Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Anak Kita


__ADS_3

Viceroy selalu suka melihat Vara yang baru saja selesai mandi. Vara pasti melakukan ritual mengoleskan losion ke seluruh tubuhnya. Viceroy akhirnya jadi kecanduan losion dan ikut-ikutan melakukan ritual yang sama. Setiap malam mereka akan memakai losion yang berbeda karena Vara mengoleksi banyak losion dari merek dan aroma yang berbeda-beda. Mulai dari merek yang dijual secara bebas di toko-toko terdekat, hingga yang dijual secara eksklusif di mall.


"Viceroy, sepertinya aku akan mengunjungi orang tuaku di kampung," kata Vara sambil mengoleskan losion ke punggung suaminya.


"Kapan?" tanya Viceroy.


"Tunggu pengajuan cutiku disetujui," jawab Vara.


"Ya, maksudku biar kita sama-sama pergi," kata Viceroy. 


"Kau mau ikut?" tanya Vara terkejut.


"Ya, harus ikut! Bagaimana kalau kau pergi sendiri dan tidak kembali lagi?" Viceroy memutar tubuhnya menghadap ke Vara.


Vara langsung memeluk tubuh Viceroy yang membuatnya langsung merasa nyaman.


"Aku harus mengakhiri perang dingin dengan ibuku, aku akan memohon padanya agar merestui kita!" kata Vara.


"Apa aku perlu mengikuti ujian dari Ibumu?" tanya Viceroy.


"Ibuku sebenarnya tidak se-ekstrim itu, hanya saja ibuku mempunyai standar untuk memenuhi egonya, lantaran terhasut omongan orang," jawab Vara.


"Seperti omongan ibu-ibu tetangga yang waktu itu merundungmu?!" sahut Viceroy.


"Ya, begitulah, kebiasaan ibu-ibu yang saling membanding-bandingkan anak-anaknya, saling bersaing, dan merasa anak mereka lebih unggul! Sungguh Viceroy, kalau nanti aku punya anak, aku tidak akan menjadi ibu macam itu," kata Vara.


"Ya, aku tahu, kau pasti akan menjadi ibu yang baik dan bijaksana," kata Viceroy tersenyum.


"Ya, aku tidak akan memaksakan kehendakku untuk memuaskan egoku pada anak-anakku," lanjut Vara.


"Anak-anakku?" potong Viceroy sambil mengerucutkan bibirnya. 


Vara nampak salah tingkah, sepertinya ia salah bicara. Viceroy memicingkan matanya, membuat Vara benar-benar jadi salah tingkah.


"Memangnya kau pikir kau punya anak dari hasil membelah diri?" Viceroy melotot kesal ke arah Vara.


Vara memutar bola matanya.


"Viceroy, tidak ada manusia yang bisa membelah diri, memangnya amoeba?!" cibir Vara.


"Lantas, bagaimana coba caranya kau bisa punya anak tanpaku? Apa kau berpikir punya anak dari laki-laki lain?" tanya Viceroy penuh selidik.

__ADS_1


Vara tersenyum malu-malu, tentu saja Vara sangat ingin memiliki anak dari Viceroy. Dalam benak Vara terbayang sosok-sosok Viceroy junior yang berwajah setampan Viceroy.


"Maaf, maksudku anak kita," jawab Vara benar-benar salah tingkah dibuat oleh Viceroy.


"Apa?! Anak siapa?" tanya Viceroy berpura-pura tidak mendengar.


"Anak kita!" jawab Vara sambil mencubit ujung hidung Viceroy yang begitu mancung dengan gemas.


Viceroy tersenyum lalu mengecup lembut bibir Vara. Vara membalas kecupan itu dengan perasaan yang berbunga-bunga.


"Kau mau punya anak berapa?" tanya Viceroy.


"Hmm, kurasa cukup dua," jawab Vara.


"Vara, jangan dua, itu sedikit sekali! Aku ingin kita memiliki banyak anak!" Viceroy menggeleng.


"Viceroy, pemerintah menganjurkan dua anak lebih baik," kata Vara.


"Vara, pemerintah tidak membiayai anak-anak kita karena aku yang akan membiayai mereka semua," sahut Viceroy.


Vara menjadi salah tingkah lagi, mengapa obrolan mereka menjadi merembet ke masalah anak?


"Viceroy, rumah ini bahkan hanya ada satu kamar, bagaimana bisa dihuni oleh semua anak kita nantinya?" kata Vara.


"Viceroy, sungguh bagiku dua anak sudah cukup," kata Vara lagi.


Viceroy tersenyum lembut ke arah Vara.


"Vara, pepatah mengatakan banyak anak banyak rejeki," kata Viceroy.


"Itu pepatahnya kurang lengkap!" protes Vara.


"Apa?! Memangnya lengkapnya seperti apa?" tanya Viceroy.


"Banyak anak banyak rejeki yang harus dicari dan didapat!" jawab Vara.


Viceroy tertawa.


"Lagi pula, jatah fasilitas kesehatan anak yang ditanggung asuransi perusahaan dari pemerintah maksimal tiga anak!" kata Vara. "Apalagi aku ini masih pegawai kontrak, fasilitas kesehatan yang didapat hanya kelas dua," lanjut Vara.


"Vara, kau tenang saja, aku yang bertanggung jawab penuh atas hidupmu dan anak-anak kita nanti, kau bahkan sama sekali belum menggunakan uang yang kuberi, apa kau tahu, aku merasa kerja kerasku jadi sia-sia," kata Viceroy.

__ADS_1


"Viceroy, sungguh, aku bahkan belum menjadi istri seutuhnya untukmu karena ibumu dan ibuku masih belum merestui kita, mana berani aku menggunakan uang hasil kerja kerasmu," kata Vara.


"Astaga, Vara, apa kau tahu, kupikir kau tidak mau menggunakan uangku karena uang yang kuberikan kurang," kata Viceroy.


"Aku bahkan belum ada mengecek saldonya, bagaimana kau bisa berpikir begitu?!" cibir Vara.


"Gunakan saja, Vara, kalau perlu habiskan saja! Belilah apapun yang kau inginkan! Jadi aku semakin termotivasi untuk bekerja lebih keras lagi!" kata Viceroy.


Vara menggeleng.


"Aku tidak mau menjadi wanita yang hanya bisa membebanimu, aku akan membantumu! Apalagi kau akan menikah lagi, jelas sekali bebanmu akan semakin bertambah," kata Vara.


Viceroy tertawa.


"Apa kau cemburu aku akan menikah lagi?" tanya Viceroy.


"Tentu saja," jawab Vara. "Wanita waras mana yang bersedia dimadu? Susah ya, punya suami tampan yang jadi rebutan!" Vara mendelik gusar.


Viceroy tersenyum lagi, ia sungguh gemas melihat Vara yang terlihat kesal, namun hanya bisa pasrah. Ibunya memang sungguh gila memberi ujian macam itu. Ia tentu tak akan sebodoh itu untuk langsung menerima keputusan ibu yang menyuruh untuk menikah lagi dengan wanita pilihan ibunya. Tentu saja ia harus memberi syarat dan ketentuan yang berlaku darinya. Ia sungguh harus mengatur strategi yang tepat agar memenangkan peperangan ini.


"Vara, bagiku hanya kaulah istriku satu-satunya," Viceroy menatap Vara lekat-lekat.


"Benarkah?" tanya Vara.


Viceroy mengangguk.


"Apa kau yakin di luar sana kau tidak punya istri lain selain aku?" tanya Vara lagi.


Viceroy mengulum senyumnya.


"Memangnya kenapa? Kau meragukanku?" tanya Viceroy.


"Ya, mana aku tahu, kau punya istri lain yang tidak kuketahui," sahut Vara.


Viceroy kembali mengecup bibir Vara.


"Vara, kalau aku sudah punya istri lain, untuk apa kita menikah? Aku benar-benar serius mencari wanita yang akan menjadi istriku! Lagi pula jika aku memang sudah menikah, untuk apa aku menikahimu? Untuk apa ibuku repot-repot mengujimu dengan ujian-ujian anehnya itu?" Viceroy menatap lembut Vara.


Vara mengangguk, semua yang diomongkan Viceroy benar-benar masuk akal.


"Baiklah, mari kita tidur, aku sudah lelah sekali," Viceroy segera merebahkan dirinya.

__ADS_1


Ia menarik Vara ke dalam pelukannya. Vara sungguh merasa sangat senang setiap malam ada seseorang yang menemaninya tidur. Memeluknya erat dan memberinya rasa aman dan nyaman. Vara sungguh bersyukur menikah dengan Viceroy. Saat ini bagi Vara, Viceroy adalah segalanya baginya. Pria ini menjadi suami sekaligus pelindungnya.


 


__ADS_2