Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Berbagi Kamar


__ADS_3

Vara memasuki ruangan tempat barang-barangnya disimpan. Ia segera menata barang-barang tersebut, karena mungkin saja ruangan ini yang akan menjadi kamar Vara. Sewaktu masih di hotel, Viceroy tidak keberatan berbagi kamar dengan Vara, namun sepertinya di rumah ini, pria itu tidak bersedia berbagi kamar. Terbukti, semua barang-barang Vara diletakkan di ruangan ini. 


Vara berharap terlalu tinggi, bila mengharapkan Viceroy bisa mencintainya. Vara terlalu takut, jika ia hanya sekedar terbawa perasaan karena seringnya mereka bersama. 


Entah sampai kapan pernikahan formalitas mereka ini bertahan. Viceroy memang tidak menjelaskan kapan berakhirnya, namun Vara sungguh tidak ingin pernikahan mereka berakhir. Mengingat ia bahkan belum mengantongi restu dari ibu dan mertuanya.


Apa hanya Vara yang berharap agar pernikahan ini tidak berakhir?


Apa perasaan Vara akan bertepuk sebelah tangan lagi?


Vara tersenyum getir, ia tak boleh berpikiran macam-macam. Lebih baik santai dan menikmati segalanya dengan lapang dada.


Vara bersyukur, setidaknya sekarang ia tidak perlu hidup secara nomaden lagi. Sudah ada rumah yang bisa di tempati, meski hanya sementara karena pernikahannya dengan Viceroy bisa berakhir kapan saja. Apalagi jika Nyonya Meneer alias ibu Viceroy menyuruh Viceroy berpisah dari Vara, pria itu pasti akan menuruti perintah ibunya. Tidak ada hal yang bisa membuat Viceroy mempertahankan Vara, karena pria itu bahkan tidak mencintai Vara.


Vara meneteskan air mata, tiba-tiba ia merasa terbawa perasaan. Sungguh Vara benar-benar akan sebatang kara jika Viceroy meninggalkannya. Vara akan pulang kampung, dan besar kemungkinan ia akan dijodohkan dengan orang lain di kampung sana.


"Kenapa kau menangis, Vara?" tanya Viceroy yang berdiri di ambang pintu.


"Ah, tidak, mataku kelilipan debu," jawab Vara berbohong.

__ADS_1


Viceroy menatap Vara yang nampak memalingkan wajahnya.


"Kau sama sekali tak pandai berbohong," Viceroy tersenyum lembut, lalu menyeka air mata Vara dengan jemarinya.


"Aku baik-baik saja, Viceroy, terima kasih sudah mencemaskanku," kata Vara.


Viceroy tersenyum lembut, ia menggandeng tangan Vara, mengajak menuju ke lantai atas. Viceroy membuka pintu sebuah kamar yang berukuran tidak terlalu besar, dindingnya terbuat dari kaca, sebagian ditutup dengan tirai berwarna hitam. Terdapat sebuah kasur dengan seprai putih, nakas, dan sofa panjang berwarna hitam berbahan beludru di sudut kamar.


"Ini kamar kita," kata Viceroy.


"Aku pikir kamarku yang di bawah," kata Vara terkejut.


"Memangnya ada berapa kamar di rumah ini?" tanya Vara.


"Di rumah ini hanya ada satu kamar," jawab Viceroy.


"Viceroy, kau serius berbagi kamar denganku?" tanya Vara tak percaya.


"Tentu saja," jawab Viceroy.

__ADS_1


Viceroy menatap lembut Vara.


"Vara, jangan lupa kau adalah istriku, kita adalah suami istri yang sah secara hukum yang berlaku," sahut pria itu.


Vara tersenyum dan mengangguk.


"Vara, bisa tolong siapkan air mandi untukku? Kamar mandi ada di balik pintu itu," tunjuk Viceroy.


Vara segera memasuki kamar mandi yang juga berdinding kaca. Ia takjub dengan pemandangan kamar mandi yang menghadap langsung ke arah laut. Terdapat bak mandi dari marmer berwarna putih, luas menyerupai kolam pemandian air panas yang biasa Vara lihat di televisi.


Vara segera mengisi bak mandi dengan air hangat dan juga menuangkan sabun cair. Busa sabun berwarna putih langsung memenuhi bak mandi. Viceroy sepertinya nampak begitu lelah karena seharian ini mereka beraktivitas bersama.


Viceroy memasuki kamar mandi, dengan memakai jubah mandi berwarna putih. Segera Vara keluar dari kamar mandi itu, namun Viceroy menahannya.


Viceroy segera masuk ke dalam bak mandi begitu melepas jubah mandinya. Viceroy benar-benar terlihat seperti sebuah mahakarya seni bernilai tinggi. Ia terlihat menutup mata, saat Vara memijat kepala Viceroy dengan sampo beraroma mewah. Vara merasa tegang saat Viceroy meminta untuk menggosok punggungnya. Vara mencoba untuk tetap tenang, ini bukan pertama kalinya ia melihat Viceroy dalam keadaan tanpa busana.


Viceroy memegang tangan Vara, menuntun wanita itu untuk bergabung bersamanya ke dalam bak mandi. Viceroy menatap lembut ke arah Vara yang nampak salah tingkah. Lagi-lagi ia terhipnotis pesona Viceroy.  Mengapa pria ini bisa begitu tampan?


Viceroy tersenyum saat mereka saling bertatapan. Gemuruh jantung Vara terdengar memenuhi kamar mandi, terlebih saat bibir mereka saling bertaut. Vara memejamkan matanya, menikmati kebersamaan mereka.

__ADS_1


 


__ADS_2