Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Tugas Suami


__ADS_3

"Vara! Kemarin sepulang sekolah aku melihatmu dan Viceroy masih di dalam kelas, apa dia menyatakan perasaannya padamu?" tanya Aulia dan teman-teman lain begitu Vara tiba di kelas keesokan harinya.


Vara mendelik gusar di depan kelas, saat itu Viceroy juga baru saja tiba di kelas begitu bel masuk berbunyi. 


"Ciee, jadi yang menyatakan cinta ini, Vara atau Viceroy?" tanya teman-teman sekelas Vara ingin tahu.


Pernyataan cinta apanya, pemuda itu justru menuduh Vara mencuri lip balm-nya. Viceroy menatap Vara dengan tatapan tajam yang seakan menantangnya untuk berkelahi.


"Jadi, kalian sudah resmi pacaran ya?" tanya teman-teman Vara heboh.


"Ciee, ada pasangan baru di kelas," seru mereka heboh.


"Maaf teman-teman, tidak seperti itu," kata Vara mencoba menjelaskan.


"Lalu, kenapa kemarin kalian di kelas berdua saja, kalian pasti saling menyatakan cinta?!" kata Aulia.


Teman-teman bercie-cie heboh.


"Sebenarnya, Viceroy menuduhku mencuri sesuatu yang penting baginya!" kata Vara.


"Mencuri hatimu ya, Vara!" seru mereka heboh disusul cie-cie panjang yang membuat Vara sungguh tidak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


Viceroy bukannya membantu Vara untuk mengklarifikasi kenyataan, pria itu justru mengabaikan Vara.


"Viceroy menuduhku mencuri lip balm-nya!" kata Vara yang langsung membuat seisi kelas hening seketika.


"Apa?!" seru teman-teman sekelas Vara langsung disusul gelak tawa yang luar biasa membahana.


...*****...


Viceroy hanya bisa tertawa mendengar Vara menceritakan kenangan tersebut begitu mereka kembali ke kamar. Ia sungguh malu karena sejak saat itu dijuluki lip balm boy. Wajahnya yang sangar, sungguh tidak bisa dibayangkan memulas lip balm di depan cermin. 


Viceroy memegang wajah Vara dengan kedua tangannya. Wajah Vara bersemu merah saat pria itu memberinya kecupan yang begitu menuntut pertanggung jawaban karena telah mencuri hatinya. Mereka berdua sama-sama merasakan ketegangan yang memuncak, saat mereka mulai terbakar gelora asmara. Viceroy mencoba melepaskan apa pun yang bisa dilepasnya.


Ia benar-benar menginginkan Vara untuk menjadi miliknya seutuhnya. Sudah begitu lama ia memendam keinginan untuk bisa memberi kebahagiaan Vara dengan leluasa. Kebahagiaan untuk menyempurnakan hubungan mereka, seperti layaknya suami istri sungguhan.


Viceroy menjelajahi apa saja yang bisa dijelajahinya, membuat Vara terbuai kenikmatan yang belum pernah ia rasakan selama hidup. Mereka saling menatap dengan tatapan penuh arti yang begitu meletup-letup. Vara menegang saat merasakan sesuatu yang aneh di bawah sana.


"Viceroy," kata Vara yang tiba-tiba sadar bahwa mereka belum bisa meneruskan aktivitas tersebut.


"Ada apa Vara?" tanya Viceroy.


"Aku takut," jawab Vara mengalihkan pandangannya dari Viceroy yang nampak kelaparan ingin melahapnya.

__ADS_1


"Apa yang kau takutkan?" tanya Viceroy seraya memburu leher Vara.


"Aku bahkan belum mendapat restu dari ibumu, pernikahan kita bisa berakhir kapan saja, aku takut, beliau menganggap cara kita ini sebagai bentuk jalan pintas untuk mendapat restu," kata Vara.


"Penikahan kita tidak akan berakhir, Vara, aku berani menjamin itu," kata Viceroy.


"Hatiku tidak tenang, Viceroy!" kata Vara.


"Kita coba saja dulu, mungkin ibuku akan menghentikan ujian anehnya itu dan menerimamu jika mengetahui kehamilanmu," kata Viceroy.


"Viceroy, aku sungguh takut," Vara mulai meneteskan air matanya.


"Vara, katakan padaku, sebenarnya ada apa? Apa kau takut kesakitan? Apa ini pengalaman pertamamu?" tanya Viceroy.


"Kau bahkan pria pertama yang menciumku," jawab Vara sambil menangis.


"Kita coba perlahan, ya, sungguh aku akan melakukannya dengan sangat perlahan," ajak Viceroy yang sebenarnya sudah tidak bisa menguasai dirinya yang telah terbakar.


Ia sudah sangat kelaparan, ada makanan yang terhidang di hadapannya, namun belum bisa dimakan karena harus menunggu persetujuan. Viceroy kembali menyibukkan diri pada Vara yang sungguh ingin dilahapnya sekarang juga. Ia sungguh terbius dengan aroma tubuh Vara yang membuatnya kehilangan kendali atas diri. Ia bahkan sudah sangat siap untuk itu.


"Viceroy, sungguh aku takut sekali, ibuku bahkan juga belum memberi kita restu, lalu bahkan aku tidak tahu, apa kau sungguh mencintaiku atau hanya sekedar terbawa suasana!" kata Vara gemetaran.

__ADS_1


Viceroy menghentikan kesibukannya itu, seketika konsentrasinya buyar. Ia beranjak turun dari kasur, memungut pakaiannya yang ia buang sembarangan, lalu memakainya kembali. Ada rasa marah bercampur kecewa yang kini menguasainya. Ia segera keluar dari kamar dan berlari keluar rumah untuk menenangkan diri. Membiarkan dirinya kelelahan karena berlari di tengah malam untuk melepaskan hal yang harusnya bisa ia lepaskan bersama Vara. Namun, Vara belum siap, terlihat jelas bagaimana Vara gemetaran hanya karena Viceroy menyentuhnya lebih intens.


Sementara Vara hanya bisa menangis, ia sungguh menginginkan Viceroy, namun dalam hatinya masih begitu banyak ganjalan yang membuat konsentrasinya buyar, seperti restu dari orang tua mereka, apakah Viceroy serius mencintainya, dan ketakutan yang terbesar yaitu perpisahannya dengan Viceroy. Ia masih belum siap jika mereka hanya akan mengenang hal ini sebagai cinta satu malam. 


__ADS_2