
Viceroy memarkirkan mobilnya di pelataran sebuah hotel. Akibat hujan deras, beberapa kawasan terendam banjir. Viceroy tidak mungkin menerobos banjir yang bisa menghanyutkan mobilnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk menginap di hotel terdekat.
Usai mengambil kunci di resepsionis, mereka segera menuju ke lift. Vara mencuri pandang ke arah Viceroy yang nampaknya memiliki pikiran yang sama dengannya. Viceroy segera mencium Vara bersamaan dengan pintu lift yang tertutup.
Viceroy tersenyum saat melepas ciuman mereka, lantaran lift yang mengantar mereka sudah terhenti di lantai tujuan.
"Mau satu kali putaran lagi?" tanya Viceroy menggoda Vara.
"Viceroy, ada kamera pengawas," sahut Vara.
"Masa bodoh, tidak kenal juga," Viceroy kembali menutup pintu lift dan mereka kembali berciuman.
Sungguh mereka berdua benar-benar menjadi pasangan yang begitu dimabuk asmara. Mereka masih tetap berciuman begitu keluar dari lift, menyusuri koridor yang sepi. Viceroy benar-benar sangat senang meluapkan rasa cintanya yang menggebu-gebu. Vara benar-benar menyukai saat mereka saling mencecap rasa manis yang tak tertahankan.
Mereka bahkan tidak peduli saat ada tamu yang kebetulan memergoki mereka sedang berciuman panas di koridor menuju ke kamar hotel tempat mereka menginap.
Terserah orang mau berpikir apa tentang mereka. Mereka adalah pasangan halal lahir dan batin yang saat ini sedang begitu antusias dalam meluapkan rasa cinta mereka. Vara bahkan tidak pernah berkencan dengan pria mana pun dalam hidupnya. Begitu juga Viceroy yang selama hidupnya, hanya Vara yang pernah disentuhnya. Itu pun karena mereka memang terikat dalam ikatan pernikahan. Mereka berdua saling mencintai dan menginginkan satu sama lain.
...*****...
Layanan room service segera datang mengantar makan malam untuk mereka. Vara yang baru selesai mandi benar-benar takjub melihat beraneka hidangan tersaji di meja yang berada di depan sofa.
"Viceroy, banyak sekali makanan yang kau pesan," Vara terperangah.
"Bukankah tadi kau bilang lapar?" tanya Viceroy.
"Iya, tapi ini banyak sekali," sahut Vara. "Lagi pula makanan di hotel sangat mahal! Tagihannya bisa membeli bahan makanan di pasar untuk satu bulan!" protes Vara.
Viceroy segera menarik Vara ke pangkuannya.
"Vara, sudah kau tidak perlu memikirkan harganya, makanlah yang banyak, kita harus menyiapkan tenaga untuk lembur kan," Viceroy tersenyum jahil.
Vara tertawa sambil mencubit cuping hidung suaminya itu dengan gemas.
"Vara, suapi aku ya," kata Viceroy.
"Iya," Vara menyodorkan sendok ke mulut Viceroy.
"Tidak mau, aku maunya dari bibirmu," Viceroy menggeleng.
"Haha, Viceroy, kenapa kau begitu mesum!" Vara tertawa.
__ADS_1
"Tidak masalah, kan? Aku mesum bersama istriku sendiri, bukan istri orang lain," Viceroy terkekeh.
"Hmm, iya ya, kau adalah suamiku!" Vara tersipu malu.
Usai memakan beberapa hidangan yang tersedia di meja, seperti biasa Viceroy selalu menagih hidangan penutupnya. Viceroy segera membuka ikatan jubah mandi yang membungkus tubuh Vara.
"Viceroy! Makanannya masih banyak, sungguh mubazir jika tidak dihabiskan!" protes Vara.
"Ya, nanti bisa dimakan lagi," Viceroy terkekeh.
"Tapi nanti tidak enak lagi!" kata Vara.
"Vara, makanan apapun akan terasa sangat enak jika dimakan saat lapar! Apa kau tahu, dulu aku bahkan pernah tidak makan selama tiga hari! Selama tiga hari, aku bahkan hanya meminum air putih," Viceroy terkenang akan kenangan pahitnya itu.
"Kapan itu?" tanya Vara.
"Aku rasa saat itu, aku masih SMA," jawab Viceroy.
"Kenapa dulu kau tidak bilang? Kau bisa berkunjung ke rumahku! Akan kujamu kau seperti seorang raja," kata Vara.
"Vara, kalau dulu aku ke rumahmu hanya untuk minta makan, kau pasti akan mengira aku mengemis," sahut Viceroy.
"Belum lagi jika aku mencoba resep masakan baru! Benar-benar banyak sekali loh, yang kumasak," Vara tertawa.
"Sepertinya jika dulu aku numpang makan di rumahmu terus, aku benar-benar bisa gemuk ya," kata Viceroy seraya tertawa.
"Tentu saja!" sahut Vara.
"Vara, bagiku tidak masalah jika dulu aku tidak pernah memakan masakanmu, tapi saat ini, dan seterusnya kau bisa terus memasak untukku," kata Viceroy tersenyum lembut.
"Iya, yang penting dimakan," Vara mencubit cuping hidung Viceroy dengan gemas.
Viceroy tertawa dan langsung memeluk erat Vara dengan gemas. Vara benar-benar sungguh bahagia menikmati kebersamaannya dengan Viceroy. Ia benar-benar tidak rela berbagi keindahan suaminya ini pada wanita lain.
Viceroy benar-benar terlalu bagus untuk dibagi. Vara tidak bisa membayangkan ada wanita lain dalam pelukan Viceroy. Mencium Viceroy seperti Vara mencium suaminya ini. Benar-benar tidak bisa dibayangkannya saat Viceroy harus bercinta dengan wanita lain seperti panasnya permainan cinta yang mereka lakukan saat ini.
Vara benar-benar tidak bersedia jika Viceroy memadunya. Meski saat itu Vara mengatakan bahwa ia siap jika Viceroy memadunya, namun itu hanya sebatas mulutnya yang bicara. Terlebih saat ia sudah merasakan kenikmatan surgawi yang diberikan oleh Viceroy, semakin enggan rasanya Vara untuk merestui Viceroy menikahi wanita lain.
...*****...
Vara segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Bermandikan keringat sungguh membuatnya kurang nyaman, terlebih ia sudah merasa lelah dan ingin cepat-cepat pergi tidur.
__ADS_1
Viceroy kembali menghampiri Vara dan tersenyum penuh cinta. Mereka kembali saling menatap penuh cinta di hadapan cermin yang memantulkan bayangan mereka.
"Viceroy, kau benar-benar tampan," puji Vara.
"Tentu saja, aku kan suamimu!" sahut Viceroy penuh percaya diri.
"Terus, aku tidak cantik begitu?" tanya Vara.
"Vara, kau bahkan lebih cantik dari bidadari," jawab Viceroy sambil tersenyum sumringah.
"Dasar kau ini, terus saja menggombalku dan membandingkanku dengan bidadari!" cibir Vara.
"Kenapa? Kau cemburu dengan bidadari?" tanya Viceroy.
"Sepertinya standar wanita cantik itu menurutmu harus yang seperti bidadari," sahut Vara lagi. "Seperti kau sudah pernah melihat bidadari saja," cibir Vara.
"Haha, terus kau mau dibandingkan dengan apa?" tanya Viceroy.
"Aku tidak mau dibandingkan dengan apapun!" jawab Vara.
Viceroy tertawa, ia segera menggendong Vara keluar dari kamar mandi.
"Vara, apa ada gaya khusus yang kau inginkan?" tanya Viceroy sambil merebahkan kembali Vara di atas kasur.
"Viceroy, jangan melakukan gaya aneh yang berlebihan," Vara mendelik gusar.
Viceroy tersenyum, ia benar-benar ingin melakukan semua hal yang menjadi fantasinya. Menikmati keindahan cinta dengan Vara benar-benar sudah menjadi hal yang membuatnya kecanduan.
"Vara, kau bebas melakukan apapun yang kau inginkan dengan tubuhku! Aku berikan semuanya hanya untukmu," sahut Viceroy mantap.
"Viceroy, aku benar-benar hanya menginginkanmu sepenuhnya dan seutuhnya," kata Vara.
"Aku sungguh tidak rela membagimu dengan wanita lain! Aku tidak mau dimadu," lanjut Vara dengan air mata yang mulai menetes, mengalir di pipinya.
"Vara, berapa kali harus kukatakan, aku tidak akan menikah dengan wanita pilihan ibuku, aku hanya menginginkanmu! Kaulah satu-satunya istriku, wanita yang kupilih sendiri untuk menjadi pendamping hidupku," Viceroy mengusap air mata Vara jemarinya.
"Kumohon, percayalah padaku. Hatiku, pikiran, dan tubuhku hanya membutuhkanmu!" lanjut Viceroy.
Vara mengangguk lalu menerima kembali ciuman Viceroy.
__ADS_1