Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Memperebutkan Viceroy


__ADS_3

Ponsel pribadi Viceroy berdering, padahal ia masih mengadakan rapat bersama tim pengembangan bisnisnya. Mengurus semua kerajaan bisnisnya sendirian tentulah membuat Viceroy harus pontang-panting sendiri. Terlebih ia bukan tipe orang yang mudah percaya pada orang lain. Beruntung ia memiliki banyak karyawan yang begitu kompeten di bidangnya.


"Sebentar, saya terima telepon dulu," Viceroy meminta izin pada timnya.


Ia segera keluar dari ruang rapat dan menjawab telepon Ryo.


"Ada apa Ryo?" tanya Viceroy.


"Lima belas menit aku akan sampai di kantormu! Segera bersiap!" Ryo mematikan teleponnya.


"Ck, apalagi sih," Viceroy mendelik gusar.


Ia segera kembali ke ruang rapat.


"Semuanya, rapat akan kita lanjutkan besok, terima kasih untuk laporannya, tolong seperti biasa kirimkan hasil notulen ke e-mail saya, akan saya pelajari semua masalah yang ada," Viceroy menutup pertemuannya kali ini.


Ia segera membawa buku agendanya dan keluar dari ruang rapat untuk kembali ke ruang kerja. Ia duduk termenung menatap banyaknya pekerjaan yang harus ia kerjakan. Mulai dari tumpukan dokumen internal hingga dokumen dari pihak eksternal perusahaan.


Andai saja Vara bisa membantunya pastilah ia akan merasa bebannya bisa berkurang sedikit.


Viceroy menghela nafas berat setelah menerima telepon dari kakaknya. Kakaknya sudah datang dan menjemputnya di luar kantor. Padahal Viceroy sudah meluangkan waktunya untuk bekerja lebih lama dari biasanya lantaran begitu banyak yang harus dilakukan. Lagipula Vara juga mengatakan bahwa ia lembur. Entah apa yang dikerjakan oleh Vara, sehingga wanita itu begitu sibuk. Viceroy memang tidak pernah bertanya apa pekerjaan Vara, karena Vara nampak begitu menikmati pekerjaannya itu.


Belum lagi ditambah hal yang begitu mencengangkan Viceroy saat ibunya siang tadi menelepon. Ibu menyampaikan perihal Sofia yang mengadu pada Ibunya bahwa istri Viceroy datang menemui Sofia.


Padahal jelas-jelas Viceroy sedang bersama istrinya, menghabiskan waktu makan siang berdua sekaligus memanfaatkan waktu yang ada untuk bermesraan. Masa iya, siang tadi Viceroy bercinta dengan kuntilanak penunggu jalan sepi?


Lantas siapa wanita yang datang dan mengaku sebagai istrinya?


Wanita gila mana lagi yang mengaku-ngaku sebagai istri Viceroy?


Sungguh wanita yang tidak punya aķhlak!


...*****...


Sebuah mobil sport hitam nampak parkir di pelataran kantor Viceroy. Kaca mobil terbuka, dan Ryo sudah duduk di belakang kemudi.

__ADS_1


"Cepat naik!" perintah Ryo.


Viceroy segera duduk di kursi depan, memasang sabuk pengaman tanpa banyak bicara. 


"Kau ini mau jadi anak durhaka yang dikutuk jadi batu? Ibu sampai menyuruhku untuk menjemputmu!" keluh Ryo.


"Apa kau pikir aku ini tidak punya pekerjaan?!" celetuk Viceroy yang sudah keburu kesal.


"Kau ini! Berterima kasihlah pada Ibu yang sangat memikirkan masa depanmu!" tandas Ryo.


Viceroy hanya diam, membuang pandangannya keluar jendela.


...*****...


Ryo memarkirkan mobilnya di depan rumah besar bergaya tradisional yang berada di kawasan timur. Rumah panggung terbuat dari kayu ulin dengan ukir-ukiran yang rumit. 


Rumah itu nampak sudah ramai dipenuhi orang-orang yang datang dan berkumpul. Mereka langsung disambut dengan hangat oleh Pak Haji Bahra selaku tuan rumah tersebut. 


Pak Haji Bahra merupakan orang terkaya di daerahnya. Pria paruh baya yang menjadi juragan sembako di pasar yang berada di kawasan timur. Pria itu sungguh bangga anak bungsunya, Sofia, akan dijodohkan dengan anak Kak Virda yang terkenal tampan dan sukses.


Ryo tentu saja mengenali mereka semua sebagai keluarga besar ibunya.


"Wah, Ryo, kau makin tampan," puji Tante Heni.


"Terima kasih, Tante Heni, apa kabar?" sapa Ryo berbasa-basi.


"Roy, akhirnya kau datang juga," kata Virda menyambut kehadiran Viceroy.


"Ibu, untuk apa sampai repot-repot menjemputku ke sini?" tanya Viceroy.


"Tentu saja untuk meresmikan perjodohanmu dengan Sofia," jawab Virda.


Viceroy terdiam menatap betapa banyaknya orang yang melihatnya, menyambutnya bak seorang raja. Ia terpaksa duduk bersila seperti yang dilakukan oleh semua orang. Berbagai macam kudapan manis tradisional segera dihidangkan berikut dengan banyaknya makanan di hadapannya.


Sofia terlihat ikut duduk, didampingi kedua orang tua dan keluarganya. Sofia menatap malu-malu ke arah Viceroy yang bahkan hanya menunduk, membuang pandangannya dari semua orang.

__ADS_1


"Terima kasih untuk semua keluarga yang sudah datang, hari ini sungguh menjadi hari yang bahagia untuk kita semua, terutama untuk anakku Sofia yang akan dijodohkan dengan Roy, anak Kak Virda," kata Pak Haji Bahra membuat pengumuman.


Pengumuman dari Pak Haji Bahra mendapat sambutan yang luar biasa meriah dari semua orang. Namun ada sebagian juga yang nampak tidak bisa menerima hal tersebut, terutama keluarga Haji Badrun dan Haji Jaelani yang dulu menolak lamaran Virda. Amirah dan Maimunah nampak melotot kesal ke arah Sofia. Mereka sungguh iri dengan Sofia yang akan dijodohkan dengan Viceroy. Seandainya mereka dulu tidak menolak perjodohan dengan Viceroy, saat ini salah satu dari merekalah yang menjadi istri pria tampan itu. Mereka sungguh sangat menyesal mengapa dulu tidak menerima pinangan pria itu.


"Kak Virda, coba tolong dipikirkan lagi, Roy itu lebih pantas dengan cucu saya," kata Bu Haji Badrun.


"Kak Virda, anaknya Maimunah lebih cantik," kata Bu Haji Jaelani, Ibu Maimunah.


Dua wanita paruh baya itu saling memperebutkan posisi Sofia untuk cucu mereka.


"Harusnya aku yang dulu menikah dengan Viceroy!" kata Amirah pada Sofia.


"Aku yang lebih pantas untuk menjadi istri Roy," kata Maimunah pada Amirah dan Sofia.


"Minggir kalian Tante-tante, Roy akan jadi suamiku, sudah terima saja nasib kalian yang bukan jodoh Roy!" kata Sofia bangga.


Ryo merasa terhibur dengan kelakuan keluarga ibunya yang saling berebut siapa yang pantas menjadi istri adiknya.


Viceroy hanya diam, menatap keributan yang terjadi. Sungguh gila jika ia benar-benar menikah dengan sepupu-sepupu yang saling berebut seakan Viceroy adalah barang obralan saja.


Virda melempar piring kaca berisi kudapan ke lantai. Piring tersebut hancur berantakan dan langsung mengheningkan suasana yang tadinya penuh keributan. 


"Sekarang adalah acara perjodohan antara Roy dan Sofia, tolong jangan membuat keributan yang tidak diperlukan!" kata Virda membuat suasana tegang seketika.


Virda menatap tajam ke semua orang, yang terdiam mematung. Viceroy dan Ryo tersenyum, begitulah ibu mereka yang terkenal tegas dan keras, persis Viceroy. 


...*****...


Virda sungguh kesal, ia memutuskan untuk membuat acara perjodohan resmi antara Viceroy dan Sofia dengan tujuan agar semua keluarga besarnya tahu. 


Siang tadi, Sofia mengadu pada Virda bahwa ia bertemu dengan istri Viceroy. Membuat Virda akhirnya memutuskan untuk membuat acara perjodohan Viceroy dan Sofia secepat mungkin agar Viceroy segera memutuskan untuk menceraikan istrinya itu. Saat ini, malah kekacauan justru terjadi lantaran mereka semua saling memperebutkan siapa yang pantas menjadi istri Viceroy!


"Ibu, aku masih banyak urusan, aku permisi dulu," kata Viceroy.


"Iya Bu, aku permisi juga, rasanya buang-buang waktu melihat keributan tak berguna ini," kata Ryo.

__ADS_1


Viceroy dan Ryo segera meninggalkan rumah Pak Haji Bahra. Sungguh memalukan, melihat kelakuan keluarga ibunya, begitu pun dengan Virda yang merasa begitu geram.


__ADS_2