
Vara baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati Viceroy yang sedang berkutat di meja sambil menuliskan sesuatu di kertas memo. Terlihat begitu banyak potongan kertas-kertas yang ia susun menjadi satu, Vara mengumpat dalam hati, mengapa Viceroy bisa setampan itu saat sedang dalam mode serius?
"Vara!" kata Viceroy langsung menyodorkan kertas memo dan setumpuk potongan kertas yang sudah disusunnya secara seksama.
"Apa ini?" tanya Vara.
"Semua tagihan mini bar yang kau konsumsi selama menginap di hotel," jawab Viceroy.
"Benarkah? Aku kira camilan dan minuman itu gratis," sahut Vara.
Viceroy mengerutkan keningnya.
"Kau tidak pernah menginap di hotel sebelumnya?" tanya Viceroy.
"Biasanya yang bayar hotel itu ibuku, aku tidak tahu kalau camilan itu harus dibayar!" sahut Vara.
Vara tersenyum kecut, melihat nota-nota saat Vara memakan camilan berupa keripik kentang, kacang, cokelat, hingga beraneka minuman dingin. Vara jadi ingat saat ia tergoda untuk mencicipi bir yang tersedia di lemari pendingin.
Viceroy cukup terkejut saat meninggalkan hotel, ia harus membayar tagihan mini bar. Padahal ia tak pernah sedikit pun menyentuh mini bar yang harganya berkali-kali lipat dari yang dijual di toko-toko terdekat.
Vara lagi-lagi tersenyum kecut, pria itu bahkan juga menagihkan biaya ekspedisi untuk mengangkut barang-barang Vara dari rumah orang tuanya.
"Ternyata jumlahnya banyak juga, ya," komentar Vara.
"Kau mau pembayaran tunai atau transfer? Kalau transfer, kau punya rekening bank apa? Usahakan sesama bank, kalau antar bank akan dikenai biaya admin," kata Viceroy.
__ADS_1
"Kenapa baru sekarang kau tagihkan, setelah menumpuk sebanyak ini?!" gerutu Vara.
"Aku baru sempat membuat rekapitulasinya, lagipula bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku, bahwa kau tidak mau berhutang padaku, dan kau tidak mau dianggap tidak punya uang," celetuk Viceroy.
Vara mendelik gusar, ia memang telah mendepositokan tabungannya dan bertahan hidup hanya dari gajinya, namun harus melunasi pinjaman mendadak ini tentu saja di luar perkiraannya.
Vara menyesal karena tadi memuji Viceroy dalam hati. Untung saja ia tak mengucapkannya, bisa-bisa pria ini menagihkan juga pujian yang membuatnya besar kepala.
Vara mengecek rekening tabungannya, ia bisa saja langsung melunasi tagihan dari Viceroy, tapi gajian masih seminggu lagi.
"Aku cicil lima ratus ribu dulu, bisa?" tanya Vara.
"Tidak bisa," jawab Viceroy dengan tegas.
Vara mengerucutkan bibirnya sambil membuka satu per satu nota tagihan dari hotel yang berbeda. Awalnya Viceroy mengabaikan semua nota tagihan mini bar yang telah dibayarnya, namun melihat Vara yang bersikeras tidak mau berhutang padanya, membuat Viceroy akhirnya mau tidak mau menagih pada Vara.
Vara juga tidak mau menceritakan hal yang terjadi antara Vara dan ibu Viceroy, membuat Viceroy dobel kesal.
"Baiklah, aku akan membayar lunas hutangku ini, minggu depan aku gajian!" cibir Vara.
"Jangan lupa bunga berjalan, sepuluh persen per hari," celetuk Viceroy.
"Kau ini merangkap jadi rentenir juga, ya?!" gerutu Vara.
Vara menghempaskan tubuhnya ke kasur, ia bersandar di tumpukan bantal, sambil memijat sebelah kakinya yang terasa berat. Kesal dan menyesal karena sudah mengajak Viceroy untuk pergi pijat refleksi. Vara memang suka pergi ke tempat pijat refleksi untuk merileksasi diri. Apalagi tempat pijat refleksi favorit Vara itu terkenal profesional dan mewah, tak heran harga yang ditawarkan di atas harga pasaran. Mengingat tempatnya yang bagus dan dikelola secara profesional.
__ADS_1
"Memangnya pijat refleksi seerotis itu, ya?!" celetuk Viceroy yang tak tahan untuk mengungkapkan unek-uneknya.
"Viceroy, bagaimana kau bisa punya pikiran mesum seperti itu?" protes Vara.
Viceroy naik ke atas kasur, lalu menarik kaki Vara ke pangkuannya.
"Tadi terapisnya memijatmu seperti ini!" Viceroy mereka ulang adegan yang tadi disaksikannya.
"Viceroy, hentikan, tidak seperti itu!" protes Vara yang mencoba menarik kakinya.
"Tidak, aku melihat di depan mataku sendiri, kau bahkan memejamkan mata, menggigit bibir, dan ...," Viceroy menggantungkan kalimatnya, menatap ke arah Vara yang terlihat memasang ekspresi yang menurut Viceroy menahan nikmat karena Viceroy memijat betisnya.
"Engh, sakit, Viceroy," Vara melenguh.
Viceroy terpana, ia bahkan berdebar-debar. Sungguh gila karena ia menganggap Vara begitu menggetarkan sisi buasnya yang tak pernah terjamah.
"Viceroy, tolong lepaskan," kata Vara.
Viceroy melepas kaos yang membungkus tubuh atletisnya, Vara terperangah.
Mengapa pria ini malah melepas kaosnya?
Viceroy mendekat ke arah Vara, tangannya langsung menahan tangan Vara di atas kepala wanita itu. Mereka saling menatap, Viceroy meneguk ludahnya, sebelum akhirnya mendaratkan dengan sempurna bibirnya ke bibir Vara. Viceroy memejamkan matanya, menikmati desahan demi desahan yang lolos di sela-sela pertikaian salah satu otot terkuat pada tubuh manusia. Tangannya mulai menyentuh yang bisa disentuh, meraba yang bisa diraba, membuka yang bisa dibuka. Perasaan yang menyerangnya ini tak terlukiskan, sensasi yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya. Viceroy merasa perlu menuntut pertanggung jawaban Vara yang sudah membangunkan sesuatu yang harusnya tak perlu dibangunkan.
"Viceroy, jangan bercanda! Lepaskan kakiku! Kenapa kau jadi melepas kaosmu!".
__ADS_1
Viceroy tersentak kaget, ia nampak salah tingkah begitu menyadari bahwa ia sudah bertelanjang dada. Dalam sejenak, rupanya alam bawah sadarnya mengajaknya untuk berhalusinasi. Ia segera melepaskan kaki Vara, wajahnya memerah menahan malu. Ia beranjak dari kasur, lalu memasuki kamar mandi.