Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Permintaan Maaf Riko


__ADS_3

Vara dan Santika segera duduk di kursi belakang mobil berbodi besar pabrikan Jepang dan harganya lebih dari setengah miliar yang dikemudikan oleh Riko. Santika lebih dulu diantar kembali ke tempat wanita itu bekerja di Bank M cabang Soediro yang berjarak kurang dari dua ratus lima puluh meter dari warung mie ayam tempat mereka makan siang. Kini hanya tinggal Vara yang duduk di kursi belakang, Riko mengawasi Vara yang nampak duduk tenang. 


"Vara, kau tidak mau pindah tempat duduk?" tanya Riko.


"Duduklah di kursi depan, aku tidak keberatan berhenti sebentar agar kau berpindah tempat duduk," kata Riko sambil menepuk kursi penumpang di sampingnya.


"Aku sudah nyaman duduk di sini," jawab Vara dengan nada dingin.


"Vara, apa kau tega melihatku seperti ini? Aku jadi terlihat seperti sopir taksi daring," Riko terkekeh.


"Ada, ya, sopir taksi daring yang bawa mobil seperti ini?" Vara balik bertanya.


Riko tersenyum, setahu Riko, Vara memang bukan wanita yang banyak bicara. Oleh karena itu ibunya sangat menyukai Vara yang lebih banyak diam dan mendengarkan.


Riko menyalakan musik untuk memecah keheningan di antara mereka. Lagu Risalah hati menjadi lagu yang menemani perjalanan mereka menuju ke kantor Vara.


Riko ingat dulu lagu itu sangat terkenal di zamannya. Riko juga tahu, dulu Vara merupakan penggemar grup band tersebut. Riko pernah tak sengaja bertemu Vara saat grup band tersebut mengadakan konser di kota mereka. Riko masih ingat dengan jelas, saat itu Vara didampingi bapaknya untuk nonton konser yang diadakan di alun-alun kota. Kata Bapak Vara, 'kalau saja Riko mau menemani Vara pergi nonton konser, Bapak tentu tak akan ikut nonton menemani Vara'. Sudah ada Riko yang menjaga Vara, namun Riko tentu saja lebih memilih nonton konser bersama teman-temannya. Ia tentu tidak mau menjaga Vara, bagaimana jika Riko kepergok teman-temannya dan diejek seperti saat ia mengadakan acara ulang tahunnya yang ke tujuh belas? Sungguh memalukan rasanya diejek teman-temannya lantaran ia akan dijodohkan dengan anak Sekolah Dasar yang bahkan belum menunjukan tanda pubertas. Riko sempat protes ke ayah dan ibunya karena ia akan dijodohkan dengan anak kecil yang lebih cocok jadi adik Riko daripada menjadi istri Riko.


Namun, siapa sangka dua puluh tahun kemudian anak kecil yang dulu belum mengalami pubertas itu kini menjadi wanita yang menarik. Vara nampak begitu segar dan memesona dengan tubuhnya yang putih, mulus, dan berisi. Kemeja lengan panjang berwarna biru gelap yang dikenakan Vara nampak mencetak jelas bentuk tubuhnya. Mata Riko bahkan tertuju pada dada Vara yang nampak mengembang indah di balik kemejanya yang ketat. Rok span hitam sebatas lutut itu juga nampak memperlihatkan pinggul Vara yang nampak padat berisi. Pikiran Riko jadi berpetualang liar. Sejak kapan Vara jadi terlihat begitu menggetarkan sisi maskulinnya?


Padahal seingat Riko, dulu Vara selalu mengenakan busana longgar yang tertutup, membuat Vara nampak terlihat seperti gantungan baju. Mengapa sejak menikah Vara menjadi benar-benar terlihat menarik?


Apa itu yang namanya rumput tetangga memang lebih hijau dan menyegarkan mata?


Entah mengapa dalam benak Riko ia berkhayal menunggangi Vara dalam percintaan yang begitu panas. Cepat-cepat ditepisnya khayalan itu. Riko benar-benar sudah tidak sabar untuk menjadikan Vara sebagai istrinya.


Riko bersenandung kecil mengikuti lagu yang mereka dengar bersama.


"Vara, infonya, grup band ini mau mengadakan tur konser reuni," kata Riko.

__ADS_1


"Oh, begitu," kata Vara menanggapi dengan dingin.


"Kalau mau, kita pergi nonton sama-sama! Akan kudapatkan tiketnya untukmu," kata Riko.


"Terima kasih, Riko, tapi sekarang aku tidak punya waktu untuk sekedar duduk santai nonton konser," sahut Vara masih dengan sikap dingin.


"Apa kau begitu sibuk bekerja?" tanya Riko.


"Begitulah, selain itu ada suami yang harus kulayani dengan baik," jawab Vara.


"Vara, untuk apa kau bekerja keras dan melayani suami yang hanya bisa membebanimu?! Suamimu bahkan tidak bisa memberimu kehidupan yang layak! Apa utangnya begitu banyak sampai kau harus bekerja keras untuk melunasinya?!" kata Riko.


Vara terperangah mendengar perkataan Riko. Bagaimana bisa Riko berpikir bahwa suami Vara terlilit utang? Dapat gosip dari mana lagi dia?


"Vara, kau bahkan tidak menikah secara layak! Tanpa ada perayaan, pesta, ataupun syukuran! Membuat semua orang bertanya-tanya, mengapa wanita yang begitu mahal sepertimu, sama sekali tidak dihargai oleh suami yang menikahimu tanpa memberi uang mahar sepeser pun! Pel*cur saja ada tarifnya!" cecar Riko.


Vara hanya diam, ia sungguh tidak bisa berkata apa-apa. 


"Vara, aku menyesal! Sungguh aku minta maaf! Kumohon, tidak bisakah kita kembali dari awal lagi? Aku tahu saat ini kau masih bersama suamimu, aku tidak keberatan jika harus menunggu! Jika aku harus menunggu tujuh tahun lagi, aku siap! Asalkan kita bisa memulai kembali bersama-sama!" kata Riko.


"Vara, orang tua kita sudah sama-sama mendukung, aku bahkan sudah mengantongi restu dari ibumu yang bahkan tidak merestui pernikahanmu ini!" Riko melanjutkan.


"Vara, asal kau tahu! Pernikahan tanpa restu dari orang tua, hanya akan berakhir di pengadilan! Aku sudah mengalaminya! Ibuku tidak merestui pernikahanku dengan Laras! Dan lihat! Kami harus berpisah! Padahal kalau dipikir, kami saling mencintai! Kau benar-benar harus paham, Vara, restu orang tua adalah restu Tuhan! Tanpa restu orang tua, tidak akan ada keberkahan dalam pernikahanmu!" kata Riko mulai menceramahi Vara.


"Riko, tolong berhenti," kata Vara.


"Tidak, Vara, kau harus dengar semua yang akan kukatakan," kata Riko.


"Tolong hentikan mobilnya, aku sudah sampai di kantorku," kata Vara berusaha menahan emosinya.

__ADS_1


Riko pun menghentikan mobilnya.


"Riko, terima kasih atas tumpanganmu," kata Vara bergegas turun dari mobil.


Riko keluar dari mobilnya, ia menarik tangan Vara, menahan kepergian Vara.


"Riko, tolong lepaskan tanganku," kata Vara.


"Vara, tolong pertimbangkan perkataanku," kata Riko.


"Riko, terima kasih atas nasehatmu! Hanya saja, kau salah! Kau bahkan tidak mengenal suamiku, bagaimana kau bisa langsung menghakiminya?!" kata Vara.


"Vara! Semua orang sudah tahu siapa suamimu! Suamimu hanya pria bermodal tampang! Apa bagusnya suamimu itu?! Aku bahkan lebih segalanya dari dia! Aku ini manajer di perusahaan besar! Aku ini pria yang lebih sukses dari suamimu! Hidupmu akan jauh lebih sejahtera dan lebih terjamin jika kau menikah denganku dari pada suamimu itu!" cecar Riko yang semakin mencengkeram erat kedua pergelangan tangan Vara.


"Riko! Sakit! Lepaskan aku!" sergah Vara memberontak dari Riko.


"Vara, aku akan menunggumu, aku tunggu jandamu! Aku serius! Meski harus menunggu tujuh tahun lagi agar kita impas, aku terima!" kata Riko.


"Riko, tanganku sakit," protes Vara.


"Hei, kau tuli ya?!" terdengar suara pria di belakang Vara.


Pria itu langsung mencengkeram tangan Riko, yang mencengkeram tangan Vara.


Riko merasa kesakitan, ia melepas tangan Vara bersamaan dengan pria itu.


Vara menoleh ke arah pria yang membuat Riko meringis kesakitan.


"Pak Ryo," kata Vara tertahan.

__ADS_1


__ADS_2