
Ozy menggerutu habis-habisan di depan monitor komputernya. Hari Sabtu yang biasanya ia gunakan untuk bersantai ria di atas pulau kapuk, tidak bisa lagi ia nikmati selama bekerja di Royal Grup. Meski harus masuk kantor selama setengah hari, tetap saja rasanya begitu berat. Ozy melihat Wati, seniornya yang sudah bekerja bertahun-tahun nampak selalu antusias dalam bekerja. Ozy bekerja sebagai staf pajak yang mengurusi semua pajak perusahaan, yang sebelumnya dipegang oleh Wati, lantaran Wati mulai kewalahan dengan perkembangan perusahaan yang begitu meroket.
"Pokoknya, diaturkan pembayaran pajaknya sekecil mungkin," Wati meniru perkataan yang selalu diucapkan Yang Mulia Bos Besar setiap kali Wati mengajukan pembayaran pajak.
Ozy tertawa bersama Fika, sesama staf pajak yang menjadi asisten Wati.
"Seandainya hari Sabtu diliburkan seperti perusahaan lain," kata Ozy. "Perusahaan ini pemburu dollar sekali," cibir Ozy.
Mata Ozy menangkap sosok pria bak model yang kebetulan melintas di depan ruang kerja mereka. Pria itu memakai kacamata hitam besar yang menutupi wajahnya, memakai pakaian serba putih yang membuat Ozy terpana.
"Astaga, Pak Roy datang!" kata Fika terperangah.
"Itu tadi yang namanya Pak Roy?" tanya Ozy terpana.
"Iya, kau belum pernah bertemu beliau, karena beliau begitu sibuk, jarang sekali beliau ke kantor," sahut Fika.
"Ozy, Fika, segera siapkan pengajuan estimasi pembayaran pajak periode ini! Harus ditandatangani hari ini, mumpung beliau ada di kantor!" perintah Wati.
__ADS_1
Ozy merasa ia harus mundur pelan-pelan begitu melihat antrian mengular di depan ruangan bos besar. Antriannya persis seperti antrian ke dokter kandungan, ramai namun hening. Ozy harus menemani Wati, agar ke depannya Ozy sendiri yang akan menghadap langsung ke Pak Roy. Semua kegiatan operasional dipegang langsung oleh Pak Roy, mau itu kegiatan operasional di lapangan hingga masalah keuangan.
Ozy melihat wajah-wajah tegang para karyawan yang sedang mengantri, bahkan ia melihat salah satu staf keuangan yang mengajukan pembayaran nampak merapalkan ayat-ayat suci yang dipercaya dapat mengusir setan.
"Mbak Yuni, kenapa komat-kamit begitu? Mbak mau mengusir setan di mana?" tanya Ozy seraya tertawa.
"Ozy, kau harus baca-baca sebelum masuk ruangan Pak Roy!" sahut Mbak Yuni.
Ozy mengerutkan keningnya, untuk apa ia merapal ayat-ayat suci hanya untuk menghadapi sesama manusia? Sungguh, mereka terlalu berlebihan.
"TIDAK! Saya tidak mau bayar! Itu bukan urusan saya!" terdengar teriakan yang menggetarkan jiwa para karyawan dari dalam ruangan Pak Roy.
"Saya tidak peduli apapun alasannya! Yang salah mereka! Mereka harus bertanggung jawab! Itu kelalaian mereka! Terserah mau potong gaji atau potong bonus! Saya tidak mau mendengar masalah ini lagi!" terdengar cecaran Pak Roy yang menggema hingga memenuhi gedung.
Terlihat seorang pria paruh baya keluar dari ruangan Pak Roy dengan tergopoh-gopoh. Semua karyawan memandang ke arahnya dengan prihatin.
"Pak Satria tidak baca-baca ya, waktu masuk tadi?" tanya Mbak Yuni.
__ADS_1
"Sudah! Tapi tetap saja, cetar!" sahut Pak Satria.
"Salah ayat yang dibaca Bapak ini," celetuk Wati.
Pak Satria hanya menggelengkan kepalanya, lalu berpamitan pergi meninggalkan antrian. Nampak beberapa karyawan mundur meninggalkan antrian. Mereka tahu, menghadap ke pimpinan mereka saat sedang marah, hanya akan menambah masalah. Ozy gemetaran, ia sungguh tidak terbiasa dengan budaya di perusahaan ini.
"Baiklah, saya maju duluan ya, teman-teman," Mbak Yuni segera memasuki ruangan kerja bos mereka.
"Tidak! Saya tidak mau bayar! Apa-apaan ini saya dipaksa membayar karena sudah jatuh tempo! Kemarin-kemarin anda ke mana saja, Mbak Yu?!" terdengar teriakan selanjutnya yang lagi-lagi membuat semua karyawan berdebar-debar namun bukan pertanda jatuh cinta.
Ozy gemetaran, rupanya kabar bahwa pimpinan perusahaan ini sangat galak bukan sekedar isapan jempol belaka. Ozy merasa perutnya seketika mulas, ia terkena serangan panik yang membuatnya terpaksa mundur pelan-pelan.
"Ozy, Ozy, sebentar lagi giliran kita!" kata Wati.
"Mbak Wati, saya ke toilet dulu!" Ozy segera berlari.
Ozy segera menuju ke toilet, ia duduk di atas dudukan kloset sambil menenangkan diri. Seketika nyalinya menciut, apalagi ia termasuk orang yang sangat sensitif. Dibentak-bentak seperti itu, didengar oleh banyak orang, pasti akan membuat mentalnya jatuh. Ozy rasanya sedikit menyesali keputusannya untuk resign dari perusahaan sebelumnya karena tergiur gaji besar yang ditawarkan oleh Royal Grup. Dua kali lipat dari gaji yang diterima Ozy, belum lagi bonus tiap semester yang besarannya mencapai dua kali gaji, dan bonus akhir tahun yang mencapai empat kali gaji.
__ADS_1
Ozy mendengar Wati yang juga terkena amukan dari bos mereka. Sungguh gila, teriakan pria itu tembus hingga di dalam toilet yang jaraknya cukup jauh dari ruang kerja pria itu.