
Vara segera menuju ke restoran untuk menikmati sarapan. Sungguh hidup yang nyaman sekali, setiap malam menginap di hotel yang mewah, dan setiap pagi bisa sarapan di restoran hotel untuk menyantap menu prasmanan yang beraneka macam. Saat pertama kali sarapan di restoran hotel, Vara memakan semua hidangan yang tersedia. Mulai dari beraneka jenis bubur, makanan prasmanan, dim sum, hingga roti dan aneka jenis kue dan puding.
Viceroy tertawa saat pertama kali ia pergi sarapan bersama Vara. Meja mereka penuh dengan makanan, Vara sungguh terlihat seperti orang yang tidak pernah makan. Vara bahkan bolak-balik menuju ke tempat makanan hanya untuk mengambil makanan yang dirasanya enak.
"Viceroy, menurutmu ini apa?" tanya Vara saat menyendok satu butir buah kecil berwarna hijau pudar yang mengilap dari piring salad Vara.
"Aku rasa itu buah zaitun," jawab Viceroy.
Viceroy hanya menyantap roti gandum dengan isian tuna, salad sayur, dan segelas air infus buah sebagai menu sarapannya.
Vara mencicipi buah zaitun, wajahnya mengerut, ia meletakkan kembali ke piringnya. Namun, tiga detik kemudian, ia memasukkan kembali buah zaitun tadi ke dalam mulutnya.
"Ugh, pahit," keluh Vara kembali mengeluarkan makanan itu dari mulutnya.
"Haha," Viceroy tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Vara.
"Kau terlihat seperti sedang meludah, menjilat kembali ludahmu, lalu kembali meludah," komentar Viceroy sambil geleng-geleng kepala.
Vara hanya tertawa renyah, ia memang harus dua kali memastikan sesuatu. Siapa tahu, di percobaan kedua rasanya akan berubah.
Kini Vara sudah lebih bijaksana dalam menentukan makanan apa yang akan dipilihnya untuk sarapan, ia tak lagi menyusun banyak piring di mejanya. Usai menyantap sarapan, ia kembali ke kamar untuk mengambil barang-barang bawaannya. Biasanya saat kembali ke kamar, ia melihat Viceroy yang masih meringkuk di kasur. Pria itu begitu sulit untuk dibangunkan, Vara biasa meninggalkan pria itu, lalu pergi ke kantor sendiri dengan memanggil ojek daring.
Vara terkejut karena mendapati Viceroy yang sudah berpakaian rapi di depan cermin. Ia memakai kemeja putih, celana hitam, dan sedang mencoba memakai dasi.
"Vara, kau bisa mengikat dasi?" tanya Viceroy.
__ADS_1
Vara mencoba mengikat dasi Viceroy, Vara sungguh tidak menyadari bahwa tinggi mereka ternyata cukup signifikan. Viceroy akhirnya duduk di tepi kasur. Entah mengapa Vara merasa begitu berdebar-debar.
"Viceroy, kau ini marketing bank, ya?" tanya Vara begitu selesai menyimpul dasi Viceroy.
"Kau tidak melihatku seperti pedagang ikan seperti kata ibumu?" Viceroy balik bertanya.
"Kau tersinggung dengan perkataan ibuku, yang langsung seenaknya berasumsi tanpa mengetahui kebenarannya?" tanya Vara.
"Tidak, ibumu benar, aku memang pedagang ikan," jawab Viceroy.
"Wah, harusnya kau sudah viral di sosial media sebagai pedagang ikan yang tampan," Vara tertawa.
"Apa kau tidak malu, punya suami pedagang ikan sepertiku?" tanya Viceroy.
"Aku tidak peduli meski kau pengangguran! Kau jadi pengangguran yang viral karena tampan!".
"Jadi menurutmu aku tampan?" tanya Viceroy.
"Atasanku lebih tampan darimu," jawab Vara sambil terkekeh.
Viceroy tertawa, terlihat jelas bahwa Vara tidak mau mengakui bahwa Viceroy memang sangat tampan. Viceroy mematut dirinya di depan cermin, ia segera memulas lip balm ke bibirnya.
Vara memutar bola matanya melihat Viceroy yang begitu suka bersolek. Vara segera mengambil barang-barangnya lalu berjalan melewati Viceroy. Viceroy menahan tangan Vara.
"Ada apa?" tanya Vara.
__ADS_1
Viceroy menatap Vara dengan tajam, membuat Vara terdesak di depan cermin.
"Coba kau lihat aku baik-baik, apa aku tidak tampan?" tanya Viceroy tersenyum licik.
"Ya, ya, kau tampan, kau sangat tampan, yang paling tampan," jawab Vara membalas tatapan Viceroy.
Viceroy tersenyum saat Vara mendorong tubuhnya untuk menjauh darinya. Terlihat jelas wajah Vara memerah. Pria itu segera memakai kacamata hitam untuk menyempurnakan penampilannya.
"Dasar narsis," gerutu Vara sambil mengipasi wajahnya yang entah mengapa merasa panas.
Vara segera keluar dari kamar, Viceroy mengekorinya. Pria itu bahkan merangkul pinggang Vara begitu mereka memasuki lift.
"Kau kurus sekali, padahal makanmu begitu banyak," ejek Viceroy.
"Aku harus banyak makan agar kuat menghadapi kenyataan!" sahut Vara mencoba melepas tangan Viceroy yang masih merangkul pinggangnya.
"Sampai jumpa nanti malam," kata Viceroy saat mereka berpisah di lobi.
"Ya, semoga harimu menyenangkan," sahut Vara segera bergegas pergi.
Langkah Vara terhenti di depan pelataran hotel saat berpapasan dengan seorang pria yang menatap sinis ke arah Vara. Riko baru saja turun dari mobilnya, petugas parkir valet segera mengambil alih mobil tersebut. Riko merapikan jasnya yang berwarna abu-abu pudar. Ia sungguh tak menyangka bertemu dengan Vara di hotel. Terdengar kabar bahwa Vara menjadi wanita panggilan yang sering keluar masuk hotel berbintang lima pasca ditinggal pergi suaminya yang menghilang setelah menikahi Vara.
Riko memang sempat melihat sekilas, Vara berpisah dengan seorang pria di lobi saat Riko baru tiba di depan pelataran hotel.
Hanya saja Riko tidak melihat sosok pria tersebut dengan jelas.
__ADS_1
"Ternyata benar kau sekarang jual diri ya, Vara," celetuk Riko.
Vara tertegun mendengar perkataan Riko.