Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Mas Tampan


__ADS_3

"Pak Bagas, ini teman-teman saya, ini Vara, dan ini Santika," Ozy memperkenalkan Pak Bagas pada kedua temannya yang ikut berdiri dari kursi.


Pak Bagas menyodorkan tangan, menjabat tangan Vara dan Santika bergantian.


"Bagas," kata Pak Bagas.


"Vara."


"Santika."


"Sungguh kebetulan bertemu di sini, Pak," kata Ozy.


"Iya, baru selesai makan malam bersama klien," jawab Pak Bagas yang mencuri pandang ke arah Vara.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi," kata Pak Bagas berpamitan.


"Hati-hati, Pak Bagas," kata Ozy.


"Siapa itu, Ozy?!" tanya Santika.


"Pak Bagas, teman kantor," sahut Ozy.


"Apa dia masih lajang?" tanya Santika.


Ozy mendelik gusar.


"San, Pak Bagas sudah punya istri! Sudah, tidak usah tanya-tanya!" cibir Ozy yang merasa cemburu.


"Biasa saja jawabnya, Ozy!" Santika balas mencibir Ozy.


Vara mengulum senyum melihat kelakuan dua temannya yang sebenarnya saling suka, namun memilih diam lantaran tak mau merusak pertemanan mereka.


...*****...


Sementara itu, Viceroy segera bersiap-siap meninggalkan ruangan kerjanya. Meninggalkan pekerjaan selama satu hari sudah membuat pekerjaannya menumpuk. Setiap hari ia lelah harus selalu marah dan marah karena merasa karyawannya tidak becus bekerja. Selalu saja ada masalah di lapangan yang membuatnya harus turun tangan sendiri. Ia melihat jam tangan, ia sudah janji akan menyusul Vara yang makan malam bersama teman-temannya. 


Viceroy segera mengganti setelan jas dengan kaos dan jaket bertudung. Ia tentu tak mau terlihat salah kostum hanya untuk pergi makan malam bersama teman-teman Vara.


Viceroy segera menyusul Vara di restoran seafood. Di pintu masuk, ia bertabrakan dengan seorang pria.


"Maaf," kata Viceroy.


"Ck," pria itu berdecak namun tiba-tiba langsung menyapa Viceroy.


"Pak Roy!" kata pria itu.

__ADS_1


"Pak Bagas," kata Viceroy.


"Maaf, Pak Roy," kata Pak Bagas heran melihat penampilan atasannya itu yang nampak berbeda karena memakai pakaian yang kasual.


"Anda sudah mau pergi, Pak Bagas?" tanya Viceroy.


"Iya, Pak, klien sudah pulang lebih dulu," jawab Pak Bagas kikuk. "Anda mau makan malam?" tanya Pak Bagas.


"Benar, mau bergabung?" tanya Viceroy.


"Terima kasih, Pak, saya sudah harus pulang," jawab Pak Bagas.


"Baiklah, sampai nanti," kata Viceroy.


"Permisi, Pak,"kata Pak Bagas segera pergi meninggalkan restoran.


Viceroy mencari meja Vara dan teman-temannya.


"Mas Tampan! Sini!" seru Ozy melambaikan tangan ke arah Viceroy.


Viceroy mengerutkan alisnya, Ozy nampak antusias saat Viceroy bergabung di meja mereka.


"Maaf ya, aku baru menyusul sekarang," kata Viceroy.


"Tidak masalah, yang penting sudah datang!" kata Ozy seraya tertawa.


Viceroy menatap ke arah Vara.


"Aku maunya memakanmu," jawab Viceroy.


"Ugh lala, mau juga dong dimakan!" sahut Ozy heboh. "Kalian ini pasangan yang manis sekali! Sungguh membuatku iri!" lanjut Ozy.


"Maklum, namanya masih pengantin baru," Santika menimpali.


Viceroy tersenyum melihat Vara yang salah tingkah. 


"Pesan nasi putih saja satu," kata Viceroy pada pelayan.


"Kenapa hanya pesan nasi putih?" tanya Vara.


"Lihat, masih banyak makanan yang belum dihabiskan, sungguh mubazir," kata Viceroy.


"Vara kalau pesan makanan memang banyak, lalu cuma dicicip-cicip saja," kata Santika.


"Waktu kursus masak juga begitu! Masak banyak, cuma cicip-cicip!" sahut Ozy.

__ADS_1


"Dari sekian banyak makanan di sini, menurutmu yang mana yang paling enak?" tanya Viceroy ke arah Vara.


"Semuanya enak," jawab Vara.


"Yang mana yang paling kau suka?" tanya Viceroy.


"Aku sukanya kamu," sahut Ozy menggoda mereka berdua disambung dengan gelak tawa. "Kalian sungguh membuatku iri," kata Ozy.


"Mas, ada stok pria tampan dan lajang untuk saya?" tanya Santika tanpa ragu.


Viceroy tersenyum melihat Ozy yang melotot mendengar perkataan Santika.


"Untuk apa jauh-jauh, ada Ozy," sahut Viceroy.


"Mas Tampan ini, ya ampun!" Ozy mendorong manja bahu Viceroy yang duduk di sampingnya, seketika Ozy langsung salah tingkah. "Ya ampun, Mas, kekar juga ternyata, ya! Gemes!" Ozy meremas lengan Viceroy. "Aku mau juga, Mas," lanjut Ozy.


"Mau apa ?" tanya Viceroy.


"Mau kekar juga lah, Mas!" jawab Ozy. "Mas, Mas ini kerjanya jadi pelatih fitness ya?" tanya Ozy.


"Kok, tahu?" tanya Viceroy.


"Iya, karena beban hidupku rasanya ikut terangkat hanya dengan melihat ketampanan Mas!" sahut Ozy.


Vara tertawa melihat kelakuan Viceroy dan Ozy yang terlihat saling menggoda. 


"Apa aku banting setir saja ya, jadi pelatih fitness juga? Biar tampan dan punya badan bagus!" kata Ozy.


"Ozy, disyukuri saja, kerja di perusahaan bagus, gajinya besar, dan dapat bonus berkali-kali," sahut Vara.


"Ayo, sini kita tukaran posisi! Belum tahu ya, rasanya punya atasan seperti monster! Setiap hari rasanya berdebar-debar diteror amukan bos! Belum lagi kalau sudah marah, semua karyawan pasti terkena imbasnya! Haduh, bisa tua sebelum waktunya aku kalau tekanan batin seperti ini!" keluh Ozy.


"Vara sih, enak ya, punya atasan yang baik dan tampan, makanya betah saja kerja tujuh tahun di satu tempat!" kata Santika seraya tertawa.


"Ya, pokoknya semua disyukuri saja!" sahut Vara seraya tertawa.


"Huuh, kalau tidak ingat cicilan mobil yang harus dibayar, sudah kabur aku! Lebih baik jadi pelatih fitness bersama Mas Tampan!" Ozy mengerjapkan matanya ke arah Viceroy.


Viceroy tertawa melihat kelakuan Ozy. 


...*****...


Vara segera menuju ke kasir bersama Santika. Meninggalkan Viceroy dan Ozy yang terlihat berbincang dengan akrab. Lucu juga melihat dua pria yang memiliki kepribadian bertolak belakang bisa terlihat akrab.


"Ozy, Santika, kami duluan, ya," Vara berpamitan.

__ADS_1


"Dah Vara, Mas Tampan!" Ozy melambaikan tangan melihat kepergian dua pasangan kasmaran itu.


__ADS_2