Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Hanya Mirip


__ADS_3

Ozy sejatinya adalah seorang pria tulen, hanya saja ia bergaya kemayu lantaran merupakan anak bungsu dan satu-satunya anak laki-laki dari enam bersaudara. Ozy sangat disayang oleh keluarga, ia sangat dekat dan akrab dengan semua kakak-kakaknya. Ayahnya pernah marah besar saat memergoki Ozy yang didandani kakak-kakaknya memakai baju anak perempuan. Ia juga pernah dimarahi ayah saat mengadu dan menangis karena dijahili anak laki-laki di kelas saat masih SMA. Ia dijahili karena terlalu ceriwis dan sedikit-sedikit mengadu pada guru.


Ozy mengerjapkan matanya berkali-kali, ia mengucek matanya, memastikan bahwa pria tampan yang sedang berdiri di depannya ini bukanlah seseorang yamg dikenalnya sebagai suami dari teman kursus memasak yang diikutinya tujuh tahun silam. Ozy meyakinkan dirinya bahwa mungkin saja pria di depannya ini hanya mirip saja dengan suami Vara. Tidak mungkinlah pria super duper luar biasa kaya raya ini adalah suami temannya. Pria yang hanya memesan nasi putih dan menghabiskan makanan yang tersisa saat makan bersama. Mas Tampan juga mengaku sebagai pelatih fitness, jadi pria ini tidak mungkin suami Vara.


Kalau memang suami Vara adalah pria ini, Vara tidak mungkin terlihat begitu bahagia, ia harusnya depresi dan kurus kering tinggal tulang karena selalu dimaki-maki pria ini. Vara juga tidak perlu repot-repot lagi bekerja, karena suaminya ini sudah kaya raya, tujuh turunan, dan tujuh tanjakan kekayaannya tidak akan habis. 


...*****...


Viceroy menatap Ozy dengan tatapan tidak percaya, apa benar pria kemayu yang merupakan teman istrinya itu adalah pegawainya?


Pria yang bahkan menceritakan dengan begitu dramatis kepadanya betapa ia tersiksa bekerja di sebuah perusahaan yang dipimpin oleh seorang monster yang selalu mengamuk dan membuat jiwa dan raganya tersiksa. Apa Viceroy sebegitu mengerikannya di hadapan semua karyawannya? Ia memang harus berlaku keras dan tegas agar tidak dianggap remeh oleh pegawainya.


"Ada apa? Jangan membuang-buang waktuku!" kata Viceroy mengakhiri kebisuan di antara mereka.

__ADS_1


Ozy merasa jantungnya berhenti berdetak, tubuhnya lemas seketika, seperti lilin yang meleleh karena panasnya api. Ozy menguatkan dirinya. Mungkin saja pria ini memang bukan Mas Tampan, suami Vara. Mungkin saja pria ini dan Mas Tampan hanya kebetulan mirip, tapi beda nasib.


Viceroy hanya diam, ia harus menjaga profesionalisme kerja. Pria di hadapannya ini memang teman Vara, namun di perusahaan ini, Ozy adalah karyawannya.


"Pe-pengajuan estimasi untuk pembayaran pa-pajak, Pak," kata Ozy gemetaran karena atasannya ini menatapnya begitu tajam seperti hendak mengajaknya baku hantam.


"Tinggal saja, nanti saya pelajari!" kata Viceroy dingin.


Ozy merasa takut sekaligus lega. Ternyata atasannya ini bukanlah suami Vara. Pria yang ditemuinya ini berwajah kaku, dengan sorot mata dingin setajam es. Sungguh berbeda dengan Mas Tampan yang penuh senyum dan ramah. Ozy segera keluar dari ruangan atasannya itu dengan kelegaan yang luar biasa. Ia seakan bisa merasakan nyawa yang kembali masuk ke dalam raganya.


Sama halnya dengan para sepupu yang dikenalkan ibunya saat mengaturkan perjodohan dengan Viceroy yang saat itu baru lulus sekolah. Ibu mendesaknya untuk menikah dengan anak Pak Haji Badrun, masih sepupu dua kali Viceroy bernama Amirah. Amirah seumur dengan Viceroy. Di mata Viceroy, Amirah saat itu menunjukkan sikap tidak terima karena dijodohkan dengan pemuda yang belum punya apa pun yang bisa dibanggakan.


"Tidak mau saya nikahkan anak saya tanpa uang mahar," kata Pak Haji Badrun.

__ADS_1


"Uang mahar tiap perempuan itu berbeda, semakin tinggi ijazahnya, semakin tinggi juga uang maharnya! Anak saya ini sudah dirawat dengan baik, disekolahkan, masa iya, tidak ada maharnya, Kak Virda," sahut Bu Haji Badrun, sepupu Virda.


"Bu Haji, ini Roy, sudah bisa cari uang sendiri, kalau sudah menikah nanti, pasti ada saja rejekinya," kata Virda. 


"Tidak bisa Kak Virda, apa kata keluarga besar, anak saya punya sekolah, tapi tidak dihargai, langsung dibawa begitu saja, susah payah dibesarkan tapi tidak bisa membuat orang tuanya bangga," tolak Pak Haji Badrun.


"Belum lagi, itu Roy tidak punya pekerjaan, mau diberi makan apa anak saya, Kak Virda? Amirah pastinya juga ingin seperti perempuan lain, punya suami yang bisa membelikan baju-baju yang bagus, uang belanja sehari-hari, perhiasan emas, rumah, hingga mobil! Kalau Amirah menikah dengan Roy, beli beras saja mungkin masih minta sama saya, Kak Virda," cecar Pak Haji Badrun.


Viceroy saat itu tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia tidak bisa merasa tersinggung ataupun marah. Benar apa yang dikatakan Pak Haji Badrun, Viceroy tidak punya apa pun untuk bisa menghidupi Amirah. 


Amirah saat itu senang sekali, karena tidak jadi dijodohkan dengan Viceroy yang bahkan belum bisa memberinya uang mahar. Apalagi uang untuk kehidupan sehari-hari mereka kelak saat berumah tangga. Yang pasti Viceroy hanya akan menjadi benalu bagi keluarga Pak Haji Badrun.


Sejak saat itu, Viceroy hanya bisa berusaha agar kelak saat menikah nanti, ia akan bertanggung jawab penuh untuk menghidupi istrinya. Ia akan mencari wanita yang sungguh-sungguh bersedia hidup bersamanya dalam keadaan apa pun. Bahkan ketika ia sudah sukses suatu saat nanti, ia akan mencari wanita yang tidak memandangnya sebagai pria berharta dan bertahta.

__ADS_1


Kelak, Amirah dan wanita-wanita yang pernah diminta untuk bertunangan dengan Viceroy akan menyesali keputusan mereka, karena sudah menolak seorang pria yang tidak memiliki apa pun hingga akhirnya bisa memiliki segalanya.


__ADS_2