Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Bolos Kerja


__ADS_3

Vara merasa enggan beranjak dari kasur, tidur jauh malam membuatnya bangun kesiangan. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi saat Vara mengecek jam di ponsel. Vara baru saja akan turun dari kasur, namun Viceroy langsung menahannya.


"Bolos kerja saja," kata Viceroy yang kembali memeluk Vara.


Vara terkekeh, "Aku bahkan tidak pernah bolos saat masih sekolah dulu."


"Ya, aku tahu, kau anak yang rajin," sahut Viceroy. 


"Apa kau tahu, selama tujuh tahun bekerja, daftar kehadiranku selalu yang terbaik di antara semua karyawan?" kata Vara membanggakan dirinya.


"Makanya, bolos saja, karyawan rajin," Viceroy terkekeh. "Sekali-sekali kau butuh istirahat, jangan bekerja terus."


...*****...


Pusat perbelanjaan yang dikunjungi Vara dan Viceroy cukup ramai dikunjungi pengunjung karena sudah mendekati jam makan siang. Mereka segera memasuki restoran Jepang untuk makan siang bersama.


"Tenang saja Viceroy, aku yang traktir, hari ini aku gajian! Makan saja yang kau mau, aku lagi kaya!" Vara terkekeh.


"Memangnya berapa gajimu, sampai kau sesumbar begini?" tanya Viceroy.


"Gajiku itu lima koma, lima hari langsung koma, haha...," Vara tertawa.


Viceroy tersenyum melihat Vara yang terlihat selalu ceria. Pelayan segera mencatat pesanan mereka. Viceroy mengaktifkan kembali ponselnya selagi menunggu pesanan mereka datang. Dua ponselnya bergetar hebat seperti akan meledak, saking banyaknya pemberitahuan.


Vara baru menyadari, bahwa untuk pria yang nampak seperti 'pengangguran banyak acara' macam Viceroy, memiliki tiga ponsel cerdas tentu nampak berlebihan. Tapi di zaman sekarang, tidak mengherankan setiap orang bisa punya lebih dari satu ponsel pintar.


Viceroy nampak sibuk berkutat di depan layar ponselnya, jemarinya nampak mengetik dengan lincah di atas layar datar berukuran lebar. Ia segera meletakkan ponselnya di atas meja begitu pesanan makanan mereka datang.


"Banyak sekali yang kau pesan, Vara," kata Viceroy.


"Viceroy, bukankah aku pernah mengatakan padamu, 'menghadapi kenyataan itu berat', jadi makanlah yang banyak!" sahut Vara mulai mencicipi semua makanan yang terhidang di meja.


Viceroy tersenyum saat melihat Vara yang nampak sibuk mengunyah satu persatu aneka sushi yang dipesannya. Viceroy sungguh senang melihat Vara yang nampak begitu antusias setiap kali mencoba sushi yang berbeda. Ekspresinya mudah ditebak, jika makanan itu kurang disukai Vara, Vara akan berhenti memakannya. Lalu, ia beralih ke sushi yang lain. Begitu dirasanya enak, Vara kembali menambah menu yang sama hingga tiga kali.


"Viceroy, yang ini enak sekali, kau harus memakannya juga," kata Vara.

__ADS_1


"Kau sepertinya cocok menjadi pembawa acara kuliner," kata Viceroy. "Nafsu makanmu begitu besar, tapi kenapa kau tetap saja kurus, ya?" Viceroy tertawa.


"Aku rasa ini anugerah, di luar sana begitu banyak wanita yang diet mati-matian, bahkan mengeluh hanya minum air putih saja bisa gemuk," sahut Vara. 


Viceroy tertawa lagi, melihat Vara begitu menikmati makanannya membuat selera makan Viceroy tergugah juga. 


Usai makan, Vara juga mengajak Viceroy untuk menemaninya ke toko pakaian, Vara nampak melihat-lihat pakaian. Viceroy mengekori Vara, kemana pun wanita itu pergi. Vara mengambil beberapa potong pakaian,  memeriksa detail, lalu membayarnya ke kasir. Viceroy bertanya-tanya, biasanya wanita selalu berkeliling ke sana kemari, membandingkan semua pakaian sebelum memutuskan mana yang harus dibeli. 


Viceroy pernah satu kali menemani Regina memilih gaun. Regina sibuk sekali, mencoba berpuluh-puluh gaun, seolah Regina adalah pesulap yang sedang beratraksi di atas pentas, memakai gaun secepat kilat, dan kebingungan mana yang harus dipilihnya.


"Roy, menurutmu yang bagus, warna merah magenta atau fuschia yang ini?" tanya Regina menunjukkan dua gaun di tangannya.


Dua gaun yang susah payah diseleksinya, setelah melalui proses seleksi yang begitu selektif. Viceroy mengerutkan alis, dua gaun yang warnanya serupa dan modelnya juga nampak sama.


"Yang pink itu bagus," tunjuk Viceroy.


"Ini warna magenta, Roy!" Regina memutar bola matanya.


"Menurutmu yang lebih bagus yang mana?" desak Regina.


"Yang itu," tunjuk Viceroy pada gaun yang menurut Regina berwarna fuschia.


"Menurutku warna magenta ini lebih bagus Roy," kata Regina.


"Ya, itu juga bagus," sahut Viceroy.


"Tapi model yang ini lebih elegan," kata Regina.


"Semuanya bagus, kau cocok memakai semua gaun itu," kata Viceroy lagi.


"Oh Roy, pendapatmu sama sekali tidak berguna!" celetuk Regina.


Akhirnya Regina tidak jadi membeli gaun tersebut. Ia memilih pergi ke desainer untuk mendesain gaun yang ia inginkan.


Sementara Viceroy harus menahan rasa kesal karena Regina sungguh membuang-buang waktunya. Sejak saat itu Viceroy kapok jika Regina memintanya untuk menemaninya mencari apapun. Regina sungguh pribadi yang amat sangat rumit. Benar-benar berbanding terbalik dengan Vara.

__ADS_1


Vara terlihat memasuki toko parfum, Viceroy masih mengekorinya. 


"Viceroy, kau suka aroma ini?" tanya Vara menyodorkan kertas putih yang disemprot wewangian oleh pramuniaga di toko parfum tersebut.


"Iya, lumayan," jawab Viceroy.


"Kakakmu, laki-laki atau perempuan?" tanya Vara.


"Laki-laki," jawab Viceroy.


"Berarti pas, lihat, ada promo, beli dua parfum dapat empat!" kata Vara.


"Untuk apa beli banyak parfum?" tanya Viceroy keheranan.


"Dua parfum wanita untukku dan ibumu, satu untukmu, dan satu lagi untuk kakakmu, daripada beli satu tidak dapat potongan harga, beli banyak dapat potongan lumayan," sahut Vara antusias membawa empat botol parfum ke meja kasir.


Vara tersenyum, lumayan, dapat potongan harga sampai dua juta untuk membeli empat buah parfum.


"Aku tidak tahu harus memberikan hadiah apa untuk ibu dan kakakmu," kata Vara.


"Jadi, kau mau menyogok ibu dan kakakku?" Viceroy terkekeh.


"Ibumu begitu wangi, beliau pasti suka wewangian," sahut Vara.


Viceroy tersenyum, ia tak menyangka Vara begitu perhatian. 


"Ini, hadiah untukmu, terima kasih sudah menemaniku berbelanja, Viceroy," kata Vara sambil menyodorkan tas kertas berisi parfum untuk Viceroy.


"Terima kasih," jawab Viceroy.


Mereka bergegas meninggalkan toko parfum menuju ke parkiran yang berada di lantai basement.


"Vara, tunggu di sini saja, aku ambil sepeda motorku di sana," kata Viceroy meninggalkan Vara di dekat pintu masuk yang ada di basement.


"Loh, Vara!" terdengar seseorang memanggil Vara.

__ADS_1


__ADS_2