar tamu yang ia undang. Pihak keluarga almarhum suaminya yang sudah meninggalkannya puluhan tahun yang lalu!


Virda benar-benar tidak sudi melihat kehadiran mereka. Ia harus mengusir rombongan yang sama sekali tak ia harapkan kehadirannya. Viceroy dan Ryo bergegas turun dari pelaminan untuk menyusul ibu mereka.


Vara dan kedua orang tuanya hanya bisa terperangah melihat Virda dan kedua anaknya menghampiri rombongan yang baru saja duduk di meja bundar berlabel VIP.


"Vara, siapa itu?" tanya Arvia.


"Kurang tahu, Bu," jawab Vara.


Virda segera menghampiri rombongan keluarga almarhum suaminya. Ia masih bisa mengenali Vikar dan Bang Vian yang merupakan saudara kandung Vicram.


"Kak Virda," sapa Vikar dan Bang Vian begitu melihat Virda menghampiri mereka.


"Bagaimana kalian bisa datang kemari? Siapa yang mengundang kalian?" tanya Virda.


"Aku yang mengundang mereka, Bu," jawab Viceroy.


Virda terperangah, ia tentu saja bertanya-tanya bagaimana anaknya bisa mengenal keluarga suaminya. Padahal Virda sungguh tak pernah mengungkit masalah keluarga almarhum suaminya itu lantaran merasa kecewa pada mereka semua.


"Roy, kenapa kau mengundang mereka?!" sergah Virda dengan emosi yang berkecamuk di dadanya.


"Ibu, apa salahnya aku mengundang mereka, mereka kan keluarga kita juga," kata Viceroy.


Vikar dan Bang Vian nampak terharu mendengar ucapan keponakan mereka itu. Mereka sungguh kaget karena Viceroy datang mengunjungi mereka, mengabarkan berita bahagia tentang acara pesta pernikahannya. Rombongan Vikar bahkan diizinkan untuk menumpang kapal kargo yang berlayar menuju ke kota. Mereka bahkan juga diberi fasilitas menginap di hotel berbintang lima ini oleh keponakan mereka tersebut.


"Keluarga?! Mereka keluarga ayahmu saat ayahmu masih hidup saja! Tapi lihat, setelah ayahmu tiada, mereka semua meninggalkan kita!" cecar Virda.


"Roy, pulangkan mereka sekarang! Jika tidak, Ibu pergi saja! Atau sekalian saja batalkan pesta pernikahanmu ini!" ancam Virda.


"Ibu," sergah Viceroy.


"Sungguh Roy, Ibu tidak sudi mereka berada di sini! Mereka yang sudah melupakan kita! Mereka sudah bukan siapa-siapa lagi!" cecar Virda.


"Maaf, Kak Virda," sela Vikar.


Virda menatap geram ke arah Vikar. Bagi Virda, keluarga almarhum suaminya tak ubahnya macam benalu untuk keluarganya. Berani-beraninya mereka semua datang lagi setelah tahu anak-anaknya sukses. Apa mereka mau menumpang hidup seperti dulu lagi?


"Kami bukannya bermaksud meninggalkan Kak Virda, kami hanya tak ingin menjadi beban Kak Virda setelah kematian Bang Vicram," kata Vikar.


"Bagi orang kampung seperti kami yang tidak punya keahlian apa pun dan hanya bisa hidup menumpang, tentulah kami hanya bisa jadi sampah masyarakat, kami tak mau, makanya lebih baik kami pulang kampung saja," lanjut Vikar.


"Di kampung, kami bisa jadi nelayan di tambak, jadi petani kebun bisa juga, sementara di kota, mana bisa kami jadi petani, di kota tidak ada kebun!" Vikar kembali menjelaskan.


"Benar, Kak Virda, lagipula saat itu bukankah kami mengajak Kak Virda untuk ikut pulang kampung bersama kami? Namun Kak Virda menolak dengan alasan tidak mau jauh dari keluarga besar Kak Virda," sambung Bang Vian.


"Kami tentu tak bisa memaksa Kak Virda, karena kami hargai itu keputusan Kak Virda," lanjut Bang Vian.


Virda tertegun mendengar penjelasan dari Vikar dan Bang Vian. Semua yang diucapkan oleh keluarga suaminya itu benar. Virda merasa ia tidak bisa jauh dari keluarga besarnya. Keluarga besarnya adalah orang-orang kaya yang saat itu bagi Virda tentu lebih bisa membantunya daripada keluarga almarhum suaminya.


Viceroy segera membawa ibunya menuju ke meja VIP lain yang tersedia.


"Ibu, maaf, bukannya aku tidak berkompromi dengan Ibu mengenai keluarga ayah, hanya saja aku mengundang mereka lantaran mereka sudah menjadi bagian dari salah satu pekerjaanku, Bu. Aku sungguh beruntung ada keluarga kita yang bisa membantu kelancaran proyekku, Bu," kata Viceroy.


"Apa maksudmu, Roy?" tanya Virda.


"Aku sungguh tak sengaja bertemu keluarga ayah saat ada masalah pada proyek besar yang kutangani, berkat bantuan mereka, proyek tersebut berjalan lancar tanpa kendala. Secara tidak langsung mereka membantu kelancaran pekerjaanku, apa salahnya aku mengucapkan terima kasih pada mereka sekaligus menyambung tali silaturahmi yang benar-benar terputus? Ibu, mereka orang-orang baik yang masih mengingat jasa-jasa dan kebaikan ayah pada mereka! Bahkan selama ini mereka tidak pernah melupakan kita Bu, justru kita yang melupakan mereka," Viceroy menjelaskan panjang lebar pada ibunya.


Ia sungguh berharap ibunya mengerti. Virda nampak menyeka air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Rasa bersalah menderanya karena selama ini ia sudah berasumsi bahwa keluarga almarhum suaminya pergi meninggalkannya bersama dua anaknya. Padahal justru Virda sendiri yang memutus tali silaturahmi tersebut.


Bang Vian dan Vikar menghampiri meja Virda. Mereka berdua nampak menunduk sedih.


"Kak Virda, kalau memang Kak Virda tidak senang kami berada di sini, kami pamit saja," kata Bang Vian.


"Vian, Vikar," kata Virda.


"Terima kasih sudah datang, tetaplah di sini sampai akhir acara nanti, kita berbincang lagi selepas pesta," lanjut Virda.


...*****...


Viceroy segera memakai headset yang terhubung langsung dengan radio HT. Ia tentu harus memberi konfirmasi untuk setiap tamu relasi bisnisnya yang datang. Karena meski sudah diinformasikan bahwa undangan harap dibawa, tetap saja di lapangan banyak relasi bisnisnya yang datang tanpa membawa undangan sehingga menyulitkan penerima tamu.


"Pak Roy, ada tamu atas nama Pak Alfons dari Bahtera Mining, ganti," terdengar suara penerima tamu dari radio HT.


"Oke, ganti," jawab Viceroy.


Ryo juga terlihat melakukan hal yang sama untuk memastikan para undangan yang diundang oleh ibunya.


Para tamu mulai memenuhi ballroom dan segera menuju ke pelaminan untuk memberi ucapan selamat atas pernikahan Viceroy dan juga Vara. Entah berapa jumlah seluruh tamu yang diundang, karena bapak dan ibu Vara sendiri mengundang enam ratus undangan. Belum lagi undangan Vara yang meliputi teman sekolah, teman kuliah, dan rekan kerjanya.


Para tamu yang diundang bapak dan ibu nampak mulai berdatangan dan mengucapkan selamat begitu naik ke pelaminan.


Keluarga besar Virda juga mulai berdatangan. Tak lama disusul kedatangan keluarga Haji Bahra. Sofia terlihat berada di antara keluarganya. Wanita itu menatap kosong saat berjalan menuju ke arah pelaminan.


Sofia mengenakan gaun berjubah panjang berwarna putih. Perhiasan emas tak pernah absen dalam menyempurnakan penampilannya. Sofia menyanggul rambutnya dan memberinya hiasan tusuk konde emas berbentuk kupu-kupu.


Harusnya aku yang di sana, batin Sofia saat melihat Vara yang bersanding bersama Viceroy di pelaminan.


"Selamat ya, Kak Virda," kata Pak Haji dan Bu Haji Bahra saat menyalami Virda.


"Terima kasih, Pak Haji, Bu Haji, sudah datang," kata Virda.


"Selamat ya, Tante," kata Sofia menyalami Virda.


"Terima kasih, Sofia," kata Virda sambil tersenyum.


Virda sungguh heran karena melihat Sofia sudah bebas dari penjara. Ia tentu merasa sungkan untuk menanyakan hal tersebut. Ryo tentu saja tidak merasa kaget dengan kedatangan Sofia lantaran sudah mendapat informasi dari Bu Haji Badrun tentang pembebasan Sofia.


Sofia melangkah ke arah Viceroy dan juga Vara. Sofia menyunggingkan senyum dinginnya.


"Roy, selamat ya atas pernikahanmu dengan Vara," kata Sofia dengan tatapan mata yang kosong.


"Sofia, terima kasih sudah datang," kata Viceroy.


Tiba-tiba dari arah meja tamu, terjadi aksi saling dorong antar tamu yang membuat perhatian Viceroy dan Vara jadi teralih.


Sofia mengambil tusuk konde yang menjadi hiasan rambutnya.


"Roy!" seru Ryo.


"Roy!" jerit Virda.


Viceroy tercengang menahan rasa sakit saat Sofia menghujamkan tusuk konde berujung runcing itu ke perutnya.


"Roy, kalau aku tidak bisa memilikimu, maka wanita lain pun tidak boleh," kata Sofia yang tak terlihat merasa bersalah sama sekali saat darah segar terciprat ke gaun putihnya.


"Viceroy!" teriak Vara.


"Menantuku!" seru Pak Slamet dan Arvia.


Viceroy menahan rasa sakit akibat tusukan dari tusuk konde yang jelas menancap di perutnya.


Kehebohan langsung terjadi lantaran para tamu terlihat panik.


Para petugas keamanan langsung meringkus Sofia yang nampak mematung menikmati hasil perbuatannya.


"Viceroy!" Vara langsung menangis histeris melihat darah segar merembes keluar dari tubuh suaminya.


"Siapkan tim medis!" teriak Ryo di radio HT-nya.


Viceroy mulai kehilangan keseimbangan, Ryo dengan sigap menopang tubuh adiknya yang limbung seperti layang-layang putus.


"Viceroy, kumohon, bertahanlah!" Vara memegangi tangan Viceroy.


"Jangan dicabut, nanti darahnya makin banyak keluar!" sergah Ryo melarang adiknya yang akan melepas tusuk konde itu.


"Vara, jangan menangis," kata Viceroy menatap Vara lekat-lekat.


Tim medis yang datang segera bergerak membawa Viceroy keluar dari ballroom.


Pesta pernikahan yang harusnya penuh dimeriahkan oleh kebahagiaan itu berubah arah menjadi pesta pernikahan yang mencekam lantaran pengantin pria yang bersimbah darah di pelaminan.

__ADS_1


Pesta mewah tersebut akhirnya dibubarkan sebelum waktunya.


__ADS_2