
Vara mengeluarkan pakaian tidur yang waktu itu akhirnya dibelinya saat ke pusat perbelanjaan. Ia membulatkan tekadnya untuk memberanikan diri memakai pakaian tipis nan menggoda itu. Entah apa nanti yang akan terlontar dari mulut Viceroy. Vara ingin pria itu melihatnya sebagai wanita yang menjadi istrinya. Entah wanita seperti apa yang menjadi calon istri Viceroy. Sungguh Vara harus mencuri kesempatan lebih dulu untuk mendapatkan cinta Viceroy. Ia harus berusaha melakukan yang terbaik demi menggoyahkan iman suaminya itu. Malam ini ia harus mendapatkan cinta suaminya, sepenuhnya, dan seutuhnya.
Viceroy baru saja selesai mandi. Ia mengenakan kaos yang begitu pas membungkus tubuh atletisnya, serta bawahan piyama hitam bergaris putih. Ia terpana dan terpesona melihat Vara yang nampak begitu berkilauan di matanya. Kulit Vara yang putih dan mulus, nampak berkilauan dalam balutan pakaian tipis berwarna merah muda lembut. Rambutnya yang hitam dan panjang tergerai lembut. Wajah Vara begitu mungil, hidungnya mancung dan bibirnya yang merona merah begitu menggiurkan. Vara memiliki mata yang besar dan berbinar, bulu matanya lentik dengan alis yang ramping natural. Lehernya yang jenjang tak pernah luput dari buruan bibir Viceroy. Vara hanya memiliki tinggi 158 cm yang membuatnya terlihat mungil saat berdiri di samping Viceroy.
Sungguh tumben melihat Vara memakai pakaian tipis dan begitu menggoda. Biasanya Vara selalu tidur mengenakan piyama beraneka warna tanpa motif. Viceroy meneguk ludahnya melihat betapa menggodanya istrinya malam ini. Benar-benar membangkitkan naluri lelakinya.
"Viceroy, apa yang kau pikirkan tentangku?" tanya Vara.
"Istimewa," jawab Viceroy sambil tersenyum.
"A-apa aku terlihat cantik?" tanya Vara segera berdiri di depan Viceroy, duduk di pangkuan pria itu dan mengalungkan tangannya di leher suaminya itu.
Viceroy tersenyum, matanya benar-benar tak bisa lepas memandangi kecantikan yang dimiliki Vara. Sungguh ia benar-benar menyadari betapa cantiknya istrinya ini.
"Apa kau tahu, bidadari pun pastinya akan cemburu melihatmu seperti ini," jawab Viceroy.
Vara tersenyum malu-malu, wajahnya memerah mendapat gombalan dari Viceroy.
"Vara," kata Viceroy.
"Ada apa, Viceroy?" tanya Vara.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Viceroy.
Vara menatap Viceroy lekat-lekat.
"Apa kau mencintaiku?" Vara balik bertanya.
"Aku sangat mencintaimu," jawab Viceroy tanpa terlihat berpikir.
Vara merasa berdebar-debar.
"Apa kau juga mencintaiku?" tanya Viceroy.
"Aku juga sangat mencintaimu, Viceroy," kata Vara.
Viceroy menatap Vara dengan mata yang berbinar. Hatinya terasa remuk, tak bisa ia bayangkan bagaimana perasaan Vara, jika ia tahu bahwa ibunya menyuruhnya untuk menceraikan Vara.
"Ada apa, Viceroy?" tanya Vara yang menangkap kesedihan dari sorot mata Viceroy.
Viceroy masih diam, saat ini ia sedang memikirkan bagaimana cara menyelamatkan pernikahan mereka.
__ADS_1
"Viceroy, sudah kuputuskan aku tidak peduli apakah kita memperoleh restu atau tidak! Bagiku selama aku bersamamu, aku tidak peduli hal lain! Sungguh persetan dengan restu itu!" kata Vara.
Viceroy tersentak kaget mendengar perkataan Vara.
"Aku ingin menjadi istrimu yang seutuhnya Viceroy," kata Vara.
"Benarkah?" tanya Viceroy.
"Ya, aku tidak akan lari ataupun menghindar, sejak pertama kita bertemu lagi, aku sudah memutuskan untuk hidup bersamamu!" kata Vara.
Vara membelai lembut wajah Viceroy, pria di hadapannya ini sungguh tampan. Rambutnya yang hitam masih terasa basah. Viceroy memiliki rahang tegas, kulitnya yang seputih susu tanpa pori-pori, bulu-bulu halus dan tipis menghiasi rahangnya. Bibirnya tipis dan kemerahan, hidungnya begitu mancung dan tinggi, alisnya tebal hitam dan rapi. Matanya tajam dengan bola mata hitam yang cemerlang.
"Vara, apa kau tahu, aku benar-benar sangat menginginkanmu sekarang," kata Viceroy membawa tangan Vara ke dada kirinya untuk merasakan debar jantungnya yang menggila.
"Jadikan aku istrimu seutuhnya, Viceroy," Vara tersenyum lembut.
Viceroy menyingkap pakaian tipis yang dikenakan Vara. Vara membuka kaos yang melekat pada tubuh Viceroy, dada bidang dengan perut bak roti sobek itu terpampang jelas. Mereka sama-sama terpesona dan kehilangan kata-kata untuk saling memuji.
Viceroy meraih wajah Vara, menyapukan bibirnya mulai dari mata, terus turun hingga ke bibir Vara. Vara memejamkan matanya, menikmati sentuhan penuh kelembutan dari Viceroy yang membuatnya kehilangan kesadaran.
"Vara, apa kau yakin, tidak membutuhkan restu?" tanya Viceroy ke arah Vara yang nampak terkulai lemah usai mendapat pelepasan pertamanya.
Viceroy menunggu persetujuan Vara, jangan sampai ditinggal pas lagi tegangan tinggi hingga membuatnya sakit kepala karena tersiksa.
Sungguh persetan dengan restu, daripada Viceroy diambil orang lain, lebih baik Vara yang mengambilnya. Vara tak sanggup membayangkan saat ia harus membagi Viceroy dengan wanita lain. Seandainya Viceroy adalah orang yang kejam dan tak berperasaan, Vara mungkin benar-benar tak akan jatuh cinta padanya seperti ini.
"Vara, kita bisa berhenti jika kau merasa kurang nyaman," kata Viceroy bersiap melakukan tendangan bebas.
"Aku percaya padamu, Viceroy," kata Vara.
Viceroy tersenyum, ia segera menggenggam kedua tangan Vara di samping kepala Vara.
"Vara, apa begitu sakit?" tanya Viceroy yang memandangi Vara yang nampak memejamkan matanya.
Viceroy menyeka air mata Vara dengan bibirnya.
"Apa kita berhenti saja?" tanya Viceroy yang mulai mencemaskan Vara.
Vara menggeleng berusaha menguatkan dirinya.
"Tolong selesaikan sampai tuntas," jawab Vara.
__ADS_1
"Apa kau yakin?" tanya Viceroy.
Vara mengangguk, ia benar-benar percaya sepenuhnya pada pria yang sudah menjadi suaminya. Pria yang dipilihnya sendiri untuk menikah dengannya. Pria yang membuatnya jatuh cinta dan juga mencintainya seiring berjalannya waktu.
"Vara, aku mencintaimu, sungguh aku hanya mencintaimu," kata Viceroy menatap Vara.
"Aku juga sangat mencintaimu, Viceroy," balas Vara.
Vara menatap Viceroy yang terlihat begitu tampan, kulitnya yang begitu putih terlihat berkilauan lantaran keringat yang mengalir keluar dari setiap pori-pori yang ada di permukaan kulitnya. Setiap detik, sensasi penuh kebahagiaan itu semakin terasa menyenangkan.
"Vara, terima kasih, aku benar-benar sangat mencintaimu," Viceroy mengecup puncak kepala Vara begitu meraih apa yang paling diinginkannya saat ini.
Vara tersenyum, membalasnya dengan tatapan mata yang berbinar-binar bahagia.
Jika hari itu Vara tak datang memenuhi undangan yang dikirim oleh Viceroy di grup pesan SMA-nya, mungkin Vara tak akan pernah bertemu dengan Viceroy. Seandainya Vara tidak membuat kesepakatan untuk menikah dengan pria ini, tentu saat ini Vara tidak akan berada dalam pelukan Viceroy. Jika dan hanya jika, mereka tidak pernah menghabiskan waktu bersama untuk saling mengenal dan akhirnya jatuh cinta, mungkin saat ini Vara tidak akan mencicipi kenikmatan surgawi yang dipersembahkan Viceroy untuknya.
...*****...
Vara membuka matanya, menatap wajah tampan Viceroy yang masih terlelap di hadapannya. Vara sungguh mengagumi wajah Viceroy yang terlihat begitu indah dan sempurna dari segala sisi.
Lihat, lubang hidungnya pun terlihat tampan, batin Vara.
Vara sungguh iri, bagaimana Viceroy bisa terlihat seperti Putri Salju yang tertidur lantaran tersedak apel beracun. Rambutnya yang sehitam malam terlihat lembut dan berkilau tanpa gel rambut yang biasa ia gunakan untuk menata rambutnya. Kulitnya yang seputih susu, dan bibirnya merah merona, terlihat begitu ranum. Belum lagi tubuh yang begitu atletis dan terjaga. Dada bidang, dan perut yang berpetak-petak bak rumah kontrakan. Vara sungguh merasa insecure memiliki suami setampan Viceroy. Sungguh gila rasanya jika Vara harus membagi keindahan Viceroy dengan wanita lain.
Viceroy membuka matanya, menatap Vara yang menatapnya tajam. Viceroy mengulas senyumnya.
"Ada apa?" tanya Viceroy.
"Viceroy, aku sungguh menyesal," kata Vara.
"Apa yang kau sesali?" tanya Viceroy.
"Kenapa tidak dari kemarin-kemarin kita melakukannya, ya?!" sahut Vara. "Seandainya saja aku tahu dari dulu," lanjut Vara.
"Kenapa? Masih mau lagi?" tanya Viceroy.
"Mau! Kan enak," jawab Vara antusias.
Viceroy tertawa lalu menarik Vara kembali dalam pelukannya, padahal semalam mereka sudah berkali-kali mengulang percintaan panas mereka. Mereka bahkan baru berhenti ketika menjelang subuh.
"Vara, apa masih terasa sakit?" tanya Viceroy saat kembali membawa Vara di bawah kungkungannya.
__ADS_1
"Hmm, sakit-sakit enak," jawab Vara sambil tersenyum malu-malu.
Viceroy tertawa, mereka kembali mengulang perlombaan meraih kenikmatan mereka bersama-sama.