Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Pijat Refleksi


__ADS_3

Vara segera duduk di sebuah kursi, terapis muda itu hanya diam sambil mencuci kaki Vara dengan sabun sambil menggosok lembut kedua kaki Vara. Usai membilas kedua kaki Vara dengan air hangat, terapis mulai merendam kaki Vara di dalam air hangat yang diberi taburan garam. Dengan telaten, terapis muda itu menyeka lembut kaki Vara dengan handuk kering. Kemudian Vara dipersilakan ke ruang pijat refleksi yang letaknya tak jauh dari tempat pencucian kaki.


Viceroy yang tadinya memutuskan untuk menunggu di lobi, akhirnya mengikuti Vara ke bilik pijat. Bilik pijat berpencahayaan temaram, ruangan itu tidak besar, hanya berisi dua kursi yang bisa diatur posisinya. Vara duduk senyaman mungkin di kursi empuk itu. Terapis muda berparas manis itu memberikan sekantong batu yang telah dipanaskan untuk diletakkan di belakang leher Vara.


Vara nampak tersenyum dan memejamkan mata. Sementara Viceroy yang duduk di kursi kosong merasa kesal, mengapa terapis Vara adalah seorang pria? Memangnya tidak bisa wanita saja?


"Permisi," kata terapis itu mengatur posisi bagian bawah kursi yang diduduki Vara.


Terapis mulai memijat telapak kaki Vara. 


"Permisi, apa segini cukup?" tanya terapis saat memberi penekanan pada kaki Vara.


"Cukup," jawab Vara.


Viceroy mengawasi terapis itu dengan rasa kesal yang mulai menjalar. Terapis itu bisa bebas memegang kaki Vara, bahkan Vara nampak terpejam menikmati pijatan pria itu. Viceroy terbelalak, karena terapis nampak menyingkap sedikit rok Vara hingga sebatas lutut, lalu memijat naik-turun betis Vara.


"Emmh...,"Vara melenguh menggigit bibir bawahnya sambil menggelinjang.


Viceroy shock, mengapa pemandangan di hadapannya ini terlihat begitu erotis? Memangnya pijat refleksi seerotis ini ya?


Viceroy bahkan belum pernah menyentuh tubuh Vara, mengapa pria ini begitu leluasa menyentuh Vara, bahkan di depan mata Viceroy. 

__ADS_1


"Mas, Mas, berhenti!" kata Viceroy kepada terapis muda itu.


"Viceroy?!" sergah Vara melotot ke arah Viceroy.


Wajah Viceroy nampak memerah menahan emosi. 


"Mas, lanjutkan," perintah Vara.


"Mas, berhenti!" perintah Viceroy.


"Mas, aku loh yang bayar tagihannya," kata Vara.


Terapis muda itu menunduk ketakutan karena Viceroy melotot seakan hendak mencekiknya. Terapis muda itupun nampak gemetaran.


"Vara! Kau boleh lanjutkan asal terapisnya diganti perempuan," kata Viceroy akhirnya.


Vara memutar bola matanya. Ada apa dengan pria ini? Tidak mungkin Vara bisa mengganti terapis perempuan, di pusat refleksi ini, untuk pijat refleksi dilakukan oleh terapis pria. 


Apa pria ini tidak pernah pijat refleksi di tempat ini? 


Vara mencebik, ia segera mengakhiri sesi pijat refleksi kaki yang baru berjalan tiga puluh menit. Vara bahkan merasa kakinya berat sebelah saat melangkah keluar dari bilik pijat. 

__ADS_1


Viceroy menyembunyikan senyumnya, entah mengapa ia merasa senang karena Vara menuruti perintahnya. Vara menuju ke kasir untuk membayar tagihannya, rasanya berat harus membayar penuh padahal sesi refleksi belum selesai. Rasanya Vara menyesal sudah mengajak Viceroy datang ke tempat ini. Entah apa yang dipikirkan pria itu. Vara bahkan baru mulai merasa rileks.


"Ruangan nomor 5," kata Vara pada kasir.


"Ruangan nomor 5 sudah dibayar, Kak," jawab kasir itu ramah.


Vara mendelik gusar, pria itu benar-benar sudah membayar tagihan Vara. Vara segera menghampiri Viceroy yang sudah menunggu di atas sepeda motornya.


"Viceroy, berapa tagihan pijatku yang tadi kau bayar?" tanya Vara.


"Tak perlu," jawab Viceroy.


"Jangan membuatku berhutang padamu," kata Vara.


"Bukankah tadi kubilang aku yang bayar tagihanmu?" kata Viceroy lagi.


"Viceroy, tolong jangan membuatku terlihat seperti orang yang tidak punya uang!" kata Vara. 


Viceroy menatap ke arah Vara.


"Sudah cukup aku mencicil kartu kreditku, jangan membuatku berhutang padamu," Vara melanjutkan.

__ADS_1


__ADS_2