
Viceroy menatap Vara yang hanya bisa diam sepanjang perjalanan mereka pulang. Viceroy tahu, ibunya memang sudah keterlaluan, namun namanya beliau yang punya materi ujian, semua terserah ibunya.
"Aku tidak suka berbasa-basi," kata Virda. "Aku masih belum mengakuimu sebagai menantu, aku menginginkan wanita pendamping anakku yang berasal dari kalangan keluargaku," Virda melanjutkan perkataannya.
Vara hanya diam menatap Ibu Suri yang nampak menunjukkan kekuasaannya.
"Aku memintamu untuk dimadu!" kata Virda membuat Vara tercengang.
Viceroy nampak menegang, ingin rasanya ia tertawa tapi takut dosa. Viceroy sangat menghormati ibunya, lagipula ia bukan anak yang pembangkang. Ia sudah berhasil seperti ini juga berkat doa dari ibunya. Saat ini pun, ia dilema. Ibunya seakan memberinya pilihan untuk memilih antara ibunya atau istrinya. Sebuah pilihan yang begitu berat untuk Viceroy. Ia begitu menyayangi ibu yang sudah membesarkannya selama lebih dari tiga puluh tahun. Ibunya bekerja keras menjadi tulang punggung pasca kematian ayah. Ibu yang selalu mendoakan keberhasilan dan kesuksesan untuknya.
Sementara Vara adalah istri yang baru dinikahinya. Ia begitu mencintai istrinya, meski kebersamaan mereka masih dalam hitungan bulan. Namun, Viceroy yakin akan menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk Vara.
Vara mengulas senyumnya dan berusaha tetap tenang.
"Silakan, saya terima jika memang harus dimadu, saya tidak keberatan," jawab Vara tersenyum.
Vara menatap lembut Viceroy.
"Viceroy, aku terima apapun keputusanmu," kata Vara.
__ADS_1
Viceroy tersenyum, seakan bisa membaca pikiran Vara. Rupanya Vara sungguh mengingat apa yang dikatakan Viceroy ketika harus menghadapi ibunya.
...*****...
Lamunan Vara buyar saat Viceroy mengecup bibir Vara yang nampak melamun saat duduk di gazebo pekarangan rumah mereka.
"Kau benar-benar sangat bijaksana, Vara, kupikir kau akan berontak saat ibuku menyuruhmu untuk dimadu," kata Viceroy.
"Viceroy, bukankah kau sendiri yang mengatakan, aku harus bersikap bijaksana di hadapan ibumu? Jika dimadu menjadi salah satu ujian yang diberikan ibumu untukku, itu artinya aku harus terima, bukankah begitu?"
Viceroy tersenyum, mengelus kepala Vara dengan lembut.
"Vara, kumohon percayalah padaku," kata Viceroy sambil menggenggam tangan Vara.
"Ayo, kita masuk, di luar dingin sekali dan aku lapar," kata Viceroy mengajak Vara meninggalkan gazebo.
"Aku akan memasak mie instan dan telur, mau?" tanya Vara.
Viceroy mengangguk, ia benar-benar beruntung menikahi Vara yang begitu dewasa. Demi mendapatkan restu, wanita itu bersedia melakukan apa saja. Bahkan saat Ibu Suri memintanya agar dimadu, Vara menurut saja tanpa penolakan sama sekali.
__ADS_1
...*****...
Ryo baru saja memasuki rumah, mendapati ibunya yang nampak duduk di sofa yang ruang keluarga. Mata Ryo tertuju pada sebuah kantong kertas yang berada di atas meja.
"Apa ini, Bu?" tanya Ryo mengambil kantong kertas itu.
"Dari istri Roy," jawab Virda dingin.
Ryo mencebik menatap dua kotak parfum.
"Haha, jadi istri Roy, menyogok Ibu dengan parfum murahan seperti ini, astaga, sungguh mencerminkan betapa murahnya dia!" Ryo tertawa.
"Satu untukmu," kata Virda dingin.
"Kembalikan saja, Bu, aku tidak minat," Ryo tertawa lagi.
"Ryo, apa kau sudah mengakhiri hubunganmu dengan siapa itu?" tanya Virda.
"Sudah, Bu," jawab Ryo. "Aku sudah berpisah dari Jeny."
__ADS_1
"Kau pasti bercanda, bagaimana bisa gadis itu kau kencani?!" cibir Virda.
Ryo hanya menjawab dengan senyumnya. Ryo merasa setengah dari rencananya telah berjalan sebagaimana mestinya.