Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Mencari Pekerjaan Baru


__ADS_3

"Vara, mengapa akhir-akhir ini kau sering tidak masuk kerja?" tanya Mbak Rani.


Vara yang baru kembali ke meja kerjanya menatap Mbak Rani dengan rasa bersalah lantaran jadi sering sekali meminta Mbak Rani untuk menggantikannya mengerjakan pekerjaan Vara. Vara sadar, bahwa akhir-akhir ini, ia memang terasa mengabaikan pekerjaannya, membuat pekerjaan jadi lebih menumpuk dari biasanya. Vara juga tidak bisa lagi setiap hari lembur, karena merasa tidak enak pada Viceroy yang merasa keberatan jika Vara lembur. Sehingga Vara baru bisa lembur saat Viceroy memang tidak menjemputnya tepat waktu karena masih ada urusan lain.


"Apa akhir-akhir ini kau ada wawancara kerja di tempat lain?" tanya Mbak Rani.


"Begitulah, Mbak," jawab Vara singkat.


Vara terpaksa berbohong untuk menutupi kebenaran. Ia tak mungkin mengatakan bahwa ia banyak tidak masuk kerja karena terlalu sibuk berburu kenikmatan bersama suaminya. Sungguh belum saatnya bagi Vara untuk mengumumkan pernikahannya, ditambah Viceroy yang sudah dijodohkan lagi oleh ibunya, menjadi kendala besar bagi Vara. Sejatinya Vara ingin sekali mengumumkan pernikahannya, mungkin mengadakan pesta pernikahan sederhana di salah satu restoran yang ada di tepi pantai, lalu mengundang teman-temannya dan khususnya teman-teman kantornya. Namun setelah dipikir-pikir kembali, rasanya Viceroy terlalu bagus untuk dipamerkan. Terlebih Vara juga bukan orang yang suka pamer.  Bagaimana kalau nanti ada wanita lain yang kepincut pesona Viceroy?


Sungguh susah punya suami begitu tampan, nanti banyak yang kepincut.


"Tidak masalah kalau memang ada tempat lain yang lebih bagus prospek ke depannya, ada jenjang karirnya, sungguh tidak masalah, Vara," kata Mbak Rani menasehati.


"Iya Mbak, sejujurnya aku kepikiran dengan perkataan Alya," kata Vara. 

__ADS_1


"Alya bilang, ijazahku sungguh mubazir. Aku pun merasa sedang berjalan di tempat. Belum lagi hingga sekarang aku belum juga dapat SK pengangkatan karyawan tetap," lanjut Vara.


Mbak Rani melihat sorot kesedihan dari mata Vara. Sebagai karyawan yang sudah termasuk lama bekerja di Victory Grup, entah mengapa Vara belum juga ditarik menjadi karyawan tetap.


"Vara, dalam hidup, kepastian itu penting! Orang yang pacaran saja butuh kepastian untuk dinikahi, jangan mau hanya dibawa ke sana kemari tanpa tujuan Vara," kata Mbak Rani. "Bagaimana, apa pacarmu sudah ada arah pembicaraan membawa hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius?" tanya Mbak Rani.


"Ah, maaf Vara, abaikan saja perkataanku, aku jadi terdengar seperti mencampuri urusanmu, tapi yang pasti aku hanya mencoba memberi sedikit pencerahan untukmu, karena kulihat kau seperti orang yang bingung sendiri," lanjut Mbak Rani.


"Iya, Mbak," kata Vara.


"Loh, Mbak Rani kenal Pak Ryo sebelumnya?" tanya Vara.


"Iya, Pak Ryo dulu tetanggaku, waktu beliau masih ngontrak rumah di daerah rumahku. Pak Ryo adik kelasku, dulu ya teman nongkrong suamiku juga ternyata, siapa yang bisa menduga bahwa bertahun-tahun kemudian beliau sesukses ini," jawab Mbak Rani.


"Ya, tapi aku tahu diri, meski aku adalah orang bawaan Pak Ryo, aku tidak mungkin berbuat sesukaku, aku sungguh tahu diri, Vara," Mbak Rani melanjutkan.

__ADS_1


"Mbak, sungguh aku baru tahu sekarang, ternyata Mbak Rani dan Pak Ryo dulunya tetangga," kata Vara.


"Ya, tapi sekarang Pak Ryo sudah beda level, sudah tidak seperti Ryo yang kukenal belasan tahun yang lalu," kenang Mbak Rani.


"Iya Mbak, Pak Ryo memang hanya bisa dikagumi," komentar Vara.


Vara sungguh tidak tahu, apakah yang dilakukannya ini benar, ia sudah terlanjur berbohong dengan mengatakan bahwa ia begitu sibuk mencari pekerjaan lain. Kalau sudah begini, mau tidak mau, Vara harus mencoba mencari pekerjaan di tempat lain. 


...*****...


Diam-diam Vara mencoba menyebar kembali daftar riwayat hidupnya ke beberapa perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan. Entah mengapa Vara merasa iri pada Ozy yang bisa bekerja di perusahaan besar, dengan gaji dan bonus yang menggiurkan, meski punya atasan galak seperti monster, bagi Vara itu hal yang wajar. Namanya karyawan itu digaji untuk bekerja dan dimaki-maki. 


Pak Ryo juga pernah terdengar marah-marah lantaran ada proyek besar yang tidak berhasil didapatkannya, membuat suasana perusahaan begitu tegang. Seperti itulah kabar yang beredar di kantor.


Sudah terlanjur basah berbohong seperti ini, jadi lebih baik sekalian saja mencari pekerjaan yang sebenarnya. Tujuh tahun bekerja tanpa ada kejelasan status kepegawaian membuat Vara harus mengambil keputusan. Vara harus meninggalkan zona nyamannya untuk mencari pekerjaan lain. Pekerjaan yang kiranya bisa menopang kehidupannya. Ia harus mencari pekerjaan yang bisa memberinya penghasilan lebih, tantangan baru, serta memberi pengalaman baru.

__ADS_1


__ADS_2