Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Keresahan Vara


__ADS_3

Vara segera mengambil belanjaan dari kurir yang mengantarkan pesanan. Ia ikut tergiur saat teman-teman kantornya belanja daring di sebuah toko daring yang menjual aneka makanan beku. Vara tidak punya banyak waktu untuk memasak makan malam. Viceroy memang tidak pernah menuntut Vara, pria itu memakan apa pun yang dimasak Vara. 


"Banyak sekali belanjaanmu, Vara, kau mau membuat pesta?" tanya Alya.


"Sepertinya kau rajin sekali memasak, waktu itu kulihat kau pergi ke pasar bersama Mbak Rani," Imel menimpali.


"Hmm, iya ya, baru sadar, Vara juga sudah jarang sekali pulang sampai jauh malam," lanjut Dinda.


"Masak untuk pacarmu yang tukang ojek itu, ya?" sindir Imel.


Vara hanya terkekeh dan tersenyum-senyum saja. Diam memang pilihan yang bijaksana.


Alya mengajak Vara menuju ke ruang tamu untuk bicara empat mata.


"Oh ya, Vara, kau sudah dapat surat keputusan pengangkatan karyawan tetap?" bisik Alya. "Mbak Noer sudah dapat, lho," Alya mulai menyalakan kompor.


"Iya, aku tahu," jawab Vara.


"Vara, kau tidak berpikir untuk bekerja di tempat lain? Sayang sekali, kau punya ijazah tinggi," kata Alya. "Mumpung masih lajang, sudah punya pengalaman, carilah pekerjaan lain yang gajinya lebih besar, ada jenjang karir yang bagus, aku di sini berbicara sebagai staf HRD yang memberi motivasi," kata Alya lagi.


"Terima kasih, Alya, kau sungguh perhatian, aku kembali ke ruanganku dulu," Vara berpamitan.


Vara mendadak galau, sampai hari ini, ia belum juga mendapat surat pengangkatan. Padahal Pak Bram sudah memberi Vara lembar penilaian kinerja sebagai rapor tahunan untuk Vara. Penilaian tersebut bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pegawai selama satu tahun, sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaharui kontrak kerja.


Vara berusaha untuk tidak ambil pusing, namun tetap saja, ia jadi kepikiran, karena ini menyangkut hal yang paling ia inginkan.

__ADS_1


...*****...


Sesampainya di rumah, Vara segera mulai memasak makan malam. Ia juga mencuci dan menjemur pakaian di dalam ruang binatu, sembari menunggu masakannya selesai. Ia juga menyempatkan diri untuk membersihkan rumah.


Viceroy sudah duduk di meja makan, menunggu Vara selesai menghidangkan masakannya. Viceroy sungguh suka melihat Vara yang begitu sibuk di dapur. 


"Vara, kau tak perlu mencuci pakaian dan membersihkan rumah, nanti akan kulakukan sendiri," kata Viceroy.


"Tidak apa-apa," jawab Vara tersenyum riang.


Mereka segera makan malam bersama. Selama mereka serumah, Viceroy jadi sering sekali makan malam, biasanya ia hanya minum susu protein sebagai makan malamnya.


"Vara, kau bisa mandi lebih dulu, biar aku yang mencuci piring," kata Viceroy.


'Vara, jangan begitu," kata Viceroy merasa tidak enak.


Ia bahkan tidak memberi uang sepeser pun untuk Vara, tapi setiap hari Vara menyiapkan makanan untuknya. Viceroy merasa, ia seperti memeras keringat Vara. Namun Vara begitu bersikeras, bahkan Vara membayar utang minibar saat mereka masih menginap di hotel. 


...*****...


Viceroy terbangun di tengah malam, Vara tidak ada di sisinya. Viceroy memang melihat ada yang berbeda dari Vara. Memang Vara tetap ceria, namun senyumnya tidak seperti biasa. Vara nampak menyembunyikan keresahan dari tatapan matanya. Rupanya kecurigaan Viceroy terbukti, Vara duduk di gazebo yang menghadap langsung ke kolam ikan. Wanita itu duduk termenung dengan rokok yang menyala di tangan. Pantas saja tadi Vara singgah di minimarket, ia membeli sekotak rokok beserta korek gas. Vara nampak menikmati asap mengepul yang keluar dari mulutnya. Viceroy duduk di samping Vara, membuat Vara tersentak kaget.


"Rupanya kau di sini," kata Viceroy.


Vara hanya diam.

__ADS_1


"Sejak kapan kau merokok?" tanya Viceroy mengambil kotak rokok Vara.


"Waktu kuliah, stres karena skripsi," jawab Vara tersenyum.


"Kau sering merokok?" tanya Viceroy.


"Tidak, aku merokok hanya untuk menenangkan pikiran," jawab Vara.


"Apa ada masalah?" tanya Viceroy.


"Maaf Viceroy, aku tidak ingin membebanimu dengan masalahku," jawab Vara segera mematikan rokoknya.


"Kau sungguh tidak mau cerita, apa yang membuatmu stres?" tanya Viceroy.


Vara hanya menjawab dengan senyum.


"Vara, sungguh aku tidak berpikir bahwa kau adalah beban, kehadiranmu adalah anugerah untukku," kata Viceroy.


Vara merasa wajahnya memanas, padahal udara terasa begitu dingin. Viceroy menggenggam tangan Vara.


"Vara, aku sungguh minta maaf karena dulu menuduhmu sebagai pencuri atas apa yang tidak kau lakukan, apa kau tahu, aku sungguh menyesal Vara," kata Viceroy. 


"Aku juga minta maaf padamu, Viceroy, aku sungguh bodoh, mengatakan pada semua orang bahwa kau menuduhku mencuri lip balm-mu! Seandainya aku lebih bijaksana, aku tidak perlu menyebarkan hal tersebut, dan cukup menjadi rahasia kita berdua saja, padahal kau sudah berbaik hati tidak menuduhku di depan umum," kata Vara terkenang kejadian tersebut.


"Kau benar Vara, kau tidak mencuri lip balm-ku, tapi kau sudah mencuri hatiku," kata Viceroy.

__ADS_1


__ADS_2