
Viceroy mengayunkan raketnya, memukul bola bulu yang begitu ringan hingga bola bulu itu terbang ke angkasa, lawan di net sebelah sudah menyiapkan kuda-kuda untuk mengembalikan bola tersebut.
"Out!" teriak hakim garis, membuat permainan bulu tangkis selesai.
Viceroy berjalan keluar dari lapangan, ia segera menuju ke pinggir lapangan untuk mengambil air mineralnya. Berolahraga merupakan cara yang paling efektif untuknya dalam melepas stres dan penatnya pikiran.
"Tumben pukulanmu kacau, Roy," kata lawan tanding Viceroy menghampiri Viceroy.
Pria itu tersenyum dan menyodorkan sebotol air mineral untuk Viceroy.
"Terima kasih sudah bersedia jadi lawan mainku, Riko," kata Viceroy ke arah pria bernama Riko.
Viceroy duduk di pinggir lapangan sambil meluruskan kaki. Peluh membasahi sekujur tubuhnya. Sudah cukup lama Viceroy tidak turun ke lapangan bulu tangkis karena jadwal pekerjaan yang begitu padat.
"Sering-sering turun ke lapangan, jangan hanya bekerja saja," kata Riko.
Riko adalah teman satu klub bulu tangkis Viceroy, selain itu, Riko juga bekerja di perusahaannya. Bagi Viceroy, Riko merupakan sosok cerdas dan dewasa yang enak diajak untuk berdiskusi dan bertukar pikiran.
"Riko, aku akan menikah," kata Viceroy.
__ADS_1
"Serius?" tanya Riko tak percaya.
"Mengapa semua orang tak percaya bahwa aku akan menikah?" Viceroy balik bertanya.
"Apa kau dijodohkan?" tanya Riko.
"Tidak," jawab Viceroy.
"Kalau kau tidak berkencan, tidak dijodohkan, lalu mengapa mendadak akan menikah?" tanya Riko lagi.
"Apa kau sembarangan melakukan kegiatan bongkar muat barang berbahaya, hingga akhirnya kau dituntut untuk bertanggung jawab?" Riko melanjutkan pertanyaannya.
"Sebagai orang yang pernah menikah, bagaimana menurutmu?" tanya Viceroy pada Riko.
Ia tahu Riko pernah menikah, namun pernikahannya berakhir empat tahun yang lalu, hingga kini Riko nampak betah melajang.
"Menikah itu tidak enak, tapi enak sekali," jawab Riko seraya terkekeh.
"Akan ada yang melayanimu mulai dari kau membuka mata hingga kau menutup mata, itu pengalaman yang kurasakan meski hanya sementara," jawab Riko.
__ADS_1
Viceroy meneguk air mineralnya, ia bisa melihat kegetiran yang terpancar dari raut wajah Riko.
"Roy, apa kau tahu, sebenarnya dalam waktu dekat ini aku juga akan mengakhiri status dudaku, hanya saja wanita yang dijodohkan padaku ini menolakku," kata Riko.
"Serius, ada wanita yang menolakmu Riko?" tanya Viceroy terheran-heran.
"Apa wanita itu sudah gila karena menolakmu?" tanya Viceroy.
Bagi Viceroy, Riko adalah sosok pria yang sempurna. Pria dengan latar belakang keluarga yang baik dan berpendidikan tinggi. Viceroy mengenal ayah Riko saat ia baru mulai merintis bisnisnya dua belas tahun yang lalu. Viceroy baru tahu bahwa Pak Rusdy adalah ayah Riko saat Riko mengajak ayahnya ke dalam kegiatan klub bulu tangkis mereka.
"Ya, aku tentu tak mau menyalahkan diriku karena dulu pernah menolaknya saat dijodohkan, karena aku sudah punya kekasih. Kemudian kami bertemu kembali dan dia masih melajang. Tidakkah menurutmu kami berjodoh?" Riko nampak antusias.
"Kalau jodoh pasti bertemu, bukankah begitu?" komentar Viceroy.
"Jadi, kau akan cuti bekerja untuk melangsungkan pernikahan?" tanya Riko.
Viceroy mengangkat kedua bahunya, ia tentu tak akan membuang-buang uang untuk mengadakan pesta sebuah pernikahan yang sebenarnya tidak diinginkannya.
Viceroy memang ingin menikah, namun bukan dengan Vara. Vara hadir di saat ia membutuhkan seseorang untuk diajak menikah demi memenuhi pertaruhannya dengan kakaknya. Kebetulan saja wanita itu datang memenuhi undangan yang dibuat olehnya. Kebetulan saja, dia menjadi kandidat yang kuat untuk diajak membuat sebuah kesepakatan. Status Vara masih lajang dan dia tidak sedang menjalin hubungan dengan orang lain. Sungguh merepotkan jika harus mengajak istri orang lain menikah. Dan lebih penting lagi, wanita itu tidak masalah diajak menikah secara mendadak dan tanpa perlu repot-repot mengadakan pesta pernikahan yang pastinya membutuhkan banyak dana. Sungguh mubazir bagi Viceroy mengeluarkan uang untuk merayakan pernikahan yang sama sekali tidak dikehendakinya. Saat ini fokus Viceroy adalah memenangkan taruhan dengan kakaknya yang selalu menganggapnya remeh.
__ADS_1