Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Membandingkan Vara


__ADS_3

Viceroy masih menikmati sarapannya di restoran hotel. Sejujurnya ia ingin sarapan bersama Vara, namun wanita itu selalu sarapan lebih dulu. Viceroy selalu tersenyum saat melihat Vara yang begitu antusias melihat begitu banyak makanan yang tersaji di restoran hotel. Wanita itu mencicipi semua hidangan tanpa rasa sungkan. Seakan perutnya mampu menampung semua makanan itu. Vara terlihat begitu lahap menyantap semua hidangan tanpa rasa ragu. Apalagi jika makanan itu dirasa sangat enak, Vara akan tambah berkali-kali. Viceroy sungguh heran, meski makan sebanyak itu, Vara sama sekali tidak membulat. Apa karena energinya terkuras habis untuk menghadapi kenyataan?


Sungguh berbeda dengan Regina yang terlalu pemilih dalam makanan. Regina selalu mengeluhkan berat badannya, karena makan sedikit saja bisa membuat berat badannya naik berkilo-kilo. Regina sangat ketat dalam menjalankan program dietnya. Viceroy sungguh bingung jika harus mengajak Regina makan, karena Regina tak mau memakan apapun kecuali minum air mineral. Makanya, sungguh jarang Viceroy bisa makan bersama Regina yang terlalu pemilih dalam makanan.


Lagi-lagi Viceroy merasa Vara lebih unggul dari Regina. Kehadiran Vara benar-benar mengikis posisi Regina dari hati Viceroy. Bahkan Viceroy merasa ia sudah gila karena mencoba menggoda Vara dengan memamerkan tubuhnya. Namun wanita itu sama sekali tak bergeming. Bukankah wanita pada umumnya akan senang sekali melihat pria bertubuh atletis?


Regina bahkan selalu memuja pria yang bertubuh atletis, berwajah tampan, rambut pirang, dan bermata biru cemerlang sebagai tipe pria idamannya. Tak heran Viceroy mati-matian membentuk tubuhnya, menjaga pola makan agar memiliki bentuk tubuh atletis. Hanya saja Viceroy tidak mau mengecat rambut hitamnya dengan warna pirang seperti rambut jagung. Ia bahkan pernah mencoba memakai lensa kontak biru, yang justru membuatnya kapok lantaran matanya harus dirawat selama seminggu penuh karena iritasi parah. Viceroy sungguh melaknat benda kecil yang nyaris membutakan matanya itu.


Sungguh gila jika harus mengikuti selera Regina, namun anehnya, Viceroy baru menyadarinya sekarang.


Viceroy melihat Riko menghampiri mejanya. Manajer keuangannya itu datang membawakan setumpuk dokumen dalam tas hitam berukuran besar. Riko merupakan salah satu orang kepercayaan Viceroy di perusahaannya. Riko datang membawa semua dokumen yang dibutuhkan Viceroy. Sebentar lagi Viceroy harus menemui beberapa klien bisnisnya di hotel ini. 

__ADS_1


Wajah Riko terlihat kusut, alisnya berkerut-kerut dan Viceroy bisa menebak, suasana hati Riko sedang buruk. 


Riko segera duduk di kursi yang berada di hadapan Viceroy.


"Ini semua dokumen yang anda butuhkan, Pak," kata Riko.


"Terima kasih, Pak Riko, memang hanya anda yang bisa saya andalkan," kata Viceroy segera membuka isi tas tersebut dan memeriksa dokumen yang dibawa Riko. Kontrak kerja sama dengan investor yang bersedia berinvestasi pada Royal Grup. Di bawah kendali Viceroy, perusahaan yang bergerak di bidang multibisnis ini sedang berada di atas angin. 


"Nampaknya anda sedang ada masalah, Pak Riko," kata Viceroy sambil membaca ulang kontrak kerja sama di tangannya.


Viceroy masih memeriksa berkas tersebut dengan seksama, ia paling anti dengan adanya kesalahan. Ia bukan orang yang mau bekerja dua kali, karena itu sama saja sudah membuang-buang waktunya.

__ADS_1


"Anda bisa kembali ke kantor," perintah Viceroy.


"Terima kasih, Pak, kalau begitu saya permisi," kata Riko segera pergi meninggalkan Viceroy.


Viceroy menatap ponselnya, mengapa kakaknya belum datang juga? padahal mereka sudah sepakat untuk bertemu sebelum pukul sembilan pagi.


Viceroy segera menelepon kakaknya itu.


"Ryo! Kau tersangkut di mana lagi? Aku tidak ada waktu kalau harus menunggumu!" kata Viceroy begitu kakaknya menjawab teleponnya.


"Maaf, lain kali saja kita bertemu, aku masih ada urusan lain," jawab kakaknya lalu menutup telepon.

__ADS_1


"Cih, dasar orang gila! Beraninya membuang waktuku yang berharga!" Viceroy berdecih.


Ia segera menerima telepon lain dari rekan bisnisnya. Viceroy menghela nafas berat, harinya yang berat akan kembali dimulai. Pria sejati memang harus bekerja lebih keras.


__ADS_2