
Vara bertanya-tanya dalam hati, Pak Ryo tidak mengemudikan mobilnya menuju ke kantor, melainkan ke tempat lain. Vara ingin berbicara, namun Pak Ryo nampak masih fokus di belakang kemudi. Mobil masih melaju dengan kecepatan sedang. Ponsel Vara berdering berkali-kali, nama teman-teman kantor silih berganti menghubunginya. Vara membaca pesan yang masuk, ia ragu untuk menjawab apa. Ia tak mungkin mengaku bahwa saat ini ia sedang bersama Pak Ryo.
Pria itu seakan bisa membaca pikiran Vara yang sedari tadi nampak sibuk mengetik lalu menghapus pesannya.
"Katakan saja, Anda ada tugas di luar kantor," kata Pak Ryo.
"Memangnya, sejak kapan staf kas operasional bisa tugas luar, Pak Ryo?" sahut Vara.
"Bisa, bukankah Anda sekarang sedang bersama saya?" tanya Pak Ryo.
Vara mengerucutkan bibirnya, ia hanya diam sambil membalas pesan sesuai arahan dari Pak Ryo. Vara kembali bertanya-tanya, mengapa Pak Ryo sampai mengajaknya untuk pergi dinas luar seperti ini? Apa pria ini sedang melakukan tes guna mempertimbangkan status kepegawaian Vara?
"Sudah berapa lama Anda bekerja di Victory Grup?" tanya Pak Ryo memecah keheningan.
Vara terkejut Pak Ryo bertanya seperti itu.
"Ini tahun ke tujuh saya, Pak," jawab Vara.
Vara jadi semakin yakin, bahwa pimpinannya ini sedang melakukan uji kepegawaian untuknya. Vara memang pernah mendengar desas-desus bahwa pimpinan perusahaan mereka ini memiliki cara tersendiri untuk menguji kelayakan karyawan yang bisa diangkat menjadi pegawai tetap.
Apakah ini ujian untuk Vara setelah tujuh tahun mengabdi sebagai pegawai kontrak?
Jika memang begitu, Vara harus berusaha melakukan hal terbaik yang bisa dilakukannya.
Mobil memasuki kawasan yang sepi yang di kiri kanannya menyajikan pemandangan pepohonan rimbun. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mereka akhirnya tiba di kawasan pemancingan. Terdapat kolam-kolam yang luas dengan gazebo-gazebo yang berderet rapi di sepanjang kolam berair keruh bercampur lumpur. Tempat pemancingan ini juga difasilitasi rumah makan, dapur umum, lokasi outbond, penyewaan perlengkapan memancing, toko kelontong, hingga penginapan.
Pak Ryo nampak memasuki tempat penyewaan perlengkapan memancing.
"Kau bisa memancing?" tanya Pak Ryo.
"Memancing keributan saya bisa," jawab Vara.
__ADS_1
Pak Ryo tersenyum, ia menyewa dua set perlengkapan memancing. Mereka segera menuju ke gazebo yang teduh dengan banyak pepohonan rimbun di sekitarnya. Suasana pemancingan sungguh sepi, karena ini memang bukan hari libur, ataupun akhir pekan.
Pak Ryo menggulung lengan kemeja putihnya, ia nampak begitu cekatan memasang umpan pada mata kail. Vara berusaha menutupi rasa gelinya saat melihat umpan berupa cacing-cacing yang menggeliat di dalam kotak.
Vara terpana melihat Pak Ryo yang nampak handal saat melemparkan kail ke dalam kolam, ia terlihat mengulur benang pancing, lalu menyerahkan joran itu kepada Vara.
"Pegang yang benar," perintah Pak Ryo.
Pria itu beralih ke alat pancing lain dan melakukan hal yang sama.
"Kau pernah memancing ikan seperti ini?" tanya Pak Ryo.
"Ini pertama kalinya bagi saya," jawab Vara.
Pak Ryo meletakkan jorannya, ia membuka tas kerjanya, mengambil sekotak rokok dan pemantik api. Pria itu segera menyulut sebatang rokok dan mengembuskan asapnya ke udara.
"Saya baru tahu Anda merokok, Pak Ryo" kata Vara.
"Jadi, Anda saat ini sedang bosan?" tanya Vara.
Pak Ryo tersenyum menatap Vara, lalu kembali beralih pada jorannya.
Vara mengambil kotak rokok dan juga pemantiknya. Ia mengamati dengan penuh minat pemantik berwarna perak dengan ukiran huruf V yang timbul dengan ornamen dedaunan kecil yang mengelilingi huruf tersebut. Vara bahkan mencoba menyalakan pemantik api itu, ia terpana karena api begitu mudah dinyalakan dan nyalanya pun stabil. Berbeda dengan pemantik gas biasa yang berwarna warni, yang bagi Vara agak sulit dinyalakan.
Vara bisa menduganya, pemantik ini pasti mahal, didesain secara khusus. Vara jadi ingin mencoba rokok Pak Ryo, namun ia teringat perkataan Viceroy, ibu Viceroy tidak suka wanita yang merokok. Bagaimana kalau tiba-tiba saja ada panggilan tes mendadak dari wanita itu?
Joran yang dipegang Vara bergerak-gerak, rupanya ada ikan yang sudah memakan umpan.
"Aduh, bagaimana ini?" Vara terkesiap.
Pak Ryo langsung merebut joran dari tangan Vara, pria itu nampak begitu tenang saat menggulung reel dan menarik keluar ikan yang telah terpancing dari kolam.
__ADS_1
Mata Vara berbinar saat Pak Ryo memasukkan seekor ikan nila ke dalam serokan ikan, lalu memindahkannya ke dalam ember berisi air bersih.
"Pak Ryo, saya baru tahu, anda jago memancing," kata Vara.
Pak Ryo kembali mendapatkan seekor ikan nila yang segera ia pindahkan ke dalam ember.
"Kau bisa memasak?" tanya Pak Ryo.
"Kenapa, Pak?" tanya Vara.
"Sebentar lagi jam makan siang, masaklah ikan ini di dapur umum," kata Pak Ryo sambil melihat jam tangannya.
Vara tidak bisa menolak perintah atasannya ini, karena pria ini adalah pemilik perusahaan. Apa ini termasuk bagian dari ujian yang diberi oleh Pak Ryo?
Pak Ryo segera membawa ember berisi ikan tangkapannya menuju ke dapur umum yang berlokasi tak jauh dari tempat penyewaan perlengkapan memancing. Vara terkejut karena dapur umum tersebut begitu bersih dan lengkap. Dapur umum ini mengingatkan Vara seperti dapur yang biasa dijadikan lokasi untuk acara kompetisi masak di televisi. Konsepnya sama seperti tempat kursus memasak yang dulu diikuti Vara atas permintaan ibunya untuk mengisi waktu senggang Vara ketika masih menganggur.
Sebenarnya Vara memang sudah gemar memasak sejak masih duduk di sekolah dasar. Ia suka sekali menyaksikan acara memasak di televisi. Di rumah, ibunya memang tidak pernah memasak, lantaran ada jasa katering yang menyediakan menu makan pagi, siang, dan malam yang berbeda.
Sehingga biasanya Vara memasak sendiri apa yang ingin dia olah. Teman-teman sekelas Vara biasa menjadi juru cicip masakan olahan Vara. Makanya tak heran, dulu Vara selalu membawa banyak makanan ke sekolah dan membagi-bagikan ke teman-teman sekelasnya.
Vara mengambil bahan-bahan masakan yang tersedia di toko penjual bahan masakan yang berada di samping bangunan dapur umum. Pak Ryo mengekori Vara yang nampak antusias memilih bahan-bahan untuk masakannya. Ketika Vara akan membayar bahan masakan yang dibelinya, Pak Ryo justru menyuruh Vara untuk kembali ke dapur umum untuk mulai memasak.
Usai mengambil peralatan memasak yang dibutuhkannya, Vara segera menuju ke meja masak untuk mulai membersihkan ikan nila di bawah air yang mengalir. Pak Ryo berdiri mengawasi Vara seakan ia berperan sebagai juri dalam kompetisi memasak di televisi.
Vara juga menyempatkan waktu untuk memasak nasi.
"Pak Ryo, Anda suka pedas?" tanya Vara saat akan menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sambal.
"Kalau sambal, ya harus pedas," jawab Pak Ryo singkat.
nb : jangan lupa komen dan like
__ADS_1