Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Calon Suami


__ADS_3

Viceroy mematut dirinya di depan cermin, menatap pantulan dirinya. Ia hanya memakai kemeja hitam yang begitu pas membalut tubuhnya yang atletis, ia juga memakai celana berwarna putih yang membuat kakinya jadi terlihat semakin panjang. Tak lupa ia memulas lip balm tanpa warna ke bibirnya yang mudah sekali kering dan terkelupas sehingga begitu menyakitkan. Itulah alasan mengapa ia selalu membawa lip balmnya. 


Ia berpapasan di pelataran rumah dengan kakaknya yang rupanya pulang kerja lebih awal, karena ini masih pukul tujuh malam.


"Kau mau kemana?" tanya kakaknya.


"Kencan," jawab Viceroy.


"Haha, Roy, kau bisa bercanda juga rupanya," sahut kakaknya sambil menepuk lengan Viceroy.


"Kau mau ikut?" tanya Viceroy.


Kakaknya hanya menggeleng sambil tertawa, pria itu segera masuk ke dalam rumah.


Vara sudah menunggu di rumahnya, ia menunggu kedatangan calon suami dadakannya. Bapak dan ibu nampak mengabaikan perkataan Vara tentang calon suami yang akan datang menemui bapak dan ibu.


Bapak masih menonton televisi bersama ibu, mereka menonton sinetron yang akhir-akhir ini begitu populer dikalangan ibu-ibu rumah tangga. Berkisah tentang istri-istri yang begitu tersakiti selama mereka berumah tangga. Bagi Vara yang ikut menyaksikan sinetron tersebut, membuat Vara paranoid menghadapi pernikahan. Kalau bukan disakiti suaminya yang jahat, mertua yang kejam, ipar yang keji, atau tetangga yang berbisa.


Terdengar suara sepeda motor yang terhenti di depan rumah Vara. Vara segera membuka pintu dan menyambut kehadiran pria jangkung yang turun dari sepeda motor matic-nya.


"Siapa itu Vara?" tanya ibu.


"Calon suami Vara, Bu," jawab Vara.


Bapak nampak terkejut, pria paruh baya itu segera berlari ke kamarnya untuk mengganti sarung yang ia kenakan.


Viceroy menatap ke sekeliling rumah yang nampak kosong dengan barang-barang yang sudah terbungkus rapi di dalam kardus-kardus.


Viceroy menjabat tangan ibu Vara.


"Saya Viceroy, Bu," kata Viceroy memperkenalkan dirinya.


"Silakan duduk, Mas," kata ibu Vara mempersilakan Viceroy duduk di meja makan.


"Mau pindah ya, Bu?" tanya Viceroy ramah.

__ADS_1


"Iya, kami mau pulang kampung," jawab ibu nampak kikuk.


Ibu terpana menatap Viceroy yang memiliki ketampanan lebih daripada aktor-aktor sinetron di televisi.


Vara menyodorkan secangkir teh untuk Viceroy. Bapak segera duduk bergabung di meja makan usai berganti pakaian. Bapak memakai kemeja batik terbaik yang ia miliki, ia tidak ingin terlihat kalah keren dari calon menantunya yang terlihat seperti seorang model. Bapak segera memasang wajah segalak mungkin. Pria paruh baya itu ingin mengetes mental calon menantunya.


"Siapa namamu?!" tanya Bapak.


"Viceroy, Pak," jawab Viceroy.


"Mau apa kau ke sini?" tanya bapak.


"Mau melamar anak Bapak," jawab Viceroy.


"Mana orang tuamu? Kenapa kau datang sendiri?" tanya bapak sambil melotot.


"Bapak saya sudah meninggal saat saya berusia sepuluh tahun, ibu saya ada di kampungnya, saya hanya tinggal bersama kakak yang begitu sibuk bekerja," jawab Viceroy.


Vara jadi teringat, saat pembagian rapor, Viceroy selalu mengambil rapornya sendiri. Saat ada pertemuan orang tua murid dengan wali kelas, orang tua Viceroy selalu tidak hadir.


"Viceroy satu SMA dengan Vara, Pak," jawab Vara.


"Saya hanya lulusan SMA, Pak," jawab Viceroy. "Begitu lulus sekolah, saya langsung bekerja, Pak," lanjut Viceroy.


"Apa pekerjaanmu?" tanya bapak lagi.


"Pedagang hasil laut," jawab Viceroy.


Vara merasa bapak sedang melakukan sesi wawancara untuk mengorek sebanyak mungkin informasi tentang Viceroy. Vara bahkan tidak peduli dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan Viceroy.


"Apa kau serius menikahi Vara?" tanya bapak.


"Kalau saya tidak serius, saya tidak akan datang dan menjawab semua pertanyaan Bapak," jawab Viceroy diplomatis. 


"Apalagi yang ingin Bapak ketahui? Saya siap menjawabnya sampai Bapak puas," tantang Viceroy.

__ADS_1


"Saya bukannya mau mengorek kehidupan pribadimu, tapi saya harus tahu siapa yang akan menikah dengan anak tunggal yang sudah saya besarkan selama lebih dari tiga puluh tahun!" kata bapak.


"Saya tidak bisa memberikan anak tunggal saya kepada pria yang hanya akan mempermainkannya saja! Saya tahu saya bukan orang tua yang sempurna untuk Vara, tapi saya selalu melakukan hal yang terbaik untuk Vara! Saat Vara lahir saya berjanji untuk menjaga Vara selama saya hidup!" mata bapak nampak berkaca-kaca.


"Saya bahkan mengaturkan perjodohan untuk Vara agar Vara bahagia bersama pria pilihan saya, tapi rupanya Vara lebih memilihmu. Baiklah saya terima asal Vara bahagia," lanjut bapak.


"Saya memang tidak bisa menjanjikan apa-apa untuk Varadisa, tapi saya berani jamin Varadisa akan baik-baik saja, Pak," sahut Viceroy.


Bapak tertawa sambil menepuk bahu Viceroy.


"Wah, kau atletis sekali, Viceroy! Bapak jadi teringat saat masih muda dulu," kata bapak seraya tertawa.


Viceroy tersenyum sambil menyeruput tehnya. Tenggorokannya benar-benar terasa kering. Ia tak menyangka akan setegang ini.


Ibu menatap ke arah Vara yang terlihat lega karena Viceroy begitu tenang menghadapi bapak. Bagi kebanyakan orang, bapak tentunya sangat galak, wajahnya yang sangar dengan kumis melengkung tajam, serta matanya yang melotot lebar, biasanya sangat menakutkan. 


Bapak memang begitu kolot dan keras, Vara bahkan tidak diizinkan berkencan dengan pria manapun, karena bapak sudah menyiapkan Riko untuk Vara. 


"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya ibu.


"Lusa, Bu," jawab Viceroy.


Bapak dan ibu berpandangan.


"Bagaimana dengan pestanya?" tanya ibu.


"Mohon maaf, Bu, untuk pesta, saya belum bisa mempersiapkannya, selain karena saya masih begitu sibuk dengan pekerjaan saya yang tidak bisa ditinggal, saya tentu harus bekerja lebih keras lagi," jawab Viceroy.


"Viceroy, kau tak perlu sungkan, kami bisa membiayai pesta pernikahan kalian," kata bapak. "Bapak bahkan sudah menjual rumah ini," lanjut Bapak.


"Bapak jangan seperti itu, pernikahan ini semuanya adalah tanggung jawab saya!" kata Viceroy.


"Pak, Vara tidak keberatan menikah tanpa ada pesta! Lagipula bukankah Viceroy sudah mengatakan bahwa ia belum bisa meninggalkan pekerjaannya?" Vara menyahut.


Vara tentu saja mengerti alasan mengapa mereka tidak perlu mengadakan pesta pernikahan. Untuk apa membuang-buang uang untuk mengadakan pesta pernikahan konyol.

__ADS_1


 


__ADS_2