
Vara berkeliling menyusuri pasar tradisional. Tiba-tiba saja Nyonya Meneer alias Ibu Suri alias ibu Viceroy mengirimkan tugas dadakan lagi untuk Vara. Kali ini ujiannya bukan berupa daftar barang ajaib. Ibu Suri menyuruh Vara untuk mencari kue tradisional dengan spesifikasi serupa tapi tak sama.
Lagi-lagi Vara mendapatkan tugas yang aneh. Apakah ibu Viceroy memang menyukai hal-hal semacam itu? Sudah cukup penampilan wanita itu saja yang bagi Vara cukup aneh. Apa kakak Viceroy juga berpenampilan aneh? Vara menghibur dirinya dengan membayangkan kakak Viceroy yang berwajah mirip Viceroy, pria itu mengenakan kemeja dan celana bertabur kristal, serta memakai riasan bergaya gotik.
Vara bergegas menuju ke lapak pedagang yang menjajakan kue-kue tradisional. Kue-kue tradisional memang lebih unik dibandingkan dengan kue-kue modern. Kebanyakan bahan-bahan yang digunakan, serta proses pengolahannya pun lebih sederhana daripada kue-kue modern.
Perkembangan zaman membuat kue tradisional nampak tak memiliki tempat yang eksklusif. Tak ada toko kue yang menjual kue-kue tradisional kecuali di pasar tradisional. Terlebih kue-kue tersebut juga biasanya hanya menjadi sajian yang begitu banyak diminati di momen-momen tertentu, seperti bulan puasa. Vara paling suka berburu kudapan untuk berbuka puasa, beraneka jenis kue-kue tradisional tersedia di pasar tahunan yang diadakan selama satu bulan penuh. Mulai dari beraneka jenis kue talam, kue lumpur, gorengan, hingga kolak banyak dijajakan pedagang.
"Cari apa, Nak?" tanya seorang wanita paruh baya melihat Vara nampak kebingungan.
Vara menatap wanita paruh baya yang menunggui lapak kue tradisionalnya.
"Ibu, boleh saya pilih yang dibungkus daun pisang itu, dan juga yang itu, Bu?" tanya Vara menunjuk dagangan ibu penjual kue itu.
"Kau tahu kue apa ini, Nak?" tanya wanita itu ramah, lalu mengambil dua kue yang ditunjuk Vara.
"Saya harus membuka isinya dulu, Bu, supaya saya bisa tahu itu kue apa, karena keduanya nampak serupa," jawab Vara diplomatis.
Vara membuka keduanya, lalu tersenyum. Kedua kue tradisional ini sungguh serupa, namun isinya jauh berbeda.
"Boleh saya cicipi?" tanya Vara antusias.
"Silakan," kata ibu penjual kue menyodorkan sendok plastik untuk Vara.
Vara segera mencicipi kue di hadapannya dengan antusias.
__ADS_1
"Enak sekali," kata Vara terpana. "Ibu buat sendiri atau titipan, Bu?" tanya Vara.
"Buatan saya sendiri," jawab ibu itu ramah.
"Boleh cicip yang lain, Bu?" tanya Vara.
"Silakan, kau sepertinya suka kue tradisional," jawab ibu itu.
"Benar, saya lebih suka kue-kue tradisional daripada kue modern," kata Vara masih berbinar-binar seakan menemukan harta karun.
"Bu, tolong dibungkus semua, ya, kue buatan Ibu semuanya sangat enak," lanjut Vara.
"Kau mau membuat pesta?" tanya penjual kue itu keheranan.
"Saya suka semuanya, Bu, terima kasih sudah menjual makanan yang enak," kata Vara.
Vara memborong semua kue yang dijual oleh pedagang kue tersebut. Vara bahkan membantu pedagang itu membungkus semua kue. Dengan uang tunai hadiah dari turnamen bulu tangkis internal, Vara membeli semua kue tersebut dan berniat membagi-bagikan ke teman-teman kantornya.
Vara menyisakan dua jenis kue yang menjadi bahan ujiannya.
...*****...
"Enak sekali kuenya, Vara, beli di mana?" tanya Mbak Rani dan teman-teman yang mencicipi kue yang dibeli Vara.
"Beli di pusat kue yang ada di Pasar PS, Mbak, penjualnya cantik, kulitnya putih, dan masih nampak kencang padahal sudah berumur," jawab Vara.
__ADS_1
Mbak Rani mengerutkan alisnya.
"Yang di sebelah mana, Vara?" tanya Mbak Rani penasaran.
"Yang lapak paling ujung kiri," jawab Vara.
Mbak Rani selaku petualang pasar dan pecinta kuliner tradisional tahu persis, tidak ada penjual kue yang sesuai dengan dideskripsikan Vara. Tidak ada penjual kue yang secantik itu di pusat penjual kue Pasar PS.
"Terima kasih ya, Vara, kue-kuenya enak sekali," puji Alya begitu menghampiri Vara.
"Iya, sama-sama," kata Vara.
"Ya ampun, Vara, masa iya menang lomba, traktirnya cuma kue-kue zaman dulu begini," celetuk Dinda.
"Vara, nanti potong kambing memang kalau kau diangkat jadi karyawan tetap," Alya menimpali seraya terkekeh.
Seketika Vara mendadak galau, namun ia menutupinya dengan senyum cerianya.
...*****...
Sementara itu, Virda baru saja kembali dari pasar tempat ia melangsungkan ujian ketiga untuk istri Roy. Virda bisa menduga wanita itu pasti akan datang ke Pasar PS yang menjadi pusat penjaja kue tradisional di kota. Wajah tanpa riasan Virda tentu saja membuat istri Roy itu tidak mengenalinya. Virda beruntung ia bisa langsung memanggil istri Roy dan berbincang sekilas dengan wanita muda yang begitu ramah dan sopan. Perbincangan mereka memang sangat singkat, namun Virda bisa melihat kejujuran dan ketulusan yang terpancar dari diri wanita itu.
Di tes ketiga ini pun wanita ini dianggap Virda lulus dari tebak-tebakan unik yang diberikan oleh Virda. Namun, Virda masih belum bisa menerimanya karena mengingat pesan Ryo, bahwa istri Roy adalah wanita licik, binal, dan mata duitan yang sangat berbahaya untuk keluarga mereka. Wanita itu benar-benar berambisi untuk menguasai harta Roy. Bahkan jika Ryo sampai kalah dalam pertaruhan yang dibuatnya, Ryo juga akan kehilangan kekayaannya. Kehadiran wanita licik itu benar-benar sangat membahayakan keluarga mereka.
Virda benar-benar harus bertindak untuk menyingkirkan wanita itu dari hidup Roy. Sungguh, Virda tidak sudi wanita itu menjadi menantunya.
__ADS_1