
Virda menatap Viceroy yang nampak tenang menyantap makan malamnya. Sementara Sofia nampak tegang dan terlihat gelisah. Virda mengundang Viceroy untuk makan malam bersama, lantaran mendapat aduan dari Sofia yang tiba-tiba saja menangis saat meneleponnya. Sofia mengatakan bahwa ia berpikir untuk mundur dari perjodohannya. Sofia tidak mengatakan bahwa Viceroy itu jahat, hanya saja, pria itu sungguh menakutkan. Virda benar-benar harus turun tangan untuk mendekatkan Viceroy dan Sofia. Di mata Virda, Sofia adalah gadis yang baik dan patuh, tidak seperti istri Viceroy yang penuh dengan tipu muslihat dan sangat licik.
"Roy, tolong bersikap lebih ramah pada Sofia, Sofia nantinya akan menjadi istrimu," kata Virda.
Viceroy menatap tajam ke arah Sofia, entah apa yang sudah diadukan wanita itu pada ibunya.
"Kalian harus saling mengakrabkan diri," lanjut Virda.
Sofia nampak tersenyum kaku, sungguh ia masih trauma dengan amukan-amukan Viceroy yang terdengar begitu dahsyat. Padahal Viceroy tidak sedang meluapkan kemarahan padanya, apalagi jika Viceroy benar-benar marah padanya! Bisa-bisa Sofia mati berdiri lantaran begitu ketakutan.
Sofia jadi ingin tahu, bagaimana nasib wanita yang menjadi istri Viceroy saat ini. Ia ingin memgetahui ketahanan mental dari wanita tersebut. Tante Virda memang hanya mengatakan, saat ini Viceroy masih menikah dengan wanita lain. Pernikahan Viceroy sungguh mendadak, sehingga tidak ada keluarga yang mengetahui hal tersebut.
Viceroy meletakkan sendoknya, ia menyeka mulutnya dengan serbet.
"Jadi Ibu memanggilku hanya karena ini?" tanya Viceroy.
"Roy," kata Virda.
"Terima kasih atas makan malamnya, Bu, masih banyak yang harus kukerjakan," kata Viceroy.
"Roy, antar Sofia pulang," perintah Virda.
"Maaf Bu, aku masih ada janji dengan klien," tolak Viceroy.
Viceroy bergegas pergi, ia sungguh kesal dengan sikap ibunya yang benar-benar seenaknya saja. Ia harus membatalkan janjinya dengan Vara lantaran tiba-tiba saja ibunya mengajak untuk makan malam bersama.
Hujan mulai turun, membuat Viceroy memutuskan untuk mengemudikan mobilnya saja untuk menjemput Vara yang masih lembur di kantornya.
...*****...
"Roy itu tidak jahat, Sofia, ia hanya tegas! Lagi pula saat ini Roy masih terpengaruh oleh hasutan istrinya," kata Virda begitu Viceroy meninggalkan mereka berdua.
"Iya Tante, saya merasa sepertinya begitu," kata Sofia takut-takut.
"Kau pasti bisa menjadi istri yang pantas untuk Roy, jadi tetaplah berusaha, Sofia, aku berharap padamu," kata Virda pada Sofia.
"Tante, memangnya istri Roy seperti apa?" tanya Sofia.
Virda nampak berpikir sebelum menjawabnya. Ia terlalu gengsi untuk mengakui bahwa istri anak bungsunya itu lebih unggul dari Sofia.
"Dia lebih licik dari yang terlihat," jawab Virda. "Tipe wanita penuh tipu muslihat yang begitu pandai menipu demi memenuhi ambisinya!" lanjut Virda.
__ADS_1
"Mengapa Roy bisa menikahi wanita itu, Tante?" tanya Sofia.
"Entahlah, menurut Ryo, Roy menikahi wanita itu demi memenuhi ambisinya saja" jawab Virda.
Sofia sungguh merasa terbebani, namun karena Tante Virda dan orang tuanya berharap begitu banyak padanya, Sofia harus berusaha keras untuk memenangkan hati calon suaminya itu. Dengan kata lain, Sofia harus tahu siapa istri Viceroy dan memulai misinya untuk bersaing dengan istri calon suaminya itu.
...*****...
Di lain pihak, Vara terpaksa harus lembur, karena Viceroy mengatakan bahwa pria itu harus memenuhi panggilan ibunya. Daripada menunggu Viceroy sambil jalan-jalan di pusat perbelanjaan dan berakhir dengan perburuan barang-barang hasil lapar mata, Vara memutuskan untuk di kantor saja sambil tetap bekerja.
Viceroy mengirimkan pesan untuk Vara, bahwa pria itu sudah dalam perjalanan untuk menjemput Vara. Vara segera merapikan meja kerja dan meninggalkan ruangan kerjanya. Vara tertegun karena hujan mulai turun, Vara sungguh tidak membawa payung untuk berjalan ke gerbang utama yang berjarak lima ratus meter.
Gedung kantor Vara berada dalam komplek yang sama dengan tujuh perusahaan lain. Gerbang utama berjarak lima ratus meter dari gedung kantor Vara. Para karyawan dari tujuh perusahaan lainnya memarkirkan kendaraan mereka di area parkir yang tersedia di dekat gerbang utama.
Viceroy biasa menunggu Vara di luar gerbang utama, dan tentunya pria itu sudah dihafal oleh teman-teman kantor Vara sebagai tukang ojek langganan Vara.
"Bu Vara, mau pulang?" tanya Pak Ryo yang berpapasan dengan Vara di lobi.
"Iya Pak," jawab Vara.
"Mau saya antar?" tanya Pak Ryo.
"Sekarang sedang hujan, Bu," kata Pak Ryo.
"Saya terobos saja sampai ke depan gerbang utama, Pak, karena saya dijemput," kata Vara.
"Saya antar sampai ke gerbang depan, ya," kata Pak Ryo.
...*****...
Vara segera duduk di kursi depan, lantunan lagu La vie en Rose memenuhi mobil mewah tersebut.
"Anda suka lagu ini?" tanya Vara.
"Ini dulu menjadi lagu kesukaan ayah saya," jawab Pak Ryo.
"Dulu? Berarti sekarang sudah tidak suka lagi?" tanya Vara.
"Ayah saya sudah lama meninggal," jawab Pak Ryo.
"Maaf, Pak," Vara menunduk, merasa bersalah sudah menanyakan hal tersebut.
__ADS_1
"Tidak masalah, justru saya harusnya berterima kasih pada Anda, karena membuat saya teringat lagu kesukaan ayah saya sewaktu beliau masih hidup," kata Pak Ryo.
Mobil yang dikemudikan Pak Ryo berhenti di depan gerbang utama, dekat pos keamanan utama. Vara celingukan di dalam mobil, mencari sosok Viceroy.
Kasihan sekali Viceroy, pasti kehujanan, batin Vara.
Vara segera keluar dari mobil, karena dari dalam mobil berkaca gelap ini, sulit untuk melihat ke arah luar.
Pak Ryo mengambil payung, keluar dari mobil, dan langsung memayungi Vara yang kehujanan.
...*****...
Viceroy sudah tiba di dekat gerbang utama, ia merasa kasihan pada Vara yang sepertinya kehujanan. Petugas keamanan di gerbang utama tidak mengizinkan tamu memasuki gerbang utama tanpa ada surat izin dari instansi resmi.
Sebuah mobil sport berwarna hitam keluar dari gerbang utama, terlihat seorang wanita keluar dari mobil tersebut disusul seorang pria berpayung yang turun dari mobil dan memayungi wanita itu.
Viceroy segera menelpon Vara.
"Kau di mana?" tanya Viceroy.
"Aku di gerbang utama, kau di mana?" tanya Vara.
Viceroy tidak menjawab, karena matanya tertuju pada wanita yang sedang berada di bawah payung yang sama dengan seorang pria.
Terlihat wanita itu mengantar si pria kembali ke mobilnya.
"Terima kasih atas tumpangannya, Pak."
Terdengar suara Vara di seberang sana.
Mobil sport berwarna hitam itu pun pergi meninggalkan wanita itu.
"Viceroy, kau di mana?" tanya Vara celingukan di bawah payung hitam.
"Aku melihatmu," jawab Viceroy.
"Iya, kau di mana? Jangan menakutiku seperti itu," kata Vara.
Vara celingukan, matanya tertuju pada sebuah mobil sport mewah berwarna putih yang terhenti di sampingnya. Pintu mobil sport itu pun terangkat ke atas, sosok Viceroy duduk di belakang kemudi.
"Ayo masuk, mau sampai kapan berdiri di sini?" kata Viceroy tanpa menutup teleponnya.
__ADS_1