
Vara memutar bola mata saat mendapati Viceroy sudah duduk di balkon unit apartemennya. Pria itu duduk sambil menikmati secangkir teh hangat. Suasana malam hari memang terasa begitu nyaman untuk dinikmati. Angin yang bertiup semilir, suara deburan ombak, dan langit malam yang cerah menyatu dalam harmoni.
Entah mengapa Vara merasa kesal melihat pria itu. Rasa kecewanya pada Viceroy amatlah besar. Ia ingin segera memulai hidup baru, mencoba kembali menata kehidupan yang sempat hancur porak-poranda akibat perceraian dari suami yang begitu dicintai ini. Ia begitu mencintai Viceroy, namun bayang-bayang bagaimana kezaliman Ibu Suri membuat Vara merasa tertekan. Meski mereka masih saling mencintai, namun melihat Viceroy yang begitu berbakti pada sang ibu, membuat Vara lebih memilih untuk mengalah pada rasa cintanya. Terlebih tujuan Ibu Suri memaksa mereka untuk bercerai karena adanya wanita lain yang lebih dipilih Ibu Suri untuk menjadi istri Viceroy. Otomatis membuat Vara langsung membangun benteng tak kasat mata, agar ia tidak perlu terbawa perasaan lagi pada Viceroy.
"Viceroy, mau apalagi kau datang kemari?" tanya Vara.
Viceroy mengulas senyumnya.
"Tentu saja menginap," jawab Viceroy.
Kembali Vara memutar bola matanya, pasca perceraian mereka, Viceroy justru lebih bebas mengunjungi Vara. Hampir setiap malam pria itu menginap. Hanya saja mereka tidak tidur bersama di satu tempat tidur seperti saat mereka masih menikah. Viceroy hanya tidur di lantai yang beralaskan karpet tebal tanpa selimut ataupun bantal.
"Pulang sana! Nanti kau dicari ibumu!" usir Vara.
Viceroy masih mengulum senyumnya.
"Ibuku sekarang sedang sibuk," jawab Viceroy.
"Sibuk untuk mengurus pernikahanmu?" tanya Vara dengan nada dingin.
"Vara, apa maksudmu?" tanya Viceroy.
"Viceroy, kita sudah bercerai dan kau akan menikah dengan wanita pilihan ibumu, begitu kan, Viceroy Nurbaya?!" sindir Vara dengan ketusnya.
Viceroy tersenyum, ia sungguh gemas melihat Vara saat meluapkan kekesalannya.
"Vara, kau harus selamatan potong kambing jika mau mengganti namaku," Viceroy tertawa.
"Viceroy, kau tak perlu mengalihkan isu! Sungguh rasanya tak pantas kita bersama seperti ini, tidak enak dilihat tetangga! Nanti kita disangka pasangan kumpul kebo!" kata Vara lagi.
"Tetangga? Memangnya di sini ada tetangga nyinyir yang akan peduli pada kita?" tanya Viceroy seraya tertawa.
Vara merengut melihat Viceroy menertawakannya. Tinggal di apartemen dan pantang pulang sebelum petang tentu membuat Vara sama sekali tidak mengenali penghuni unit lain.
"Vara, apa kau tahu, aku datang kemari setiap malam karena begitu mencemaskanmu! Kau tidak mau menjawab teleponku atau pun menjawab panggilan video, aku benar-benar takut kau akan berbuat hal nekat yang akan membahayakan nyawamu! Sungguh, aku tak ingin kau larut dan hanyut dalam kesedihan Vara," kata Viceroy.
"Vara, berapa kali harus kukatakan padamu bahwa perceraian ini bukan keinginan kita, semuanya keinginan ibuku! Aku hanya menuruti kemauan beliau! Tolong, jangan menghindariku, ini bukan salahku," lanjut Viceroy.
"Viceroy, sungguh aku baik-baik saja dan akan baik-baik saja! Aku sudah menerima semua ini dengan lapang dada. Aku ikhlas, ridho dunia akhirat," kata Vara.
Vara segera masuk ke kamar mandi meninggalkan Viceroy yang masih tetap duduk di balkon. Sungguh sakit rasanya diceraikan secara mendadak. Namun lagi-lagi Vara hanya bisa menerimanya meski begitu berat. Seandainya Vara tahu bahwa akhir dari pernikahan mereka adalah perceraian, Vara harusnya tak usah terbawa perasaan. Akan tetapi melihat Viceroy yang begitu bersikap baik padanya, memperlakukannya dengan lembut akhirnya membuat Vara merasa nyaman. Cinta pun tumbuh karena mereka terbiasa bersama.
"Vara! Sudah! Tak perlu menyesali kembali hal yang sudah terjadi, fokus saja untuk selanjutnya," Vara bergumam di depan cermin.
Ia hanya bisa membesarkan hatinya sendiri. Tak ada tempat baginya untuk mengadu. Ia hanya bisa memendam semuanya sendiri.
...*****...
Vara sudah selesai mandi dan berpakaian. Ia segera naik ke kasur untuk memulai ritual sehabis mandi dengan menyapukan losion tubuh mulai dari kakinya.
"Tidak usah lihat-lihat!" sergah Vara pada Viceroy yang tersenyum ke arahnya.
"Aku sudah bukan milikmu lagi!" lanjut Vara.
"Vara," kata Viceroy segera duduk di tepi kasur.
"Apa kau lupa, kita dulu pernah menikah hanya untuk status, itu artinya tidak masalah kita bercerai untuk status, kita bahkan masih saling mencintai!" kata Viceroy.
"Tidak masalah dari Hongkong!" Vara mendorong Viceroy menjauh darinya. Viceroy terjerembab ke lantai.
"Aduh, Vara!" keluh Viceroy.
"Viceroy, tolong jaga jarak! Kita sudah bukan pasangan halal!" tandas Vara.
"Vara," kata Viceroy terperangah.
Vara segera berbaring dan menarik selimutnya.
"Vara, kenapa kau jadi tega seperti ini sih?" tanya Viceroy.
"Viceroy! Lebih tega mana, ibumu atau aku?! Ibumu bahkan begitu tega membuatku jadi janda demi menjadikanmu suami untuk wanita pilihannya!" sahut Vara dengan ketusnya.
"Vara, aku tidak akan menikah dengan wanita pilihan ibuku, percayalah padaku," kata Viceroy.
"Haha! Percaya padamu? Kau juga mengatakan tidak akan menceraikanku, tapi apa buktinya? Kau tetap menceraikanku! Sudahlah Viceroy, kau tak perlu memberiku janji-janji partai! Kau bukan anggota dewan!" sergah Vara.
Viceroy memegangi belakang lehernya yang rasanya menegang. Entah mengapa ia jadi merasa wanita yang saat ini sedang berdebat dengannya bukanlah Vara.
"Vara, apakah kau mau bertaruh denganku?" tanya Viceroy sambil menyunggingkan senyum miring.
"Aku bertaruh, ibuku pasti akan merestui kita!" kata Viceroy dengan penuh keyakinan.
Vara menghela napasnya dengan berat.
"Viceroy, terima kasih, tapi aku tidak tertarik untuk bertaruh denganmu! Jangan memberiku harapan-harapan palsu yang hanya akan membuatku kembali makin tersakiti!" kata Vara berusaha menjaga emosinya.
Ia tidak mau menangis lagi, sudah cukup kemarin-kemarin ia menangis. Seandainya air matanya bisa berubah menjadi berlian, mungkin sekarang Vara mendadak jadi jutawan. Mungkin jika ia tadahi, bisa dapat satu ember saking banyaknya Vara menangis selama masa skors dari perusahaan yang harus dijalani.
__ADS_1
"Vara, apa kau sungguh berpikir bahwa hanya kau saja yang sedih dan kecewa karena perceraian kita? Jika kau berpikir begitu, kau benar-benar salah! Aku benar-benar mencintaimu, Vara," kata Viceroy.
Vara memilih diam, ia merasa tidak bisa menang saat harus berdebat dengan Viceroy. Lebih baik Vara segera terlelap untuk mengusir rasa lelahnya.
Viceroy merebahkan dirinya di lantai, menatap langit-langit dengan gusar. Sepertinya akan sulit bagi Viceroy untuk mendapatkan kembali hati Vara yang nampak begitu kecewa dengan perceraian mereka. Viceroy benar-benar harus memikirkan strategi yang tepat untuk memenangkan hati Vara lagi.
...*****...
Viceroy menghentikan mobil yang dikemudikannya di depan gerbang utama menuju ke gedung perusahaan Victory Grup. Petugas keamanan yang menjaga area gerbang utama tentu saja harus menjalankan prosedur untuk tamu yang datang berkunjung ke area komplek perusahaan. Terdapat tujuh gedung perusahaan dalam satu komplek tersebut. Viceroy jadi teringat bahwa ia selalu menjemput Vara di depan gerbang utama karena ia tidak diperkenankan untuk masuk ke komplek perusahaan tanpa membawa surat resmi. Viceroy sendiri tidak tahu di mana Vara bekerja karena mereka tidak pernah membahas pekerjaan saat bersama.
Entah mengapa Ryo masih saja menyewa gedung untuk perusahaannya. Tidak seperti Viceroy yang membeli lahan dan membangun gedung perusahaan. Begitulah Ryo, ia mau praktisnya saja.
Viceroy menghentikan mobil di pelataran parkir gedung perusahaan Ryo. Ia tentu harus mulai membenahi perusahaan yang sudah ia ambil alih secara penuh. Ia juga sudah berkoordinasi dengan beberapa petinggi perusahaan tersebut dalam rangka menyampaikan perihal pengambil alihan kepemilikan Victory Grup.
...*****...
Sofia duduk di kursi Pak Ryo. Ia merasa sudah memegang kuasa penuh atas Victory Grup lantaran Pak Ryo yang saat ini masih menjalani opname di rumah sakit pasca terkena serangan jantung.
"Ibu Direktris Sofia," begitulah Sofia meminta semua pegawai memanggilnya.
Sofia berkeliling memandori karyawan yang tengah sibuk bekerja. Ia sendiri benar-benar tidak punya kerjaan lantaran memang tidak ada yang bisa dikerjakannya selain bergosip dengan anggota gengnya.
"Ini perusahaan Pak Ryo, aku ini adik ipar Pak Ryo, sudah jelas perusahaan ini jadi milikku!" kata Sofia berkoar-koar bangga.
"Sofia! Hentikan omong kosongmu itu!"
Sofia menoleh ke arah suara menggelegar yang membuat jantung Sofia nyaris lepas saking kagetnya. Pria dengan sorot mata tajam dan sedingin es itu melemparkan tatapan sinis yang mengintimidasi Sofia.
"Ro-Roy," Sofia tergagap.
Semua mata langsung tertuju pada sosok asing berparas rupawan, namun terlihat begitu kaku dan dingin. Terlihat Pak Ari nampak sudah berada di belakang sosok itu.
"Ke-kenapa kau ada di sini, Roy?" tanya Sofia tergagap.
"Kenapa aku tidak boleh berada di perusahaanku sendiri?" Viceroy balik bertanya.
"Oh, wah, perusahaan ini jadi milik kita?" Sofia terpana.
"Kita?!" tanya Viceroy dengan nada dingin.
"Iya, kita akan menjadi suami istri, apa pun yang kau miliki akan menjadi milikku juga, bukankah begitu?" Sofia berusaha tersenyum yang lebih terlihat sebagai seringaian.
Saat ini semua mata sedang tertuju padanya.
"Sofia, dalam mimpi pun jangan pernah bermimpi untuk menjadi istriku!" kata Viceroy dengan suaranya yang sedingin es.
"Pak Ari, tolong kumpulkan semua manajer, rapat koordinasi harus segera dilaksanakan," perintah Viceroy pada Pak Ari.
"Baik, Pak Roy," jawab Pak Ari.
Viceroy segera melangkah pergi meninggalkan Sofia yang mematung dan berusaha menahan rasa malunya.
"Sofia, itu Roy adiknya Pak Ryo, ya?" tanya Dinda.
"Be-benar," jawab Sofia tergagap.
"Oh, itu pria calon suamimu, ya?" tanya Imel.
"I-iya," jawab Sofia masih gemetaran.
"Apa pria itu membencimu? Dia bahkan sampai mengatakan hal mengerikan seperti itu padamu," kata Alya.
Sofia hanya bisa merutuk dalam hati. Ia benar-benar merasa kesal dengan perlakuan calon suaminya itu. Bisa-bisanya di hadapan semua orang Viceroy mengatakan hal mengerikan seperti itu?
Sungguh membuat harga diri Sofia terjun bebas. Semua orang akhirnya jadi mengetahui bahwa ternyata Sofia belum menjadi adik ipar Pak Ryo.
...*****...
Vara baru tiba di kantor setelah makan siang. Ia memang izin setengah hari lantaran merasa kurang enak hati. Rasanya ia benar-benar sudah malas untuk kembali bekerja lantaran sudah merasa setengah hati.
"Vara, ternyata Sofia belum menjadi adik ipar Pak Ryo!" kata Mbak Rani begitu Vara duduk di belakang meja kerjanya.
"Wah, kok bisa? Bagaimana ceritanya, Mbak?" tanya Vara.
"Tadi adiknya Pak Ryo datang ke kantor dan berhasil membungkam Sofia yang selama ini benar-benar berlagak seperti yang punya perusahaan," jawab Mbak Rani.
"Dalam mimpi pun jangan pernah bermimpi menjadi istriku," Mbak Rani menirukan perkataan pria itu.
"Wah, luar biasa, kalau orang yang punya malu pasti akan malu sekali, ya, dikatai seperti itu!" kata Vara.
"Asli, kalau aku jadi Sofia, bisa gantung diri aku di pohon cabai! Hehe," Mbak Rani terkekeh.
"Adik Pak Ryo, apa setampan Pak Ryo, Mbak?" tanya Vara.
"Tentu saja tampan, hanya saja begitu dingin dan kaku, seperti kanebo kering," jawab Mbak Rani yang lagi-lagi terkekeh.
"Oh ya, Vara, nanti sore sepulang kerja, apakah kau mau ikut menjenguk Pak Ryo?" tanya Mbak Rani.
__ADS_1
"Kasihan sekali bos kita itu, masih begitu muda sudah terkena serangan jantung, padahal umur juga belum kepala empat," kata Mbak Rani.
"Lihat saja nanti, Mbak," kata Vara yang nampak malas.
Ia masih merasa kesal atas perlakuan Pak Ryo yang menurut Vara tidak adil. Vara mendapat hukuman masa skors selama dua minggu atas kesalahannya yang dianggap melakukan tindakan berbahaya di lingkungan kerja.
...*****...
Ryo tersenyum simpul menyambut kedatangan beberapa pegawai wanita yang datang menjenguknya. Mata Ryo tertuju pada sosok Vara yang nampak diam di antara para pegawai.
"Rekan-rekan semua, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk menjenguk saya," kata Ryo.
"Cepat sembuh, Pak," kata mereka.
"Anda sendiri saja, Pak?" tanya Luna.
"Memangnya kenapa, Luna, kau bertanya seperti itu?" tanya Mbak Rani.
"Yah, siapa tahu, Pak Ryo mau saya temani, hehe," sahut Luna seraya terkekeh.
Sontak perkataan Luna langsung mendapat huu panjang dari para karyawati.
Ryo mengulas senyumnya.
"Bagaimana pekerjaan kalian, apa ada masalah?" tanya Ryo.
"Aduh, Pak Ryo, Anda lebih baik beristirahat total, tidak usah memikirkan pekerjaan dulu," sahut Mbak Rani.
"Baiklah, Pak, sepertinya kami harus pamit, agar Anda bisa kembali beristirahat," Mbak Rani memberi komando pada teman-temannya.
"Sekali lagi terima kasih untuk rekan-rekan semua," kata Ryo.
"Sama-sama, Pak, kami permisi dulu."
"Oh ya, Bu Vara, bisakah Anda tinggal sebentar? Ada hal yang harus kita bicarakan," kata Ryo mencegah kepergian Vara.
"Baik, Pak," jawab Vara.
...*****...
Vara segera duduk di sofa, lagi-lagi jantungnya bergemuruh. Dalam benaknya pertanyaan-pertanyaan bermunculan menyerbu.
Apa yang mau dibicarakan Pak Ryo, ya?
Apa Pak Ryo mau memecatku?
Apa Pak Ryo mau menuntutku?
"Bu Vara."
Lamunan Vara buyar saat Pak Ryo memanggil namanya.
"Saya ingin meminta maaf secara pribadi pada Anda," kata Pak Ryo sambil mengulas senyumnya.
"Saya minta maaf atas sikap Sofia yang sudah seenaknya menghina Anda."
"Pak Ryo, untuk apa Anda minta maaf padahal bukan anda yang salah," kata Vara.
"Bu Vara, saya justru merasa bersalah karena sudah membiarkan Sofia berbuat semaunya, Anda pantas untuk marah pada saya," kata Pak Ryo menatap lurus ke arah Vara.
Vara menunduk, saat ini ia benar-benar tidak ingin membahas masalah perlakuan Sofia padanya. Mendidih darahnya jika harus kembali mengingat cecaran Sofia yang sudah menghina dina Vara.
"Bu Vara, apa Anda tahu, saya sampai berpikir bahwa kejadian yang menimpa saya ini merupakan cara Tuhan menegur saya yang sudah bersikap tidak adil pada Anda," kata Pak Ryo.
"Maksud Anda, azab seorang atasan yang sudah berbuat zalim terhadap pegawainya?" tanya Vara seraya terkekeh.
Pak Ryo tertawa.
"Apa itu, Bu Vara?" tanya Pak Ryo.
"Judul sinetron di televisi, Pak, biasa bapak saya sering menyaksikannya setiap malam," jawab Vara.
"Wah, seram sekali judulnya," kata Pak Ryo seraya tertawa.
"Ada lagi yang lebih seram, Pak, biasanya judulnya begini, Azab seorang yang suka menghasut, jenazahnya tercebur di comberan, terlempar ke gunungan sampah, tertimpa meteor, dan tidak bisa dikebumikan karena ditolak bumi," beber Vara.
"Haha," Pak Ryo tertawa lagi.
...*****...
Virda baru saja tiba di rumah sakit, rasanya ia lelah harus bolak-balik ke rumah sakit. Namun harus ia lakukan karena Ryo benar-benar sendirian. Ryo tidak mengizinkan keluarga besar ibunya datang mengunjungi ataupun menjaganya selama ia dirawat dengan alasan ia ingin ketenangan.
Virda membuka pintu ruang VIP tempat Ryo dirawat. Matanya langsung tertuju pada sosok wanita yang sedang duduk di sofa sambil berbincang santai dengan Ryo.
Virda tertegun saat ia dan wanita muda itu saling bersitatap.
"Ibu," Ryo menyapa Virda yang nampak terdiam mematung di depan pintu masuk.
__ADS_1