Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Virda


__ADS_3

Biasanya hari Sabtu dimanfaatkan Vara untuk tetap bekerja menyelesaikan pekerjaannya. Kali ini ia sedang berada di sebuah rumah mewah, dari luar nampak bergaya minimalis. Ketika memasuki rumah, Vara disambut dengan karpet bulu yang tebal dan halus, dinding berlapis ornamen emas, sofa-sofa mewah bak kerajaan Timur Tengah dan hiasan-hiasan dinding berlapis emas.


Vara harus menunggu mertuanya yang menurut Bi Jiah sedang melakukan yoga. Vara jadi membayangkan sosok wanita berdaster dengan mulut berwarna jingga kehitaman sedang melakukan berbagai pose ekstrem. Vara mengamati rumah yang menurut Vara terlalu berlebihan mewahnya. 


Seakan menggambarkan keadaan orang kaya baru. Viceroy memang tidak pernah cerita apapun mengenai kehidupan pribadinya, termasuk pekerjaannya. Pria itu hanya mengatakan pada Vara, tentang apa yang disukai dan tidak disukainya. Intinya, Viceroy itu pria yang lebih sederhana dari yang terlihat.


Vara masih menunggu, hingga tiga jam telah berlalu. Masih belum ada tanda-tanda ibu mertuanya akan menemuinya. Tidak masalah, karena orang penting memang biasanya harus ditunggu. 


Seorang wanita paruh baya dengan rambut pendek berwarna merah menyala, dengan kulit seputih susu, dan tatapan mata setajam Viceroy. Wanita paruh baya itu mengenakan kaftan berwarna hijau jamrud yang terlihat begitu mewah karena di sekeliling pakaiannya bertebaran manik-manik kristal yang menyilaukan mata. Riasan mata bergaya smokey, dengan sapuan lipstik berwarna salem menyempurnakan penampilannya. Perhiasan berlian mulai dari anting, kalung, gelang, hingga cincin berlian bermata besar memenuhi jemarinya. Membuat Vara teringat pengacara kondang tanah air yang terkenal dengan gaya glamor.


Mata tajamnya meneliti penampilan Vara yang nampak begitu sederhana di matanya. Virda terkejut karena penampilan wanita ini tidak sama seperti yang di deskripsikan anak laki-lakinya. Ryo mendeskripsikan istri adiknya sebagai wanita binal yang berpakaian seksi untuk menggoda pria. Virda tidak melihat aura keseksian yang terpancar dari wanita muda di hadapannya ini. Virda menebak, wanita ini mungkin masih berusia awal dua puluhan, dua puluh dua. Apa benar dia seorang janda yang begitu berpengalaman? 


Wanita muda ini bahkan tidak terlihat memakai riasan, sehingga membuatnya terlihat seperti gadis muda baik-baik. Virda segera menepisnya, penampilan bisa saja menipu. Wanita ini pasti lebih licik dari yang terlihat. Karena menurut Ryo, wanita yang dinikahi adiknya begitu licik dan mata duitan, yang akan menguasai harta anaknya dan mempermalukan keluarga mereka. Virda segera duduk di sofa megah bergaya kerajaan, ia nampak terlihat seperti Ibu Suri dalam film-film bertema kerajaan. Vara sampai salah fokus menatap perhiasan berlian yang dikenakan Virda, yang nampak seperti ingin memamerkan pada Vara, betapa kayanya wanita paruh baya itu.


"Siapa namamu?" tanya Virda.

__ADS_1


"Varadisa, Bu," jawab Vara.


"Jangan panggil aku Ibu, aku bukan Ibumu," celetuk Virda dengan dingin.


"Maaf, Nyonya," jawab Vara sambil menunduk.


Vara menelan ludahnya, tenggorakannya terasa tercekat, lidahnya terlalu kelu karena ibu Viceroy melotot tajam, membuat Vara mati-matian menyembunyikan rasa gentarnya. Mungkin seperti inilah perasaan Viceroy saat menemui bapak Vara ketika pria itu melamar Vara. Vara tidak boleh gentar, Viceroy saja bisa, Vara juga harus bisa.


"Tolong siapkan teh," kata Virda memerintah Vara.


"Silakan," sahut Virda.


Virda sudah merencanakan akan membuat wanita itu mundur dan menyadari bahwa ia sungguh tidak layak menjadi menantu Virda. 


Sementara, Viceroy masih menemani kliennya bermain golf. Viceroy sendiri awalnya tidak terlalu mahir bermain golf, namun berkat bantuan Regina, Viceroy akhirnya menguasai permainan tersebut. 

__ADS_1


"Golf adalah permainan yang harus dikuasai oleh pelaku bisnis, permainan penuh negosiasi dan berakhir pada kesepakatan," kata Regina sambil mengayunkan tongkat golfnya untuk memukul bola golf.


Regina sendiri sudah bermain golf sejak masih kecil, karena ia terbiasa menemani ayahnya. Regina memang dipersiapkan ayahnya untuk menjadi pebisnis dalam rangka meneruskan jejak ayahnya. Namun Regina lebih memilih menjadi arsitek, lantaran lebih tertarik dengan arsitektur daripada bisnis. Regina selalu terlihat cantik dalam seragam golf mini yang mengekspos kakinya yang jenjang dan ramping. Ya, Regina selalu terlihat cantik dalam riasan yang sempurna. Viceroy tentu saja tak pernah melihat wajah bangun tidur Regina, karena mereka tidak pernah menghabiskan malam bersama. Berbeda dengan Vara yang selama ini sudah menjadi teman berbagi kamar, hingga berbagi kasur. Entah mengapa Viceroy mencemaskan Vara. Ia sungguh ingin tahu, apakah ibunya memperlakukannya dengan baik?


Ibunya mungkin memang terlihat galak, namun sebenarnya tidak seperti yang terlihat. Selama Vara bersikap bijaksana, Vara tentu akan baik-baik saja.


"Pak Viceroy, giliran anda," terdengar seruan yang membuat lamunan Viceroy buyar.


"Baik," Viceroy mengayunkan tongkat golf dan memukul bola sejauh mungkin untuk mendekati titik sasaran.


Terdengar tepuk tangan dan pujian karena pria itu berhasil mendekati titik sasaran. 


"Anda memang hebat, Pak Viceroy," terdengar pujian dari wanita berkulit eksotis di antara kumpulan pria.


Wanita itu begitu menonjol di antara para caddy yang berkulit putih, mulus, dengan pakaian mini. 

__ADS_1


"Anda terlalu memuji, Bu Laras," sahut Viceroy.


__ADS_2